LOGIN"Makasih, Mas."
Bita menyerangkan helm kepada ojek yang mengantarnya sampai ke rumah lalu menyeret langkahnya memasuki pekarangan. Ia tidak bisa menahan matanya untuk melirik ke sebelah. Rasa lega segera membanjiri dadanya menemukan motor sport Vino terparkir di teras. Laki-laki itu berada di rumah, tidak di Kelab mana pun seperti bayangannya. "Kok lesu begitu anak Mama? Capek ya kuliahnya?" Anggun menyambutnya dari sofa ruang tengah."Kamu jangan aneh-aneh ya, Vin." Bita menatapnya sangsi, memahami ke mana arah pembicaraan ini akan berujung."Apa? Gue cuma menawarkan bantuan?""Aku kenal kamu dan aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan sesuatu itu udah pasti bukan hal yang baik."Vino memasang raut tertohok. "Gue sejelek itu di mata lo, Ta? Sampai lo nggak percaya gue?"Bita mendesah. "Kalo gitu buat apa kamu menawarkan bantuan ke Fero?""Lo belum tau kalo Fero menganggap gue sama dia setara dalam hubungan persahabatan dengan lo?" tanya Fero. Mata Bita menyipit saat memandangi Fero dan Vino secara bergantian. "Emang kalian pernah ngobrol berdua?"Sesaat Vino terdiam sebelum menyuara santai. "Pernah. Ya ... cuma ngobrol-ngobrol biasa. Saling sapa selayaknya temen? Ya kan Fer?"Tidak langsung menjawab, Fero beradu pandang dengan Vino cukup lama kemudian menganggukkan kepalanya.Bita belum mau melunturkan sorot mata curiganya.
"Lagi kumpul keluarga besar antar generasi ceritanya? Ikut, dong."Hening merayap di antara mereka. Tidak seorang pun terlihat berniat menjawab pertanyaan Vino."Kalo kamu mau merusuh, jangan sekarang. Kami lagi belajar buat ujian nanti." Bita menjatuhkan peringatan.Vino menyipitkan matanya pada Bita yang menatapnya datar. "Siapa yang mau merusuh? Orang gue cuma duduk dan pengen liat proses belajar kalian."Diambilnya catatan Fero tanpa permisi. "Sebagai anak manajemen, gue menyimpan banyak rasa penasaran terhadap hal-hal yang dikerjakan anak-anak akuntansi yang manis-manis ini."Sasha menampilkan raut jijik sebelum beringsut meninggalkan kursinya dengan alasan ingin meminjam buku di perpustakaan.Vino memindahkan perhatiannya dari Sasha yang menyambar bukunya lalu melipir dengan langkah kaki tergesa ke laki-laki asing di depannya. "Lo nggak ikutan pergi? Tiba-tiba pengen ngapain gitu? Kebelet boker?"Bagas menggelengka
Bita menghela napas panjang sambil memandangi catatannya. "Aku masih suka ketuker antara biaya sama beban.""Nah!" Sasha menjentikkan jarinya. "Aku juga. Perasaan sama-sama keluar uang. Kenapa dosen ngotot bilang beda?""Karena memang beda."Bita dan Sasha serentak menoleh pada Fero. Bersama Bagas, Fero kembali bergabung di gazebo dengan kedua gadis itu guna mempersiapkan ujian berikutnya.Bagas menunjuk Fero. "Bener, kan? Udah gue bilang dia google berjalan, Kak. Gerak dikit udah bisa buka kuliah umum. Coba apa bedanya, Fer. Gue juga mau tau."Pipi Fero sedikit memerah. Namun setelah didesak tatapan penasaran dua mahasiswi itu, ia akhirnya melanjutkan."Biaya itu lebih ke pengorbanan sumber daya untuk memperoleh manfaat ekonomi. Sementara beban adalah bagian dari biaya yang manfaat ekonominya sudah dipakai dalam periode berjalan."Bita berkedip. "Bisa pake bahasa bayi?"Fero tertawa kecil."Misalnya pe
Bita turun dari motor ojek online tepat di depan gerbang rumah. Di tangannya tergenggam segelas matcha mint latte ukuran sedang yang dibelinya dalam perjalanan pulang.Gelas plastik bening itu masih dingin. Butiran embun menempel di permukaannya, sementara warna hijau pucat minuman di dalamnya tampak kontras dengan tutup transparan yang membungkus bagian atas.Bita menatap minuman tersebut beberapa detik. Kemudian menatap rumah di seberang. Lebih tepatnya pada mobil toyota sedan yang sudah terparkir di teras. Niat Bita ingin memberikan minuman ini untuk Vino supaya mereka bisa berdamai. Meski jelas dengan Vino terlebih dulu mengirimnya pesan membuktikan bahwa laki-laki itu tidak lagi memendam amarah, namun tetap saja Bita kesulitan menyingkirkan rasa canggung yang mengganjal di dadanya.Bagaimanapun juga, mereka baru saja melalui perang dingin tersengit setelah percakapan yang berakhir tidak menyenangkan di basement kampus. Banyak dari ucapan Bit
"Kak Bita baru selesai kelas?"Fero menghampirinya di depan gedung fakultas yang sudah lumayan sepi. Bita yang baru akan memesan ojek online sontak menatap was-was sekitar sebelum sadar Vino sudah pulang dari siang tadi. Setelah lebih dari satu jam menganggurkan pesannya, Vino akhirnya membalasnya dengan mengatakan ia tidak jadi menemuinya di gazebo, dan meminta maaf karena tidak bisa mengantarnya pulang seperti janjinya. Ada urusan dengan Martin, katanya.Bita mengangguk. "Kamu ada kelas sore juga?"Fero meringis canggung. Gerakan tangannya yang mengusap leher terlihat kikuk. "Nggak ada sih Kak. Cuma ... ada yang mau aku omongin sama Kak Bita."Genggaman tangan Bita di ponsel tanpa sadar mengencang. "Kenapa nggak lewat chat aja? Atau telpon? Daripada nunggu lama. Mana kamu nungguin sendirian, kan?"Bita sangat berharap sesuatu yang sedang akan dibicarakan Fero bukan tentang perasaannya.Sebab, akan lebih mudah bagi Bita mengatakan penolakan lewat sambungan telepon. Daripada Bita ha
"Jadi, gue disuruh ke rumah lo buat liatin lo bengong doang?"Martin membalikkan komik Vino yang ia dapatkan di laci bocah itu. Setelah bosen bermain ponsel selama menunggu tujuan Vino mengajaknya datang ke rumahnya beres kelas, namun yang laki-laki itu lakukan hanya diam berbaring di atas ranjang, Martin menemukan kesibukan baru yaitu membaca komik yang ia dapatkan usai mengobrak-abrik laci Vino.Tapi tetap saja ujung-ujungnya rasa bosan itu datang lagi.Martin melarikan lagi matanya pada Vino yang belum menjawab pertanyaannya. Laki-laki itu masih betah memandang seberang balkon. Kata Vino, balkon itu milik kamar Bita. Selain bertetangga akrab, dua orang itu juga memiliki kamar dengan balkon berhadap-hadapan. Martin jadi mengerti seberapa tidak nyamannya Vino saat Fero mengatakan mereka setara. Karena mau bagaimana pun tidak ada yang akan ada yang bisa menyetarai hubungan persahabatan keduanya. Dilihat dari banyaknya momen yang sudah mereka lewati bersama. Mungkin saat malam suda
"Beginikan enak."Bita memandang bangga handuk kecil yang sudah ia basahi air hangat yang kini menempel di dahi Vino."Kayak bocah," sungut Vino. "Mending solusi gue tadi aja lebih praktis.""Aku lebih baik nguras sumur daripada menyanggupi permintaan kamu buat telanjan
"Mam—hmpft.""Iya, ini gue lepas."Bita menyingkirkan tangan Vino yang membekapnya. "Masuk ke kamar sekarang. Jangan bertingkah," suruhnya sudah seperti seorang ibu.Berniat melangkah duluan, Bita malah memekik ketika baru saja memutar tumit, badannya sudah melayang."Vino!" jerit Bita meningkahi V
"Vino?"Bita melintasi ruang tamu rumah Vino sambil memanggil namanya. Dilihat dari pintu yang terbuka, sudah pasti laki-laki itu berada dirumah, tapi dipanggil sejak tadi Vino tidak muncul-muncul.Laki-laki itu sepertinya ada di kamar. Bita mengayunkan langkahnya menuju tangga yang membawanya ke l
Koridor fakultas mulai ramai oleh mahasiswa yang baru selesai kuliah. Bita dan Sasha bersisihan keluar ruangan."Habis ini mau kemana?""Aku mau ke perpustakaan dulu buat pinjam buku."Sasha mencebik. "Kamu masih nggat mau kasih tau aku cowok yang kamu taksir?"







