MasukDi rumah orang tuanya, Nizam duduk dengan punggung tegak.
Suasana ruang keluarga terasa hangat, namun pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Ia berusaha menghormati keinginan papa dan mamanya, tapi ada batas yang ingin ia jaga. “Pa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang. “Apa tidak terlalu dini kalau kita langsung bicara soal pertunangan?” Papa menatapnya lama. “Zam, Papa pikir kamu sudah waktunya memikirkan dirimu sendiri. Papa lihat kamu tidak pernah ada inisiatif mendekati perempuan. Kamu masih normal, kan?” Nizam menghela napas pelan. “Pa, bukan begitu. Nizam hanya belum siap berkomitmen. Nizam ingin fokus bekerja dulu.” Mamanya tersenyum lembut, mencoba menengahi. “Pelan-pelan saja. Anggap penjajakan, saling mengenal dulu.” “Ya,” sambung Papa. “Papa dan Mama juga tidak memaksa Zam.” Nizam mengangguk. “Kalau sebatas penjajakan, Nizam bisa terima. Tapi untuk bertunangan sepertinya tidak. Nizam belum ada rencana ke sana Pa, Ma.” Papa tersenyum kecil. “Terserah kamu. Papa dan Mama ikut keputusanmu.” Nizam menghela napas lega namun belum sepenuhnya. “Oh iya,” lanjut Papa seolah baru ingat. “Bella belajar bekerja di perusahaanmu. Sekalian saja kamu bimbing atau jadikan sekretaris kamu.” Nizam refleks menggeleng. “Pa, sekretaris saya sudah ada. Riza merangkap aspri. Bella masuk divisi pemasaran saja.” Bella yang sejak tadi diam, hanya tersenyum tipis. “Saya ikut keputusan kamu saja, Zam.” ** Keesokan paginya, Nizam berangkat kerja bersama Bella. Mobil hitam itu melaju mulus di jalanan kota. Dari luar, mereka tampak serasi, Nizam dengan ketampanan dinginnya, Bella dengan kecantikan elegan dan senyum profesional. Sepasang eksekutif muda yang seolah cocok berdampingan. Saat tiba di kantor, tak sedikit mata melirik. Di lobi, mereka berpapasan dengan Inara, langkah Nizam spontan melambat. Hari ini Inara berbeda. Blazer krem pas di tubuhnya, rambut disanggul sederhana, wajahnya bersih dengan riasan tipis. Sepatu hak rendah membuat langkahnya ringan namun berwibawa. Dari sekian banyak karyawan yang berlalu-lalang, aura Inara paling menonjol, tenang, cerdas, berkilau tanpa berlebihan. Nizam terpaku sesaat. “Zam, siapa dia ???” Bella berbisik sambil tersenyum. Nizam berdehem kecil. “Karyawan baru dari divisi keuangan.” “Oh ...cantik sekali, Auranya beda ya zam, seperti aura bakal jadi istri orang hebat nih," puji Bella tulus. Nizam tak menanggapi, namun hatinya mengiyakan. Apakah ia selalu setenang dan seelegan ini? Atau malah ceroboh dan berantakan seperti kemarin? Inara menyapa sopan. “Selamat pagi, Pak.” Nizam hanya mengangguk singkat. Mereka bertiga masuk lift bersamaan. Hening. Di lantai dua puluh lima, Inara melangkah keluar menuju divisi keuangan. Sementara Nizam dan Bella menuju divisi pemasaran. “Terima kasih, Zam,” kata Bella saat mereka berpisah dengan Pak Sony yang akan memberinya arahan. “Aku akan belajar banyak hari ini.” Nizam mengangguk lalu melangkah ke ruangannya. ** Sesuai perjanjian, Nizam memerintahkan Pak Sony dan Riza untuk memanggil tiga karyawan yang lolos seleksi kemarin. Tak lama kemudian, Dimas, Bunga, dan Inara dipersilakan masuk ke ruangan Nizam. Dimas dan Bunga terkejut melihat penampilan Inara hari ini. mereka seperti bumi dan langit. Nizam menyandarkan punggung, menatap mereka bergantian, matanya berhenti pada Inara. “Kamu, siapa nama kamu???” ucapnya sambil menunjuk. Inara menelan ludah. “Saya, Pak… Inara.” “Iya,” kata Nizam tenang. “Kamu Inara. Hari ini kamu cantik terlihat seperti eksekutif muda.” Riza tersedak napas, merasa heran karena bosnya berbicara blak-blakan sekali. Inara terkejut, namun tersenyum kecil. “Terima kasih, Pak.” “Baik,” lanjut Nizam profesional. “Kalian bertiga akan memperkuat manajemen saya. Buat inovasi pengelolaan keuangan agar lebih praktis, efisien, minim kesalahan, dan tidak ada celah manipulasi angka.” Ketiganya menyimak serius. “Divisi ini dikoordinir Pak Agung, dengan pengawasan langsung dari saya,” lanjutnya. “Ditambah tiga staf lama.” Tatapan Nizam kembali ke Inara. “Kamu, Inara. Pengeluaran dan pemasukan perusahaan menjadi tanggung jawab kamu, sesuai latar belakang akademikmu. Saya mau lihat kemampuan kamu. Lulusan luar negeri harus punya nilai lebih.” Inara hanya mengangguk. “Baik, Pak.” “Selesai, silakan kembali ke ruangan kalian.” ** Hari itu Nizam tenggelam dalam rapat, tanda tangan dokumen, dan pertemuan klien. Saat jam makan siang tiba, Bella menemuinya. “Zam, sudah siang, Ayo makan,” ajaknya ringan. Mereka keluar bersama. Di sisi lain, Inara memutuskan makan di kafe kantor. Ia baru saja duduk ketika seseorang menyapanya. “Kamu makan di kafe juga Inara?” “Bang Riza,” Inara tersenyum. “Lebih deket, ya udah ...mau makan bareng bang” Mereka duduk bersama, berbincang ringan. Beberapa karyawan melirik, dan mulai berbisik-bisik. “Siapa wanita cantik itu?” “Kok bisa makan bareng Pak Riza?” Riza mendengarnya dan anehnya merasa bangga. Setelah jam makan siang usai, Nizam dan Bella kembali ke kantor. Di koridor, langkah Nizam terhenti saat mendengar nama Inara disebut-sebut. “Anak baru dari devisi keuangan itu, barusan makan bareng Pak Riza.” Nizam diam. Dadanya terasa tidak nyaman, dan ia tidak terima. Perasaan itu muncul begitu saja, asing, mengganggu, dan sulit ia pahami. Untuk pertama kalinya, Nizam Respati Anwar menyadari satu hal : Inara Prameswari bukan hanya mengusik pikirannya tapi juga mulai mengusik wilayah yang selama ini tak pernah ia izinkan siapa pun masuk. Perasaan tidak nyaman itu terus menekan dada Nizam bahkan setelah ia kembali ke ruangannya. Bayangan Inara duduk berhadapan dengan Riza di kafe kantor tak mau pergi. Bukan marah, lebih tepatnya sesuatu yang lebih asing dan mengganggu. Ia menekan tombol interkom. “Riza, masuk ke ruanganku.” Tak lama Riza berdiri di hadapannya. “Mulai hari ini,” ucap Nizam dingin, “Saya tidak ingin kamu makan bersama karyawan. Jaga jarak profesional.” Riza terdiam, alisnya berkerut. “Bos… sejak dulu tidak pernah ada aturan seperti itu.” “Sekarang ada,” potong Nizam singkat. Riza menelan ludah. Ia merasa instruksi itu aneh, tapi memilih mengangguk. “Baik, Bos.” Setelah Riza keluar, Nizam memanggil satu nama lagi. “Inara, masuk.” Inara datang dengan map tipis di tangan. “Bagaimana pekerjaanmu di divisi?” tanya Nizam, nada suaranya sudah kembali formal. “Bisa dipahami? Ada saran yang bisa diadopsi dari pengalamanmu di luar negeri?” “Ada, Pak,” jawab Inara mantap. “Satu hal penting. Sistem keuangan sebaiknya disederhanakan dalam satu dashboard terpadu. Saat audit, data bisa diakses real time, transparan, dan meminimalkan manipulasi.” Nizam tertarik. “Lanjutkan.” Saat berdiskusi, pandangan Inara jatuh pada dua koin di meja Nizam. “Itu, koin punya siapa, Pak?” “Punya saya,” jawab Nizam singkat. “Oh,” Inara tersenyum kecil. “Bapak koleksi uang lama?” “Tidak. Pemberian seseorang.” Inara mengangguk pelan. “Oh, begitu.” Ketukan pintu terdengar. Bella masuk dan beruntung, diskusi mereka sudah selesai. Inara pamit dengan sopan. Begitu Inara keluar, Bella menunjuk ke meja. “Dia tadi ke sini urusan apa?” “Divisi keuangan,” jawab Nizam. “Jadi keluar hari ini?” tanya Bella ceria. Nizam mengangguk. “Anggap saja menghargai Papa dan Mama.” Namun mata Bella tertuju pada dua koin itu. Tanpa berpikir panjang, ia mengambilnya lalu melemparkannya ke tempat sampah. Nizam membeku. “Apa yang kamu lakukan?!” “Buang saja, Zam,” kata Bella santai. “Zaman sudah canggih, kita sudah pakai e-money, uang digital. Ngapain simpan simpan koin jadul begitu? Tidak ada nilainya.” Wajah Nizam memerah. Ia mengambil koin itu dari tempat sampah, tangannya gemetar. Tanpa sepatah kata pun, ia pergi meninggalkan Bella. Tak lama Riza masuk dan mendapati Bella sendirian. “Ada apa?” tanya Riza. “Bos kamu tiba-tiba pergi begitu saja cuma gara-gara koinnya ku buang ke tempat sampah,” jawab Bella bingung. Riza terkesiap dalam hati. "Seberani itu…" Ia hanya mengangguk lalu pergi mencari Nizam. Di rooftop kantor, ada ruang pribadi Bosnya yang jarang dimasuki siapa pun, Riza menemukannya. Nizam duduk selonjoran, menatap koin di tangannya dalam diam. Riza mengetuk. “Bos… kenapa menyendiri di sini?” Nizam tidak menjawab. “Minggu depan jadi kan family gatheringnya?” tanya Riza hati-hati. Masih diam membisu. “Saya tambahkan outbound dan api unggun ya pak Bos biar seru” “Terserah. Kamu atur saja.” jawab Nizam akhirnya dengan suara lirih. Matanya kembali tertuju pada koin itu seakan di sanalah tersimpan alasan mengapa hatinya hari ini terasa lebih rapuh dari biasanya. ***Di lantai dua puluh lima Niaga Perkasa, suasana kantor masih terasa tegang meski jam kerja hampir usai. Beberapa karyawan memilih bertahan di depan layar, berpura-pura sibuk, hanya agar tak perlu berpapasan langsung dengan sang bos galak yang sejak pagi seperti kehilangan rem. Di ruangannya, Nizam Respati Anwar berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan Inara bersama pria itu terus terulang di kepalanya. Cara Inara tersenyum, cara pria itu menunduk sedikit saat berbicara, cara mereka berjalan berdampingan terlihat cocok. Nizam mengembuskan napas keras. Kenapa aku peduli? Pintu diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya dingin. Bella melangkah masuk, mengenakan gaun kerja elegan. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. “Belum pulang zam?” tanyanya lembut.
“JANGAN MEMBELA.” Nada Nizam meninggi. “Kamu lulusan luar negeri, kan?” “Iya, Pak.” “Harusnya kamu tahu, angka sekecil ini bisa berdampak besar!” Inara mencoba tenang. “Kalau Bapak beri saya waktu ...” “WAKTU?!” Nizam berdiri. Kursinya bergeser keras. “Kamu pikir perusahaan ini mainan?!” Inara tercekat. “Saya tidak pernah bilang begitu, Pak.” “Ekspresi kamu bilang.” Hening. Inara menggenggam jemarinya. Dadanya naik turun. “Pak,” katanya pelan tapi tegas, “kalau ada kesalahan, saya siap diperbaiki. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan teriakan.” Kalimat itu jatuh seperti bom kecil. Riza yang berdiri di sudut ruangan refleks menoleh. Nizam menatap Inara lama. “Kamu mengajari saya cara memimpin?” “Tidak,” jawab Inara lirih. “Saya hanya ingin bekerja dengan sehat.” Hening makin menekan. “Keluar.” Suara Nizam rendah. Dingin. “Sekarang.” Inara menunduk singkat. “Baik, Pak.” Begitu pintu tertutup, Riza menghela napas panjang. “Bos…” “JANGAN B
HAH?!” “Turki loh, Inara!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja ponsel ditaruh, layar menyala lagi. Radit menelepon. “Nana?” “Iya, Mas.” “Loh ... kenapa dengan suara kamu terdengar sengau?” “Aku flu Mas” “Kamu di mana?” “Di Turki.” Hening. “…Turki?” “Iya, Mas. Dapet doorprize dari kantor. Liburan bareng bos.” “Kamu ke Turki bareng bos?” “Iya.” Inara bersin. “Matikan dulu. Aku video call,” kata Radit cepat. Panggilan terputus, lalu muncul video call Radit. Begitu wajah Inara muncul di layar, Radit mengernyit. “Kamu demam flu,” katanya tegas. “Kelihatan banget ya?” “Kamu pucat.” “Cuma flu Mas.” “Kamu pasti kebanyakan permen sama es krim.” Inara tertawa kecil. “Mas selalu tau.” “Kamu dari dulu gitu.” “Mas ngapain n
“Zam… itu bukankah Inara?” Nizam menoleh. Diam. Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab. “Dia kelihatan enjoy dan nyaman,” Bella berkomentar pelan. Nizam tidak menjawab, Bella melangkah lebih dulu. “Inara?” Inara menoleh. “Oh… Pak Nizam. Mbak Bella.” Ia berdiri refleks. “Kamu di sini?” tanya Bella, senyumnya tipis. “Iya. Ketemu teman lama,” jawab Inara santai. Nizam akhirnya bicara. “Kamu bilang tadi sedang di luar.” “Iya, Pak. Ini maksudnya,” jawab Inara jujur, tanpa nada defensif. Bella menoleh ke teman-teman Inara. “Teman kuliah?” “Teman magang dulu,” salah satu pria Turki menyahut ramah. “Oh,” Bella mengangguk. “Pantas kelihatan akrab.” Hening sebentar. Nizam berdehem. “Kamu tidak ikut jalan hari ini.” Inara tersenyum kecil. “Bapak kelihatan sibuk. Saya tidak enak.” “Itu bukan maksud saya,” suara Niz
Family gathering Niaga Perkasa akhirnya terlaksana sesuai rencana. Area perkemahan yang luas di kaki perbukitan itu dipenuhi tenda-tenda karyawan yang berdiri rapi, berjajar seperti barisan kecil penuh harapan. Tawa dan suara riuh bercampur dengan aroma tanah basah dan asap api unggun yang mulai menyala satu per satu. Di bagian yang sedikit lebih tinggi, agak terpisah dari keramaian, berdiri satu tenda berwarna gelap. Tenda itu milik Nizam Respati Anwar. Sejak kecil, Nizam memang terbiasa dengan jarak bahkan saat berkemah. Kemah mengingatkannya pada halaman rumah masa kecilnya, tempat ia sering memasang tenda kecil bersama Nana. Mereka tidak pernah membawa peralatan lengkap. Tidak ada matras mahal atau lampu gantung. Hanya tikar tipis, beberapa makanan ringan, kue-kue dari rumah, dan segenggam permen manis yang selalu Nana simpan di saku bajunya, namun justru di situlah tawa paling jujur pernah lahir. Di dalam tendanya, Nizam bisa mendengar sorak-sorai karyawan yang sedang
Di rumah orang tuanya, Nizam duduk dengan punggung tegak. Suasana ruang keluarga terasa hangat, namun pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Ia berusaha menghormati keinginan papa dan mamanya, tapi ada batas yang ingin ia jaga. “Pa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang. “Apa tidak terlalu dini kalau kita langsung bicara soal pertunangan?” Papa menatapnya lama. “Zam, Papa pikir kamu sudah waktunya memikirkan dirimu sendiri. Papa lihat kamu tidak pernah ada inisiatif mendekati perempuan. Kamu masih normal, kan?” Nizam menghela napas pelan. “Pa, bukan begitu. Nizam hanya belum siap berkomitmen. Nizam ingin fokus bekerja dulu.” Mamanya tersenyum lembut, mencoba menengahi. “Pelan-pelan saja. Anggap penjajakan, saling mengenal dulu.” “Ya,” sambung Papa. “Papa dan Mama juga tidak memaksa Zam.” Nizam mengangguk. “Kalau sebatas penjajakan, Nizam bisa terima. Tapi untuk bertunangan sepertinya tidak. Nizam belum ada rencana ke sana Pa, Ma.” Papa tersenyum kecil. “Terserah kamu.







