Home / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Umpan di Balik Izin

Share

Umpan di Balik Izin

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-02-19 20:00:57

Hari Selasa ini, atmosfer di sekitar meja kerja Naomi terasa sangat dinamis. Sejak jam pertama kantor dimulai, Naomi sudah memacu jemarinya di atas papan ketik. Fokusnya tidak teralihkan sedikit pun. Ia ingin menyelesaikan seluruh laporan rutinnya sebelum siang, karena hari ini adalah hari ulang tahun kakaknya, Vino.

Baginya, menemui Vino bukan sekadar merayakan ulang tahun. Tapi juga mencari ruang bernapas dari kekacauan hubungannya dengan Leon dan tekanan pekerjaan di kantor. Tepat s

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Jenguk

    "Kamu mungkin belum sempat melakukan banyak hal untuk Nunu. Tapi, kamu sudah membawanya sampai sejauh ini. Itu bukti kamu menyayanginya." Mareeq memeluknya lebih erat.Naomi menangis dalam diam. Mareeq membiarkannya.Tidak ada kalimat yang bisa mengembalikan Nunu. Tidak ada pelukan yang bisa menghapus rasa kehilangan itu. Tetapi untuk saat itu, Mareeq hanya ingin Naomi tahu satu hal. Ia tidak perlu melewati kesedihan itu sendirian.Di luar kamar, lorong rumah sakit masih cukup sepi. Claudia berdiri beberapa meter dari pintu. Awalnya ia datang karena ingin mengikuti Mareeq.Dan tanpa sengaja, Claudia mendengar percakapan mereka. Claudia membeku. Ia menatap pintu. Jadi Naomi keguguran.Untuk sesaat, perasaan Claudia benar-benar berubah. Ia merasa prihatin.Bagaimanapun, kehilangan seorang bayi bukan sesuatu yang pantas dianggap remeh. Terlebih dari suara Naomi yang terdengar begitu hancur, jelas perempuan itu sangat terpukul.Namun bebe

  • Bilur Bulir Bertaut   Nunu

    Air mata mulai memenuhi mata Naomi. Napas Naomi tersendat.Dokter menjelaskan bahwa benturan yang dialami Naomi bisa menjadi salah satu faktor, tetapi penyebab keguguran pada usia kehamilan dini tidak selalu dapat dipastikan hanya dari satu kejadian. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan.Namun Naomi hampir tidak mendengar penjelasan itu. Tangannya bergerak ke perutnya. Yang dia tahu hanya satu. Hilang. Dia kehilangan Nunu."Nunu..." Nama itu keluar begitu pelan. Seolah ia takut kalau mengucapkannya terlalu keras, kenyataan akan menjadi semakin nyata.Beberapa saat kemudian, seorang pria masuk dengan langkah cepat."Nona."Naomi menoleh ke sumber suara. Matanya yang sejak tadi kosong langsung berubah. Vino segera menghampiri tempat tidur. Begitu melihat wajah Vino, pertahanan Naomi runtuh."Kakak..." Air matanya langsung mengalir deras."Kakak di sini." Vino meraih tubuh adiknya dan memeluknya.Naomi langsung membalas pe

  • Bilur Bulir Bertaut   Hilang

    Menjelang siang, Naomi mulai merasa haus. Ia melihat gelas di mejanya yang sudah kosong. Naomi menghela napas."Harus beli minum."Kebetulan ada sebuah kafe tidak jauh dari gedung kantor. Naomi mengambil dompet dan ponselnya, kemudian berjalan keluar. Udara siang terasa cukup panas.Ia berjalan menyusuri trotoar sambil melihat-lihat kendaraan yang berlalu-lalang. Ketika hampir sampai di depan kafe, Naomi tiba-tiba melihat seorang anak kecil berlari keluar dari sisi trotoar."Hei!" teriak Noami.Anak itu tidak menyadari ada seseorang yang sedang mendorong troli besar berisi barang dari arah berlawanan. Semua terjadi sangat cepat. Naomi spontan berlari.Ia meraih tubuh anak itu dan memeluknya. Namun Naomi tidak sempat menghindar. Troli itu menghantam sisi tubuhnya. Beberapa barang di atas troli bergeser. Orang yang mendorong troli langsung menghentikannya."Mbak! Maaf! Mbak nggak apa-apa?"Naomi menahan napas. Pinggangnya terkena

  • Bilur Bulir Bertaut   Kantor

    "Leon, kamu di sini?"Pria itu berjalan menghampirinya."Kamu kelihatan sibuk banget."Leon berdiri di depan Naomi, kemudian tanpa banyak bicara membungkuk sedikit dan mengecup kening Naomi. Naomi tersenyum kecil. Kebiasaan itu sudah sangat familiar baginya.Namun setelah itu, tangan Leon turun dan mengusap pelan perut Naomi. Gerakannya lembut. Sangat hati-hati.Naomi spontan menunduk melihat tangan Leon. Perutnya masih rata. Namun sentuhan itu tetap membuat sesuatu terasa menghangat di dalam dirinya."Jangan terlalu capek," kata Leon."Baiklah.""Sudah makan?""Sudah."Leon mengusap perutnya sekali lagi sebelum menarik tangannya. Naomi menatapnya. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan sejak beberapa hari terakhir."Leon.""Hm?""Kamu sekarang..." Naomi sedikit ragu. "jarang kelihatan sama Maya."Ekspresi Leon berubah sedikit. "Maya?"Naomi mengangguk. "Iya." Ia berusaha terdengar b

  • Bilur Bulir Bertaut   Moonstone

    Senin pagi, Naomi kembali ke rutinitasnya. Komputer menyala di atas meja. Beberapa dokumen memenuhi layar. Segelas susu yang sudah hampir dingin berada di sebelah tangannya, sementara Naomi terus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.Naomi memeriksa daftar pekerjaannya satu per satu. Ia ingin menyelesaikan semuanya. Bukan karena pekerjaannya mendesak. Tapi karena ia tahu setelah ini ia harus mulai mengurangi beban kerjanya. Ia tidak bisa terus berlari dari kenyataan.Menjelang siang, Naomi keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas. Ia berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Naomi masuk.Baru ketika pintunya hampir tertutup, sebuah tangan menahannya. Pintu kembali terbuka. Mareeq masuk."Kebetulan."Naomi tersenyum kecil. Pintu lift tertutup. Mereka hanya berdua. Beberapa detik pertama terasa sunyi.Beberapa detik pertama terasa sunyi. Naomi memandang angka lantai yang terus berubah."Bukankah hari ini kamu

  • Bilur Bulir Bertaut   Sentuhan Lembut

    Mareeq melanjutkan dengan suara lembut. "Aku nggak bilang Nunu harus menjadi alasan kamu memilihku."Naomi mengangkat wajah. berusaha mencerna pa yang sedang berusaha Mareeq sampaaikan."Aku cuma mau bilang kalau Nunu hadir di antara kita, aku punya kesempatan untuk memperjelas semuanya."Naomi terdiam. Lagilagi hal itu. Benarkah cinta harus memiliki?Mareeq menghela napas. "Sekarang, aku nggak tahu bagaimana akhirnya nanti." Ia menatap laut.Kemudian Mareeq kembali menatap Naomi. "Tapi yang terpenting sekarang bagiku adalah kamu. Jangan terbebani apa pun. Pilih saja yang membuatmu bahagia. Jangan pedulikan orang lain. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang."Mata Naomi mulai berkaca-kaca. Mareeq menyadarinya. Namun kali ini Naomi tidak langsung menangis. Ia hanya duduk merunduk terdiam di hadapannya. Berusaha untuk tidak menangis.Tiba-tiba Mareeq mencium puncak kepala Naomi. Naomi mendongakkan kepala. Air matanya tidak bisa lagi d

  • Bilur Bulir Bertaut   Validasi di Sudut Sepi

    Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan

  • Bilur Bulir Bertaut   Bisa dalam Perayaan

    Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du

  • Bilur Bulir Bertaut   Parade Sushi

    Naomi melangkah masuk ke ruangan, atmosfer berat menyergapnya. Aroma cuka beras yang tajam bercampur dengan kesegaran ikan mentah langsung memenuhi indra penciumannya. Di meja tengah, dokumen-dokumen yang biasanya berserakan telah disingkirkan, digantikan oleh parade sushi mewah yang tertata sang

  • Bilur Bulir Bertaut   Traktir

    Pintu kaca berbunyi klik saat Naomi melangkah masuk ke ruangan. Ia mengenakan kemeja berwarna pastel yang membuatnya tampak lebih segar dari biasanya. Baru saja ia meletakkan tas di kursinya, sebuah suara ceria menginterupsi ritual pagi itu."Selamat ulang tahun, Naomi!" seru Flora sambil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status