공유

Bab 101

작가: macaroonie
last update 게시일: 2026-07-03 20:13:44

Civic abu-abu milik Fero melambat, lalu berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah.

Tak lama kemudian, seorang satpam paruh baya bergegas menghampiri. Begitu mengenali mobil yang dikendarai Fero, ia segera menggeser gerbang besi itu hingga terbuka lebar.

Fero menurunkan sedikit kaca jendelanya. Melayangkan sapaan selamat pagi yang dibalas anggukan sopan Pak Satpam sebelum kembali menaikkan kaca mobil.

Perlahan Fero melajukan mobil memasuki halama
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 281

    Vino mengetuk pintu sebelum membukanya setelah mendapat izin dari dalam. Namun langkahnya langsung terhenti sesaat ketika melihat siapa saja yang ada di dalam. Adrian ternyata tidak sendirian. Reynald duduk santai di salah satu sofa bersama Adrian, keduanya tampak sedang berbincang. Begitu melihat Vino masuk, Adrian langsung menoleh dan menunjuk ke arahnya. “Nah, tuh. Lihat sendiri anaknya.” Reynald ikut menoleh. “Ngapain ngejogrog di situ? Masuk," tegur Adrian. Vino menutup pintunya dan segera masuk. Ikut duduk bersama keduanya saat dipersilakan Adrian. "Capek?” tanya Reynald. Ada percik kekhawatiran yang Vino baca dari sorot matanya. “Lumayan, Om," jawab Vino sambil menyengir kuda. “Masih mau lanjut?” Vin

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 280

    “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang wanita segera menyapa Vino sesaat setelah laki-laki itu memasuki gedung Apex dan berhenti di depan meja resepsionis. “Pagi. Saya Vino. Saya ada jadwal onboarding sebagai talent baru.” Resepsionis mengangguk lalu mengalihkan pandangannya pada layar komputer di hadapannya. “Alvino Kusuma Anggara?” “Benar.” “Baik, Mas Vino. Sebentar, ya. Saya hubungi tim Talent Management terlebih dahulu.” Vino mengangguk. Resepsionis kemudian meraih gagang telepon di samping monitor dan menekan beberapa tombol. Tak lama kemudian, ia mulai berbicara dengan seseorang di ujung sambungan. Beberapa saat kemudian, suara resepsionis kembali terdengar. “Mas Vino?” Vino segera menoleh. “Ya?” “Orang dari Talent Management-nya sedang

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 279

    Bita bersenandung ringan ketika memasuki pekarangan rumah. Namun baru beberapa meter melaju, ia tiba-tiba memekik saat ban motor kesayangannya, si Pink, tak sengaja menginjak kotoran kucing.“Mama!”Tak berapa lama, Anggun keluar dari dalam rumah dengan langkah tergopoh-gopoh. Wajahnya langsung panik. “Kenapa, Ta? Habis nabrak pejalan kaki? Kucing yang nyelonong lewat? Atau habis jatuh di jalan? Ya ampun, mana yang sakit?”“Kucing Pak Wahyu kok dibiarin main di pekarangan rumah, sih, Ma? Tainya jadi ke mana-mana, tuh. Di situ juga ada!” Bita menunjuk beberapa titik di halaman yang dipenuhi kotoran kucing. Anggun langsung mengusap dada lega. “Mama kira apaan.” Lalu matanya beralih pada Bita yang meringis jijik. “Lha, wong kamu sendiri yang dulu sempat bawa kucingnya ke rumah buat diobatin. Jadinya sekarang dia tiap hari nyariin kamu. Udah sayang sama kamu, pengin main lagi pasti.”Bita menggersah kesal. “Sayang sih sayang. Tapi dia berak

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 278

    Waktu terus bergerak maju, membawa Vino pada hal-hal baru, termasuk sesuatu yang kini memenuhi radar penglihatannya hingga membuatnya terperangah di tempat.Sedikit senggolan terasa di lengannya. Namun Vino masih tak berpaling sampai suara Martin meluncur, nyaris seperti bom kecil yang meledakkan kesadarannya.“Gue lihat-lihat Bita tambah beda, ya? Kayak makin cakep, manis, lucu—eh, maksud gue bersinar.” Martin spontan meralat ucapannya ketika melihat tatapan tajam Vino.“Gue tahu Bita beda, tapi apa hak lo muji dia tepat di depan mata gue?”Martin menelan ludah. “Sorry. Gue nggak ada maksud buat muji dia. Gue cuma—”“Bahahah!”Vino tiba-tiba meledakkan tawanya. Ia terbahak-bahak sambil menunjuk wajah Martin. “Komuk lo—hmfpt, bahahaha!”Ketegangan berubah menjadi kernyitan heran. Martin menatap Vino dengan alis memicing.“Gue cuma bercanda, Tin. Lo dan semua makhluk di muka bumi bebas muji Bita," ucap Vino setel

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 277

    “Lo lihat, kan, tadi gimana reaksi Bita waktu gue beberin soal lo yang khawatir dia bakal berpaling?”Dengan ponsel menempel di telinga dan sepasang mata menatap langit-langit kamarnya, untuk entah keberapa kalinya Vino menghela napas.“Tin, lo udah ngomong ini berkali-kali. Gue—”“Aduhhhh! Lo aja tadi sok mengheningkan cipta mulu! Padahal lirik dikit juga nggak bakal bikin lo berdosa di mata Bram!” gerutu Martin tanpa memedulikan Vino. “Jadi nggak lihat gimana tercenungnya Bita. Gimana getar-getar cemas itu tumbuh di matanya. Dan gimana gue bisa lihat kalau Bita pasti greget banget pengin bilang lo nggak perlu khawatir karena dia bakal setia nungguin lo.”Martin tertawa lagi. “Duh, kisah kalian ini kalau difilmin bakalan booming, njir. Saking tragisnya! Bayangin aja, gimana ngenesnya kalian yang harus nahan diri buat nggak ngomong satu sama lain!”Tawa Martin kembali meledak.Seperti beberapa saat setelah mereka mening

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 276

    “Gue berharap lo nggak ragu lagi sama Bita. Lihat aja, semesta lagi-lagi mempertemukan kalian tanpa sengaja, seakan-akan emang udah jodoh,” ucap Martin begitu sadar apa yang membuat Vino berhenti melangkah dan mematung di tempat.“Dan nggak usah kepikiran buat kabur. Gue udah males nyari restoran panas-panas begini," imbuh Martin memberi peringatan.Di sisi tubuhnya, tangan Vino mengepal.Laki-laki itu memang bisa mencoba mengikuti perkataan Martin bahwa tidak apa-apa jika mereka kebetulan bertemu. Tapi sekarang Bram juga berada di sana. Ketakutan itu kembali muncul begitu saja.Vino ingin segera angkat kaki sebelum Bram menyadari keberadaannya. Namun seakan sudah tahu niatnya, Martin justru lebih dulu menyeretnya tanpa ampun menuju salah satu meja.Seakan ingin membuatnya mati berdiri, bukannya memilih tempat yang paling jauh dan terpojok, laki-laki kampret itu malah membawanya tepat ke meja di sebelah Bita dan Bram.Kehadiran mereka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status