Compartilhar

Bab 72

Autor: macaroonie
last update Data de publicação: 2026-06-19 20:59:02

"Kalo lo nggak mau menjauhi Fero, jangan berharap gue mau bantu lo lagi buat dapetin Mas Aksa."

Bita melongo. Ditariknya lengan Vino, membuat laki-laki yang sudah mengambil beberapa langkah menjauh itu jadi terhenti. "Nggak bisa gitu, dong. Kamu kan udah janji mau bantu aku."

"Perjanjian batal kalo lo nggak mau nurut perkataan gue." Dengan seenak jidat Vino menjawab.

Bita mengerang tak terima. "Nggak bisa gitu. Seenaknya aja kamu
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 337

    Bita baru bisa menyelesaikan pekerjaannya setelah jam pulang kantor lewat cukup lama. Beberapa kali ia harus memeriksa ulang laporan auditnya, memastikan tidak ada lagi angka yang keliru sebelum akhirnya diizinkan pulang.Meski begitu, ia sama sekali tidak merasa kesal karena harus lembur.Sepanjang perjalanan pulang dengan ojek, Bita justru sibuk membayangkan kemungkinan bertemu Vino lagi.Siapa tahu mereka berpapasan di lobi. Atau bertemu lagi di lift seperti tadi pagi. Bita bahkan membayangkan Vino keluar dari apartemennya tepat saat ia tiba, lalu mereka saling bertatapan sebelum laki-laki itu kembali tersenyum dan tertawa kecil dengan ekspresi manisnya yang sukses membuat jantung Bita berdebar tak karuan.Membayangkannya saja sudah cukup membuat Bita tersenyum lebar. Bahkan, ia sampai terkikik sendiri di atas motor, membuat pengemudi ojek sempat meliriknya lewat kaca spion.Namun, tawanya perlahan berhenti ketika motor itu akhirnya ti

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 336

    Bita membuka pintu apartemennya sambil menguap lebar. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur karena suara tawa aneh yang kembali terdengar dari lorong apartemen. Suara itu membuatnya terus terjaga hingga menjelang subuh. Alhasil, pagi ini ia harus bersiap berangkat kerja dengan mata berat dan tubuh yang masih terasa lemas, meskipun sudah berusaha menyegarkan diri. Dengan langkah gontai, Bita menyusuri lorong menuju lift. Begitu pintunya terbuka, Bita langsung masuk dan menekan tombol lantai dasar sebelum mundur beberapa langkah. Ia bahkan sudah bersiap memejamkan mata sejenak ketika pintu lift mulai merapat. Namun, sebuah tangan tiba-tiba menyelip di antara kedua pintu, menahan hingga sensor membuatnya kembali terbuka. Bita mendongak mendapati Vino-lah yang menahan pintu lift. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu tanpa masker, menatapnya sekilas sebelum melangkah masuk. Tubuh Bit

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 335

    “Gue pernah bilang, kan, kalau lima ratus juta itu cuma buat mahar? Sementara buat biaya pernikahan dan kehidupan setelahnya, gue masih harus ngumpulin uang lagi.”Martin mengernyitkan dahi. “Ya, terus? Lo bukannya dapat banyak job sekarang? Belum kekumpul juga?”Vino tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke kaleng soda di atas nakas. Ia memutar tubuh sedikit, menyandarkan kedua siku di atas paha, lalu menunduk sambil meremas kedua tangannya sendiri.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang. “Dulu sebenarnya udah sempat kekumpul,” jawabnya pelan. “Tapi ada sesuatu yang bikin gue harus ngambil uang dari tabungan itu.”Martin terdiam sejenak, berusaha mencerna jawabannya. “Oke. Terus sekarang masih belum kekumpul lagi?”Vino menggeleng. “Lima ratus jutanya udah kekumpul lagi, sih.” Ia menjeda, kemudian menggeleng pelan. “Cuma uang buat pernikahannya yang belum.”Martin mengusap wajahnya sebentar se

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 334

    “Akhirnya ketemu kasur juga.” Martin langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang begitu tiba di apartemen Vino. Ia membenamkan wajah ke bantal, lalu mengembuskan napas panjang seolah baru saja menyelesaikan perjalanan lintas pulau.Sedangkan Vino berjalan menuju kulkas mini di sudut ruangan, mengambil dua kaleng soda, lalu melemparkan salah satunya ke arah Martin.“Tangkap.”Martin mengangkat kepala tepat waktu untuk menangkap kaleng itu. “Thanks.” Ia bangkit menjadi duduk, membuka kaleng soda, lalu menyesapnya dengan nikmat.Vino berjalan menghampiri ranjang sambil meneguk minumannya. Setelah duduk di sisi ranjang, ia meletakkan kaleng soda di atas nakas dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.Martin memperhatikannya beberapa saat sebelum kembali meneguk minumannya.“Jadi, apa yang bikin si artis sibuk ini sampai nggak ada waktu buat nengokin temennya, sekarang malah tiba-tiba nyamperin temennya dan maksa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 333

    “Udah aku bilang aku naik transportasi umum aja. Malah maksa nganterin!” Bita turun dari motor Haikal setibanya mereka di depan apartemennya. Wajahnya masih masam, setengah menggerutu karena laki-laki itu bersikeras mengantarnya. “Gue mau mastiin lo sampai Jakarta dengan selamat,” jawab Haikal enteng sembari melepas helmnya. Ia melirik Bita yang masih berdiri di samping motor dengan wajah kesal. “Gue takut lo kenapa-kenapa. Jangan sampai gue kehilangan temen yang bisa gue ajak mengumpat mantan. Senasib pula ngenesnya.” Sejak obrolan mereka di lobi apartemen beberapa waktu lalu, entah bagaimana, hubungan keduanya berkembang menjadi pertemanan yang cukup dekat. Awalnya, mereka hanya dua orang yang kebetulan sama-sama punya masalah dengan mantan kekasih. Namun, obrolan yang semula sekadar saling mengumpat itu perlahan berlanjut menjadi percakapan tentang banyak hal lain. Mereka mulai terbiasa bertukar cerita, saling meledek, b

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 332

    Bita tersentak ketika suara bel apartemennya mendadak terdengar. Ia buru-buru menjauhkan wajahnya dari Vino, lalu bergegas membuka pintu.Laki-laki bernama Tom yang ternyata juga merupakan asisten Vino berdiri di depan sana. Begitu melihat Bita, wajah Tom langsung menunjukkan keterkejutan sebelum berubah menjadi senyum lebar. “Eh, ketemu lagi, Mbak, kita.”Bita membalasnya dengan senyum tipis. “Vino ada di dalam.”“Oh, iya! Hampir lupa tujuan saya ke sini.” Tom menepuk dahinya sendiri sebelum buru-buru masuk.Begitu melihat Vino terbaring di sofa, ia segera menghampirinya. “Gimana kondisinya, Mbak?”“Tadi udah saya kompres. Panasnya juga kayaknya udah agak turun.”Tom mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Makasih banyak, ya, Mbak. Aduh, jadi ngerepotin begini.”“Nggak papa, Mas.”Tom mengangguk sebelum membungkuk untuk mengangkat tubuh Vino. Namun, baru sebentar mencoba, ia sudah terlihat kesulitan. Tub

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status