LOGINVino tidak benar-benar tahu ke mana mobilnya akan dibawa. Tangannya hanya mengikuti jalan yang sudah begitu akrab baginya, sampai akhirnya sedan itu berhenti di belakang kota. Di bawah pohon beringin tua yang sejak kecil menjadi tempat persembunyiannya dan Bita.
Vino turun dari mobil, lalu berjalan mendekati batang pohon besar itu dan menjatuhkan tubuhnya di atas akar yang mencuat dari tanah. Lantas mendongak memandangi daun-daun beringin bergerak pelan diterpa aSetelah hari ketika Bita bertemu Jesika, wanita itu tak pernah lagi muncul. Hidup Bita kembali seperti semula tanpa gangguan.Yang berbeda hanya satu: Vino.Seolah ingin membuktikan bahwa ia layak untuk Bita, bahwa ia mampu menjaga dan membahagiakannya, laki-laki itu mulai mengubah kebiasaannya.Kalau biasanya pagi-pagi Vino sudah mandi lalu nongkrong di depan rumah Bita sambil meminta sarapan, kini ia mulai rutin lari pagi. Tak hanya itu, ia bahkan mendaftarkan diri menjadi member gym.Waktu istirahat yang biasanya laki-laki itu habiskan dengan nongkrong di gazebo sambil bercanda bersama Martin dan teman-temannya, kini mulai ia gunakan untuk belajar di perpustakaan. Perubahan itu membuat Bita senang bukan main karena ia jadi bisa membaca novel sambil menemani Vino belajar.Vino juga mulai belajar berinvestasi meski masih dalam jumlah kecil. Seolah sedang menata masa depannya dan tentu saja, masa depan yang ingin ia bangun bersama Bita.
Suara dering ponsel kembali terdengar di dalam mobil Toyota Yaris milik Sasha. Gadis itu melirik sekilas ke layar ponsel yang tergeletak di pangkuan Bita. Nama Vino kembali tertera di sana.Sasha mengangkat pandangan. Bita masih menghadap ke jendela samping, menatap keluar dengan tatapan kosong.Sejak mereka meninggalkan tempat futsal, nama yang sama terus muncul di layar ponsel Bita. Sudah lebih dari dua puluh panggilan, tetapi satu pun tak diangkat. Entah berapa panggilan lagi sampai akhirnya Bita mau mengangkatnya.Sasha kembali memusatkan pandangan ke jalan.Sejujurnya, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tadi Bita bilang dirinya baik-baik saja. Bahkan sempat tersenyum dan meyakinkannya agar tidak perlu khawatir. Namun begitu masuk ke mobil, gadis itu nyaris tidak berbicara sama sekali.Ketika panggilan pertama masuk, Bita hanya melirik layar sebentar sebelum membiarkannya berdering hingga mati. Setelah itu, setiap kali nama Vino
Bagaimana mungkin hati seorang perempuan tidak hancur ketika mengetahui pacarnya, meski hubungan mereka masih terhalang restu, ternyata pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain? Terlebih ketika perempuan itu datang dengan penampilan yang begitu mencolok seperti Jesika. Martin sempat mengira Bita akan menunjukkan tanda-tanda terluka. Bahkan Sasha sudah bersiap merangkulnya jika gadis itu sampai menangis. Namun, dugaan mereka meleset. Bita justru tertawa. Tawanya membuat Martin, Sasha, bahkan Jesika terdiam. Senyum pongah di wajah Jesika pun perlahan memudar. “Oh, jadi kamu Jesika?” Bita akhirnya bersuara setelah tawanya mereda. “Maaf, tadi aku nggak ngenalin. Vino nggak pernah nyebutin ciri-ciri kamu. Dia cuma bilang, kamu itu cewek yang dulu secara sukarela dia jadikan pelampiasan.” “Vino cerita sama lo, Ta?” tanya Martin, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bita meng
Bita berjalan berdampingan dengan Sasha menuju area futsal. Ia sebenarnya sempat ingin membawa sesuatu yang lain, tetapi setelah dipikir-pikir, ia justru kebingungan sendiri. Vino bukan tipe yang suka ngemil, apalagi makanan manis. Jadi setelah cukup lama mempertimbangkannya, Bita akhirnya hanya membawakannya Americano yang sudah pasti di sukai laki-laki itu.Begitu memasuki bagian dalam, suara riuh permainan langsung menyambut mereka. Teriakan para pemain, suara sepatu beradu dengan lantai, dan bunyi bola yang sesekali menghantam jaring pembatas terdengar dari beberapa arah.“Lapangan yang mana?” Sasha bertanya sambil celingukan.“Gatau. Vino cuma bilang main futsal.”Mereka akhirnya berjalan menyusuri sisi luar jaring pembatas, melewati satu lapangan yang sedang dipakai beberapa orang bermain. Bita sempat melirik ke dalam, tetapi tidak menemukan sosok yang dicari.Mereka terus berjalan. Di lapangan berikutnya, beberapa pemain
“Nanti aku pulangnya bareng Sasha,” ucap Bita setelah turun dari motor Vino dan melepas helmnya begitu mereka tiba di parkiran kampus.Gerakan Vino yang hendak melepas helmnya terhenti. Ia menatap Bita. “Emang kalian mau ke mana? Mau jajan bareng?”“Hafal banget, Bang? Perhatiin aku banget, ya?” goda Bita.Sejak mereka sama-sama mengetahui perasaan masing-masing, Bita memang semakin sering menggoda Vino dengan kalimat-kalimat semacam itu. Dan bukannya terganggu, Vino justru menikmatinya.Vino tersenyum dari balik helmnya, lalu menjepit hidung Bita begitu saja. “Gimana nggak hafal? Pipi kamu aja udah kayak mochi saking seringnya jajan.”Bita segera menangkup kedua pipinya. “Aku kelihatan gendut?” Gadis itu bahkan sempat berkaca melalui spion motor Vino, memperhatikan kedua sisi wajahnya sebelum mendesah lesu. “Aku gendut.”Seketika tawa Vino membahana di parkiran. “Bercanda, Ta. Lagian pipi kamu dari dulu emang begitu.”“
Bita mendorong pintu rumah dan melangkah masuk sambil menenteng helm di tangannya. Baru beberapa langkah, pandangannya langsung tertuju pada Bram yang duduk di sofa ruang keluarga, membelakanginya. Bita berhenti sejenak, masih diam di tempat.“Kok pulangnya agak malam, Ta?”Anggun muncul dari arah dapur dan berjalan menghampirinya. Bersamaan dengan itu, Bram ikut menoleh ke belakang, menyadari kedatangan putrinya.“Tadi ada urusan bentar, Ma,” jawab Bita segera menyalim tangan mamanya, lalu beralih menghampiri Bram. “Pa.”Bram menyodorkan tangannya, dan Bita segera menyaliminya. Setelah itu, ia kembali berdiri, sementara Anggun mengapit lengannya.“Pulang-pulang lesu begini pasti lapar. Ayo, ke dapur. Mama temenin kamu makan. Papa sama Mama udah makan tadi.”Bita mengangguk.“Setelah makan, Papa mau bicara sama kamu.”Langkah Bita yang baru hendak bergerak langsung terhenti begitu Papanya berbicara santai. Gadis
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







