Share

Bab 142

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 15:14:15

Dokter mengulas senyum kecil sambil memeriksa luka di telapak kaki Bita. Jemarinya menekan pelan area di sekitar jahitan, memastikan tak ada tanda-tanda infeksi sebelum akhirnya mengangguk puas.

"Syukurlah, jahitannya udah kering. Tinggal nunggu benar-benar menyatu."

Bita yang sedari tadi duduk di atas bed pemeriksaan ikut mengembuskan napas lega.

"Masih jangan banyak dipakai jalan, ya. Jahitannya memang udah bagus, tapi belum cukup kuat."

Senyum B
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 148

    Melihat wajah Bita yang mendadak berkali-kali lipat lebih tegang, Vino mengernyit. "Kenapa, Ta? Ada masalah?"Bita tidak langsung menjawab. Gadis itu menggigit pelan bibir bawahnya sebelum akhirnya berucap lirih, nyaris seperti berbisik. "Fero... dia ngundang aku ke ulang tahun Mamahnya."Vino terdiam.Nama itu kembali mengingatkannya pada hari ketika laki-laki itu terang-terangan mengatakan tak akan berhenti mendekati Bita.Jadi, inikah langkah berikutnya?Tanpa sadar, jemari Vino mengencang menggenggam sumpit. Rahangnya pun ikut mengeras. Namun hanya sesaat. Sebelum Vino kembali memasang wajah setenang sebelumnya."Katanya Mamanya yang pengen aku datang," lanjut Bita hati-hati. Tatapannya terus mencari reaksi Vino. Semakin lama tak mendapat jawaban, wajahnya semakin gelisah. "Tapi... kalau kamu nyuruh aku nggak datang, aku nggak bakal datang, kok."Pandangan Vino perlahan beralih kepada Bita. Dilihatnya wajah gadis itu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 147

    Bita duduk di kursi pengunjung, tepat di samping Vino. Sejak tadi, jemari laki-laki itu tak pernah benar-benar rileks. Sesekali mengepal, lalu mengendur lagi.Bita menoleh pelan. Vino membalas tatapannya dengan senyum tipis yang dipaksakan.Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. Semua orang berdiri. Sidang pun dimulai.Sidang pertama berlangsung jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan Bita.Hakim membuka persidangan, memeriksa identitas kedua belah pihak, lalu memberi kesempatan kepada keduanya untuk menempuh mediasi sesuai prosedur.Namun keputusan mereka tetap sama. Papa dan Mami tetap pada pendirian masing-masing. Mediasi dinyatakan tidak mencapai kesepakatan.Majelis hakim kemudian menetapkan jadwal sidang berikutnya sebelum akhirnya mengetukkan palu. "Sidang ditutup."Ruangan perlahan kembali dipenuhi suara kursi yang bergeser dan langkah kaki orang-orang yang mulai meninggalkan tempatnya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 146

    Vino sebenarnya sudah menduga Bita tidak akan puas hanya berkeliling kompleks. Dan dugaannya tepat. Setiap kali ia hendak memutar balik motornya, Bita selalu menggeleng sambil menunjuk ke depan. "Sedikit lagi." Vino menurut. Beberapa menit kemudian ia kembali memperlambat motor, berniat berbalik. Namun lagi-lagi Bita menggeleng. "Sedikit lagi." Sedikit demi sedikit itu akhirnya membawa mereka keluar dari kompleks, menyusuri jalanan kota tanpa tujuan yang jelas. Tanpa terasa, sore hampir habis. Langit yang semula hanya mendung kini benar-benar menggelap. Rintik pertama jatuh di kaca spion. Lalu disusul rintik kedua. Hingga dalam hitungan detik hujan turun semakin deras. Vino secepatnya membelokkan motor menuju satu-satunya bangunan yang terlihat di sepanjang jalan. Sebuah toko kecil, dan saayangnya toko itu sudah tutup. Motor berhenti tepat di depan t

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 145

    "Syukurlah. Lukanya sudah menyatu dengan baik." Dokter tersenyum sambil mengamati telapak kaki Bita yang terangkat di atas bed periksa. "Berarti hari ini jahitannya bisa kita lepas." Mata Bita langsung berbinar. "Serius, Dok?" "Iya." Dokter mengambil baki kecil berisi pinset, gunting jahit, kasa steril, dan cairan antiseptik. Ia mengenakan sarung tangan sebelum menarik kursinya lebih dekat. "Nanti mungkin terasa sedikit nyut-nyutan waktu benangnya ditarik. Tapi nggak akan lama." "Iya, Dok." Di samping bed, Anggun langsung menggenggam lengan putrinya. "Kalau sakit bilang ya. Mama takut nanti kamu nangis." Bita langsung mendesah. "Aku nggak bakal nangis, Ma. Aku kan kuat." Anggun menatap putrinya penuh sangsi. "Kuat?" ulangnya pelan. "Dulu disuntik imunisasi aja nangis sampai satu puskesmas dengar." "Itu SD, Ma!" protes Bita. "Sekarang Bita u

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 144

    Setelah mengantar Martin ke stasiun untuk pulang kampung selama liburan, Vino langsung bergegas pulang. Vino turun dari motor dan melepas helmnya. Ia melangkah memasuki rumah sambil merapikan rambutnya. Entah kenapa, yang pertama kali terlintas di kepalanya justru kamar sebelah rumahnya. Kamar Bita. Tadi Vino terpaksa meninggalkan gadis itu yang masih tertidur pulas dalam pelukannya setelah Martin menelepon, meminta diantar ke stasiun. Ia bahkan hanya sempat meninggalkan pesan singkat sebelum berangkat. Senyum tipis terbit di wajah Vino. Entah Bita sedang apa sekarang. Memikirkan itu saja sudah cukup membuat langkahnya tanpa sadar semakin cepat. Namun langkah itu mendadak terhenti saat memasuki ruang keluarga. "Mas mau ngobrol bentar sama kamu." Suara Aksa terdengar tenang. Pria itu duduk membelakangi Vino di sofa sambil membaca buku. Meski mereka sudah sempat men

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 143

    Vino terkekeh pelan. "Nggak diusir? Biasanya lo langsung nyuruh gue keluar."Lalu menirukan suara Bita dengan nada yang dibuat cempreng. "Jangan ganggu aku!"Bita langsung menggersah kesal. "Kamu tuh ya. Baru ketemu udah nyebelin." Ia mendongak menatap Vino. "Mau aku usir beneran?"Vino buru-buru menggeleng sambil tertawa. "Nggak."Kemudian kembali merengkuh Bita lebih erat. Aroma sampo stroberi yang samar menguar dari rambut perempuan itu membuatnya tanpa sadar menghirup napas pelan. "Gini aja."Sementara Bita kembali menyandarkan kepalanya di dada Vino, mengabaikan detak jantung laki-laki itu yang berdentum cukup keras hingga bisa ia rasakan."Lo nggak penasaran kenapa gue bisa di sini?"Bita langsung mengangkat kepalanya. "Emang gimana? Kok bisa?""Kemarin malam gue mutusin buat pulang."Mata Bita langsung membulat. "Kemarin? Berarti kamu udah di rumah dari semalam, tapi baru ke sini siang ini?" Bibi

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status