Masuk“Ehh.. Dia siapa sih, kok ganteng banget.”
“Siapanya Luna ya kira-kira. Jarang-jarang lho Luna bawa pria ke acara begini.”
“Aku dengar-dengar, Luna tuh ada bodyguardnya. Apa dia itu bodyguardnya Luna. Beeeehh.. Cuci mata terus Luna setiap hari.”
Tara mengabaikan bisik-bisik beberapa tamu undangan yang membicarakannya. Pasalnya ia mendengar nama Luna di sebut oleh mereka.
Pria itu terus fokus melihat Nyonya Muda-nya yang sedang mendekati temannya. Seperti permintaan Luna, Tara memang menjaga jarak dengan Luna, tetapi masih dalam jarak yang aman untuk ia melihat Luna dengan baik.
Tara berjalan ke arah stand yang mirip dengan mini bar. Ia duduk di sana sambil terus menatap ke arah Luna.
Luna menoleh ke samping kiri dan kanan untuk mencari keberadaan Tara. Ia penasaran dimana Tara berada tetapi sesaat kemudian, ia mengabaikannya karena Luna ingin menghampiri Ester, temannya yang sedang berulang tahun hari ini.
“Happy birthday ya Ester.” Luna pun cipika cipiki dengan temannya itu sekaligus memberikan kado untuk Ester.
“Makasih lho udah datang ke pesta kecil-kecilanku,” ucap Ester.
“Pesta kecil apanya. Kamu sampai menyulap ballroom hotel yang luas ini bak negeri dongeng,” ucap Luna sambil tertawa.
Kening Luna mengernyit saat melihat Ester seolah mencari sesuatu di belakangnya, hingga membuat Luna juga menoleh ke belakang. “Kamu cari apa sih, Ester?” tanya Luna penasaran.
“Lun, pria yang datang bersama kamu itu siapanya kamu? Kok dia nggak ada di sini?” tanya Ester yang memang sudah penasaran dengan sosok yang datang bersama Luna tadi.
“Pria?” tanya Luna. Wanita itu sempat terdiam sesaat hingga ia menyadari siapa yang ditanyakan oleh temannya ini. “Ohh, Tara maksud kamu?”
“Ya aku nggak tahu namanya. Tapi dia yang masuk bersama kamu tadi. Siapa dia, Luna? Berondongnya kamu ya?”
“Isssh.. Jangan ngaco kamu, Ester. Berondong apanya. Aku setia sama suamiku tercinta,” jawab Luna tertawa.
“Terus kalau bukan berondong kamu, dia siapa? Kenapa juga kamu nggak ajak suami kamu datang kesini?” tanya Ester.
“Tara itu bodyguard aku. Makanya aku ajak untuk menemaniku datang ke sini. Kamu tahu sendirikan gimana pernikahanku dengan Mas Alvin. Mana mungkinlah dia mau ku ajak kesini kecuali pestanya sangat privat.”
Luna kembali menyapu pandangannya ke seluruh ruangan dan terhenti di sebelah mini bar di acara itu. Ester mengikuti arah pandang Luna.
“Ganteng banget lho bodyguard kamu. Kenalin sama aku dong,” Ester yang masih belum mengalihkan pandangannya dari Tara.
“Memangnya kamu mau ngapain kalau kenalan sama Tara. Pacar sultanmu itu mau kamu apakan?” tanya Luna.
Ester sama sepertinya, sama-sama didekatin oleh pria beristri. Bedanya Luna sampai dinikahi oleh Alvin sementara belum dinikahi.
“Untuk selingan aja, Luna.” Ester menaik turunkan alisnya pada Luna sambil tersenyum.
Belum sempat Luna menjawab pertanyaan Ester, tiba-tiba datang beberapa orang mendekati Luna dan bertanya siapa pria yang datang bersamanya tadi.
“Kalian kok pada penasaran sama Tara sih? Kayak nggak pernah lihat cowok ganteng aja,” gerutu Luna yang mulai kesal karena teman-temannya sangat penasaran dengan sosok Tara.
“Lihat cowok ganteng sih udah sering ya, tapi yang vibenya kayak Tara ini jarang kami temui. Kamu yakin Tara itu hanya bodyguardmu, Luna?” tanya Bella, salah satu teman Luna yang ada di sana.
Kening wanita itu kembali mengernyit. “Maksud kamu apa, Bella? Dia hanya bodyguardku, memangnya apalagi,” jawab Luna.
“Dimataku ya, dia itu lebih hot dibanding suamimu, Tuan Alvin itu. Lagian kamu juga bukannya datang sama suamimu, eh tahunya hanya datang bersama bodyguard gantengmu itu. Kayak kita dong, gandengan kita ya suami kita,” sahut Bella lagi.
“Luna, kenalin kita sama Tara dong.” Ester kembali meminta pada Luna.
Luna mendengus kesal. Ia heran sama teman-temannya yang seolah begitu terpesona dengan wajah Tara. Kesal di hati wanita itu semakin besar, ketika ia menoleh ke arah Tara dan pria itu dikerumuni oleh banyak wanita.
Entah kenapa, melihat pemandangan seperti itu membuat Luna sangat kesal.
Sementara itu, Tara yang sedang di kerumuni oleh beberapa wanita yang mengajaknya kenalan hanya menjawab sekedarnya saja. Tatapan Tara tidak lepas dari keberadaan Luna bersama temannya.
Tara menghela napas lega, saat MC sudah memulai acara pemotongan kue ulang tahun. Wanita-wanita yang mengerumuninya tadi mulai meninggalkan Tara untuk fokus menikmati pesta yang sudah dimulai itu.
Acara pemotongan kue baru selesai dan akan dilanjutkan dengan acara lain, tetapi Luna sudah merasa tidak nyaman berada di sana.
Sebenarnya ia sudah terbiasa menghadiri pesta seperti ini, tetapi entah kenapa kali ini ia rasanya ingin segera pulang. Apalagi sejak tadi teman-temannya masih memintanya untuk mengenalkan dengan Tara. Luna memang sejak tadi terus menolak untuk mengenalkan Tara pada teman-temannya.
Luna sangat tahu teman-temannya wanita seperti apa.
Akhirnya Luna kembali menemui Ester untuk berpamitan pulang lebih awal.
“Tumben banget lho kamu pulang cepat, masih awal banget ini?” tanya Ester.
“Kepalaku pusing, Ester. Maaf ya aku nggak bisa ikut pesta kamu sampai selesai,” ucap Luna tidak enak pada temannya.
“Ya udah nggak papa. Langsung istirahat ya Luna. Makasih banget lho udah datang ke pestanya aku. Makasih juga kadonya. Sama ini, jangan lupa salam sama Tara ya,” ucap Ester tertawa.
Luna hanya mengangguk saja. Kemudian wanita itu mencari keberadaan Tara yang ternyata pria itu masih berada di tempat yang sama sejak tadi.
“Tara, ayo pulang sekarang,” ajak Luna.
Tara yang datang ke sini hanya mengantarkan Luna pun langsung mengikuti Nyonya mudanya meski ia penasaran mengapa Luna pulang lebih awal sementara pesta temannya belum selesai.
“Nona Luna kenapa ya? Acaranya kan belum selesai, bahkan baru juga di mulai,” batin Tara.
Pria itu pun berjalan di belakang Luna.
Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Luna terus diam. Sebenarnya saat berangkat tadi, Luna juga lebih banyak diam meski sesekali mengajaknya bicara. Tetapi kali ini berbeda.
Sesekali Tara melihat kebelakang melalui kaca spion, tampak ekspresi Luna sangat cemberut.
“Non Luna kenapa ya? Apa tadi ada yang membuatnya kesal?” Tara hanya bisa membatin saja. Ia juga tidak berani untuk bertanya pada Luna.
Selang tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah Luna.
Belum sempat Tara membukakan pintu mobil, Luna sudah turun terlebih dahulu. Tara sampai terkejut saat Luna menutup pintu mobil dengan kuat.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Luna menoleh ke arah Tara.
“Kamu pasti suka kan jadi pusat perhatian selama di sana tadi? Huh! Dasar bodyguard aneh!”
Setelah mengucapkan itu, Luna langsung meninggalkan Tara yang masih berdiri kebingungan.
“Nona Luna kenapa sih?” tanya Tara bingung sambil menggaruk kepalanya.
Keesokan harinya, Lukman Mahawira duduk di ruang kerjanya di kediaman utama keluarga Mahawira.Hari itu ia sengaja tidak pergi ke kantor. Sejak kemarin kepalanya terasa berat. Urusan Alvin dan gadis itu masih membuatnya kesal. Dan semalam ia hampir tidak bisa tidur memikirkan siapa orang yang mengirim amplop berisi buku nikah itu.Pintu ruang kerjanya diketuk.“Masuk.”Kepala pelayan rumah itu masuk sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam di atas nampan perak.“Maaf mengganggu, Tuan. Ada kiriman untuk Tuan. Kurirnya langsung pergi setelah menitipkannya di pos jaga.”Lukman mengernyit. “Dari siapa?”“Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.”Lukman terdiam. Lagi? Dua hari berturut-turut ia menerima kiriman tanpa nama.Ia mengibaskan tangannya, meminta kepala pelayan itu meletakkan kotak tersebut di meja lalu keluar.Setelah pintu tertutup, Lukman membuka kotak itu. Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk perak.Dengan sedikit ragu, ia menancapkannya ke komputer di mejanya dan membuka
Pagi itu, Hardiman datang ke kantor dengan suasana hati yang cukup baik.Kemarin Reno melaporkan bahwa amplop untuk Lukman sudah sampai dengan selamat. Dan menurut informasi dari salah satu orang dalam di Mahawira grup, sore itu suara Lukman terdengar menggelegar dari ruangannya. Alvin keluar dari sana dengan wajah pucat pasi.Hardiman tersenyum tipis setiap kali membayangkan pemandangan itu.Satu langkah sudah berhasil. Tinggal menunggu badai berikutnya datang dengan sendirinya. Ia baru saja duduk di kursi kerjanya dan menyesap kopi hitam saat Reno mengetuk pintu.“Masuk.”Reno masuk sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam. Wajahnya terlihat ragu.“Maaf, Tuan. Ada paket untuk Tuan pagi ini. Dititipkan di resepsionis lewat kurir.”Hardiman mengernyit. “Dari siapa?”“Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.”Gerakan tangan Hardiman yang hendak meletakkan cangkir kopi terhenti sejenak.Tidak ada nama pengirim.Ironis sekali. Baru kemarin ia mengirim paket tanpa nama ke Lukman. Dan sek
Setelah mobil Lukman meninggalkan halaman, rumah itu terasa begitu sunyi.Luna masih berdiri di ruang tamu. Matanya terpaku pada cek di atas meja. Ia tidak menyentuhnya, tapi juga tidak membuangnya. Ia hanya menatapnya lama, seolah kertas kecil itu adalah cermin yang memperlihatkan betapa rendahnya dirinya di mata keluarga Mahawira.Kesalahan yang harus segera dibereskan. Kalimat Lukman itu terus terngiang di kepalanya.“Luna,” panggil Tara pelan.Luna tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan menaiki tangga dengan langkah pelan. Pintu kamarnya tertutup tanpa suara.Tara mengambil cek itu dari meja. Ia menatapnya sejenak, lalu melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku. Ia tidak mau Luna melihat kertas itu lagi.Sepanjang hari itu, Luna banyak diam.Saat makan siang, ia hanya menyentuh sedikit nasinya. Saat Mbak Sarti bertanya apakah ia ingin dibuatkan sesuatu, Luna hanya menggeleng. Saat Tara mengajaknya duduk di taman sore hari, gadis itu menolak dengan suara pelan.Ia lebih banyak d
Alvin menatap Luna lama. Napasnya masih memburu, rahangnya mengeras.Untuk sesaat, Luna berharap pria itu akan melunak. Berharap Alvin akan menarik kembali semua tuduhannya, atau setidaknya mau duduk dan mendengarkan penjelasannya.Tapi harapan itu sia-sia.Alvin justru berbalik dan meraih gagang pintu. Sebelum membukanya, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.“Aku akan cari tahu siapa yang mengirim amplop itu,” ucapnya dingin. “Dan kalau memang terbukti kamu orangnya, Luna, kamu akan menyesal.”Pintu terbuka, lalu tertutup dengan keras.Luna berdiri mematung di tempatnya. Kedua tangannya mengepal hingga kukunya menancap di telapak tangan.Ia menatap pintu yang baru saja tertutup itu. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Kamu bahkan nggak mendengarkanku, Mas,” ucap Luna lirih, menatap ke arah punggung Alvin yang sudah hilang di balik pintu.Dari bawah terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga dengan tergesa. Lalu suara mesin mobil menyala, disusul deru ban yang meninggalkan ha
Jam dinding di ruang tengah baru saja menunjukkan pukul tujuh malam.Luna sedang duduk di sofa sambil memangku bantal kecil, menonton acara memasak di televisi tanpa benar-benar memperhatikannya. Di dapur, Mbak Sarti dan Mentari terdengar sibuk membereskan piring bekas makan malam.Mbak Sarti dan Mentari memang agak sedikit terlambat Kembali ke Paviliun hari ini.Tara baru saja selesai memeriksa pintu belakang saat suara klakson terdengar dari arah gerbang.Satu kali. Panjang dan tidak sabar.Tara mengernyit. Ia berjalan ke jendela depan dan menyibak tirai sedikit. Sebuah mobil sedan hitam yang sangat ia kenal berhenti di depan gerbang. Lampunya menyorot terang ke halaman.“Tuan Alvin,” gumam Tara.Luna yang mendengar itu langsung menoleh. “Mas Alvin?”Gadis itu buru-buru bangkit dari sofa. Ia meraih ponselnya di atas meja dan mengecek layar. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Alvin sama sekali tidak memberi kabar akan datang malam ini.Perasaan Luna langsung tidak enak.Tara berge
Alvin baru saja kembali ke ruangannya saat interkom di mejanya berbunyi.“Tuan Alvin, Tuan Lukman meminta Tuan ke ruangannya sekarang juga.”Alvin melirik jam tangannya. Hampir pukul lima sore. Biasanya di jam seperti ini ayahnya sudah bersiap pulang.“Ada apa? Soal tender tadi?” tanya Alvin.“Saya kurang tahu, Tuan. Tapi suara Tuan Lukman terdengar...” sekretaris itu ragu sejenak, “...kurang baik.”Alvin mengernyit. Siang tadi ayahnya masih tersenyum puas setelah memenangkan tender. Apa yang bisa berubah hanya dalam beberapa jam?Ia merapikan jasnya, lalu berjalan menuju ruangan di ujung lorong lantai teratas itu.Alvin mengetuk pintu dua kali.“Masuk.”Suara itu rendah dan dingin. Alvin mengenal nada itu. Nada yang dulu sering ia dengar saat masih remaja, setiap kali ia melakukan kesalahan besar.Alvin membuka pintu dan melangkah masuk.Lukman berdiri membelakanginya, menghadap jendela kaca besar. Kedua tangannya bertaut di belakang punggung. Ia tidak menoleh sedikit pun.“Katanya P






