Share

Bab 6

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-08-12 14:19:01

“Ehh.. Dia siapa sih, kok ganteng banget.”

“Siapanya Luna ya kira-kira. Jarang-jarang lho Luna bawa pria ke acara begini.”

“Aku dengar-dengar, Luna tuh ada bodyguardnya. Apa dia itu bodyguardnya Luna. Beeeehh.. Cuci mata terus Luna setiap hari.”

Tara mengabaikan bisik-bisik beberapa tamu undangan yang membicarakannya. Pasalnya ia mendengar nama Luna di sebut oleh mereka.

Pria itu terus fokus melihat Nyonya Muda-nya yang sedang mendekati temannya. Seperti permintaan Luna, Tara memang menjaga jarak dengan Luna, tetapi masih dalam jarak yang aman untuk ia melihat Luna dengan baik.

Tara berjalan ke arah stand yang mirip dengan mini bar. Ia duduk di sana sambil terus menatap ke arah Luna.

Luna menoleh ke samping kiri dan kanan untuk mencari keberadaan Tara. Ia penasaran dimana Tara berada tetapi sesaat kemudian, ia mengabaikannya karena Luna ingin menghampiri Ester, temannya yang sedang berulang tahun hari ini.

“Happy birthday ya Ester.” Luna pun cipika cipiki dengan temannya itu sekaligus memberikan kado untuk Ester.

“Makasih lho udah datang ke pesta kecil-kecilanku,” ucap Ester.

“Pesta kecil apanya. Kamu sampai menyulap ballroom hotel yang luas ini bak negeri dongeng,” ucap Luna sambil tertawa.

Kening Luna mengernyit saat melihat Ester seolah mencari sesuatu di belakangnya, hingga membuat Luna juga menoleh ke belakang. “Kamu cari apa sih, Ester?” tanya Luna penasaran.

“Lun, pria yang datang bersama kamu itu siapanya kamu? Kok dia nggak ada di sini?” tanya Ester yang memang sudah penasaran dengan sosok yang datang bersama Luna tadi.

“Pria?” tanya Luna. Wanita itu sempat terdiam sesaat hingga ia menyadari siapa yang ditanyakan oleh temannya ini. “Ohh, Tara maksud kamu?”

“Ya aku nggak tahu namanya. Tapi dia yang masuk bersama kamu tadi. Siapa dia, Luna? Berondongnya kamu ya?”

“Isssh.. Jangan ngaco kamu, Ester. Berondong apanya. Aku setia sama suamiku tercinta,” jawab Luna tertawa.

“Terus kalau bukan berondong kamu, dia siapa? Kenapa juga kamu nggak ajak suami kamu datang kesini?” tanya Ester.

“Tara itu bodyguard aku. Makanya aku ajak untuk menemaniku datang ke sini. Kamu tahu sendirikan gimana pernikahanku dengan Mas Alvin. Mana mungkinlah dia mau ku ajak kesini kecuali pestanya sangat privat.”

Luna kembali menyapu pandangannya ke seluruh ruangan dan terhenti di sebelah mini bar di acara itu. Ester mengikuti arah pandang Luna.

“Ganteng banget lho bodyguard kamu. Kenalin sama aku dong,” Ester yang masih belum mengalihkan pandangannya dari Tara.

“Memangnya kamu mau ngapain kalau kenalan sama Tara. Pacar sultanmu itu mau kamu apakan?” tanya Luna.

Ester sama sepertinya, sama-sama didekatin oleh pria beristri. Bedanya Luna sampai dinikahi oleh Alvin sementara belum dinikahi.

“Untuk selingan aja, Luna.” Ester menaik turunkan alisnya pada Luna sambil tersenyum.

Belum sempat Luna menjawab pertanyaan Ester, tiba-tiba datang beberapa orang mendekati Luna dan bertanya siapa pria yang datang bersamanya tadi.

“Kalian kok pada penasaran sama Tara sih? Kayak nggak pernah lihat cowok ganteng aja,” gerutu Luna yang mulai kesal karena teman-temannya sangat penasaran dengan sosok Tara.

“Lihat cowok ganteng sih udah sering ya, tapi yang vibenya kayak Tara ini jarang kami temui. Kamu yakin Tara itu hanya bodyguardmu, Luna?” tanya Bella, salah satu teman Luna yang ada di sana.

Kening wanita itu kembali mengernyit. “Maksud kamu apa, Bella? Dia hanya bodyguardku, memangnya apalagi,” jawab Luna.

“Dimataku ya, dia itu lebih hot dibanding suamimu, Tuan Alvin itu. Lagian kamu juga bukannya datang sama suamimu, eh tahunya hanya datang bersama bodyguard gantengmu itu. Kayak kita dong, gandengan kita ya suami kita,” sahut Bella lagi.

“Luna, kenalin kita sama Tara dong.” Ester kembali meminta pada Luna.

Luna mendengus kesal. Ia heran sama teman-temannya yang seolah begitu terpesona dengan wajah Tara. Kesal di hati wanita itu semakin besar, ketika ia menoleh ke arah Tara dan pria itu dikerumuni oleh banyak wanita.

Entah kenapa, melihat pemandangan seperti itu membuat Luna sangat kesal.

Sementara itu, Tara yang sedang di kerumuni oleh beberapa wanita yang mengajaknya kenalan hanya menjawab sekedarnya saja. Tatapan Tara tidak lepas dari keberadaan Luna bersama temannya.

Tara menghela napas lega, saat MC sudah memulai acara pemotongan kue ulang tahun. Wanita-wanita yang mengerumuninya tadi mulai meninggalkan Tara untuk fokus menikmati pesta yang sudah dimulai itu.

Acara pemotongan kue baru selesai dan akan dilanjutkan dengan acara lain, tetapi Luna sudah merasa tidak nyaman berada di sana.

Sebenarnya ia sudah terbiasa menghadiri pesta seperti ini, tetapi entah kenapa kali ini ia rasanya ingin segera pulang. Apalagi sejak tadi teman-temannya masih memintanya untuk mengenalkan dengan Tara. Luna memang sejak tadi terus menolak untuk mengenalkan Tara pada teman-temannya.

Luna sangat tahu teman-temannya wanita seperti apa.

Akhirnya Luna kembali menemui Ester untuk berpamitan pulang lebih awal.

“Tumben banget lho kamu pulang cepat, masih awal banget ini?” tanya Ester.

“Kepalaku pusing, Ester. Maaf ya aku nggak bisa ikut pesta kamu sampai selesai,” ucap Luna tidak enak pada temannya.

“Ya udah nggak papa. Langsung istirahat ya Luna. Makasih banget lho udah datang ke pestanya aku. Makasih juga kadonya. Sama ini, jangan lupa salam sama Tara ya,” ucap Ester tertawa.

Luna hanya mengangguk saja. Kemudian wanita itu mencari keberadaan Tara yang ternyata pria itu masih berada di tempat yang sama sejak tadi.

“Tara, ayo pulang sekarang,” ajak Luna.

Tara yang datang ke sini hanya mengantarkan Luna pun langsung mengikuti Nyonya mudanya meski ia penasaran mengapa Luna pulang lebih awal sementara pesta temannya belum selesai.

“Nona Luna kenapa ya? Acaranya kan belum selesai, bahkan baru juga di mulai,” batin Tara.

Pria itu pun berjalan di belakang Luna.

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Luna terus diam. Sebenarnya saat berangkat tadi, Luna juga lebih banyak diam meski sesekali mengajaknya bicara. Tetapi kali ini berbeda.

Sesekali Tara melihat kebelakang melalui kaca spion, tampak ekspresi Luna sangat cemberut.

“Non Luna kenapa ya? Apa tadi ada yang membuatnya kesal?” Tara hanya bisa membatin saja. Ia juga tidak berani untuk bertanya pada Luna.

Selang tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah Luna.

Belum sempat Tara membukakan pintu mobil, Luna sudah turun terlebih dahulu. Tara sampai terkejut saat Luna menutup pintu mobil dengan kuat.

Sebelum masuk ke dalam rumah, Luna menoleh ke arah Tara.

“Kamu pasti suka kan jadi pusat perhatian selama di sana tadi? Huh! Dasar bodyguard aneh!”

Setelah mengucapkan itu, Luna langsung meninggalkan Tara yang masih berdiri kebingungan.

“Nona Luna kenapa sih?” tanya Tara bingung sambil menggaruk kepalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 81

    "Morning cantik," ucap Tara begitu Luna membuka matanya.Luna menoleh ke arah jendela kamar hotel yang tirainya sudah Tara buka. Di luar sana sudah terang menderang."Tara, jam berapa sekarang?" tanya Luna dengan suara seraknya.Rambut gadis itu masih sangat berantakan sama seperti tadi. Gadis itu bahkan tidak sadar jika selimut melorot ke bawah hingga sepasang bukit kembarnya terlihat jelas di mata Tara."Sekarang sudah jam delapan pagi. Ayo bangun, kamu harus sarapan." Tara berusaha menahan dirinya.Pemandangan di depannya sungguh sangat menggoda imannya, terlebih lagi saat ini pagi hari adalah waktu krusial untuk kelangsungan bagian bawah tubuhnya."Aku lapar Tara. Kamu sih semalam kayak singa kelaparan. Nggak kasih jeda sama sekali. Kalau aku nggak ngerengek minta berhenti aku yakin kamu nggak akan berhenti. Kamu minum obat kuat ya Tara."Tara terkekeh. Lalu ia mendekati Luna dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.Bukan ciuman terburu-buru tetapi hanya ciuman lembut saja.Lalu

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 80

    Tara membuka matanya dan ia menoleh ke samping pada gadis dipelukannya. Satu senyuman merekah di bibirnya saat melihat Luna masih terlelap dengan mulutnya sedikit terbuka. Rambut gadis itu tampak berantakan. Tara menarik selimut menutupi tubuh mereka yang masih sama-sama polos.Satu jam setelah Luna tertidur mereka kembali melanjutkan sesi kedua pendakian mencapai puncak karena Luna. Tara yang tidak bisa menahan hasratnya saat melihat Luna dengan tubuh polosnya hingga pria itu kembali menyentuh Luna. Pria itu hanya berhenti setelah Luna merengek kelelahan."Kamu itu cantik dan istimewa, Luna. Aku tidak akan meninggalkan kamu begitu saja. Aku sudah lama melihatmu dari jauh," bisik Tara.Pria itu mengecup kening Luna, lalu ia menarik pelan lengannya yang dijadikan gadis itu sebagai bantalan. Tara menghela napas lega ketika ia sudah berhasil menarik lengannya dan Luna tidak bangun sama sekali. Gadis itu sempat mengeliat sedikit.Tara menggerakkan tangannya karena rasa kebas akibat tid

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 79

    Tara mencabut miliknya yang sudah kembali tidur dari lembah kenikmatan Luna. Kemudian, pria itu membawa Luna dalam pelukannya. Tara menarik selimut agar menutupi tubuh mereka yang masih sama polosnya.Keringat di tubuhnya masing-masing sudah mulai mengering. Suhu dalam kamar mewah itu sudah mulai terasa dingin kembali. Tara menepikan rambut Luna yang menutupi wajah cantik Luna.Ia mencium kening gadis di pelukannya itu dengan lembut, sementara Luna memejamkan matanya ketika keningnya Tara mengecup keningnya."Tara..""Hmm...""Bisakah kita selalu seperti ini?""Kenapa?"Luna mengeratkan pelukannya pada Tara, lalu ia mendongak hingga tatapan mereka bertemu. "Aku takut nanti kita berpisah saat misi kamu sudah berhasil," lirih Luna.Tara terkekeh sambil mengusap pipi Luna dengan lembut."Kenapa kamu bisa kepikiran begitu, hmm?""Aku takut kamu juga meninggalkan aku Tara, seperti Mas Alvin. Dulu dia begitu memperjuangkanku agar aku mau menikah dengannya, tapi setelah menikah dia mengab

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 78

    Tara menggerakkan pinggulnya menghujam goa sempit milik Luna. Pria itu memejamkan matanya saat merasakan jepitan dari milik Luna pada Jhon yang sedang mengobrak abrik di bawah sana. Irama khas penyatuan dua raga mulai memenuhi seisi kamar, beradu dengan suara napas yang memburu saat tubuh Tara mengayun pelan diselingi gerakan keras kemudian menghentak ketika tidak lagi kuat bertahan dalam suasana damai dan tenang.Kepala Luna bergerak resah dengan bibir terus saja menggaungkan nama Tara sementara kedua tangannya yang tadi mencengkeram seprei sudah berpindah pada punggung pria itu."Aahhh... Ta-Tara...""Yaa Lunaa.." balas Tara dengan gerakan lincahnya memompa tubuh Nyonya mudanya yang berada dalam kekuasaannya.Beberapa kali bibir itu kembali menyasar puncak bukit Luna bergantian hingga respon Luna pun semakin liar.Gadis itu mungkin tidak sadari jika bibirnya begitu berisik hingga Tara tahu kalau kaki gadis itu mengejang dengan tubuh melengkung bagai busur dan memeluk pinggangnya b

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 77

    "Keluarkan saja Luna, jangan di tahan."Bersamaan gerakan jarinya semakin kuat disertai suara desah nikmat dari bibir Luna.Tubuh Luna bergetar.Tara tahu, Luna mendapatkan klimaks untuk pertama kalinya.Tara mengeluarkan jarinya dari lembah kenikmatan Luna. Pria itu menatap wajah Luna yang berkeringat dan napas gadis itu yang masih ngos-ngosan seolah baru saja lari jauh."Sudah siap untuk ke menu utama, Luna?" tanya Tara.Di saat Luna masih menikmati pelepasannya, Tara menarik kain segitga berenda yang masih menutupi lembah kenikmatan gadis di bawah kendalinya ini. Luna mengangkat bokongnya agar memudahkan Tara melepaskan kain segitiga berenda itu dan lagi lagi pria itu melemparkannya ke sembarangan arah.Tara menatap lembah kenikmatan Luna yang sangat terawat. Warna merah muda dan bersih tanpa di tumbuhi oleh rerumputan. Sejak pertama kali Tara melihat pusat gairah Luna, pria itu langsung menyukainya.Milik Luna sangat berbeda dengan milik wanita yang pernah ia lihat di dalam video

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 76

    Tubuh Luna mengejang saat merasakan hisapan lidah di permukaan lehernya. Kedua kaki gadis itu bergerak resah.Tara semakin bergerak ke bawah menyelusuri permukaan kulit putih Luna. Jejak-jejak merah hampir memenuhi kulit leher Luna."Tara, jangan di sana. Nanti kelihatan sama yang lain," lirih Luna dengan suara bergetar karena gadis itu menahan sensasi dari sentuhan Tara.Tara hanya diam saja. Pria itu tetap melanjutkan aktivitasnya tanpa mengindahkan permintaan Luna. Ia masih saja membuat maha karya di sana.Satu tangannya sejak tadi tidak diam karena sudah berada di salah satu bukit Luna yang masih tertutup oleh gaun yang masih menempel pada tubuh gadis itu. Tangan Tara terus meremas bukit Luna secara bergantian yang semakin menambah sensasi yang meresahkan dan menambah kobaran api gairah dalam tubuh Luna.Seolah tidak puas membuat jejak merah di leher Luna, pria itu kini membuat jejak cinta di dekat dengan tulang selangka Luna."Ta-Taraaa...."Mulut Luna sejak tadi tidak bisa diam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status