Share

Wafer Roll

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-04-21 20:00:49

Mareeq tidak membalas senyum itu. Hening. Naomi menunduk lagi. Tangannya berhenti memainkan tangannya sendiri.

“Makanya aku bilang aku harusnya nggak nyaman.” Naomi melanjutkan, lebih pelan sekarang. “Karena kalau aku mulai menganggap semua ini normal… itu berarti aku sudah terlalu jauh.”

Kalimat itu jatuh pelan. Jujur. Tanpa pertahanan. Mareeq menatapnya. Lebih dalam dari sebelumnya.

“Kita memang di situasi yang salah,” kata Mar

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Makan Siang yang Penuh Kejutan

    Siang itu turun dengan tenang, seperti halaman pertama yang tidak ingin terburu-buru dibaca. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela besar, jatuh lembut di atas meja yang belum benar-benar berantakan. Piring dan gelas masih tersusun rapi di meja. Percakapan yang mengalir pelan tanpa arah yang jelas.Di antara suara sendok yang sesekali bersentuhan dengan piring dan dengung halus dari sekitar, Naomi duduk di sana. Tidak terburu-buru. Tidak juga benar-benar diam.Makan siang yang sudah dijanjikan. Di tempat yang tidak terlalu ramai, bersama seseorang yang sudah mengisi ruang di hidupnya. Tidak ada rencana besar. Tidak ada ekspektasi berlebih. Hanya waktu yang berjalan sebagaimana mestinya.Sampai ponselnya bergetar di atas meja. Getaran itu singkat. Namun cukup untuk menarik perhatian Naomi dari pikirannya sendiri. Layarnya menyala. Satu nama muncul di sana, Mareeq.Naomi menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah memberi wak

  • Bilur Bulir Bertaut   Perayaan Tahun Baru

    Malam datang perlahan. Apartemen terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu menyala hangat, meja dipenuhi camilan, termasuk kardus wafer yang kini sudah terbuka dan berkurang beberapa.Leon berdiri di depan kulkas yang ada di dapur kecil. Dia mengambil dua kaleng minuman dan membuka keduanya. “Kamu yakin nggak mau keluar?” tanyanya.Naomi duduk di sofa, kaki dilipat santai, satu kaleng wafer di tangan. “Nggak. Di sini aja.”Leon berjalan mendekat, menyerahkan satu kaleng ke Naomi. “Baiklah. Tahun baru versi hemat energi.”Naomi mendengus kecil. “Hmm. Memang itu tujuanku."Leon duduk di sebelahnya, cukup dekat tanpa benar-benar menyentuh. Suara TV menyala, tapi tidak benar-benar mereka perhatikan. Countdown acara tahun baru mulai terdengar samar. Naomi melirik jam di layar.“Hampir.”Leon mengangguk, lalu berdiri. “Ayo ke balkon.”Naomi ikut bangkit, masih membawa mi

  • Bilur Bulir Bertaut   Usaha dan Kepekaan

    Pagi berikutnya datang tanpa banyak tanda. Naomi sedang duduk santai di apartemennya ketika ponselnya bergetar. Nama Mareeq muncul. Ia menatap layar itu sebentar.Mareeq mengatakan sedang ada di tempat parkir apartemen. Naomi mengerutkan kening, kenapa dia tiba-tiba ada di bawah. Bukankah seharusnya dia liburan bersama Raya dan Freya. Tanpa banyak pikir, Naomi bangkit, mengambil jaket tipisnya, dan keluar dari apartemen.Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di area parkiran. Mobil Mareeq terlihat dari kejauhan. Naomi berjalan mendekat, membuka pintu penumpang, lalu masuk tanpa banyak bicara. Ia duduk. Menutup pintu. Hening.Mareeq ada di kursi pengemudi, seperti biasa tenang, seolah tidak sedang melakukan sesuatu yang aneh. Padahal datang ke apartemen Leon adalah hal yang tidak wajar.Naomi melirik sekilas. “Kamu ke sini pagi-pagi cuma buat nyuruh aku turun?”Tidak ada jawaban langsung, Mareeq hanya menatap Naomi dengan senyuman. Ma

  • Bilur Bulir Bertaut   Saling Percaya

    Naomi langsung melepas sendok yang masih digigitnya. Naomi akhirnya menarik sendok itu keluar, menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu kecil.“Kebiasaan jelek.”Tersenyum malu karena dimarahi Mareeq seperti itu. Dia serasa menjadi Freya. Perhatian kecil dari Mareeq yang seperti iniyang dia sukai.Hening sebentar. Naomi menutup kotak es krim yang kini kosong. Ia menyandarkannya ke samping. Beberapa detik berlalu. Mobil terus berjalan.“Kamu tadi beneran kecewa ya,” kata Mareeq tiba-tiba, masih menatap jalan.Naomi tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap ke depan.“Sedikit,” jawabnya akhirnya. “Cuma wafer.”Hening lagi. Hingga mobil akhirnya berbelok menuju apartemen Naomi. Perjalanan yang tadi terasa tanpa arah kini perlahan menemukan ujungnya.Naomi masih diam di kursi penumpang. Kotak es krim kosong sudah tergeletak di samping, dan sendok plastik di

  • Bilur Bulir Bertaut   Ruang yang Masih Ada

    Beberapa menit kemudian, penjaga tadi kembali.“Maaf, Kak,” katanya. “Stoknya memang habis. Belum datang lagi.”Naomi terdiam sebentar. “Oh… ya sudah,” jawabnya pelan.Penjaga itu mengangguk dan pergi lagi. Hening. Naomi masih menatap rak kosong itu beberapa detik lebih lama, lalu akhirnya mengalihkan pandangan. Wajahnya tidak berubah banyak. Tapi ada sesuatu yang jelas sedikit kecewa.Naomi mendorong troli menjauh dari rak kosong itu, pelan. Mareeq tidak langsung bicara. Ia hanya berjalan di sampingnya, lalu sesaat melirik ke belakang, ke arah rak yang tadi. Namun ia tidak mengatakan apa-apa.Naomi berbelok ke lorong lain, area freezer. Pintu kaca dingin berderet di depannya. Naomi berhenti di salah satunya, lalu membukanya pelan. Uap dingin langsung menyapu wajahnya, tapi ia tidak peduli. Matanya sibuk mencari sesuatu di antara deretan kotak es krim.Beberapa detik. Lalu...“Ini.&rdqu

  • Bilur Bulir Bertaut   Wafer Roll

    Mareeq tidak membalas senyum itu. Hening. Naomi menunduk lagi. Tangannya berhenti memainkan tangannya sendiri.“Makanya aku bilang aku harusnya nggak nyaman.” Naomi melanjutkan, lebih pelan sekarang. “Karena kalau aku mulai menganggap semua ini normal… itu berarti aku sudah terlalu jauh.”Kalimat itu jatuh pelan. Jujur. Tanpa pertahanan. Mareeq menatapnya. Lebih dalam dari sebelumnya.“Kita memang di situasi yang salah,” kata Mareeq.Mareeq terdiam. Lama.Lalu Naomi berkata pelan, “Kita pulang saja.”Kali ini, nadanya lebih pasti. Keputusan telah dibuat. Mareeq menatapnya sebentar. Lalu mengangguk."Hmm"Ia menyalakan mesin. Lampu depan kembali terang. Mobil mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Dan percakapan mereka tetap tinggal di sana, di tepi jalan yang sunyi.Mobil Mareeq berhenti dengan halus di depan gedung apartemen Naomi. Lampu-lampu di lobi memantul sama

  • Bilur Bulir Bertaut   Dessert yang Terasa Pahit

    Pertanyaan itu terdengar seperti pujian, namun bagi Naomi, itu adalah ujian paling berat. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.Naomi hanya menanggapi dengan senyuman. Naomi melirik ke arah Mareeq. Pria itu hanya diam dan fokus pada makanannya. Tapi tak berapa lama,

  • Bilur Bulir Bertaut   Jamuan yang Mencekam

    Cahaya matahari Sabtu pagi yang biasanya menenangkan kini terasa menyengat di mata Naomi. Ia masih bergelung di bawah selimut, menikmati aroma kopi yang sedang diseduh Leon di dapur, sampai getaran ponsel di atas nakas menghancurkan ketenangannya. Nama Mareeq berkedip di layar."Ya, Mareeq

  • Bilur Bulir Bertaut   Kotak Mewah dan Rasa Bersalah

    Malam itu, suasana apartemen terasa begitu sunyi, hanya ada suara rendah dari televisi. Naomi sedang menyandarkan kepalanya di bahu Leon, sambil menatap layar televisi tanpa benar-benar memperhatikan tayangannya. Leon yang fokus dengan ponselnya, sesekali mengelus rambut Naomi dengan lembut.

  • Bilur Bulir Bertaut   Rasa Cheese Cake yang Tertinggal

    Restoran ini berada di lantai tertinggi salah satu gedung ikonik. Begitu pintu lift terbuka di lantai 18, Naomi disambut oleh pemandangan cakrawala kota di balik dinding kaca raksasa. Suasananya begitu sunyi, hanya ada alunan musik jazz instrumental yang sangat halus."Selamat siang, Tuan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status