MasukHari Selasa ini, atmosfer di sekitar meja kerja Naomi terasa sangat dinamis. Sejak jam pertama kantor dimulai, Naomi sudah memacu jemarinya di atas papan ketik. Fokusnya tidak teralihkan sedikit pun. Ia ingin menyelesaikan seluruh laporan rutinnya sebelum siang, karena hari ini adalah hari ulang tahun kakaknya, Vino.
Baginya, menemui Vino bukan sekadar merayakan ulang tahun. Tapi juga mencari ruang bernapas dari kekacauan hubungannya dengan Leon dan tekanan pekerjaan di kantor. Tepat s
Mareeq melanjutkan dengan suara lembut. "Aku nggak bilang Nunu harus menjadi alasan kamu memilihku."Naomi mengangkat wajah. berusaha mencerna pa yang sedang berusaha Mareeq sampaaikan."Aku cuma mau bilang kalau Nunu hadir di antara kita, aku punya kesempatan untuk memperjelas semuanya."Naomi terdiam. Lagilagi hal itu. Benarkah cinta harus memiliki?Mareeq menghela napas. "Sekarang, aku nggak tahu bagaimana akhirnya nanti." Ia menatap laut.Kemudian Mareeq kembali menatap Naomi. "Tapi yang terpenting sekarang bagiku adalah kamu. Jangan terbebani apa pun. Pilih saja yang membuatmu bahagia. Jangan pedulikan orang lain. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang."Mata Naomi mulai berkaca-kaca. Mareeq menyadarinya. Namun kali ini Naomi tidak langsung menangis. Ia hanya duduk merunduk terdiam di hadapannya. Berusaha untuk tidak menangis.Tiba-tiba Mareeq mencium puncak kepala Naomi. Naomi mendongakkan kepala. Air matanya tidak bisa lagi d
Naomi kembali menonton. Kali ini ia duduk sedikit lebih tegak agar tidak mengantuk. Dia menikmati sisa film yang diputar.Ketika film selesai, lampu studio menyala perlahan. Naomi berdiri sambil meregangkan tubuh."Bagus."Mareeq mengambil tas Naomi yang tadi diletakkan di samping kursi. "Filmnya atau tidurnya?""Tidurnya. Baru kali ini aku tertidur saat menonton film." ujar Naomi dengan tawa ringan.Mareeq tertawa. Mereka berjalan keluar dari studio. Di lorong bioskop, Naomi tiba-tiba berhenti. Ia menatap punggung Mareeq."Mareeq.""Hm?" Mareeq berhenti dan berbalik."Terima kasih."Mareeq mengangguk. "Saama-sama."Naomi kemudian meraih tasnya dari tangan Mareeq. Mareeq menggandeng tangan Naomi keluar dari bioskop. Meskipun ruangan sudah terang, namun kondisi bioskop yang berundak bisa membuat Naomi terjatuh. Naomi tersenyum kecil. Mereka kemudian berjalan menuju tempat parkir.Naomi duduk di kursi penumpa
Naomi menatap Mareeq. "Bisakah kamu meninggalkan Freya?""Aku tidak meninggalkannya.""Mengatakan bahwa dia bukan anak kandungmu. Mengatakan bahwa kamu akan memiliki anak lain. Bukankah itu akan menyakiti hatinya?"Mareeq tidak menjawab."Aku tidak memikirkan bagiamana perasaan Raya, tapi aku memikirkan bagaimana perasaan Freya nanti."Naomi mengucapkan kalimat itu perlahan, seolah sedang mencoba mendengar bagaimana bunyinya."Naomi." Mareeq berhenti sebentar.Naomi langsung menatapnya."Jangan khawatirkan apa pun. Pilih saja apa yang menurutmu terbaik." Mareeq berbicara dengan tenang. "Apa pun pilihanmu. Aku akan tetap ambil bagian untuk membesarkan Nunu.""Aku tahu. Kamu akan selalu berusaha bertanggung jawab."Naomi menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca."Pikirkan saja dengan baik-baik. Aku akan menunggu." ujar Mareeq. "Aku akan mengatakan pada Raya apa yang terjadi. Jangan khawatirkan Freya. Aku ti
Suara itu terus terdengar. Cepat dan teratur. Naomi tanpa sadar menggenggam sisi ranjang. Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya."Suara yang sangat indah, bukan? Sapaan dari si kecil." ujar dokter mencairkan suasana yang membeku."Detak jantungnya sangat bagus, iramanya teratur. Bayinya tumbuh dengan sangat baik di dalam sana."Dokter melanjutkan pemeriksaan sambil menjelaskan kondisi kehamilan Naomi. "Sejauh ini perkembangannya baik. Ukurannya juga sesuai dengan perkiraan usia kehamilan."Naomi mengangguk. Naomi menatap monitor sekali lagi. Kali ini ia tidak merasa sesesak sebelumnya. Masih takut. Masih bingung. Tetapi suara detak jantung itu membuat semuanya terasa sedikit berbeda.Setelah pemeriksaan selesai, dokter mempersilakan kembali ke meja. Naomi duduk kembali dan merapikan bajunya. Mareeq membantu Naomi turun dari ranjang periksa.Dokter memberikan beberapa catatan. Dia mengingatkan Naomi mengenai vitamin, makanan, istirahat,
Naomi tertawa kecil karena bingung. "Di mana adeknya?"Anak itu menunjuk perut Naomi. "Aku mau elus adek bayi."Naomi terdiam. Mareeq yang sejak tadi melihat ponselnya pun perlahan mengangkat wajah. Dia tertarik dengan obrolan di sampingnya.Naomi menatap anak kecil itu. Anak itu pun mengulurkan tangannya, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh perut Naomi. Tangannya hanya menempel sebentar."Adek bayinya masih sekecil ini." anak kecil itu menunjukkan dengan jarinya seolah ukuran bayi itu sangat kecil. "Adek bayi di perut mama cewek. Adek bayi di perut kakak itu cowok."Naomi menahan napas. Dia membayangkan bayi yang akan dia miliki itu berjenis kelamin cowok. Tentu saja itu hanya celetukan anak kecil. Tapi, Naomi bahagia mendengarnya."Menurutmu bayinya cowok?" tanya Naomi."Hmm." anak kecil itu mengangguk."Bagaimana kamu tahu?" tanya Naomi penasaran."Pokoknya cowok. Aku tahu." anakkecil itu sangat yakin.Naomi
Sabtu siang, Naomi sudah berdandan dan menunggu Mareeq menjemputnya. Leon yang awalnya bersikeras ingin mengantar Naomi pun memilih pergi betemu dengan teman-temannya.Naomi sengaja memakai blouse longgar berwarna lembut dengan celana panjang, rambutnya dibiarkan tergerai sederhana. Di tangannya hanya ada tas kecil berisi dompet, ponsel, dan beberapa dokumen pemeriksaan sebelumnya.Sebuah pesan masuk dari Mareeq. Dia memberi tahu bahwa dia sudah ada di area parkir. Naomi bergegas turun.Begitu melihat kedatangan Naomi, Mareeq menurunkan kaca jendela."Sudah lama menunggu?" tanya Naomi.Mareeq menggeleng. "Baru saja datang.Naomi pun duduk di kursi penumpang bagian depan. Dia sempat menghembuskan napas dengan keras."Aku merasa gugup." ujar Naomi."Kenapa?" tanya Mareeq."Entah. Mungkin karena tidak tahu apa yang akan terjadi."Mareeq hanya tersenyum. "Ingin makan dulu?""Aku rasa aku tidak akan bisa menelan
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan
Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du
Naomi melangkah masuk ke ruangan, atmosfer berat menyergapnya. Aroma cuka beras yang tajam bercampur dengan kesegaran ikan mentah langsung memenuhi indra penciumannya. Di meja tengah, dokumen-dokumen yang biasanya berserakan telah disingkirkan, digantikan oleh parade sushi mewah yang tertata sang
Pintu kaca berbunyi klik saat Naomi melangkah masuk ke ruangan. Ia mengenakan kemeja berwarna pastel yang membuatnya tampak lebih segar dari biasanya. Baru saja ia meletakkan tas di kursinya, sebuah suara ceria menginterupsi ritual pagi itu."Selamat ulang tahun, Naomi!" seru Flora sambil







