ログイン“Nona Luna kenapa sih?”
Tara masih berdiri di tempatnya.
Pria itu menatap punggung Luna yang semakin menjauh menuju pintu rumah. Bahkan wanita itu sama sekali tidak menoleh lagi setelah mengatakan kalimat yang membuat Tara semakin bingung.
‘Kamu pasti suka kan jadi pusat perhatian selama di sana tadi? Huh! Dasar bodyguard aneh!’ Ucapan Luna masih terngiang di benaknya.
Tara menggaruk kepalanya karena pria itu bingung dengan Nyonya mudanya.
Apa hubungannya dirinya menjadi pusat perhatian dengan kemarahan Luna malam ini?
Tara masih diam di posisinya sambil mengingat apa yang ia lakukan ketika berada di pesta tadi. Namun, setelah diingat-ingat lagi, ia sama sekali tidak merasa sudah melakukan kesalahan. Selama di sana bahkan ia hanya duduk di dekat bar mini sambil minum dan memperhatikan Luna dari tempatnya.
Ia juga tidak mendekati Nyonya mudanya itu sesuai dengan keinginan Luna.
“Apa aku ada melakukan kesalahan yang nggak aku sadari ya, makanya Nona Luna marah-marah seperti itu?” gumam Tara.
Masih dengan kebingungannya, Tara pun masuk ke dalam rumah menyusul Luna.
Begitu masuk ke dalam rumah, Tara sudah tidak melihat keberadaan Luna di sana.
“Nona Luna pasti langsung ke kamarnya,” ucap Tara pelan sambil menatap ke arah lantai dua.
Sementara itu di lantai dua, tepatnya di kamar Luna.
Setelah masuk ke dalam kamar, Luna langsung duduk di ranjangnya. Wanita itu bahkan belum mengganti gaun pesta dan menghapus makeupnya.
“Aku kok aneh gini sih. Kenapa juga aku kesal saat Ester dan lainnya ingin kenalan dengan Tara. Dia kan hanya bodyguardku,” gumam Luna.
“Lagian, Ester sama Bella kenapa juga mereka sangat penasaran sekali dengan Tara. Padahal pasangan mereka kan udah tampan gitu. Masa ia mereka juga tertarik dengan Tara? Iya sih, aku akui Tara memang agak tampan tapi kan… Aarggghh… cukup Luna. Lebih baik kamu bersih-bersih setelah itu tidur,” ucap Luna kembali.
Akhirnya wanita itu pun beranjak dari ranjang kemudian berjalan ke meja riasnya untuk menghapus make up yang ia pakai tadi.
Setelah selesai menghapus makeupnya, Luna mengambil ponsel yang ia simpan di tas kecilnya tadi. Ketika ia menyalakan ponselnya, hanya ada pesan dari teman-temannya.
Wanita itu menghela napas panjang saat tidak ada pesan dari suaminya.
“Mas Alvin kemana sih? Pesan terakhirku saja nggak dia baca. Sebegitu sibuknya dengan Mbak Clarissa kah sampai untuk baca pesanku saja nggak sempat,” gumam Luna.
Tidak ingin membuat moodnya semakin berantakan, Luna memilih untuk bersih-bersih.
Bukan pertama kalinya suaminya seperti itu.
Selang beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Luna keluar dengan wajah freshnya. Sebelum tidur, Luna melakukan aktivitas rutin yang ia lakukan setiap malam yaitu mengaplikasikan skincare yang membuat kulitnya sehat selama ini.
Setelah itu Luna langsung naik ke atas ranjang. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu bersiap untuk memejamkan mata.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Sampai sepuluh menit.
Wanita itu kembali membuka matanya. Ia coba baring miring ke sisi kanan, namun beberapa saat kemudian ia kembali miring ke sisi kiri seolah ingin mencari posisi yang nyaman.
“Hufffhh… Aku kenapa sih. Kenapa masih kepikiran yang tadi?” gumamnya setelah ia mencoba beberapa kali mencari posisi yang nyaman tetapi tetap saja tidak menemukannya.
Masih terngiang jelas di benaknya apa yang terjadi saat di pesta ulang tahun Ester.
“Kenapa aku masih kesal teringat teman-temanku memuji kegantengan Tara? Ayolah Luna, dia itu hanya bodyguardmu,” gumam Luna.
Luna merasa dirinya sangat aneh, seolah ia tidak rela ada wanita lain yang memuji Tara. Agam, bodyguardnya sebelum Tara juga pernah di puji oleh teman-temannya tetapi ia biasa saja seolah tidak peduli.
Bahkan belum genap dua hari, Tara menjadi bodyguardnya tetapi mengapa sudah mempengaruhinya sekuat ini.
Banyak pertanyaan yang berputar di benaknya, tetapi ia sama sekali tidak punya jawabannya.
“Ah, pusing! Cukup Luna, jangan dipikirkan lagi. Apapun itu lebih baik kamu tidur.”
Ia pun kembali memejamkan matanya, kali ini berharap bisa langsung tidur. Ia tidak ingin besok pagi ada lingkaran hitam di area matanya.
***
Keesokan paginya, seperti kemarin Tara memulai harinya dengan berlari mengelilingi kompleks perumahan elit itu. Bedanya pagi ini, saat ia kembali ke rumah Luna, ia tidak melihat keberadaan Luna di depan rumah seperti kemarin.
“Apa Nona Luna masih kesal padaku ya? Tumben Nona Luna nggak ada olahraga pagi ini. Katanya suka olahraga juga,” gumam Tara.
Tidak ingin lama-lama disana, Tara pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Ia ingin segera mandi dan menjalankan tugasnya.
Ketika Tara masuk ke dalam rumah, ia masih belum melihat keberadaan Luna.
“Tari…”
Tara mendekati Mentari yang sedang mengelap koleksi guci milik Luna.
“Ehh Mas Tara. Kaget aku, Mas. Untung aku nggak menjatuhkan guci kesayangan Nona Luna,” ucap Mentari sambil mengelus dadanya.
Ia tidak tahu sejak kapan ada Tara di sana, pasalnya yang ia tahu Tara tadi sedang olahraga di luar.
“Maaf Tari. Aku mau tanya sama kamu.”
“Tanya apa Mas Tara?”
“Nona Luna sudah turun ke bawah?” tanya Tara.
Mentari menggeleng. “Nona Luna belum ada turun ke bawah, Mas Tara.”
“Ya sudah. Kamu lanjutkan tugasmu ya.”
Tara pun meninggalkan Mentari dan menuju kamarnya.
Tiga puluh menit kemudian, Tara keluar dari kamar sudah dengan pakaian rapi. Saat mendekati tangga, Tara bertemu Luna yang baru saja turun dari lantai dua.
“Pagi, Non.”
Luna hanya mengangguk saja, tetapi ia berhenti di depan Tara.
“Kamu belum sarapan kan Tara, ayo kita sarapan sama-sama,” ajak Luna.
Tara diam saja sambil memandang wajah Luna, tetapi ia tidak melihat ekspresi badmood atau kesal padanya seperti semalam.
“Kok malah bengong sih Tara?” tanya Luna sambil melambaikan tangannya di depan wajah Tara.
“Ehhh.. Iya Non.”
“Iya apa?”
“Maksud saya, iya untuk sarapan sama-samanya.”
“Hmm.. Ayo kita sarapan.”
“Nona Luna…”
“Iya, ada apa Tara?”
Tara menggeleng. “Nggak jadi Non.”
“Kamu ini kenapa sih Tara? Apa kesambet waktu kamu lari tadi? Pagi-pagi sudah aneh gini.”
Tara hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saja. Lalu mereka pun sama-sama menuju ruang makan.
Malam harinya, hujan turun sangat deras sekali padahal tadi siang cuaca begitu cerah.
Seperti biasa, di rumah megah itu hanya ada Luna dan Tara saja. Sementara Mbak Sarti, Mas Deden dan Mentari sudah kembali ke paviliun belakang sejak sore tadi.
Di luar bunyi gemuruh guntur sangat nyaring.
“Hujan-hujan ini buat aku cepat mengantuk,” gumam Tara yang sudah siap untuk tidur. Pria itu hanya memakai celana pendek dan baju tanpa lengan.
Namun baru saja ia ingin baring, tiba-tiba ada ketukan pintu kamarnya dari luar. Tara pun bergegas berjalan menuju pintu.
Saat ia membuka pintu kamar, betapa terkejutnya Tara melihat penampilan Luna.
Nyonya mudanya datang ke kamarnya hanya memakai gaun tidur yang sangat tipis, sama seperti yang ia lihat dua malam yang lalu. Bedanya kali ini Luna memakai kacamata menutupi sepasang bukit kembarnya.
“Tara, kamu belum mau tidurkan? Temani aku cerita dulu dong. Hujan di luar sangat lebat terus ada gunturnya juga. Aku nggak bisa tidur kalau hujan deras begini,” ucap Luna.
“Aku belum mau tidur kok, Non. Ayo Non, saya temani.”
Tara pun langsung keluar dan menutup pintu kamarnya. Namun baru beberapa langkah meninggalkan kamar Tara, tiba-tiba listrik di rumah itu mati. Luna yang pada dasarnya takut kegelapan karena selama ini rumah itu selalu terang.
“Taraaaa!”
Luna langsung loncat dan memeluk Tara hingga tak sengaja bibir mereka bertemu.
Selesai sarapan, Luna langsung bangkit dari kursinya tanpa bicara sepatah kata pun.“Tara, siapkan mobil. Aku mau ke mali,” ucap Luna datar sambil berlalu menaiki tangga untuk mengambil tasnya.“Baik Nona,” jawab Tara cepat.Tara buru-buru menghabiskan sisa air jahenya lalu bergegas ke garasi. Ia memanaskan mobil dan menyalakan AC lebih dulu supaya Luna tidak kepanasan saat masuk nanti.Tidak lama kemudian Luna keluar dari rumah. Melihat itu, Tara segera membukakan pintu belakang untuknya.Namun Luna justru melewatinya begitu saja. Gadis itu membuka sendiri pintu depan lalu duduk di samping kursi kemudi.Tara mengerjap pelan. Ia menutup kembali pintu belakang dengan canggung lalu masuk ke balik kemudi.Begitu mobil keluar dari gerbang rumah dan tidak ada lagi orang yang melihat, Tara menoleh ke arah Luna.“Kamu kenapa sih, Lun? Dari tadi mukanya ditekuk terus.”“Nggak papa.”“Beneran nggak papa?”“Hmm.”Tara menghela napas. Jawaban nggak papa dari seorang perempuan biasanya justru ber
Mentari yang sejak tadi berdiri di samping Tara menangkap gerakan dari arah tangga. Ekor matanya melirik sekilas. Ia tahu siapa yang sedang berdiri di sana.Bukannya menjauh, gadis itu justru menggeser posisinya semakin dekat dengan Tara. Kini jarak mereka begitu dekat, bahkan lengan Mentari hampir menempel di bahu pria itu.“Gimana Mas, enak air jahenya?” tanya Mentari dengan suara mendayu.Tara yang baru saja menyesap air jahe itu mengangguk. “Enak kok. Makasih ya.”Senyum Mentari semakin lebar. Tangannya terulur lalu mendarat di bahu Tara.“Kalau Mas Tara nggak enak badan atau lagi ingin minum air jahe, bilang sama aku ya. Nanti aku buatkan lagi,” ucap Mentari lembut.Lagi-lagi Tara hanya mengangguk saja. Ia memilih fokus pada gelas di tangannya. Rasa hangat jahe itu memang cukup membuat tenggorokannya lega, tetapi tangan Mentari yang masih bertengger di bahunya membuat Tara sedikit tidak nyaman.Tapi ia membiarkan tangan Mentari di bahunya.Mbak Sarti yang melihat itu hanya senyum
'Sayang, kamu harus segera menjalankan rencanamu. Aku sudah muak dengan Alvin'Pesan itu terkirim dan langsung centang biru.Clarissa tersenyum sinis. "Kita lihat saja Mas, setelah ini siapa yang akan mohon-mohon. Kamu pegang kartuku bukan berarti kamu bisa memperlakukan aku dengan semaumu. Dasar pria lemah, jika bukan nama besar keluarga Mahawira, kamu sudah lama aku tendang!"Lalu wanita itu meletakkan ponselnya di atas nakas. Tubuhnya masih terasa pegal karena sejak kemarin sore hingga malam, Hardiman terus menggempur tubuhnya. Mereka memang melakukannya sampai berkali-kali sampai puas.Clarissa akui dirinya memang memiliki nafsu yang besar. Memiliki suaminya yang punya masalah pada keperkasaannnya membuatnya mencari kepuasan di tempat lain.Awalnya Clarissa membayar pria bayaran untuk memuaskannya. Selama ini ia memang sengaja memakai KB agar tidak bisa hamil saat bermain dengan pria bayarannya. Dulu sebelum ia mencari kepuasan dengan pria bayaran, bersama Alvin ia belum juga ham
“Nona, masih tidur?”Suara Mentari terdengar pelan dari ambang pintu, disusul bunyi langkah kaki yang berjinjit masuk. Di balik celah lemari, Tara menahan napas.Di atas ranjang, Luna tidak bergerak sama sekali. Matanya terpejam rapat, napasnya ia atur panjang dan teratur, dan satu tangannya yang tadi hampir mencengkeram selimut ia biarkan lemas di sisi tubuh.Dalam hati ia berdoa semoga kelopak matanya tidak berkedut.“Nona Luna?” panggil Mentari lagi, kali ini sedikit lebih dekat.Luna tetap diam dan masih memejamkan kepalanya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia khawatir Mentari bisa mendengarnya.Luna mencoba untuk tetap tenang agar actingnya meyakinkan.“Yah, masih tidur rupanya,” gumam Mentari kepada dirinya sendiri. “Kasihan, pasti capek habis pergi dua hari.”Akhirnya Mentari pun menyelesaikan tugasnya datang ke sini. Gadis itu mengambil keranjang baju kotor milik Luna kemudian langsung keluar dari kamar Luna agar tidak mengganggu tidur Luna.KlikTerdengar pintu kama
Tiga puluh menit sebelumnya...Tara membuka matanya lalu ia menoleh ke samping ke arah Luna yang ternyata sudah bangun.Gadis itu langsung tersenyum pada Tara. "Selamat pagi Tara," ucap Luna."Good morning cantik," jawab Tara dengan suara seraknya khas orang bangun tidur. Lalu Tara mendekatkan wajahnya pada Luna dan pria itu langsung mengecup bibir Luna. "Morning kiss," ucap Tara. Kemudian ia mengungkuk tubuh Luna. Menggunakan kedua tangannya, Tara menahan tubuhnya agar tidak menimpa Luna."Tara—" kalimat Luna terhenti saat Tara mengecup bibir gadis itu."Apa yang aku katakan semalam itu tidak bohong. Aku memang menyukaimu Luna. Makanya hatiku sakit melihat kamu diabaikan oleh suamimu. Sejak awal, rasanya aku ingin membawamu pergi dari suamimu tapi aku juga sadar kalau statusmu saat ini masih istri pria lain."Luna masih diam tapi matanya menatap netra Tara seolah mencari kebenaran lewat mata pria itu dan yang ia temukan tatapan ketulusan pria itu. Bahkan ini pertama kalinya ia meli
Luna masih menangkup wajah Tara, dan Tara membiarkannya saja. Ia hanya tersenyum dengan pipi sedikit tertekan oleh kedua telapak tangan gadis itu, mirip bapao yang baru keluar dari kukusan.“Iya, Luna. Aku Mas jenggotan itu.”“Ya ampun.” Luna akhirnya melepaskan wajah Tara, lalu menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa sambil menutup muka dengan bantal. “Pantas aja waktu pertama kali lihat kamu di rumah ini rasanya kayak pernah lihat. Tapi aku pikir itu cuma perasaan.”“Kamu sempat mikir begitu?”“Iya. Cuma sebentar, habis itu lupa.” Luna mengintip dari balik bantal. “Terus, kok bisa kamu ada di panti waktu itu? Dan kenapa kamu pakai kacamata hitam di dalam ruangan? Kamu waktu itu lagi jadi buronan, ya?”Tara tertawa. “Bukan buronan. Waktu itu aku lagi di masa-masa...” Ia berhenti sebentar, mencari kata yang pas. “Aku nggak mau dikenali siapa-siapa. Orang tuaku baru meninggal, dan aku pengin menghilang dulu dari dunia. Rambut dipanjangin, jenggot dibiarin tumbuh, kacamata hitam kupak







