เข้าสู่ระบบLuna.
Ya, wanita cantik yang Tara lihat tadi adalah Luna. Rambutnya diikat kuncir kuda.
Ia mengenakan pakaian olahraga berwarna terang yang terlihat nyaman dikenakan untuk aktivitas pagi.
"Selamat pagi, Nona."
Luna yang sedang meregangkan kedua tangannya langsung menoleh. Ia benar-benar tidak menyadari kedatangan Tara. "Hah! Kamu kalau nggak ngagetin aku sepertinya bakal meriang, ya!"
Tara terlihat bingung. "Memangnya saya sering mengagetkan Nona?"
"Tiga kali, lho! Kemarin di gazebo, terus semalam di dekat dapur dan sekarang. Tiba-tiba muncul begitu aja kayak jelangkung, dasar!"
Tara tertawa pelan mendengar itu. "Maaf, Non. Saya memang tidak bermaksud membuat Nona kaget. Oh iya, ngomong-ngomong, luka di kaki Nona gimana?"
Tara menoleh ke arah kaki Luna, tetapi wanita itu memakai sepatu olahraga hingga Tara tidak bisa melihat bagaimana luka di kaki Luna.
“Udah lumayan baikan. Makasih ya Tara.”
Tara hanya mengangguk. Bukankah memastkan keamanan Luna sudah menjadi tanggung jawabnya.
“Oh iya, Nona juga suka berolahraga?”
"Iya dong. Olahraga kan bikin badan kita sehat."
"Kalau tahu Nona juga suka olahraga, tadi saya ajak lari keliling kompleks."
Luna buru-buru menggeleng dan menjawab dengan sedikit terbata-bata. "Ng-nggak, nggak usah. Aku lebih suka olahraga sendiri!”
Sejak tadi Tara sadar jika tatapan Luna terus menghindarinya, Nyonya mudanya itu terus memandang ke arah lain bahkan saat ia ajak bicara.
Tara menoleh ke arah tubuhnya. “Apa ada yang aneh sama tubuhku?” batin Tara.
Lagipula, kenapa tadi Luna gugup waktu diajak Tara olahraga bersama? Apa mungkin Luna salah mengartikan kata ‘olahraga bersama’ itu?
Argh, melihat Luna saja sudah membuat Tara berdebar, walau ia pandai menyembunyikannya. Tapi ia sadar, ia hanya bodyguard dan tidak boleh berlarut-larut dalam kondisi seperti ini.
Tidak memperdulikan Tara yang asik dengan pikirannya sendiri, Luna mengambil handuk putih yang sudah disiapkan di kursi panjang. Dengan santai ia menyampirkannya ke bahu sebelum mengeringkan rambutnya yang basah.
Tatapannya kembali mengarah pada Tara yang sejak tadi terlihat canggung. "Kamu kenapa, Tara?"
"Tidak apa-apa, Nona."
“Apa yang kamu lihat di pohon itu?” tanya Luna karena Tara terus menatap ke arah pohon palem yang memang di samping pria itu.
Sontak Tara kembali menoleh ke arah Luna. “Tadi saya ada melihat seperti ular, setelah saya perhatikan kembali, ternyata bukan ular tetapi akar dari pohon itu.”
Luna hanya geleng-geleng saja. “Apa yang Mas Alvin lihat dari dia? Aku bahkan ragu dia seorang bodyguard,” Luna.
“Oh iya, Tara. Nanti malam temani aku datang ke acara ulang tahun temanku, ya.”
Permintaan itu lebih mirip kencan atau pacar sewaan daripada sebagai bodyguard. Dan, Tara pun hanya menjawab singkat, menjaga sikap dinginnya. “Baik, Nona.”
Luna kemudian melangkah masuk ke dalam rumah, namun baru beberapa langkah, wanita itu berhenti dan menoleh ke belakang. “Tara, jangan lupa pakai pakaian yang bagus. Aku nggak mau teman-temanku risih kalau kamu pakai pakaian yang biasa aja.”
***
Malam harinya, Tara berdiri di depan cermin melihat penampilannya.
Ia mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuh atletisnya. Kemeja hitam tanpa motif dipadukan dengan dasi senada membuat penampilannya terlihat elegan sekaligus berwibawa. Rambutnya ditata rapi ke belakang sehingga mempertegas garis rahangnya yang tegas.
Namun ada satu hal yang sengaja ia tambahkan, yaitu Kacamata berbingkai tipis berwarna hitam.
Kacamata ini khusus untuk menyamarkan identitas aslinya.
Meski identitasnya saat ini adalah seorang bodyguard, Tara tidak ingin mengambil risiko bertemu dengan seseorang yang mengenalnya, apalagi ini adalah pesta yang diisi orang-orang kaya. Sudah barang tentu ada salah satu koleganya yang ada di sini.
Ia tidak ingin rencananya berantakan sebelum di mulai.
Setelah memastikan penampilannya sudah siap, pria itu langsung keluar kamar.
Baru saja ia tiba di ruang keluarga, tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari lantai dua.
Refleks Tara menoleh ke arah tangga.
Dan untuk beberapa detik, pria itu terdiam.
Luna sedang menuruni anak tangga.
Wanita itu mengenakan gaun hitam panjang dengan potongan yang sederhana namun elegan.
Belahan pada bagian bawah gaun membuat langkahnya tampak anggun, sementara kain satin yang lembut mengikuti setiap gerakannya.
Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan ujung bergelombang, dipadukan dengan riasan natural yang justru semakin menonjolkan kecantikan wajahnya.
Gaun itu tidak mencolok, tetapi berhasil memancarkan aura anggun yang sulit diabaikan.
Tara menelan ludah pelan.
“Cantik, cantik sekali, lebih cantik dari wanita manapun yang pernah kutemui,” gumamnya pelan, dengan mata yang masih terpaku.
Sesaat kemudian, Tara langsung mengubah ekspresinya menjadi biasa saja. Ia tidak boleh terlihat terpesona pada Luna apalagi gadis itu adalah majikannya, terlebih lagi Luna ada istri dari pria lain.
Luna kemudian berjalan mendekati Tara. Gadis itu tidak menyangka pria di depannya ini sangat tampan dengan setelan jas yang ia pakai.
Yang tidak Tara tahu, Luna sudah bersiap 20 menit di depan cermin. Menyiapkan mental dan fisiknya, agar ketika melihat Tara dengan setelan jas hitam ketat yang menonjolkan lengan kekarnya, ia tidak akan bereaksi apapun.
Ternyata, 20 menit tidak cukup dan molor hingga 30 menit, sebatas hanya agar Luna bersiap.
Alhasil, Luna tidak bereaksi dan bisa bersikap dingin, berbeda dengan Tara yang tanpa ada persiapan, langsung menyaksikan bidadari turun kahyangan.
Tidak ingin terlihat terus terpesona dengan penampilan Tara, Luna langsung mengajak pria itu untuk berangkat ke pesta ulang tahun temannya. “Tara, ayo berangkat sekarang. Aku nggak mau kita terlambat datang di sana.”
“Siap, Nona.”
“Oh iya, selama di pesta nanti, kamu harus menjaga jarak denganku ya. Aku tidak ingin ada gosip apapun. Mereka di sana semuanya tahu kalau aku istrinya Mas Alvin,” ucap Luna saat mereka dalam perjalanan menuju hotel dimana pesta ulang tahun temannya diadakan. Dulu, selama Agam menjadi bodyguardnya, Luna tidak pernah mengizinkan Agam untuk mengantarkan sampai bertemu teman-temannya. Luna selalu meminta Agam untuk menunggu di mobil saja.
“Baik, Nona.”
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit, mereka tiba di hotel tempat acara ulang tahun teman Luna.
Tara langsung keluar dari mobil, pria itu berlari memutari mobil dan membukakan pintu untuk Luna. “Ingat, pesanku tadi, Tara.”
Tara mengangguk.
Kemudian, mereka pun berjalan masuk ke dalam ballroom hotel.
Saat mereka berdua masuk, Luna bisa mendengar bisik-bisik para tamu undangan. Bukan memuji kecantikannya tetapi bisik-bisik tamu undangan justru tertuju pada bodyguardnya.
“Siapa pria bersama Luna itu?”
Sudah tiga malam Hardiman tidak bisa tidur dengan nyenyak.Setiap kali ia memejamkan mata, rekaman CCTV buram itu terus berputar di kepalanya. Dan sepasang mata remaja yang menatapnya dingin di pemakaman beberapa tahun yang lalu.Hardiman bahkan mengabaikan pesan dan telpon dari Clarissa. Piikirannya sedang kacau dan ia tidak ingin diganggu oleh siapapun.Pagi itu, Hardiman duduk di ruang kerjanya dengan wajah kusut. Kopi di cangkirnya sudah dingin. Sejak tadi ia hanya menatap kosong ke arah jendela.Ia sudah memerintahkan Reno untuk menyelidiki semuanya. Kurir yang mengantar paket. Asal flashdisk itu. Keberadaan pewaris Askara grup saat ini. Tapi semua jejak terputus. Kurir itu memakai identitas palsu. Flashdisk itu bisa dibeli di toko mana saja. Dan pewaris Askara seperti hilang ditelan bumi.Yang lebih membuatnya gelisah, ia tidak tahu apakah Lukman juga menerima paket yang sama. Ia ingin menghubungi Lukman, tapi takut justru membuka kartunya sendiri.Hardiman mengusap wajahnya ka
Dua hari kemudian, Alvin kembali datang ke rumah dimana Luna tinggal.Kali ini ia mengirim pesan lebih dulu. Hanya pesan singkat dan tanpa basa-basi. Aku datang nanti malam. Kita perlu bicara.Luna membaca pesan itu berkali-kali. Ada rasa takut yang menyelinap di dadanya. Ia masih ingat jelas bentakan Alvin malam itu, tatapan penuh curiga, dan ancaman yang dilontarkan sebelum pria itu pergi.Tapi ia juga ingat janjinya pada Tara. Bertahan sedikit lagi.Pukul delapan malam, mobil hitam Alvin memasuki halaman. Kali ini tidak ada klakson yang ditekan dengan kasar. Tidak ada rem yang diinjak mendadak.Alvin turun dari mobil dengan langkah pelan. Kemejanya masih rapi, tapi wajahnya terlihat jauh lebih lelah dari terakhir kali. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, dan rambutnya sedikit berantakan.Tara membukakan pintu. “Selamat malam, Tuan.”Alvin mengangguk singkat. Kali ini ia menatap Tara sejenak sebelum masuk.Luna sudah menunggu di ruang tengah. Ia berdiri dengan tangan bertaut di de
Sudah tiga hari Luna hampir tidak keluar dari kamarnya.Ia hanya turun saat makan, itu pun tidak lebih dari beberapa suap. Selebihnya ia mengurung diri di kamar dengan tirai yang tertutup rapat.Mbak Sarti sudah beberapa kali mengetuk pintu, menawarkan bubur atau teh hangat. Tapi jawaban Luna selalu sama. Nanti, Mbak. Aku belum lapar.Tara yang paling sering berdiri di depan pintu itu. Kadang ia mengetuk dan Luna membukakan pintu sebentar, menerima segelas cokelat panas, lalu menutupnya lagi. Kadang ia hanya duduk di anak tangga sampai larut malam, memastikan Luna baik-baik saja.Di dalam kamarnya, Luna duduk di lantai dekat jendela. Di pangkuannya ada sebuah koper kecil yang setengah terisi pakaian.Sudah dua kali ia mengemas koper itu. Dan sudah dua kali pula ia mengeluarkan isinya kembali.Kalimat Alvin terus terngiang di kepalanya. Kalau terbukti kamu yang mengirim, kamu akan menyesal. Lalu kalimat Lukman. Kamu hanya kesalahan yang harus dibereskan.Luna memeluk lututnya.Mungkin
Malam itu, setelah semua lampu di rumah utama dipadamkan, Mentari berjalan menuju paviliun belakang sambil membawa keranjang cucian kering.Mbak Sarti sudah lebih dulu masuk ke kamarnya. Om Deden sedang berjaga di pos depan. Halaman belakang sunyi, hanya diterangi lampu taman yang temaram.Mentari baru saja hendak membuka pintu paviliun saat sebuah suara memanggilnya dari kegelapan.“Tari.”Mentari tersentak hingga keranjang di tangannya hampir jatuh. Ia menoleh dengan cepat.Tara berdiri di bawah pohon kamboja, tidak jauh dari gazebo. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Wajahnya setengah tertutup bayangan, tapi Mentari bisa melihat sorot matanya. Dingin. Tidak ada senyum ramah seperti biasa.“Mas Tara? Bikin kaget aja,” ucap Mentari sambil tertawa gugup. “Ada apa, Mas?”“Sini sebentar. Aku mau bicara.”Mentari meletakkan keranjang cucian di depan pintu paviliun. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia berjalan mendekat dengan langkah ragu.“Bicara apa, Mas?”Tara tidak langsung m
Keesokan harinya, Lukman Mahawira duduk di ruang kerjanya di kediaman utama keluarga Mahawira.Hari itu ia sengaja tidak pergi ke kantor. Sejak kemarin kepalanya terasa berat. Urusan Alvin dan gadis itu masih membuatnya kesal. Dan semalam ia hampir tidak bisa tidur memikirkan siapa orang yang mengirim amplop berisi buku nikah itu.Pintu ruang kerjanya diketuk.“Masuk.”Kepala pelayan rumah itu masuk sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam di atas nampan perak.“Maaf mengganggu, Tuan. Ada kiriman untuk Tuan. Kurirnya langsung pergi setelah menitipkannya di pos jaga.”Lukman mengernyit. “Dari siapa?”“Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.”Lukman terdiam. Lagi? Dua hari berturut-turut ia menerima kiriman tanpa nama.Ia mengibaskan tangannya, meminta kepala pelayan itu meletakkan kotak tersebut di meja lalu keluar.Setelah pintu tertutup, Lukman membuka kotak itu. Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk perak.Dengan sedikit ragu, ia menancapkannya ke komputer di mejanya dan membuka
Pagi itu, Hardiman datang ke kantor dengan suasana hati yang cukup baik.Kemarin Reno melaporkan bahwa amplop untuk Lukman sudah sampai dengan selamat. Dan menurut informasi dari salah satu orang dalam di Mahawira grup, sore itu suara Lukman terdengar menggelegar dari ruangannya. Alvin keluar dari sana dengan wajah pucat pasi.Hardiman tersenyum tipis setiap kali membayangkan pemandangan itu.Satu langkah sudah berhasil. Tinggal menunggu badai berikutnya datang dengan sendirinya. Ia baru saja duduk di kursi kerjanya dan menyesap kopi hitam saat Reno mengetuk pintu.“Masuk.”Reno masuk sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam. Wajahnya terlihat ragu.“Maaf, Tuan. Ada paket untuk Tuan pagi ini. Dititipkan di resepsionis lewat kurir.”Hardiman mengernyit. “Dari siapa?”“Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.”Gerakan tangan Hardiman yang hendak meletakkan cangkir kopi terhenti sejenak.Tidak ada nama pengirim.Ironis sekali. Baru kemarin ia mengirim paket tanpa nama ke Lukman. Dan sek







