LOGIN"Apa yang kamu dapatkan Gilang?" tanya Tara.Bagaimana bisa kebetulan sekali. Tadi ia baru saja melihat Hardiman Wibisana bersama Clarissa tetapi saat ini Gilang memberitahu kalau ia mendapat informasi baru tentang kedua orang itu."Kamu masih ingat waktu itu aku bilang kalau Hardiman Wibisana berada di rumah sakit saat Clarissa kecelakaan."Tara mengangguk meski Gilang tidak bisa melihatnya. "Iya.""Aku sudah dapat rekaman cctv tempat kecelakaan Clarissa. Kecelakaan mobil itu bukan kecelakaan biasa karena di rekaman itu, mobil yang didalamnya ada Clarissa sempat berhenti tetapi tiba-tiba dari arah yang berbeda ada mobil yang menabrak mobil itu. Dan kamu Tara.." Gilang terdiam sesaat."Apa?" tanya Tara."Mobil yang menabrak itu nomor kendaraannya terdaftar atas nama Hardiman Wibisana.""Maksud kamu? Hardiman Wibisana sengaja menabrak mobil yang di kendarai Clarissa?" tanya Tara."Iya. Tapi motifnya apa masih belum aku ketahui."Tara terdiam sesaat. Ia mencoba menghubungkan dengan apa
"Mas Tara, Nona Luna kenapa?" tanya Mentari sambil melihat kepergian Luna.Gadis itu hampir terjatuh saat Luna menyenggolnya tadi, tetapi ia sempat memegang tangan Tara hingga tidak jadi terjatuh."Mungkin Nona Luna lagi buru-buru masuk ke dalam rumah makanya nggak sengaja nyenggol kamu. Ayo kita masuk ke dalam," ucap Tara."Hmm... Tapi nggak biasanya loh Mas Tara, Nona Luna kayak gitu. Memangnya tadi di pasar terjadi sesuatu yang buat mood Nona Luna menjadi buruk?"Tara diam sambil mengingat sesuatu, lalu sesaat kemudian ia pun menggeleng. "Nggak ada kok," ucap Tara.Ia tidak mungkin memberitahu Mentari apa yang terjadi saat sebelum mereka pulang tadi."Kamu sama Nona beli seafoodnya di pasar mana? Tumben lama banget. Kalau di pasar yang biasanya, harusnya kan sebentar aja. Pasarnya aja nggak begitu jauh dari rumah ini.""Eh anu.. Tadi kami singgah ke tempat lain lagi makanya pulangnya agak lama.""Oh. Kirain kalian pergi ke pasar yang berbeda. Aku udah nungguin dari tadi tapi lama
Tara mengajak Luna untuk pergi dari kafe dimana mereka mengikuti Clarissa dan Hardiman Wibisana."Tara, mereka masih di dalam sana. Kenapa kita pulang sekarang?" tanya Luna begitu mereka sudah keluar dari dalam kafe."Aku sudah tahu siapa pria bersama Nyonya Clarissa," jawab Tara."Kamu kenal pria itu? Siapa dia Tara?"Tara tidak menjawab pertanyaan Luna tetapi dia menarik tangan Luna agar mereka segera pergi dari sana."Tara, kok diam aja sih? Siapa pria itu? Mas Alvin kenal dia nggak?" Luna terus mengoceh sambil berusaha menyamai langkah Tara yang semakin cepat.Namun Tara tetap diam.Tangannya masih menggenggam tangan Luna, membawanya menjauh dari kafe. Baru setelah mereka sampai di dekat mobil, Tara berhenti.Luna langsung berdiri di hadapannya."Tara.""Tuan Alvin kenal dengan dia. Bahkan hubungan mereka sangat dekat," jawab Tara.Luna menutup mulutnya dan matanya sedikit membola. Namun sesaat kemudian, Luna berusaha menormalkan ekspresinya.Tara yang tidak ingin mereka terlalu l
"Kamu di sini aja Luna. Biar aku yang mengikuti mereka," ucap Tara karena ia lebih penasaran dengan pria yang bersama wanita yang di anggap Luna adalah Clarissa."Aku ikut, Tara.""Kamu di sini aja.""Nggak mau. Aku juga mau pastiin kalau wanita itu Mbak Clarissa. Tubuhnya mirip Mbak Clarissa, tapi jalannya aja yang udah normal."Tidak ingin berdebat dengan Luna, akhirnya Tara pun mengizinkan Luna untuk ikut dengannya."Ayo. Tapi ingat jangan terlalu mencolok kalau kita sedang mengikuti mereka," bisik Tara."Iya Tara."Akhirnya, Tara dan Luna mengikuti pasangan pria dan wanita yang sejak tadi mereka curigai. Keduanya terlihat masuk ke salah satu ruko di samping pasar. Deretan ruko di kawasan itu memang cukup ramai, sebagian digunakan sebagai kafe dan sebagian lainnya sebagai toko, sehingga Tara dan Luna tidak terlalu sulit untuk berbaur dengan orang-orang di sekitar."Mereka mau kemana sih?" tanya Luna."Husstt.. Kita ikuti aja mereka," bisik Tara.Tara dan Luna tetap menjaga jarak. M
Dua hari kemudian..."Tara, antarin aku ke pasar ya. Aku mau beli seafood," ucap Luna yang menghampiri Tara yang sedang menyiram tanaman."Tumben? Tadi Mbak Sarti nggak sekalian belanja seafood?" tanya Tara."Aku lupa pesan sama Mbak Sarti untuk belanja sekalian. Mbak Sarti hanya belanja untuk stok daging sapi dan ayam aja. Ayo lah Tara antarin aku beli seafood. Aku mau masak seafood tumpah. Nanti kita makannya sama-sama.""Tuan Alvin hari ini jadi menginap di sini?" tanya Tara. Ia masih tetap melanjutkan menyirami tanaman yang memang belum selesai."Nggak tahu. Terserah dia mau menginap atau nggak. Sejak dua hari yang lalu, Mas Alvin belum hubungi aku lagi."Tara pun menyimpan pipa air ke tempat semula."Kamu nggak tanya Tuan Alvin jadi ke rumah?"Luna menggeleng. "Kalau aku kirim pesan palingan nggak di balas. Biasanya juga begitu.""Mau kapan pergi ke pasarnya?" tanya Tara."Sekarang aja. Mumpung masih pagi ini. Di pasar juga masih pada jualan kalau jam segini.""Mau beli di pasar
"Masih marah?" tanya Tara pada Luna.Tara dan Luna sudah berada dalam mobil tetapi Tara belum memajukan mobilnya.Luna masih cemberut. Bahkan sejak tadi ia masuk ke dalam rumah, Luna terus cemberut dengannya. Luna masih marah padanya karena kejadian di gazebo tadi pagi."Menurut kamu aja," ketus Luna."Jangan malah lama-lama nanti cepat tua loh," goda Tara."Nyeselin!" Luna menatap tajam ke arah Tara.Tara mendekati Luna membuat Luna mencoba menghindar. "Kamu mau ngapain lagi Tara?"Tara diam saja tetapi ia semakin mendekat ke arah Luna. Sesaat kemudian Tara menarik tali seat belt yang lupa Luna pasang."Jangan lupa pasang ini. Meski lagi kesal sama aku, tapi tolong jangan abaikan keselamatan," ucap Tara.Luna hanya mendengus saja."Kamu lucu kalau lagi kesal gitu. Makin tambah cantik. Aargghhhh... kok aku di cubit?"Tara mengusap perutnya yang di cubit oleh Luna."Habisnya kamu dari tadi pagi ngeselin sih. Lebih ngeselin dari Mas Alvin," gerutu Luna.Tara masih mengusap perutnya. Mes







