LOGINNaomi melangkah masuk ke lobi gedung Gigantic dengan napas yang sedikit memburu. Kotak hadiah berpita rapi itu didekapnya erat. Seolah itu adalah harta karun yang berhasil ia selamatkan dari reruntuhan hari Selasa yang kacau. Resepsionis di lobi menyapanya dengan senyum ramah yang tulus.
"Selamat siang, Mbak Naomi. Sudah lama nggak lihat kamu ke sini. Mau bertemu Pak Vino?" Tanyanya ramah.
Naomi menganggukkan kepala seolah itulah yang ingin dia katakan. "Dia ada?" Tanya Naomi.
“Kakak panggil?” tanyanya.“Iya.”Anak-anak lainnya ikut datang. Naomi memandangi wajahnya satu per satu. Dalam sesaat Naomi dikerumuni oleh anak-anak kecil.“Mau es krim?” tanya Naomi.Mata anak-anak langsung berbinar.“Mau!” teriak mereka hampir serempak.Naomi tertawa kecil. Ia kemudian mengeluarkan uang tunai yang baru saja diambilnya dari ATM.“Kakak kasih masing-masing selembar uang.” ujar Naomi mengeluarkan dompetnya.Naomi membuka dompet dan mengeluarkan lembaran uang berwarna biru. Anak-anak langsung terdiam. Mereka saling tatap.“Lima puluh ribu?” suara salah satunya tidak percaya.“Iya.” Naomi membagikan uang itu satu per satu.“Sekarang kalian beli es krim dari kakek yang di sana.” Naomi menunjuk penjual es krim yang tadi diperhatikannya.“Semua harus beli dari kakek itu, ya.”
Naomi melanjutkan. “Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan baik-baik.”Mareeq tidak langsung menjawab. Dia benar-benar mencerna apa yang dikatakan Naomi. Entah kenapa mendengar kata mengakhiri ini membuat Mareeq bahagia. Licik memang, tapi itu yang diinginkan Mareeq.Naomi menatap mangkuk di depannya. "Aku tidak bisa marah dengan perselingkuhan itu. Apa yang kita lakukan bahkan lebih jahat lagi." Ia menarik napas panjang. “Aku juga tidak bisa membenci dia.”Mareeq mendengarkan tanpa menyela.“Aku tidak mencintai Leon seperti seharusnya." Naomi tersenyum pahit. "Selama ini aku bertahan karena aku merasa bersalah."Mareeq tetap diam.“Jadi ketika aku melihat dia bersama Maya kemarin...” Naomi berhenti sebentar. “Aku memang sakit hati.”Matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi mungkin itu juga menjadi akhir yang selama ini tidak berani aku buat sendiri.”Mareeq me
Mareeq sesekali memeriksa keranjang sambil memastikan mereka tidak hanya membeli makanan instan. Ketika akhirnya selesai, mereka membawa beberapa kantong belanja menuju kasir.Perjalanan menuju apartemen terasa jauh lebih ringan. Naomi duduk di kursi penumpang sambil memandangi jalanan yang sudah benar-benar gelap. Naomi tersenyum kecil.Sesampainya di apartemen, Naomi membuka pintu. Ruangan sudah jauh lebih lengkap dibandingkan ketika ia pergi meninggalkan ruangan pagi ini. Siska rupanya sudah datang dan mengurus berbagai keperluan.Ada perlengkapan dapur. Beberapa kebutuhan sehari-hari. Barang-barang kamar mandi. Bahkan beberapa perlengkapan kecil yang membuat apartemen itu terasa lebih hidup.Mareeq membawa sebagian kantong belanja masuk. “Ini sudah seperti rumah.”Naomi tersenyum. "Siska melakukan pekerjaannya dengan baik."Setelah semua belanjaan diletakkan di dapur, Naomi mulai mengeluarkan bahan-bahan satu per satu. Mie in
Setelah cukup lama duduk di kafe, Naomi akhirnya berdiri. “Aku masih mau lihat beberapa toko.”Mareeq ikut berdiri. "Aku akan menemanimu."Naomi mengangguk. Mareeq pun mengangkat tas belanjaan, menyisakan beberapa tas yang mudah dibawa oleh Naomi.Mereka berjalan menyusuri beberapa toko pakaian. Kali ini Mareeq tidak hanya mengikuti dari belakang, tetapi berjalan di samping Naomi. Naomi yang sejak tadi memperhatikan Mareeq tiba-tiba berhenti di depan sebuah toko."Haruskah kita ke sana?"Mareeq ikut berhenti.Naomi menunjuk sebuah kaus yang dipajang di bagian depan. Kaus putih polos dengan bahan sederhana. Tidak ada gambar besar atau tulisan mencolok. Hanya sebuah logo kecil yang disulam di bagian dada.Naomi memperhatikan beberapa saat. “Bagus.”Mareeq mengangguk. “Bagus.”Naomi kemudian melihat ukuran yang tersedia. Ia mengambil satu ukuran yang besar. Kemudian mengambil ukuran yang
Menjelang sore, Naomi masih berada di mall. Ia duduk sendirian di kafe sambil menikmati minuman. Ponselnya berbunyi. Pesan dari Mareeq.Mareeq: Kamu sudah makanan?Naomi membaca pesan itu. Ia berpikir sebentar sebelum membalas. Aaakah dia harus mengundangMareeq atau dia harus menikmati waktu sendiri.Naomi: Aku sedang di mall. Mau datang?Beberapa detik kemudian, balasan masuk.Mareeq: Aku datang. Tunggu aku.Naomi tersenyum kecil. Jawaban yang sudah diperkirakan Naomi.Naomi: Oke. Di kafe seperti biasanya.Naomi meletakkan ponselnya. Ia tidak tahu kenapa dirinya merasa sedikit lega. Mungkin karena bersama Mareeq dia merasa lebih nyaman. Sekaligus dia ingin menunjukkan rambut barunya.Sekitar beberapa puluh menit kemudian, seseorang berhenti di depan meja Naomi.“Naomi?”Naomi mendongak. Mareeq berdiri di sana. Namun pria itu tidak langsung duduk. Tatapannya tertuju pada rambut Naomi. Ia
Naomi tertawa kecil. "Maka dari itu Nona ingin coba."Vino memandang adiknya beberapa saat. Ia tahu ini bukan sekadar soal rambut. Naomi sedang berusaha mengubah sesuatu. Mungkin karena ada terlalu banyak hal yang ingin ia tinggalkan.“Kamu yakin?” Vino memastikan lagi.“Sangat.” jawab Naomi tidak goyah.Vino menghela napas panjang. "Jangan nangis kalau menyesal."Mendapat lampu hijau, Naomi segera menyeret kakaknya masuk ke salon. Naomi bergegas duduk di depan cermin yang kosong. Penata rambut datang dan bertanya keinginannya."Long bob." ujar Naomi to the point.Penata rambut itu pun mengangguk. Dia segera menyentuh rambut Naomi. Rambut panjangnya tergerai hingga melewati bahu. Penata rambut mulai membaginya menjadi beberapa bagian.Vino berdiri di belakang sambil memperhatikan dengan ekspresi pasrah.“Kakak masih punya kesempatan untuk melarang?” tanya Vino.Naomi tersenyum m
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
"Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.







