Share

Bab 283

Author: macaroonie
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-25 15:14:12

“Casting-nya untuk campaign fashion," ujar Naya begitu mereka tiba di lokasi. “Jadi kemungkinan kamu bakal diminta memperkenalkan diri, ambil beberapa digitals, jalan, terus mengikuti arahan mereka untuk pose. Jangan terlalu dipikirin. Ikuti instruksinya aja.”

Vino mengangguk. “Oke.”

Hari ini Vino mendapat jadwal casting modeling pertamanya sejak resmi menjadi talent Apex. Naya mengirimkan brief casting tersebut semalam, lengkap dengan waktu dan lokasi yang harus didatangi.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 285

    Bita kembali sering bertemu—atau lebih tepatnya, sering tidak sengaja bertemu dengan Vino selama ujian akhir semester.Martin sempat tiba-tiba berkoar-koar, lagi-lagi tanpa diminta Bita, di parkiran saat gadis itu hendak pulang. Mengatakan bahwa Vino akan fokus ujian terlebih dahulu sebelum kembali berkecimpung dalam pekerjaannya.Selama beberapa kali berpapasan, tidak ada yang berbeda dari Vino selain wajahnya yang entah mengapa jadi makin tampan. Mungkin efek dari lama tidak melihat Vino, atau memang laki-laki itu mulai lebih memperhatikan dirinya sebagai salah satu penunjang penampilan.Vino tetap menjadi Vino yang diam-diam tersenyum padanya lewat sepasang mata yang masih memancarkan kehangatan dan keteduhan, seakan berbicara padanya bahwa laki-laki itu baik-baik saja. Sementara si ember bocor alias Martin tak pernah bosan membeberkan bahwa Vino pasti kelelahan dengan kegiatan keartisannya dan masih harus fokus belajar pula, apalagi casting t

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 284

    “Sayang banget Vino lagi nggak ada di sini, Ta. Kalau ada, udah lari kayak orang cepirit ngeliat lo!”Celetukan Martin dari gazebo membuat langkah Bita yang hendak menuju kantin terhenti.Sejak keluar dari gedung tadi, matanya sebenarnya sudah sibuk menyapu area gazebo dan sekitarnya. Beberapa anak Manajemen memang sedang berkumpul di sana, tetapi sosok yang sejak tadi diam-diam ia cari tidak kunjung terlihat.Dan sekarang Martin justru menyinggung soal ketidakhadiran Vino. Bita hampir saja bertanya keberadaannya sebelum buru-buru mengerem mulut sendiri.Untung Sasha lebih dulu angkat suara. “Emang temen lo itu ke mana?”Bita nyaris ingin memeluk Sasha karena sudah mewakili pertanyaannya.“Makanya belakangan ini dia jarang kelihatan di kampus,” lanjut Martin. “Bukan cuma karena sibuk casting. Kadang ada briefing di agency, fitting, latihan, belum kalau ada panggilan buat audisi mendadak.”Martin melirik sekilas ke arah B

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 283

    “Casting-nya untuk campaign fashion," ujar Naya begitu mereka tiba di lokasi. “Jadi kemungkinan kamu bakal diminta memperkenalkan diri, ambil beberapa digitals, jalan, terus mengikuti arahan mereka untuk pose. Jangan terlalu dipikirin. Ikuti instruksinya aja.”Vino mengangguk. “Oke.”Hari ini Vino mendapat jadwal casting modeling pertamanya sejak resmi menjadi talent Apex. Naya mengirimkan brief casting tersebut semalam, lengkap dengan waktu dan lokasi yang harus didatangi. Karena ini merupakan casting pertamanya, Naya memutuskan untuk mendampinginya langsung. “Dan satu lagi, jangan bandingin diri kamu sama kandidat lain.” Naya tersenyum tipis. “Karena kamu bakal lihat banyak orang yang kelihatannya lebih berpengalaman. Fokus sama apa yang bisa kamu lakukan.” Vino kembali mengangguk. Mereka kemudian masuk ke area casting. Begitu sampai, Vino langsung menyadari satu hal. Kandidatnya jauh lebih banyak dari

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 282

    “Dasar bocah nakal! Nakal!” Vino seketika terlonjak dari tidurnya. Matanya mengerjap panik bergerak acak menatap meja belajar, buku-buku yang berserakan, lembaran kertas, lalu beralih pada wajah berang Mami di hadapannya. Belum sempat memahami apa yang terjadi, pukulan kembali mendarat di punggungnya. “Mami!” “Apa? Mau marah?” tantang Clara dengan dagu terangkat. Lengan bajunya bahkan sudah digulung sampai siku, sementara kedua tangannya berkacak pinggang. “Harusnya Mami yang marah karena bisa-bisanya kamu nyebur ke dunia hiburan tanpa bilang-bilang sama Mami?! Dasar bocah gemblung!” Pukulan berikutnya kembali melayang hingga rasa kantuk yang mendera Vino sepenuhnya menguap. Ia buru-buru mengangkat kedua tangan untuk melindungi diri. “Vino nggak sempat bilang, Mi!” jeritnya, berhasil menghentikan pukulan Clara. “Nggak sempat kamu bilang?!” Mata Clara melotot. “Sudah sebulan kamu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 281

    Vino mengetuk pintu sebelum membukanya setelah mendapat izin dari dalam. Namun langkahnya langsung terhenti sesaat ketika melihat siapa saja yang ada di dalam. Adrian ternyata tidak sendirian. Reynald duduk santai di salah satu sofa bersama Adrian, keduanya tampak sedang berbincang. Begitu melihat Vino masuk, Adrian langsung menoleh dan menunjuk ke arahnya. “Nah, tuh. Lihat sendiri anaknya.” Reynald ikut menoleh. “Ngapain ngejogrog di situ? Masuk," tegur Adrian. Vino menutup pintunya dan segera masuk. Ikut duduk bersama keduanya saat dipersilakan Adrian. "Capek?” tanya Reynald. Ada percik kekhawatiran yang Vino baca dari sorot matanya. “Lumayan, Om," jawab Vino sambil menyengir kuda. “Masih mau lanjut?” Vin

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 280

    “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang wanita segera menyapa Vino sesaat setelah laki-laki itu memasuki gedung Apex dan berhenti di depan meja resepsionis. “Pagi. Saya Vino. Saya ada jadwal onboarding sebagai talent baru.” Resepsionis mengangguk lalu mengalihkan pandangannya pada layar komputer di hadapannya. “Alvino Kusuma Anggara?” “Benar.” “Baik, Mas Vino. Sebentar, ya. Saya hubungi tim Talent Management terlebih dahulu.” Vino mengangguk. Resepsionis kemudian meraih gagang telepon di samping monitor dan menekan beberapa tombol. Tak lama kemudian, ia mulai berbicara dengan seseorang di ujung sambungan. Beberapa saat kemudian, suara resepsionis kembali terdengar. “Mas Vino?” Vino segera menoleh. “Ya?” “Orang dari Talent Management-nya sedang

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status