เข้าสู่ระบบ“Aaahhh...”Tara benar-benar menggunakan lidahnya untuk memulai pendakian pada kedua bukit Luna malam ini.Ia mengangsurkan bibirnya pada permukaan bukit itu, menggunakan lidahnya untuk mendaki puncaknya, bergerak memutar, bibirnya menyesap kembali puncak bukit yang semakin keras itu hingga sebuah desakan liar membuatnya melakukan gerakan primitif kesukaan para pria di jagat raya.Sebelumnya Tara memang belum pernah melakukan ini karena ia benar-benar menjaga dirinya untuk tidak terlibat pada pergaulan bebas.Tetapi insting yang menuntunnya untuk menciptakan gerakan primitif yang mungkin akan disukai oleh Luna.Tadi ketika melihat tubuh polos Luna untuk pertama kalinya, jujur saja ia sangat terpesona. Tubuh gadis di bawah kungkungannya ini sungguh indah dari pemandangan yang selama ini pernah ia lihat.Bibirnya berpindah dari puncak bukit Luna yang satu lalu ke puncak bukit yang satunya bersinergi dengan tangannya yang juga memainkan puncak bukit Luna yang sudah tegang.Tubuh Luna men
Tara menunduk sopan pada Pak Sudirja. “Maaf Tuan. Anda salah mengenali orang. Saya bukan orang yang Anda maksud. Nama saya Tara Gunawan,” ucap Tara sambil menunjuk tanda pengenal pengamanan di saku jasnya.Pak Sudirja menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu pria itu tertawa. “Aduh, maaf ya. Maklum sudah tua jadi salah mengenali orang,” ucap Pak Sudirja tetapi masih memegang bahu Tara.Tanpa pamitan dengan Tara, Pak Sudirja pun meninggalkannya. Tetapi Tara melihat kalau pria itu sempat berhenti dan kembali menoleh ke arahnya untuk beberapa detik kemudian pria itu pun berjalan menuju meja utama.Tara membetulkan letak kacamatanya. Ia berusaha untuk tetap santai seolah tidak terjadi apa-apa.Sesaat kemudian, Luna mendekati Tara. “Tara, siapa pria tadi itu? Kenapa dia mengira kamu Tuan muda Askara yang sudah lama tidak muncul di depan publik?”“Saya tidak mengenalnya, Nona. Tuan tadi salah mengenali saya. Tidak heran sih kalau sudah seusia mereka sering keliru mengenali wajah di ruanga
Sejak pagi rumah sudah ribut karena Luna mencoba tiga pasang sepatu dan tetap tidak puas, sedangkan Mbak Sarti bolak-balik dari kamar ke ruang setrika sambil membawa jepit rambut yang tidak satu pun dipakai Luna.“Nona, menurut saya semua sepatunya cocok dengan gaunnya,” ucap Mentari.“Cocok ya? Tapi kok aku merasa nggak nyaman ya,” ucap Luna.“Pakai yang nyaman di kaki Nona saja. Mau pakai sepatu yang mana pun, Nona tetap cantik banget hari ini,” ucap Mbak Sarti.“Hmm… Baik deh. Aku pakai yang hitam ini aja. Makasih ya Mbak Sarti dan Mentari udah bantu aku siap-siap.”Luna pun berdiri lalu ia melihat penampilannya lagi di cermin besar. Ia hanya memoleskan make up tipis tetapi membuat wajahnya semakin cantik.“Oh iya Mbak Sarti, Mentari malam ini kalian aku kasih libur sampai besok ya. Kasih tahu Pak Deden juga ya. Beberapa hari yang lalu aku dengar kalian ingin mengunjungi saudara yang ada di sini juga. Nah, mumpung libur kalian bisa menginap di rumah saudara kalian.”“Makasih banyak
“Clarissa akan ikut serta di acara itu.”Untuk pertama kalinya sejak ia menikah dengan Alvin, ia akan berada di ruangan yang sama dengan Clarissa.“Mas Alvin.. Halo..”Luna melihat ke layar ponselnya, ternyata Alvin sudah memutuskan sambungan telepon bahkan belum sempat ia menjawab.“Tara gimana ini..” Luna tampak sedikit panik.“Ada apa Non?”“Acara keluarga Mahawira dimajukan jadi lusa. Aku nggak yakin siap untuk pertemuan itu. Aku harus gimana Tara?”Tara memegang bahu Luna. “Luna tenang dulu. Semuanya akan baik-baik saja. Di acara keluarga Mahawira lusa, Nona harus tampil jauh lebih cantik dari semua perempuan yang datang ke acara itu,” ucap Tara menenangkan Luna.“Waktunya mepet banget. Gaun yang aku pesan nggak mungkin bisa selesai besok.”“Non, lihat aku.” Tara memegang kedua bahu Luna hingga tatapan mereka saling mengunci.“Aku sendiri yang akan pastikan semuanya baik-baik saja. Nona akan tampil cantik di sana dan bisa mengikuti acara itu dengan baik. Nona percaya padaku kan?”
“Mas Tara?”“Mbak Sarti jangan biarkan Nona Luna mengetahui ada yang mencarinya. Apapun yang terjadi Mbak Sarti harus bisa menahan Nona Luna di dalam rumah. Untuk pria yang ingin menemui Nona Luna biar aku saja yang menemuinya.”“Baik Tara,” jawab Mbak Sarti sambil meletakkan kembali telepon rumah.Masih dengan tubuhnya yang setengah basah oleh keringat dan handuk kecil di lehernya, Tara berjalan menuju keluar rumah untuk menemui pria yang ingin menemui Luna.Ketika ia sudah berada di luar rumah, Tara melihat ada pria yang berdiri di balik pagar sambil memegang amplop cokelat.Tara memicingkan matanya melihat pria itu dan setelah melihat jelas wajahnya, Tara teringat dengan foto yang ada di halaman terakhir data tentang Luna yang dikasihkan oleh Alvin.Reza.Ya, yang berdiri di balik pagar itu adalah Reza, mantan bodyguard Luna yang pernah dilaporkan oleh Luna ke polisi.Pria itu tampak tidak jauh dengan usianya Tara.Tara pun berjalan ke sisi pagar untuk menemui Reza.Pak satpam yang
“Siapa yang menelpon kamu malam-malam begini Tara?”“Eh itu teman lama saya, Non.”Luna menatap Tara dengan tatapan curiganya.“Tadi aku sempat lihat ada nama keluarga Askara di kontak yang menelpon kamu. Bukankah itu nama keluarga terpandang di kota ini?”“Teman saya itu iseng tulis nama kontak di ponsel saya begitu, Nona. Dia bukan dari keluarga itu kok,” jawab Tara berusaha untuk tenang.Luna hanya mengangguk saja. “Hmm.. Baiklah.”Kemudian Luna turun dari pangkuannya Tara. Ia berusaha untuk menerima begitu saja jawaban Tara meski jawaban Tara masih mengganjal di benaknya.Tara bangun dari duduknya dan mengantarkan Luna. Namun saat mereka sudah keluar kamar, Luna melarang Tara untuk mengantarkannya ke atas.“Kamu tidurlah Tara. Aku bisa kembali ke kamarku sendiri,” jawab Luna dan gadis itu langsung meninggalkan Tara.Tara menatap punggung Luna yang semakin jauh. Tara memegang bibirnya, manisnya bibir Luna masih terasa jelas. Setelah memastikan Luna naik tangga, Tara masuk ke dalam k







