공유

Bab 7

작가: Nabila Ara
last update 게시일: 2026-08-17 07:40:19

“Nona Luna kenapa sih?”

Tara masih berdiri di tempatnya.

Pria itu menatap punggung Luna yang semakin menjauh menuju pintu rumah. Bahkan wanita itu sama sekali tidak menoleh lagi setelah mengatakan kalimat yang membuat Tara semakin bingung.

‘Kamu pasti suka kan jadi pusat perhatian selama di sana tadi? Huh! Dasar bodyguard aneh!’ Ucapan Luna masih terngiang di benaknya.

Tara menggaruk kepalanya karena pria itu bingung dengan Nyonya mudanya.

Apa hubungannya dirinya menjadi pusat perhatian dengan kemarahan Luna malam ini?

Tara masih diam di posisinya sambil mengingat apa yang ia lakukan ketika berada di pesta tadi. Namun, setelah diingat-ingat lagi, ia sama sekali tidak merasa sudah melakukan kesalahan. Selama di sana bahkan ia hanya duduk di dekat bar mini sambil minum dan memperhatikan Luna dari tempatnya.

Ia juga tidak mendekati Nyonya mudanya itu sesuai dengan keinginan Luna.

“Apa aku ada melakukan kesalahan yang nggak aku sadari ya, makanya Nona Luna marah-marah seperti itu?” gumam Tara.

Masih dengan kebingungannya, Tara pun masuk ke dalam rumah menyusul Luna.

Begitu masuk ke dalam rumah, Tara sudah tidak melihat keberadaan Luna di sana.

“Nona Luna pasti langsung ke kamarnya,” ucap Tara pelan sambil menatap ke arah lantai dua.

Sementara itu di lantai dua, tepatnya di kamar Luna.

Setelah masuk ke dalam kamar, Luna langsung duduk di ranjangnya. Wanita itu bahkan belum mengganti gaun pesta dan menghapus makeupnya.

“Aku kok aneh gini sih. Kenapa juga aku kesal saat Ester dan lainnya ingin kenalan dengan Tara. Dia kan hanya bodyguardku,” gumam Luna.

“Lagian, Ester sama Bella kenapa juga mereka sangat penasaran sekali dengan Tara. Padahal pasangan mereka kan udah tampan gitu. Masa ia mereka juga tertarik dengan Tara? Iya sih, aku akui Tara memang agak tampan tapi kan… Aarggghh… cukup Luna. Lebih baik kamu bersih-bersih setelah itu tidur,” ucap Luna kembali.

Akhirnya wanita itu pun beranjak dari ranjang kemudian berjalan ke meja riasnya untuk menghapus make up yang ia pakai tadi.

Setelah selesai menghapus makeupnya, Luna mengambil ponsel yang ia simpan di tas kecilnya tadi. Ketika ia menyalakan ponselnya, hanya ada pesan dari teman-temannya.

Wanita itu menghela napas panjang saat tidak ada pesan dari suaminya.

“Mas Alvin kemana sih? Pesan terakhirku saja nggak dia baca. Sebegitu sibuknya dengan Mbak Clarissa kah sampai untuk baca pesanku saja nggak sempat,” gumam Luna.

Tidak ingin membuat moodnya semakin berantakan, Luna memilih untuk bersih-bersih.

Bukan pertama kalinya suaminya seperti itu.

Selang beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Luna keluar dengan wajah freshnya. Sebelum tidur, Luna melakukan aktivitas rutin yang ia lakukan setiap malam yaitu  mengaplikasikan skincare yang membuat kulitnya sehat selama ini.

Setelah itu Luna langsung naik ke atas ranjang. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu bersiap untuk memejamkan mata.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Sampai sepuluh menit.

Wanita itu kembali membuka matanya. Ia coba baring miring ke sisi kanan, namun beberapa saat kemudian ia kembali miring ke sisi kiri seolah ingin mencari posisi yang nyaman.

“Hufffhh… Aku kenapa sih. Kenapa masih kepikiran yang tadi?” gumamnya setelah ia mencoba beberapa kali mencari posisi yang nyaman tetapi tetap saja tidak menemukannya.

Masih terngiang jelas di benaknya apa yang terjadi saat di pesta ulang tahun Ester.

“Kenapa aku masih kesal teringat teman-temanku memuji kegantengan Tara? Ayolah Luna, dia itu hanya bodyguardmu,” gumam Luna.

Luna merasa dirinya sangat aneh, seolah ia tidak rela ada wanita lain yang memuji Tara. Agam, bodyguardnya sebelum Tara juga pernah di puji oleh teman-temannya tetapi ia biasa saja seolah tidak peduli.

Bahkan belum genap dua hari, Tara menjadi bodyguardnya tetapi mengapa sudah mempengaruhinya sekuat ini.

Banyak pertanyaan yang berputar di benaknya, tetapi ia sama sekali tidak punya jawabannya.

“Ah, pusing! Cukup Luna, jangan dipikirkan lagi. Apapun itu lebih baik kamu tidur.”

Ia pun kembali memejamkan matanya, kali ini berharap bisa langsung tidur. Ia tidak ingin besok pagi ada lingkaran hitam di area matanya.

***

Keesokan paginya, seperti kemarin Tara memulai harinya dengan berlari mengelilingi kompleks perumahan elit itu. Bedanya pagi ini, saat ia kembali ke rumah Luna, ia tidak melihat keberadaan Luna di depan rumah seperti kemarin.

“Apa Nona Luna masih kesal padaku ya? Tumben Nona Luna nggak ada olahraga pagi ini. Katanya suka olahraga juga,” gumam Tara.

Tidak ingin lama-lama disana, Tara pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Ia ingin segera mandi dan menjalankan tugasnya.

Ketika Tara masuk ke dalam rumah, ia masih belum melihat keberadaan Luna.

“Tari…”

Tara mendekati Mentari yang sedang mengelap koleksi guci milik Luna.

“Ehh Mas Tara. Kaget aku, Mas. Untung aku nggak menjatuhkan guci kesayangan Nona Luna,” ucap Mentari  sambil mengelus dadanya.

Ia tidak tahu sejak kapan ada Tara di sana, pasalnya yang ia tahu Tara tadi sedang olahraga di luar.

“Maaf Tari. Aku mau tanya sama kamu.”

“Tanya apa Mas Tara?”

“Nona Luna sudah turun ke bawah?” tanya Tara.

Mentari menggeleng. “Nona Luna belum ada turun ke bawah, Mas Tara.”

“Ya sudah. Kamu lanjutkan tugasmu ya.”

Tara pun meninggalkan Mentari dan menuju kamarnya.

Tiga puluh menit kemudian, Tara keluar dari kamar sudah dengan pakaian rapi. Saat mendekati tangga, Tara bertemu Luna yang baru saja turun dari lantai dua.

“Pagi, Non.”

Luna hanya mengangguk saja, tetapi ia berhenti di depan Tara.

“Kamu belum sarapan kan Tara, ayo kita sarapan sama-sama,” ajak Luna.

Tara diam saja sambil memandang wajah Luna, tetapi ia tidak melihat ekspresi badmood atau kesal padanya seperti semalam.

“Kok malah bengong sih Tara?” tanya Luna sambil melambaikan tangannya di depan wajah Tara.

“Ehhh.. Iya Non.”

“Iya apa?”

“Maksud saya, iya untuk sarapan sama-samanya.”

“Hmm.. Ayo kita sarapan.”

“Nona Luna…”

“Iya, ada apa Tara?”

Tara menggeleng. “Nggak jadi Non.”

“Kamu ini kenapa sih Tara? Apa kesambet waktu kamu lari tadi? Pagi-pagi sudah aneh gini.”

Tara hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saja. Lalu mereka pun sama-sama menuju ruang makan.

Malam harinya, hujan turun sangat deras sekali padahal tadi siang cuaca begitu cerah.

Seperti biasa, di rumah megah itu hanya ada Luna dan Tara saja. Sementara Mbak Sarti, Mas Deden dan Mentari sudah kembali ke paviliun belakang sejak sore tadi.

Di luar bunyi gemuruh guntur sangat nyaring.

“Hujan-hujan ini buat aku cepat mengantuk,” gumam Tara yang sudah siap untuk tidur. Pria itu hanya memakai celana pendek dan baju tanpa lengan.

Namun baru saja ia ingin baring, tiba-tiba ada ketukan pintu kamarnya dari luar. Tara pun bergegas berjalan menuju pintu.

Saat ia membuka pintu kamar, betapa terkejutnya Tara melihat penampilan Luna.

Nyonya mudanya datang ke kamarnya hanya memakai gaun tidur yang sangat tipis, sama seperti yang ia lihat dua malam yang lalu. Bedanya kali ini Luna memakai kacamata menutupi sepasang bukit kembarnya.

“Tara, kamu belum mau tidurkan? Temani aku cerita dulu dong. Hujan di luar sangat lebat terus ada gunturnya juga. Aku nggak bisa tidur kalau hujan deras begini,” ucap Luna.

“Aku belum mau tidur kok, Non. Ayo Non, saya temani.”

Tara pun langsung keluar dan menutup pintu kamarnya. Namun baru beberapa langkah meninggalkan kamar Tara, tiba-tiba listrik di rumah itu mati. Luna yang pada dasarnya takut kegelapan karena selama ini rumah itu selalu terang.

“Taraaaa!”

Luna langsung loncat dan memeluk Tara hingga tak sengaja bibir mereka bertemu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 81

    "Morning cantik," ucap Tara begitu Luna membuka matanya.Luna menoleh ke arah jendela kamar hotel yang tirainya sudah Tara buka. Di luar sana sudah terang menderang."Tara, jam berapa sekarang?" tanya Luna dengan suara seraknya.Rambut gadis itu masih sangat berantakan sama seperti tadi. Gadis itu bahkan tidak sadar jika selimut melorot ke bawah hingga sepasang bukit kembarnya terlihat jelas di mata Tara."Sekarang sudah jam delapan pagi. Ayo bangun, kamu harus sarapan." Tara berusaha menahan dirinya.Pemandangan di depannya sungguh sangat menggoda imannya, terlebih lagi saat ini pagi hari adalah waktu krusial untuk kelangsungan bagian bawah tubuhnya."Aku lapar Tara. Kamu sih semalam kayak singa kelaparan. Nggak kasih jeda sama sekali. Kalau aku nggak ngerengek minta berhenti aku yakin kamu nggak akan berhenti. Kamu minum obat kuat ya Tara."Tara terkekeh. Lalu ia mendekati Luna dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.Bukan ciuman terburu-buru tetapi hanya ciuman lembut saja.Lalu

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 80

    Tara membuka matanya dan ia menoleh ke samping pada gadis dipelukannya. Satu senyuman merekah di bibirnya saat melihat Luna masih terlelap dengan mulutnya sedikit terbuka. Rambut gadis itu tampak berantakan. Tara menarik selimut menutupi tubuh mereka yang masih sama-sama polos.Satu jam setelah Luna tertidur mereka kembali melanjutkan sesi kedua pendakian mencapai puncak karena Luna. Tara yang tidak bisa menahan hasratnya saat melihat Luna dengan tubuh polosnya hingga pria itu kembali menyentuh Luna. Pria itu hanya berhenti setelah Luna merengek kelelahan."Kamu itu cantik dan istimewa, Luna. Aku tidak akan meninggalkan kamu begitu saja. Aku sudah lama melihatmu dari jauh," bisik Tara.Pria itu mengecup kening Luna, lalu ia menarik pelan lengannya yang dijadikan gadis itu sebagai bantalan. Tara menghela napas lega ketika ia sudah berhasil menarik lengannya dan Luna tidak bangun sama sekali. Gadis itu sempat mengeliat sedikit.Tara menggerakkan tangannya karena rasa kebas akibat tid

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 79

    Tara mencabut miliknya yang sudah kembali tidur dari lembah kenikmatan Luna. Kemudian, pria itu membawa Luna dalam pelukannya. Tara menarik selimut agar menutupi tubuh mereka yang masih sama polosnya.Keringat di tubuhnya masing-masing sudah mulai mengering. Suhu dalam kamar mewah itu sudah mulai terasa dingin kembali. Tara menepikan rambut Luna yang menutupi wajah cantik Luna.Ia mencium kening gadis di pelukannya itu dengan lembut, sementara Luna memejamkan matanya ketika keningnya Tara mengecup keningnya."Tara..""Hmm...""Bisakah kita selalu seperti ini?""Kenapa?"Luna mengeratkan pelukannya pada Tara, lalu ia mendongak hingga tatapan mereka bertemu. "Aku takut nanti kita berpisah saat misi kamu sudah berhasil," lirih Luna.Tara terkekeh sambil mengusap pipi Luna dengan lembut."Kenapa kamu bisa kepikiran begitu, hmm?""Aku takut kamu juga meninggalkan aku Tara, seperti Mas Alvin. Dulu dia begitu memperjuangkanku agar aku mau menikah dengannya, tapi setelah menikah dia mengab

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 78

    Tara menggerakkan pinggulnya menghujam goa sempit milik Luna. Pria itu memejamkan matanya saat merasakan jepitan dari milik Luna pada Jhon yang sedang mengobrak abrik di bawah sana. Irama khas penyatuan dua raga mulai memenuhi seisi kamar, beradu dengan suara napas yang memburu saat tubuh Tara mengayun pelan diselingi gerakan keras kemudian menghentak ketika tidak lagi kuat bertahan dalam suasana damai dan tenang.Kepala Luna bergerak resah dengan bibir terus saja menggaungkan nama Tara sementara kedua tangannya yang tadi mencengkeram seprei sudah berpindah pada punggung pria itu."Aahhh... Ta-Tara...""Yaa Lunaa.." balas Tara dengan gerakan lincahnya memompa tubuh Nyonya mudanya yang berada dalam kekuasaannya.Beberapa kali bibir itu kembali menyasar puncak bukit Luna bergantian hingga respon Luna pun semakin liar.Gadis itu mungkin tidak sadari jika bibirnya begitu berisik hingga Tara tahu kalau kaki gadis itu mengejang dengan tubuh melengkung bagai busur dan memeluk pinggangnya b

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 77

    "Keluarkan saja Luna, jangan di tahan."Bersamaan gerakan jarinya semakin kuat disertai suara desah nikmat dari bibir Luna.Tubuh Luna bergetar.Tara tahu, Luna mendapatkan klimaks untuk pertama kalinya.Tara mengeluarkan jarinya dari lembah kenikmatan Luna. Pria itu menatap wajah Luna yang berkeringat dan napas gadis itu yang masih ngos-ngosan seolah baru saja lari jauh."Sudah siap untuk ke menu utama, Luna?" tanya Tara.Di saat Luna masih menikmati pelepasannya, Tara menarik kain segitga berenda yang masih menutupi lembah kenikmatan gadis di bawah kendalinya ini. Luna mengangkat bokongnya agar memudahkan Tara melepaskan kain segitiga berenda itu dan lagi lagi pria itu melemparkannya ke sembarangan arah.Tara menatap lembah kenikmatan Luna yang sangat terawat. Warna merah muda dan bersih tanpa di tumbuhi oleh rerumputan. Sejak pertama kali Tara melihat pusat gairah Luna, pria itu langsung menyukainya.Milik Luna sangat berbeda dengan milik wanita yang pernah ia lihat di dalam video

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 76

    Tubuh Luna mengejang saat merasakan hisapan lidah di permukaan lehernya. Kedua kaki gadis itu bergerak resah.Tara semakin bergerak ke bawah menyelusuri permukaan kulit putih Luna. Jejak-jejak merah hampir memenuhi kulit leher Luna."Tara, jangan di sana. Nanti kelihatan sama yang lain," lirih Luna dengan suara bergetar karena gadis itu menahan sensasi dari sentuhan Tara.Tara hanya diam saja. Pria itu tetap melanjutkan aktivitasnya tanpa mengindahkan permintaan Luna. Ia masih saja membuat maha karya di sana.Satu tangannya sejak tadi tidak diam karena sudah berada di salah satu bukit Luna yang masih tertutup oleh gaun yang masih menempel pada tubuh gadis itu. Tangan Tara terus meremas bukit Luna secara bergantian yang semakin menambah sensasi yang meresahkan dan menambah kobaran api gairah dalam tubuh Luna.Seolah tidak puas membuat jejak merah di leher Luna, pria itu kini membuat jejak cinta di dekat dengan tulang selangka Luna."Ta-Taraaa...."Mulut Luna sejak tadi tidak bisa diam

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status