Share

Bab 125

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-10-19 23:58:37

Pagi itu, Hardiman datang ke kantor dengan suasana hati yang cukup baik.

Kemarin Reno melaporkan bahwa amplop untuk Lukman sudah sampai dengan selamat. Dan menurut informasi dari salah satu orang dalam di Mahawira grup, sore itu suara Lukman terdengar menggelegar dari ruangannya. Alvin keluar dari sana dengan wajah pucat pasi.

Hardiman tersenyum tipis setiap kali membayangkan pemandangan itu.

Satu langkah sudah berhasil. Tinggal menunggu badai berikutnya datang dengan sendirinya. Ia baru saja d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 125

    Pagi itu, Hardiman datang ke kantor dengan suasana hati yang cukup baik.Kemarin Reno melaporkan bahwa amplop untuk Lukman sudah sampai dengan selamat. Dan menurut informasi dari salah satu orang dalam di Mahawira grup, sore itu suara Lukman terdengar menggelegar dari ruangannya. Alvin keluar dari sana dengan wajah pucat pasi.Hardiman tersenyum tipis setiap kali membayangkan pemandangan itu.Satu langkah sudah berhasil. Tinggal menunggu badai berikutnya datang dengan sendirinya. Ia baru saja duduk di kursi kerjanya dan menyesap kopi hitam saat Reno mengetuk pintu.“Masuk.”Reno masuk sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam. Wajahnya terlihat ragu.“Maaf, Tuan. Ada paket untuk Tuan pagi ini. Dititipkan di resepsionis lewat kurir.”Hardiman mengernyit. “Dari siapa?”“Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.”Gerakan tangan Hardiman yang hendak meletakkan cangkir kopi terhenti sejenak.Tidak ada nama pengirim.Ironis sekali. Baru kemarin ia mengirim paket tanpa nama ke Lukman. Dan sek

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 124

    Setelah mobil Lukman meninggalkan halaman, rumah itu terasa begitu sunyi.Luna masih berdiri di ruang tamu. Matanya terpaku pada cek di atas meja. Ia tidak menyentuhnya, tapi juga tidak membuangnya. Ia hanya menatapnya lama, seolah kertas kecil itu adalah cermin yang memperlihatkan betapa rendahnya dirinya di mata keluarga Mahawira.Kesalahan yang harus segera dibereskan. Kalimat Lukman itu terus terngiang di kepalanya.“Luna,” panggil Tara pelan.Luna tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan menaiki tangga dengan langkah pelan. Pintu kamarnya tertutup tanpa suara.Tara mengambil cek itu dari meja. Ia menatapnya sejenak, lalu melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku. Ia tidak mau Luna melihat kertas itu lagi.Sepanjang hari itu, Luna banyak diam.Saat makan siang, ia hanya menyentuh sedikit nasinya. Saat Mbak Sarti bertanya apakah ia ingin dibuatkan sesuatu, Luna hanya menggeleng. Saat Tara mengajaknya duduk di taman sore hari, gadis itu menolak dengan suara pelan.Ia lebih banyak d

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 123

    Alvin menatap Luna lama. Napasnya masih memburu, rahangnya mengeras.Untuk sesaat, Luna berharap pria itu akan melunak. Berharap Alvin akan menarik kembali semua tuduhannya, atau setidaknya mau duduk dan mendengarkan penjelasannya.Tapi harapan itu sia-sia.Alvin justru berbalik dan meraih gagang pintu. Sebelum membukanya, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.“Aku akan cari tahu siapa yang mengirim amplop itu,” ucapnya dingin. “Dan kalau memang terbukti kamu orangnya, Luna, kamu akan menyesal.”Pintu terbuka, lalu tertutup dengan keras.Luna berdiri mematung di tempatnya. Kedua tangannya mengepal hingga kukunya menancap di telapak tangan.Ia menatap pintu yang baru saja tertutup itu. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Kamu bahkan nggak mendengarkanku, Mas,” ucap Luna lirih, menatap ke arah punggung Alvin yang sudah hilang di balik pintu.Dari bawah terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga dengan tergesa. Lalu suara mesin mobil menyala, disusul deru ban yang meninggalkan ha

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 122

    Jam dinding di ruang tengah baru saja menunjukkan pukul tujuh malam.Luna sedang duduk di sofa sambil memangku bantal kecil, menonton acara memasak di televisi tanpa benar-benar memperhatikannya. Di dapur, Mbak Sarti dan Mentari terdengar sibuk membereskan piring bekas makan malam.Mbak Sarti dan Mentari memang agak sedikit terlambat Kembali ke Paviliun hari ini.Tara baru saja selesai memeriksa pintu belakang saat suara klakson terdengar dari arah gerbang.Satu kali. Panjang dan tidak sabar.Tara mengernyit. Ia berjalan ke jendela depan dan menyibak tirai sedikit. Sebuah mobil sedan hitam yang sangat ia kenal berhenti di depan gerbang. Lampunya menyorot terang ke halaman.“Tuan Alvin,” gumam Tara.Luna yang mendengar itu langsung menoleh. “Mas Alvin?”Gadis itu buru-buru bangkit dari sofa. Ia meraih ponselnya di atas meja dan mengecek layar. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Alvin sama sekali tidak memberi kabar akan datang malam ini.Perasaan Luna langsung tidak enak.Tara berge

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 121

    Alvin baru saja kembali ke ruangannya saat interkom di mejanya berbunyi.“Tuan Alvin, Tuan Lukman meminta Tuan ke ruangannya sekarang juga.”Alvin melirik jam tangannya. Hampir pukul lima sore. Biasanya di jam seperti ini ayahnya sudah bersiap pulang.“Ada apa? Soal tender tadi?” tanya Alvin.“Saya kurang tahu, Tuan. Tapi suara Tuan Lukman terdengar...” sekretaris itu ragu sejenak, “...kurang baik.”Alvin mengernyit. Siang tadi ayahnya masih tersenyum puas setelah memenangkan tender. Apa yang bisa berubah hanya dalam beberapa jam?Ia merapikan jasnya, lalu berjalan menuju ruangan di ujung lorong lantai teratas itu.Alvin mengetuk pintu dua kali.“Masuk.”Suara itu rendah dan dingin. Alvin mengenal nada itu. Nada yang dulu sering ia dengar saat masih remaja, setiap kali ia melakukan kesalahan besar.Alvin membuka pintu dan melangkah masuk.Lukman berdiri membelakanginya, menghadap jendela kaca besar. Kedua tangannya bertaut di belakang punggung. Ia tidak menoleh sedikit pun.“Katanya P

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 120

    Tara menatap Luna yang masih terlelap. Ia tersenyum mengingat bagaimana semalam gadis itu tidak biasanya. Setiap mereka melakukan olahraga ranjang, biasanya Luna juga ikut aktif tetapi semalam gadis itu lebih lagi.Tentu Tara sangat menyukainya.“Bagaimana aku tidak mencintai gadis sepertimu, Luna.” Tara masih menatap Luna dengan penuh cinta.Tara teringat saat semalam Luna beberapa menyebut kata cinta padanya, entah gadis itu sadar apa yang ia ucapkan atau sedekar karena euphoria karena sensasi sentuhan darinya saja.“Kemarin aku bilang nggak papa kalau kamu belum memiliki perasaan padauk, Luna. Tapi entah kenapa sekarang aku ingin egois. Aku ingin memiliki hatimu,” ucap Tara.Tara mengecup kening Luna, lalu setelah itu ia turun dari ranjang. Tara buru-buru memakain pakaiannya. Kemudian ia langsung keluar dari kamar Luna meninggalkan gadis itu yang masih tertidur.Siang harinya…Ruang rapat di lantai dua puluh gedung Kementerian itu terasa dingin. Bukan hanya karena pendingin ruanga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status