로그인Hari Selasa ini, atmosfer di sekitar meja kerja Naomi terasa sangat dinamis. Sejak jam pertama kantor dimulai, Naomi sudah memacu jemarinya di atas papan ketik. Fokusnya tidak teralihkan sedikit pun. Ia ingin menyelesaikan seluruh laporan rutinnya sebelum siang, karena hari ini adalah hari ulang tahun kakaknya, Vino.
Baginya, menemui Vino bukan sekadar merayakan ulang tahun. Tapi juga mencari ruang bernapas dari kekacauan hubungannya dengan Leon dan tekanan pekerjaan di kantor. Tepat s
Hari Minggu sore, setelah menghabiskan beberapa hari di rumah bersama Vino, Naomi akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen. Vino mengantarnya sampai ke lobi apartemen."Jika ada sesuatu kabari kakak." pesan Vino.Naomi mengangguk. "Hmm."Vino memperhatikan Naomi beberapa saat, seolah memastikan adiknya benar-benar baik-baik saja. "Jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan."Naomi mengangguk lagi. "Kakak juga."Vino kemudian menepuk pelan kepala Naomi sebelum dia turun dari mobil. Naomi keluar dari mobil dan berjalan emuju pintu masuk ke lobi. Dia berdiri beberapa saat, memperhatikan kakaknya pergi.Sepanjang perjalanan menuju lantai apartemennya, Naomi merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Ia senang bisa kembali. Begitu pintu lift terbuka, Naomi berjalan menuju unitnya. Ia memasukkan kunci, memutarnya perlahan, lalu membuka pintu.Leon sudah berdiri tepat di hadapannya. Begitu melihat Naomi berdiri di ambang pintu dengan koper d
Naomi kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Sebelum melewati pagar, ia sempat menoleh sekali lagi. Mareeq masih berdiri di dekat mobilnya. Mata mereka bertemu. Naomi mengangkat tangannya sedikit. Mareeq membalasnya.Baru setelah Naomi masuk, Mareeq masuk ke mobil. Kali ini ia tidak menunggu sampai malam. Ia menjalankan mobilnya meninggalkan rumah itu dengan perasaan sedikit lebih ringan. Setidaknya sekarang ia tahu Naomi sudah melihatnya.***Naomi terbangun lebih lambat dari biasanya. Tidak ada alarm yang berbunyi. Ia masih berbaring di kamar ketika mendengar suara langkah kaki dari luar. Disusul suara pintu yang dibuka sebentar lalu ditutup lagi.Dia sudah bangun, tapi kakaknya pasti mengira dia masih tidur. Tangannya kembali meraba perutnya. Dia tahu Nunu tidak akan kembali. Tapi kekosongan itu terasa menyesakkan. Apalagi ketika Naomi mulai menerima kehadirannya dan mulai menyayanginya.Naomi menghela napas pelan sebelum akhirnya bangun. Begit
"Nggak sih." jawab si Mbok.Naomi tidak langsung menjawab. Entah kenapa, sesuatu di dalam dirinya mulai terasa tidak asing."Mobilnya seperti apa?"Si Mbok menjelaskan warna dan bentuknya. Naomi langsung terdiam. Ia merasa pernah melihat mobil itu berkali-kali. Sangat sering. Naomi bangkit."Masih ada?""Masih."Naomi berjalan menuju ruang CCTV. Ia membuka layar kamera depan rumah. Beberapa detik kemudian, mobil yang dimaksud terlihat jelas di layar. Naomi membeku. Mobil itu. Ia mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Mobil Mareeq.Si Mbok yang berdiri di belakangnya ikut melihat layar. "Kenal, Neng?"Naomi tidak menjawab. Ia hanya menatap mobil itu. Jadi selama beberapa hari terakhir Mareeq datang ke sini? Setiap sore? Tidak pernah masuk ke halaman. Tidak pernah membunyikan bel. Hanya terparkir di pinggir jalan. Dan orang di dalamnya tidak pernah turun. Tidak pernah menghubunginya?Naomi kemudian mengambil cardigan tipis yang
Dua hari setelah dirawat, dokter akhirnya mengizinkan Naomi pulang. Pagi itu Vino mengurus semua administrasi sementara Naomi duduk diam di kursi roda rumah sakit. Wajahnya masih pucat dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih."Sudah boleh pulang," ujar Vino. "Tapi kamu harus banyak istirahat."Naomi mengangguk. Ia tidak banyak bicara sejak pagi. Ketika Vino mengambil tasnya, Naomi hanya memandang keluar jendela.Ada satu hal yang sudah diputuskan Naomi sejak malam sebelumnya. Ia tidak akan kembali ke apartemen Leon. Bukan karena ia membenci Leon. Ia hanya belum sanggup pulang ke tempat yang selama ini menjadi rumah mereka berdua. Naomi ingin sendirian.Mobil Vino berhenti di depan rumah nenek mereka. Rumah itu sudah lama menjadi tempat tinggal Vino dan Naomi sebelum dia pindah ke apartemen Leon. Vino turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Naomi."Pelan-pelan.""Aku bisa." ujar Naomi seolah tidak ingin diperlakukan seperti orang sakit.
Mareeq tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menatap Naomi sekali. "Jaga diri."Naomi mengangguk. "Terima kasih sudah datang.""Aku pergi dulu, Leon."Mareeq tersenyum tipis. Kemudian ia berjalan keluar bersama Claudia. Begitu pintu kamar tertutup, Mareeq mengembuskan napas panjang. Claudia berjalan di sampingnya."Mareeq, Terima kasih sudah menawarkan tumpangan.""Sama-sama."Mereka berjalan menuju lift.Leon masih berdiri di sana, di samping Naomi. Kemudian dia duduk di kursi di samping tempat tidur. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam. Leon menatap wajah Naomi yang pucat."Dokter bilang kamu harus banyak istirahat."Tangannya perlahan meraih tangan Naomi yang terletak di atas selimut. Naomi membiarkannya."Aku tahu kamu pasti sedih."Naomi menatap jemari mereka. Leon menggenggam tangannya lebih erat."Ini bukan salah kamu."Naomi menahan air mata. Leon mengusap punggung tanganny
"Kamu mungkin belum sempat melakukan banyak hal untuk Nunu. Tapi, kamu sudah membawanya sampai sejauh ini. Itu bukti kamu menyayanginya." Mareeq memeluknya lebih erat.Naomi menangis dalam diam. Mareeq membiarkannya.Tidak ada kalimat yang bisa mengembalikan Nunu. Tidak ada pelukan yang bisa menghapus rasa kehilangan itu. Tetapi untuk saat itu, Mareeq hanya ingin Naomi tahu satu hal. Ia tidak perlu melewati kesedihan itu sendirian.Di luar kamar, lorong rumah sakit masih cukup sepi. Claudia berdiri beberapa meter dari pintu. Awalnya ia datang karena ingin mengikuti Mareeq.Dan tanpa sengaja, Claudia mendengar percakapan mereka. Claudia membeku. Ia menatap pintu. Jadi Naomi keguguran.Untuk sesaat, perasaan Claudia benar-benar berubah. Ia merasa prihatin.Bagaimanapun, kehilangan seorang bayi bukan sesuatu yang pantas dianggap remeh. Terlebih dari suara Naomi yang terdengar begitu hancur, jelas perempuan itu sangat terpukul.Namun bebe
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan
Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.







