LOGINMotor melaju pelan meninggalkan kompleks perumahan.
Aku menyetel helm dengan satu tangan, mataku menyapu jalan yang masih sepi pagi-pagi begini. Baru setengah tujuh. Matahari belum terlalu tinggi, tapi udaranya sudah cukup hangat untuk membuat kerah bajuku terasa sedikit gerah. Aku tidak terburu-buru, Tapi juga tidak bisa diam. Semalam, setelah meletakkan ponsel dan memejamkan mata, ku pikir otakku akan langsung beristirahat. Tapi ternyata tidak. Pikiranku malah memilih untuk replay percakapan tadi malam, pesan demi pesan, seperti seseorang yang menonton ulang film yang baru saja ku tonton setengahnya. * Ngapain sih. * ucapku sembari menggeleng pelan di balik helm. Bukan apa-apa. Aku hanya menemukan seseorang yang nyambung diajak ngobrol. Itu saja yang terpikir olehku. Di kampus baru, di hari pertama yang panjang dan melelahkan, menemukan orang yang bisa diajak bicara tanpa harus menjelaskan diri sendiri terlalu banyak itu terasa... melegakan. Sesederhana itu. Melva suka film, begitu juga denganku. Melva tidak bicara dengan format perkenalan standar yang terasa seperti formulir isian. Ia langsung nyerobot ke tengah percakapan, seperti dua orang yang sudah saling kenal dan baru saja bertemu lagi setelah lama tidak bertemu. Dan selera humornya... Tanpa sadar, sudut bibirku naik sedikit. Aku langsung menyadari itu. Langsung kuhapus ekspresi tersebut. Untung tidak ada yang melihat, pikirku. Orang pasti akan berpikir ada yang aneh dengan pengendara motor yang senyum-senyum sendiri di persimpangan. *Sudah. Fokus...* Lampu merah. Aku berhenti. Di sebelah kananku, sebuah angkot penuh sesak berhenti juga. Dari balik kaca yang sedikit terbuka, aku bisa mendengar samar-samar percakapan penumpang di dalamnya. Ramai. Campur aduk. Aku menghadap lurus ke depan. Hari ini outbound. Hari ini aku akan bertemu banyak orang baru lagi, mungkin ratusan. Dan di antara ratusan itu, ada kemungkinan aku akan bertemu orang yang kemarin malam mengirim pesan duluan? Lampu hijau. Kupacu motorku melaju lagi. Aku sudah tahu bahwa outbound hari ini akan ramai. Tapi aku tidak menyangka akan sebesar ini. Area lapangan yang luas itu sudah dipenuhi mahasiswa baru yang datang bergelombang. Beberapa datang berkelompok, sudah akrab satu sama lain entah sejak kapan. Beberapa yang lain terlihat seperti diriku yang sangat introvert ini, berdiri agak di pinggir, memindai situasi sebelum memutuskan harus bergerak ke mana. Panitia ospek bergerak gesit ke sana kemari dengan rompi oranye yang mencolok. Salah satu dari mereka memegang megafon dan berteriak arahan yang separuhnya hilang diterbangkan angin. Di sudut lain, ada kelompok mahasiswa yang sedang repot dengan atribut yang salah warna. Ada yang masih sibuk mencari kelompoknya sambil mengangkat-angkat ponsel tinggi seolah itu bisa membantu sinyal. Aku memperhatikan semua itu dari tempat ia berdiri. Ini berbeda. Ini sangat berbeda dari dua tahun terakhir yang ku habiskan di balik layar, di kamar, dengan koneksi internet yang kadang bersahabat dan kadang tidak. Dua tahun perkenalan lewat Zoom, pertemuan lewat kolom chat, tawa yang diwakili emoji karena kamera mati atau suara yang patah-patah karena lag. Dan sekarang ini— Suara, Tawa, Langkah kaki, Bau rumput yang baru dipotong dan matahari pagi yang mulai terik. Orang-orang yang benar-benar ada, di tempat yang sama, pada waktu yang sama. *Sudah lama ... * ucapku sembari menghela napas panjang. Aku mulai berjalan lagi, ku keluarkan ponsel ku untuk mengecek nama-nama kelompok ku sekali lagi. Kelompok 7. Koordinator kelompok katanya sudah membuat papan nama, tapi dari posisiku sekarang ini, aku belum bisa melihat papan nomor tujuh di mana. Mataku menyapu kerumunan. Tanpa ku sadari, aku tidak hanya mencari papan bertuliskan angka tujuh. Kelompok 7 ada di sisi timur lapangan. Akhirnya aku menemukan papan nama kelompok ku sendiri setelah dua kali memutar, satu kali salah belok, dan satu kali nyaris menabrak mahasiswa yang berhenti tiba-tiba di depannya karena panik tidak menemukan teman sekelompoknya. Di sana sudah ada delapan orang. Dan aku menjadi yang kesembilan. Aku memperkenalkan diri seadanya, menjabat tangan yang disodorkan, menyebut namanya dengan intonasi datar yang sudah menjadi kebiasaanku sejak lama. Orang-orang di sekelilingku terlihat sudah mulai akrab satu sama lain, entah kenal sebelumnya atau memang punya jenis keberanian sosial yang tak kumiliki. Aku mulai duduk di ujung lingkaran, mengeluarkan botol minumanku, dan diam-diam memindai wajah-wajah di sekitar. Tak ada Melva. *Mungkin beda kelompok...* Aku mulai meletakkan botol minumnku kembali, Wajar. Kelompok dibagi acak. Tidak ada alasan untuk mengharapkan seseorang yang baru dikenal semalam ada di kelompok yang sama karena menurutku Itu tidak masuk akal. Koordinator kelompok mulai berbicara, menjelaskan susunan acara hari ini. Aku mendengarkan sambil mataku sesekali tanpa izin menyapu ke arah kelompok-kelompok lain yang berjejer di sekitar kelompok ku. Kelompok 6. Kelompok 8. Kelompok 5 yang letaknya agak jauh. Aku menghentikan pencarianku. *Tidak perlu dicari...* Kegiatan pertama ku dimulai pukul delapan lebih sedikit. Sebuah permainan yang mengharuskan seluruh kelompok memindahkan bola dari satu titik ke titik lain menggunakan tali yang dipegang masing-masing orang. Konsepnya sederhana. Pelaksanaannya tidak. "Tarik kirinya! Kiri! Kiri saya atau kiri kamu?" "Sama saja, kan? Kita saling berhadapan!" "Nggak sama! Kiri saya itu kanan kamu!" Kelompok 7 kita gagal tiga kali berturut-turut. Bola jatuh di detik terakhir dua kali. Satu kali gagal, aku bahkan belum sempat bergerak setengah meter. Dan entah kapan tepatnya, di antara kegagalanku yang ketiga dan instruksi ulang dari panitia, Aku mulai tertawa. Bukan tawa sopan. Bukan tawa sekadarnya. Aku benar-benar tertawa ... karena memang lucu, karena kelompok ku kacau tapi kompak sekaligus, karena seseorang di sebelahnya bersikeras bahwa semua ini adalah salah koordinasi dan bukan salah siapapun secara personal. *Ini... menyenangkan ...* Pikiran itu muncul begitu saja, polos dan tanpa basa-basi. Tetapi tak bisa kusangkal karena memang seperti itulah yang kurasakan. Rasanya aku seperti sudah lupa kapan terakhir kali aku bisa tertawa bersama orang-orang yang bahkan belum ku kenal namanya dengan baik. Ada sesuatu yang aneh tapi juga lega dari itu, tertawa bukan karena sudah akrab, tapi karena situasinya memang mengharuskan demikian dan semua orang memilih untuk menerimanya. Permainan kedua estafet air menggunakan gelas yang dilubangi. Strategi kita adalah menututup lubangnya dengan jari. Hasilnya basah semua, menang tipis, dan ada yang hampir tersedak karena tertawa sambil meminum sisa airnya. Permainan ketiga menyusun puzzle besar bertema kampus. Rasanya ini yang paling tenang dari semuanya. Aku duduk di lantai bersama teman-teman baruku dari kelompok ku, memilah-milah kepingan, berbicara pelan tentang potongan mana yang cocok di mana. Di sini barulah aku sempat berkenalan dengan benar. Ada Rafi yang dari tadi paling keras suaranya. Ada Sinta yang ternyata juga pendiam tapi matanya jeli sekali menemukan kepingan yang cocok. Ada Bagas yang dari awal sudah membawa bekal sendiri dan tanpa malu memakannya di tengah sesi puzzle. Aku merasa hari ini aku berbicara lebih banyak dari biasanya. Tidak jauh lebih banyak. Tapi cukup dimasa pasca pandemi ini. Dan itu, untuk hari ini, sudah lebih dari cukup. Aku tidak sempat lagi menyapu pandangan ke kelompok-kelompok lain. Tidak ada waktu. Tidak ada ruang lagi di kepalaku. Kegiatan demi kegiatan mengalir dan aku membiarkan diriku ikut mengalir bersamanya, hal yang tidak sering ku lakukan, hal yang ternyata tidak seburuk yang biasa ku bayangkan. Istirahat dimulai pukul sebelas. Aku mencari tempat yang agak jauh dari kerumunan. Tidak jauh-jauh amat, hanya cukup untuk duduk tanpa harus berbicara dengan siapapun untuk beberapa menit. Di bawah pohon besar yang memberikan ku bayangan yang cukup lebar, aku meluruskan punggung ke batang pohon dan menghela napas panjang. *Capek. Tapi capek yang berbeda dari biasanya...* Biasanya aku merasa capek itu seperti dikuras energi keluar tanpa ada yang masuk kembali. Tapi kali ini... aku merasa ada sesuatu yang terisi juga, meskipun aku belum bisa dengan tepat menyebutkan apa. aku membuka botol minumanku kembali. Ku teguk perlahan. Kupejamkan mataku sebentar. Di kejauhan, suara kerumunan mahasiswa masih ramai. Seseorang teriak nama temannya. Panitia mengingatkan waktu istirahat. Suara sandal dan sepatu di atas tanah yang mulai mengering. "Eh, Awan?" Aku mulai membuka mataku kembali. Melva berdiri tiga langkah di depanku. Berhijab, pakaian sesuai ketentuan ospek, name tag miring sedikit ke kiri. Di tangannya ada dua botol air mineral. Satu sudah terbuka, satunya belum. Ekspresinya tidak terkejut-terkejut amat. Lebih ke... oh, kebetulan. Sedangkan Aku? Aku tidak tahu harus berkata apa. Bukan karena tidak ada yang ingin ku katakan. Justru kebalikannya. Ada terlalu banyak yang ingin sekali ku katakan sekaligus, dan semuanya macet di suatu tempat antara kepala dan mulutku, saling berdesakan dan akhirnya tidak ada satu pun yang berhasil keluar. *Ini Melva.* Katakan sesuatu. "Oh ..." Suaraku hanya keluar setengah. kucoba lagi. "Melva..." Sangat tidak membantu. Itu bukan kalimat. Itu hanya nama. Melva tersenyum. Tidak menungguku untuk menyelesaikan kalimat yang jelas tidak akan selesai itu. "Ini." Ia mengulurkan botol air mineral yang belum terbuka. "Tadi ambil lebih dari yang aku butuhkan. Keliatan kamu nggak pegang minuman." Ku tatap botol itu. Lalu menatap Melva. Lalu botol lagi. "Oh. Makasih." Melva mengangguk sekali, ringan, seperti orang yang baru saja mengembalikan pulpen yang dipinjam. Lalu berbalik dan pergi kembali ke arah kelompoknya yang ada di sisi lapangan yang berbeda. Aku tidak bergerak selama beberapa detik. Botol air mineral itu masih ada di tangaku. Dingin. Permukaannya basah karena kondensasi. Dari kejauhan, suara panitia mengumumkan bahwa istirahat tinggal lima menit lagi. Aku baru menyadari bahwa dari tadi aku hanya duduk mematung dengan ekspresi yang ia sendiri tidak bisa bayangkan seperti apa rupanya. Perjalanan pulang ditempuh dengan kecepatan yang lebih pelan dari biasanya. Matahari sudah mulai condong ke barat. Bayangan-bayangan memanjang di aspal. Angin sore lebih sejuk dari pagi tadi, menerpa wajahku yang tidak lagi tertutup rapat oleh helm yang sedikit longgar di bagian kiri. Hari ini melelahkan. Tapi bukan jenis lelah yang membuatku ingin segera menutup kamar dan tidak keluar sampai besok pagi. Ini jenis lelah yang berbeda, yang lebih ringan, yang membuat bahuku terasa turun dua centimeter dari posisi tegang yang biasanya. Aku memutar ulang hari ini di kepalaku. Bola yang jatuh tiga kali. Puzzle yang akhirnya selesai. Rafi yang ternyata tidak sekeras suaranya kalau sudah tidak teriak. Sinta yang tertawa kecil setiap kali menemukan kepingan yang pas. Bagas dan bekalnya yang tidak habis-habis. Dan ... Aku mulai melambatkankan motorku saat mendekati persimpangan. Botol air mineral itu sudah habis setengah. Aku sudah meminumnya tanpa banyak berpikir, di sela-sela kegiatan sore, karena memang haus. Tapi sekarang, di perjalanan pulang ini, dengan angin sore yang menerpa dan pikiranku yang mulai mengendap setelah seharian penuh bergerak, satu pertanyaan kecil muncul begitu saja tanpa diundang. *Tadi kenapa diem?* Bukan pertanyaan yang penting. Bukan sesuatu yang perlu dijawab. Melva datang, memberi air, pergi. Itu saja. Selesai. Tidak ada yang perlu dianalisis dari interaksi sepanjang dua puluh detik itu. Tapi pertanyaan itu tetap ada. Menggantung ringan di suatu tempat di antara pikiran dan rasa, tidak cukup besar untuk disebut masalah, tidak cukup kecil untuk ku abaikan begitu saja. Lampu merah lagi. Aku menghentikan motorku. Menunggu. Menatap lampu yang masih merah. *Tadi kenapa diem...* Aku tidak menemukan jawabannya sebelum lampu berganti hijau. Dan mungkin... untuk saat ini aku juga tidak perlu mencarinya.Pukul dua siang, aku sudah berdiri di depan lemari lagi.Kemeja biru muda yang sama masih menempel di badan sejak pagi, tapi sekarang giliran bagian bawah yang harus menyusul. Kolor kotak-kotak sudah kulepas, digantikan celana panjang berwarna abu gelap yang kuseterika terburu-buru sepuluh menit lalu karena ternyata masih ada bekas lipatan yang membandel di bagian lutut. Aku menariknya, memasukkan ujung kemeja ke dalam dengan rapi, lalu berdiri sekali lagi di depan cermin.Kali ini dari atas sampai bawah semuanya cocok. Tidak ada yang perlu ditutupi meja.Zoom tidak melihat ke bawah meja, batinku, tapi tatap muka melihat semuanya. Jadi kali ini semuanya harus benar.Aku menyambar tas ransel yang sudah kusiapkan sejak makan siang, isi seadanya, laptop, buku catatan yang masih kosong halamannya kecuali beberapa poin yang kutulis waktu Zoom tadi pagi, dan botol minum yang belum sempat kuisi ulang. Kuisi cepat-cepat di dispenser dekat dapur, lalu berjalan keluar.Motor sudah menunggu di
Alarm berbunyi pukul enam pagi.Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah.Lalu kutap layarnya. Diam.Aku duduk di tepi kasur.Hari ini hari pertama kuliah.Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya.Aku berdiri. Membuka lemari.Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang ber
Di pagi yang sama, di tempat yang berbeda. Kamar Melva lebih rapi dari yang bisa diduga dari seseorang yang baru saja bangun. Kasurnya sudah dirapikan, bukan rapi sempurna, tapi cukup rapi untuk menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan, bahwa ada seseorang yang memang terbiasa merapikan tempat tidurnya sebelum melakukan hal lain. Buku-buku di rak tersusun tidak sepenuhnya lurus tapi tidak berantakan. Meja belajarnya bersih kecuali satu gelas yang setengah isinya sudah tinggal sisa air dari semalam. Melva berbaring di atas kasur dengan laptop terbuka di depannya. Bukan untuk belajar. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif. Pagi Minggu tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang produktif, itu prinsip yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tapi selalu ia praktikkan. Jadi laptop terbuka, platform streaming sudah menyala, film yang sudah lama masuk daftar tonton akhirnya mulai diputar. Opening credit masih berjalan. Musik latar yang pelan. Nama-nama yang ia tidak kenal. D
Tidak ada alarm pagi ini. Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat. Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur. Ibu sudah bangun. Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini. Aku meraih ponsel di sisi kasur. Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, c
Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima
Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung







