LOGINBita sedang asyik membaca novel di ayunan sore itu saat tiba-tiba sehelai rumput teki melayang pelan dan jatuh tepat di atas bukunya, membuatnya mengernyit. Dengan wajah bingung ia menyingkirkan rumput itu, lalu kembali membaca.
Belum sempat satu paragraf selesai, satu helai lagi jatuh. Disusul satu lagi. Lalu satu lagi. Hingga beberapa helai rumput teki mulai memenuhi halaman buku yang sedang ia baca.Bita secepatnya mendongak. Di samping ayunan, Vino berdiri santai sambilAdrian menghela napas. “Saya paham kenapa kamu ingin melakukan itu. Tapi kamu juga harus memahami posisi kamu sekarang.”Kelopak mata Vino mengerjap. “Nama kamu memang sedang naik. Tapi jangan berpikir semua perhatian yang kamu dapatkan sekarang semata-mata karena orang melihat potensi kamu. Sebagian besar momentum kamu saat ini datang dari iklan itu. Dan di dalam iklan itu ada Tamara.”Adrian berhenti sejenak, memberikan waktu Vino meresapi ucapannya. “Kamu talent baru. Sementara Tamara sudah punya nama jauh sebelum kamu muncul. Dia sudah punya basis penggemar, sudah dikenal publik, dan ketika kalian muncul bersama di iklan, responsnya ternyata sangat besar. Publik menyukai kalian sebagai pasangan di iklan. Itu yang kemudian membuat nama kamu ikut terangkat.”Adrian kembali membuka laptopnya, lalu memutar layar sedikit ke arah Vino. Beberapa daftar pekerjaan dan permintaan kerja sama terlihat di sana. “Lihat ini.”Vino menoleh
Saat memasuki lobi agensi, Vino kembali merasakan beberapa pasang mata yang mengarah kepadanya. Hal seperti itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak resmi menjadi talent di agensi ini, sesekali Vino memang mendapati orang-orang memperhatikannya. Entah karena mengenali wajahnya sebagai talent baru, sekadar penasaran, atau mungkin karena penampilannya yang memang cukup mudah menarik perhatian. Namun, hari ini rasanya sedikit berbeda. Beberapa orang yang sedang berbincang di dekat area lounge sempat menoleh ke arahnya. Ada yang hanya memandang sekilas, ada pula yang tampak membisikkan sesuatu kepada rekannya. Vino tidak terlalu memedulikannya. Ia sudah terbiasa diperhatikan. Hanya saja, ketika langkahnya semakin mendekati meja resepsionis, samar-samar telinganya menangkap satu nama yang beberapa kali disebut dalam bisikan itu. Tamara. Vino sempat menghela napas pelan sebelum memilih tidak menoleh dan teru
“Duh, pusingnya ini kepalaaa!” Sasha menengadahkan kepalanya ke atas, meninggalkan sejenak layar laptop di hadapannya. Ia mengusap keningnya dengan telapak tangan, lalu mengembuskan napas panjang. Bita dan Dira yang sejak tadi sama-sama menghadap layar laptop itu ikut menghela napas. Flowchart sistem pembelian memenuhi hampir seluruh layar. Beberapa proses dari bagian gudang hingga bagian pembelian sudah tersusun lengkap dengan dokumen dan panah penghubung, tetapi bagian tengahnya masih berantakan. Dua kotak proses bergeser ke samping, sementara beberapa panah dan dokumen masih belum mereka tentukan alurnya karena sejak tadi belum menemukan urutan yang tepat. “Kerjain besok-besok aja, kenapa, sih?” keluh Sasha kepada kedua temannya. “Toh, masih seminggu lagi juga.” “Besok juga pasti ada tugas lagi, lusa juga bakal ada lagi,” sahut Bita. “Kalau yang ini kita tunda, nanti malah makin numpuk. Mending kelarin sek
“Bita!” Langkah Bita terhenti begitu beberapa teman seangkatannya menghampirinya dan mengerubunginya di depan ruang kelas ketika ia baru saja masuk. “Kok nggak bilang-bilang sih kalau pacar kamu beneran jadi artis? Kita taunya dari gosip yang disebar Martin. Mana kita percaya sama si tukang ngibul itu? Eh, ternyata beneran,” sembur salah satu dari mereka, langsung disambung temannya tanpa jeda. “Harusnya kamu dong yang kasih tahu ke kita-kita. Diumumin kek, bangga gitu.” “Kenapa diem-diem aja sih, Ta? Kamu kan pacarnya.” “Apa kalian udah putus?” “Eh, jadi rumor kalian putus itu beneran?” “Aku lihat juga beberapa bulan ini kalian nggak kelihatan interaksinya. Padahal dulu waktu masih temenan aja kalian ke mana-mana bareng.” Bita mengerjap-ngerjapkan mata, menatap mereka bergantian. Mulutnya sudah terbuka hendak mengeluarkan suara, tetapi kembali ditimpa suara lain.
“Bita! Mama lihat Vino di TV, Ta!” Bita menoleh mendengar teriakan Anggun yang kemudian muncul tergesa di ambang pintu depan rumah. Belum sempat mencerna maksudnya, Anggun sudah kembali berteriak sambil melambaikan tangan. “Cepetan lihat! Keburu habis iklannya!” Bita seketika terbelalak. Ia segera membanting selang yang digunakan untuk menyirami tanaman, lalu berlari meninggalkan pekarangan dan masuk ke dalam rumah. Anggun langsung menariknya ke depan televisi. “Mana Vino, Ma?” tanya Bita dengan napas tersengal, menatap layar televisi empat puluh dua inci yang kini justru menampilkan sinetron kesayangan sang Mama di waktu petang. “Yah, udah selesai.” Anggun menghela napas. “Tapi nanti kayaknya masih ada. Kamu tunggu aja.” Niat hati hendak menarik sang putri untuk duduk justru berakhir dengan jeritan ketika Anggun menyadari jejak kaki Bita yang kotor sudah membekas di lantai. “Ad
Bita kembali sering bertemu—atau lebih tepatnya, sering tidak sengaja bertemu dengan Vino selama ujian akhir semester.Martin sempat tiba-tiba berkoar-koar, lagi-lagi tanpa diminta Bita, di parkiran saat gadis itu hendak pulang. Mengatakan bahwa Vino akan fokus ujian terlebih dahulu sebelum kembali berkecimpung dalam pekerjaannya.Selama beberapa kali berpapasan, tidak ada yang berbeda dari Vino selain wajahnya yang entah mengapa jadi makin tampan. Mungkin efek dari lama tidak melihat Vino, atau memang laki-laki itu mulai lebih memperhatikan dirinya sebagai salah satu penunjang penampilan.Vino tetap menjadi Vino yang diam-diam tersenyum padanya lewat sepasang mata yang masih memancarkan kehangatan dan keteduhan, seakan berbicara padanya bahwa laki-laki itu baik-baik saja. Sementara si ember bocor alias Martin tak pernah bosan membeberkan bahwa Vino pasti kelelahan dengan kegiatan keartisannya dan masih harus fokus belajar pula, apalagi casting t
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung







