MasukPagi datang dengan ritme yang kembali rapi. Naomi sudah duduk di mejanya lebih dulu, seperti biasa. Komputer menyala, beberapa dokumen terbuka, dan di sampingnya tumbler yang kemarin dia beli.
Naomi sedang menatap layar komputernya ketika sebuah map diletakkan pelan di mejanya. Ia mendongak. Mareeq berdiri di sana.
“Ada yang perlu direvisi,” katanya singkat, menunjuk dokumen di dalam map. “Bagian tengahnya, coba dicek lagi.”
Naomi mengangguk, lalu
Senin pagi, Naomi kembali ke rutinitasnya. Komputer menyala di atas meja. Beberapa dokumen memenuhi layar. Segelas susu yang sudah hampir dingin berada di sebelah tangannya, sementara Naomi terus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.Naomi memeriksa daftar pekerjaannya satu per satu. Ia ingin menyelesaikan semuanya. Bukan karena pekerjaannya mendesak. Tapi karena ia tahu setelah ini ia harus mulai mengurangi beban kerjanya. Ia tidak bisa terus berlari dari kenyataan.Menjelang siang, Naomi keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas. Ia berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Naomi masuk.Baru ketika pintunya hampir tertutup, sebuah tangan menahannya. Pintu kembali terbuka. Mareeq masuk."Kebetulan."Naomi tersenyum kecil. Pintu lift tertutup. Mereka hanya berdua. Beberapa detik pertama terasa sunyi.Beberapa detik pertama terasa sunyi. Naomi memandang angka lantai yang terus berubah."Bukankah hari ini kamu
Mareeq melanjutkan dengan suara lembut. "Aku nggak bilang Nunu harus menjadi alasan kamu memilihku."Naomi mengangkat wajah. berusaha mencerna pa yang sedang berusaha Mareeq sampaaikan."Aku cuma mau bilang kalau Nunu hadir di antara kita, aku punya kesempatan untuk memperjelas semuanya."Naomi terdiam. Lagilagi hal itu. Benarkah cinta harus memiliki?Mareeq menghela napas. "Sekarang, aku nggak tahu bagaimana akhirnya nanti." Ia menatap laut.Kemudian Mareeq kembali menatap Naomi. "Tapi yang terpenting sekarang bagiku adalah kamu. Jangan terbebani apa pun. Pilih saja yang membuatmu bahagia. Jangan pedulikan orang lain. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang."Mata Naomi mulai berkaca-kaca. Mareeq menyadarinya. Namun kali ini Naomi tidak langsung menangis. Ia hanya duduk merunduk terdiam di hadapannya. Berusaha untuk tidak menangis.Tiba-tiba Mareeq mencium puncak kepala Naomi. Naomi mendongakkan kepala. Air matanya tidak bisa lagi d
Naomi kembali menonton. Kali ini ia duduk sedikit lebih tegak agar tidak mengantuk. Dia menikmati sisa film yang diputar.Ketika film selesai, lampu studio menyala perlahan. Naomi berdiri sambil meregangkan tubuh."Bagus."Mareeq mengambil tas Naomi yang tadi diletakkan di samping kursi. "Filmnya atau tidurnya?""Tidurnya. Baru kali ini aku tertidur saat menonton film." ujar Naomi dengan tawa ringan.Mareeq tertawa. Mereka berjalan keluar dari studio. Di lorong bioskop, Naomi tiba-tiba berhenti. Ia menatap punggung Mareeq."Mareeq.""Hm?" Mareeq berhenti dan berbalik."Terima kasih."Mareeq mengangguk. "Saama-sama."Naomi kemudian meraih tasnya dari tangan Mareeq. Mareeq menggandeng tangan Naomi keluar dari bioskop. Meskipun ruangan sudah terang, namun kondisi bioskop yang berundak bisa membuat Naomi terjatuh. Naomi tersenyum kecil. Mereka kemudian berjalan menuju tempat parkir.Naomi duduk di kursi penumpa
Naomi menatap Mareeq. "Bisakah kamu meninggalkan Freya?""Aku tidak meninggalkannya.""Mengatakan bahwa dia bukan anak kandungmu. Mengatakan bahwa kamu akan memiliki anak lain. Bukankah itu akan menyakiti hatinya?"Mareeq tidak menjawab."Aku tidak memikirkan bagiamana perasaan Raya, tapi aku memikirkan bagaimana perasaan Freya nanti."Naomi mengucapkan kalimat itu perlahan, seolah sedang mencoba mendengar bagaimana bunyinya."Naomi." Mareeq berhenti sebentar.Naomi langsung menatapnya."Jangan khawatirkan apa pun. Pilih saja apa yang menurutmu terbaik." Mareeq berbicara dengan tenang. "Apa pun pilihanmu. Aku akan tetap ambil bagian untuk membesarkan Nunu.""Aku tahu. Kamu akan selalu berusaha bertanggung jawab."Naomi menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca."Pikirkan saja dengan baik-baik. Aku akan menunggu." ujar Mareeq. "Aku akan mengatakan pada Raya apa yang terjadi. Jangan khawatirkan Freya. Aku ti
Suara itu terus terdengar. Cepat dan teratur. Naomi tanpa sadar menggenggam sisi ranjang. Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya."Suara yang sangat indah, bukan? Sapaan dari si kecil." ujar dokter mencairkan suasana yang membeku."Detak jantungnya sangat bagus, iramanya teratur. Bayinya tumbuh dengan sangat baik di dalam sana."Dokter melanjutkan pemeriksaan sambil menjelaskan kondisi kehamilan Naomi. "Sejauh ini perkembangannya baik. Ukurannya juga sesuai dengan perkiraan usia kehamilan."Naomi mengangguk. Naomi menatap monitor sekali lagi. Kali ini ia tidak merasa sesesak sebelumnya. Masih takut. Masih bingung. Tetapi suara detak jantung itu membuat semuanya terasa sedikit berbeda.Setelah pemeriksaan selesai, dokter mempersilakan kembali ke meja. Naomi duduk kembali dan merapikan bajunya. Mareeq membantu Naomi turun dari ranjang periksa.Dokter memberikan beberapa catatan. Dia mengingatkan Naomi mengenai vitamin, makanan, istirahat,
Naomi tertawa kecil karena bingung. "Di mana adeknya?"Anak itu menunjuk perut Naomi. "Aku mau elus adek bayi."Naomi terdiam. Mareeq yang sejak tadi melihat ponselnya pun perlahan mengangkat wajah. Dia tertarik dengan obrolan di sampingnya.Naomi menatap anak kecil itu. Anak itu pun mengulurkan tangannya, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh perut Naomi. Tangannya hanya menempel sebentar."Adek bayinya masih sekecil ini." anak kecil itu menunjukkan dengan jarinya seolah ukuran bayi itu sangat kecil. "Adek bayi di perut mama cewek. Adek bayi di perut kakak itu cowok."Naomi menahan napas. Dia membayangkan bayi yang akan dia miliki itu berjenis kelamin cowok. Tentu saja itu hanya celetukan anak kecil. Tapi, Naomi bahagia mendengarnya."Menurutmu bayinya cowok?" tanya Naomi."Hmm." anak kecil itu mengangguk."Bagaimana kamu tahu?" tanya Naomi penasaran."Pokoknya cowok. Aku tahu." anakkecil itu sangat yakin.Naomi
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru
"Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan
Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du







