แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Nabila Ara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-14 14:27:40

Luna.

Ya, wanita cantik yang Tara lihat tadi adalah Luna. Rambutnya diikat kuncir kuda.

Ia mengenakan pakaian olahraga berwarna terang yang terlihat nyaman dikenakan untuk aktivitas pagi.

"Selamat pagi, Nona."

Luna yang sedang meregangkan kedua tangannya langsung menoleh. Ia benar-benar tidak menyadari kedatangan Tara. "Hah! Kamu kalau nggak ngagetin aku sepertinya bakal meriang, ya!"

Tara terlihat bingung. "Memangnya saya sering mengagetkan Nona?"

"Tiga kali, lho! Kemarin di gazebo, terus semalam di dekat dapur dan sekarang. Tiba-tiba muncul begitu aja kayak jelangkung, dasar!"

Tara tertawa pelan mendengar itu. "Maaf, Non. Saya memang tidak bermaksud membuat Nona kaget. Oh iya, ngomong-ngomong, luka di kaki Nona gimana?"

Tara menoleh ke arah kaki Luna, tetapi wanita itu memakai sepatu olahraga hingga Tara tidak bisa melihat bagaimana luka di kaki Luna.

“Udah lumayan baikan. Makasih ya Tara.”

Tara hanya mengangguk. Bukankah memastkan keamanan Luna sudah menjadi tanggung jawabnya.

“Oh iya, Nona juga suka berolahraga?”

"Iya dong. Olahraga kan bikin badan kita sehat."

"Kalau tahu Nona juga suka olahraga, tadi saya ajak lari keliling kompleks."

Luna buru-buru menggeleng dan menjawab dengan sedikit terbata-bata. "Ng-nggak, nggak usah. Aku lebih suka olahraga sendiri!”

Sejak tadi Tara sadar jika tatapan Luna terus menghindarinya, Nyonya mudanya itu terus memandang ke arah lain bahkan saat ia ajak bicara.

Tara menoleh ke arah tubuhnya. “Apa ada yang aneh sama tubuhku?” batin Tara.

Lagipula, kenapa tadi Luna gugup waktu diajak Tara olahraga bersama? Apa mungkin Luna salah mengartikan kata ‘olahraga bersama’ itu?

Argh, melihat Luna saja sudah membuat Tara berdebar, walau ia pandai menyembunyikannya. Tapi ia sadar, ia hanya bodyguard dan tidak boleh berlarut-larut dalam kondisi seperti ini.

Tidak memperdulikan Tara yang asik dengan pikirannya sendiri, Luna mengambil handuk putih yang sudah disiapkan di kursi panjang. Dengan santai ia menyampirkannya ke bahu sebelum mengeringkan rambutnya yang basah.

Tatapannya kembali mengarah pada Tara yang sejak tadi terlihat canggung. "Kamu kenapa, Tara?"

"Tidak apa-apa, Nona."

“Apa yang kamu lihat di pohon itu?” tanya Luna karena Tara terus menatap ke arah pohon palem yang memang di samping pria itu.

Sontak Tara kembali menoleh ke arah Luna. “Tadi saya ada melihat seperti ular, setelah saya perhatikan kembali, ternyata bukan ular tetapi akar dari pohon itu.”

Luna hanya geleng-geleng saja. “Apa yang Mas Alvin lihat dari dia? Aku bahkan ragu dia seorang bodyguard,” Luna.

“Oh iya, Tara. Nanti malam temani aku datang ke acara ulang tahun temanku, ya.”

Permintaan itu lebih mirip kencan atau pacar sewaan daripada sebagai bodyguard. Dan, Tara pun hanya menjawab singkat, menjaga sikap dinginnya. “Baik, Nona.”

Luna kemudian melangkah masuk ke dalam rumah, namun baru beberapa langkah, wanita itu berhenti dan menoleh ke belakang. “Tara, jangan lupa pakai pakaian yang bagus. Aku nggak mau teman-temanku risih kalau kamu pakai pakaian yang biasa aja.”

***

Malam harinya, Tara berdiri di depan cermin melihat penampilannya.

Ia mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuh atletisnya. Kemeja hitam tanpa motif dipadukan dengan dasi senada membuat penampilannya terlihat elegan sekaligus berwibawa. Rambutnya ditata rapi ke belakang sehingga mempertegas garis rahangnya yang tegas.

Namun ada satu hal yang sengaja ia tambahkan, yaitu Kacamata berbingkai tipis berwarna hitam.

Kacamata ini khusus untuk menyamarkan identitas aslinya.

Meski identitasnya saat ini adalah seorang bodyguard, Tara tidak ingin mengambil risiko bertemu dengan seseorang yang mengenalnya, apalagi ini adalah pesta yang diisi orang-orang kaya. Sudah barang tentu ada salah satu koleganya yang ada di sini.

Ia tidak ingin rencananya berantakan sebelum di mulai.

Setelah memastikan penampilannya sudah siap, pria itu langsung keluar kamar.

Baru saja ia tiba di ruang keluarga, tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari lantai dua.

Refleks Tara menoleh  ke arah tangga.

Dan untuk beberapa detik, pria itu terdiam.

Luna sedang menuruni anak tangga.

Wanita itu mengenakan gaun hitam panjang dengan potongan yang sederhana namun elegan.

Belahan pada bagian bawah gaun membuat langkahnya tampak anggun, sementara kain satin yang lembut mengikuti setiap gerakannya.

Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan ujung bergelombang, dipadukan dengan riasan natural yang justru semakin menonjolkan kecantikan wajahnya.

Gaun itu tidak mencolok, tetapi berhasil memancarkan aura anggun yang sulit diabaikan.

Tara menelan ludah pelan.

“Cantik, cantik sekali, lebih cantik dari wanita manapun yang pernah kutemui,” gumamnya pelan, dengan mata yang masih terpaku.

Sesaat kemudian, Tara langsung mengubah ekspresinya menjadi biasa saja. Ia tidak boleh terlihat terpesona pada Luna apalagi gadis itu adalah majikannya, terlebih lagi Luna ada istri dari pria lain.

Luna kemudian berjalan mendekati Tara. Gadis itu tidak menyangka pria di depannya ini sangat tampan dengan setelan jas yang ia pakai.

Yang tidak Tara tahu, Luna sudah bersiap 20 menit di depan cermin. Menyiapkan mental dan fisiknya, agar ketika melihat Tara dengan setelan jas hitam ketat yang menonjolkan lengan kekarnya, ia tidak akan bereaksi apapun.

Ternyata, 20 menit tidak cukup dan molor hingga 30 menit, sebatas hanya agar Luna bersiap.

Alhasil, Luna tidak bereaksi dan bisa bersikap dingin, berbeda dengan Tara yang tanpa ada persiapan, langsung menyaksikan bidadari turun kahyangan.

Tidak ingin terlihat terus terpesona dengan penampilan Tara, Luna langsung mengajak pria itu untuk berangkat ke pesta ulang tahun temannya. “Tara, ayo berangkat sekarang. Aku nggak mau kita terlambat datang di sana.”

“Siap, Nona.”

“Oh iya, selama di pesta nanti, kamu harus menjaga jarak denganku ya. Aku tidak ingin ada gosip apapun. Mereka di sana semuanya tahu kalau aku istrinya Mas Alvin,” ucap Luna saat mereka dalam perjalanan menuju hotel dimana pesta ulang tahun temannya diadakan. Dulu, selama Agam menjadi bodyguardnya, Luna tidak pernah mengizinkan Agam untuk mengantarkan sampai bertemu teman-temannya. Luna selalu meminta Agam untuk menunggu di mobil saja.

“Baik, Nona.”

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit, mereka tiba di hotel tempat acara ulang tahun teman Luna.

Tara langsung keluar dari mobil, pria itu berlari memutari mobil dan membukakan pintu untuk Luna. “Ingat, pesanku tadi, Tara.”

Tara mengangguk.

Kemudian, mereka pun berjalan masuk ke dalam ballroom hotel.

Saat mereka berdua masuk, Luna bisa mendengar bisik-bisik para tamu undangan. Bukan memuji kecantikannya tetapi bisik-bisik tamu undangan justru tertuju pada bodyguardnya.

“Siapa pria bersama Luna itu?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 12

    “Mas Alvin...” ucap Luna.Melihat mobil suaminya terparkir di depan rumah membuat senyum Luna langsung merekah. Ia pun buru-buru melepaskan jaket Tara yang ia pakai tadi dan melipatnya asal ke pangkuannya.Luna bahkan langsung turun dari mobil tanpa dibukakan terlebih dahulu oleh Tara.Tara menoleh ke arah Luna yang sudah turun dari mobil. Ia pun menyusul Luna turun dari dalam mobil.Tara langsung berjalan menuju belakang untuk mengambil belanjaan Luna tadi yang ia taruh di bagasi mobil.Mengetahui Alvin ada di rumah ini, Tara kembali memposisikan dirinya seperti hari pertama ia datang ke rumah ini. Ia berusaha tetap menjaga profesionalnya. Kedekatan hubungannya dengan Luna harus ia sembunyikan. Ia tidak ingin Luna mendapat masalah meski kedatangannya ke rumah ini memang permintaan Tuan Alvin-nya sendiri.Tara berjalan masuk ke dalam rumah sambil membawa belanjaan.Di teras rumah sudah ada Alvin dan Mbak Sarti.Luna sudah berdiri di samping suaminya sambil memeluk lengan Alvin.Tara b

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 11

    “Bruk.”Luna sengaja menjatuhkan langkahnya dengan keras di anak tangga terakhir supaya baik Mentari atau Tara sadar keberadaannya.Dan benar saja, Mentari dan Tara sama-sama menoleh ke arah tangga.Kemudian Luna berjalan melewati ruang tengah, tetapi gadis itu menghentikan langkahnya tepat di dekat Mentari dan Tara.“Mentari, dekat tangga masih kotor. Seharusnya kamu pastikan semuanya bersih dulu sebelum kamu melakukan hal yang lain,” ucap Luna sambil menatap ke arah Mentari dengan ekspresi datarnya.“Baik Nona. Saya bersihkan lagi,” ucap Mentari.Luna pun langsung meninggalkan Tara dan Mentari.“Mas Tara, aku pamit melanjutkan bersih-bersih dulu ya. Maaf ya Mas Tara, gara-gara aku, lengan Mas Tara jadi terluka,” ucap Mentari.“Nggak papa kok Tari. Lagian lukanya hanya kecil kok. Makasih ya udah obati lukaku.”Mentari mengangguk dan gadis itu langsung pergi meninggalkan Tara.Setelah Mentari pergi, Tara buru-buru menurunkan lengan bajunya sambil menahan senyum saat teringat bagaimana

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 10

    Mentari yang penasaran langsung menghampiri Tara di dapur.“Mas Tara..”“Ehh... kamu Tari. Aku pikir siapa?” Tara yang terkejut tiba-tiba ada Mentari mencoba untuk tetap tenang. “Kamu sendiri aja Tari. Mbak Sarti mana?”“Mbak Sarti masih di paviliun. Mas Tara, aku mau tanya sesuatu?”“Mau tanya apa Tari?”“Kamarnya Mas Tara kan di lantai satu, tapi tadi kok aku melihat Mas Tara turun dari lantai dua?”Deg!“Waduuh.. Tari malah lihat aku turun dari kamarnya Nona Luna. Jangan sampai Tari mikir yang macam-macam,” batin Tara.“Mas..”“Eh itu Tari. Semalam kan listrik mati terus hujan deras. Nona Luna ketakutan sendirian jadi minta aku temani sampai listrik hidup kembali. Eh aku malah ketiduran makanya pagi ini baru turun ke bawah,” jawab Tara seadanya sambil meletakkan gelas di tempat cuci piring dengan tenang.Mendengar itu Mentari hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi Mentari justru salah fokus pada leher Tara. Ia sangat tahu sekali kalau itu jejak lipstik.Kemudian Mentari pun pamitan d

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 9

    “Tara, kamu maukan menggantikan suamiku?” Luna kembali mengulang pertanyaannya.Tara masih diam saja, pria itu tidak langsung menjawabnya meski ia sudah menyetujui permintaan Alvin waktu itu.Melihat Tara yang diam saja, Luna menarik tangan Tara sampai menempel ke pipinya sendiri, terus pindah ke lehernya. “Aku sudah lama menginginkan diperlakukan seperti wanita yang diinginkan oleh pria. Dicintai dan disentuh sampai titik terdalamnya. Aku sangat merindukan sentuhan yang membuatku kembali merasakan surga dunia, Tara.”Napas Tara mulai berat. Tangannya sempat mengikuti gerakan Luna beberapa detik. Tara bisa merasakan kulit halus gadis itu. Sesuatu dalam dirinya kembali menyeruak, sesuatu yang sejak tadi ia tahan.“Nona..”“Bantu aku Tara. Hanya kamu yang bisa melakukannya. Kamu kan sudah mendapatkan izin dari Mas Alvin. Sentuh aku, Tara.”Luna bangun dari baringnya, lalu gadis itu menarik tengkuk Tara dan menyatukan bibirnya dengan bibir Tara.Gerakan tiba-tiba Luna membuat Tara terkej

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 8

    Tara terdiam saat bibir Luna menyentuh bibirnya. Jakun pria itu bahkan naik turun, ada rasa aneh dalam tubuhnya yang langsung menyeruak, tetapi Tara tidak membuka mulutnya menyambut ciuman dari Luna.Sementara Luna yang masih ketakutan karena rumah itu sangat gelap, masih memeluk Tara dengan erat.Gadis itu lebih mementingkan rasa takutnya sehingga ia tidak terlalu mempedulikan bibirnya yang tidak sengaja menciumi bibir, pipi, serta leher Tara.“Tara, aku takut,” lirih Luna.“Tenang, Non. Ada aku disini.”Tidak ingin Luna lebih takut lagi, sembari menggendong Luna, Tara berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil senter.Di dalam kamarnya Tara memang ada senter.Dalam kondisi yang gelap, Tara berusaha mencari senter.Luna semakin mengeratkan pelukannya di leher Tara hingga membuat Tara semakin gelisah. Sekuat tenaga Tara menahan hasrat yang dengan lancangnya langsung menyeruak di saat seperti ini.Tara mencoba untuk lebih santai agar hasrat dalam tubuhnya tidak semakin besar.Sete

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 7

    “Nona Luna kenapa sih?”Tara masih berdiri di tempatnya.Pria itu menatap punggung Luna yang semakin menjauh menuju pintu rumah. Bahkan wanita itu sama sekali tidak menoleh lagi setelah mengatakan kalimat yang membuat Tara semakin bingung.‘Kamu pasti suka kan jadi pusat perhatian selama di sana tadi? Huh! Dasar bodyguard aneh!’ Ucapan Luna masih terngiang di benaknya.Tara menggaruk kepalanya karena pria itu bingung dengan Nyonya mudanya.Apa hubungannya dirinya menjadi pusat perhatian dengan kemarahan Luna malam ini?Tara masih diam di posisinya sambil mengingat apa yang ia lakukan ketika berada di pesta tadi. Namun, setelah diingat-ingat lagi, ia sama sekali tidak merasa sudah melakukan kesalahan. Selama di sana bahkan ia hanya duduk di dekat bar mini sambil minum dan memperhatikan Luna dari tempatnya.Ia juga tidak mendekati Nyonya mudanya itu sesuai dengan keinginan Luna.“Apa aku ada melakukan kesalahan yang nggak aku sadari ya, makanya Nona Luna marah-marah seperti itu?” gumam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status