Home / Romansa / Bos Galak, I Love U / Bab 4 # Aura yang Mengusik

Share

Bab 4 # Aura yang Mengusik

last update Last Updated: 2026-01-04 15:32:01

Di rumah orang tuanya, Nizam duduk dengan punggung tegak.

Suasana ruang keluarga terasa hangat, namun pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Ia berusaha menghormati keinginan papa dan mamanya, tapi ada batas yang ingin ia jaga.

“Pa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang. “Apa tidak terlalu dini kalau kita langsung bicara soal pertunangan?”

Papa menatapnya lama. “Zam, Papa pikir kamu sudah waktunya memikirkan dirimu sendiri. Papa lihat kamu tidak pernah ada inisiatif mendekati perempuan. Kamu masih normal, kan?”

Nizam menghela napas pelan. “Pa, bukan begitu. Nizam hanya belum siap berkomitmen. Nizam ingin fokus bekerja dulu.”

Mamanya tersenyum lembut, mencoba menengahi. “Pelan-pelan saja. Anggap penjajakan, saling mengenal dulu.”

“Ya,” sambung Papa. “Papa dan Mama juga tidak memaksa Zam.”

Nizam mengangguk. “Kalau sebatas penjajakan, Nizam bisa terima. Tapi untuk bertunangan sepertinya tidak. Nizam belum ada rencana ke sana Pa, Ma.”

Papa tersenyum kecil. “Terserah kamu. Papa dan Mama ikut keputusanmu.”

Nizam menghela napas lega namun belum sepenuhnya.

“Oh iya,” lanjut Papa seolah baru ingat. “Bella belajar bekerja di perusahaanmu. Sekalian saja kamu bimbing atau jadikan sekretaris kamu.”

Nizam refleks menggeleng. “Pa, sekretaris saya sudah ada. Riza merangkap aspri. Bella masuk divisi pemasaran saja.”

Bella yang sejak tadi diam, hanya tersenyum tipis. “Saya ikut keputusan kamu saja, Zam.”

**

Keesokan paginya, Nizam berangkat kerja bersama Bella. Mobil hitam itu melaju mulus di jalanan kota. Dari luar, mereka tampak serasi, Nizam dengan ketampanan dinginnya, Bella dengan kecantikan elegan dan senyum profesional. Sepasang eksekutif muda yang seolah cocok berdampingan.

Saat tiba di kantor, tak sedikit mata melirik. Di lobi, mereka berpapasan dengan Inara, langkah Nizam spontan melambat.

Hari ini Inara berbeda. Blazer krem pas di tubuhnya, rambut disanggul sederhana, wajahnya bersih dengan riasan tipis. Sepatu hak rendah membuat langkahnya ringan namun berwibawa.

Dari sekian banyak karyawan yang berlalu-lalang, aura Inara paling menonjol, tenang, cerdas, berkilau tanpa berlebihan. Nizam terpaku sesaat.

“Zam, siapa dia ???” Bella berbisik sambil tersenyum.

Nizam berdehem kecil. “Karyawan baru dari divisi keuangan.”

“Oh ...cantik sekali, Auranya beda ya zam, seperti aura bakal jadi istri orang hebat nih," puji Bella tulus.

Nizam tak menanggapi, namun hatinya mengiyakan. Apakah ia selalu setenang dan seelegan ini? Atau malah ceroboh dan berantakan seperti kemarin?

Inara menyapa sopan. “Selamat pagi, Pak.”

Nizam hanya mengangguk singkat. Mereka bertiga masuk lift bersamaan. Hening.

Di lantai dua puluh lima, Inara melangkah keluar menuju divisi keuangan. Sementara Nizam dan Bella menuju divisi pemasaran.

“Terima kasih, Zam,” kata Bella saat mereka berpisah dengan Pak Sony yang akan memberinya arahan.

“Aku akan belajar banyak hari ini.”

Nizam mengangguk lalu melangkah ke ruangannya.

**

Sesuai perjanjian, Nizam memerintahkan Pak Sony dan Riza untuk memanggil tiga karyawan yang lolos seleksi kemarin.

Tak lama kemudian, Dimas, Bunga, dan Inara dipersilakan masuk ke ruangan Nizam. Dimas dan Bunga terkejut melihat penampilan Inara hari ini. mereka seperti bumi dan langit.

Nizam menyandarkan punggung, menatap mereka bergantian, matanya berhenti pada Inara.

“Kamu, siapa nama kamu???” ucapnya sambil menunjuk.

Inara menelan ludah. “Saya, Pak… Inara.”

“Iya,” kata Nizam tenang. “Kamu Inara. Hari ini kamu cantik terlihat seperti eksekutif muda.”

Riza tersedak napas, merasa heran karena bosnya berbicara blak-blakan sekali.

Inara terkejut, namun tersenyum kecil. “Terima kasih, Pak.”

“Baik,” lanjut Nizam profesional. “Kalian bertiga akan memperkuat manajemen saya. Buat inovasi pengelolaan keuangan agar lebih praktis, efisien, minim kesalahan, dan tidak ada celah manipulasi angka.”

Ketiganya menyimak serius.

“Divisi ini dikoordinir Pak Agung, dengan pengawasan langsung dari saya,” lanjutnya. “Ditambah tiga staf lama.”

Tatapan Nizam kembali ke Inara.

“Kamu, Inara. Pengeluaran dan pemasukan perusahaan menjadi tanggung jawab kamu, sesuai latar belakang akademikmu. Saya mau lihat kemampuan kamu. Lulusan luar negeri harus punya nilai lebih.”

Inara hanya mengangguk. “Baik, Pak.”

“Selesai, silakan kembali ke ruangan kalian.”

**

Hari itu Nizam tenggelam dalam rapat, tanda tangan dokumen, dan pertemuan klien. Saat jam makan siang tiba, Bella menemuinya.

“Zam, sudah siang, Ayo makan,” ajaknya ringan.

Mereka keluar bersama.

Di sisi lain, Inara memutuskan makan di kafe kantor. Ia baru saja duduk ketika seseorang menyapanya.

“Kamu makan di kafe juga Inara?”

“Bang Riza,” Inara tersenyum. “Lebih deket, ya udah ...mau makan bareng bang”

Mereka duduk bersama, berbincang ringan. Beberapa karyawan melirik, dan mulai berbisik-bisik.

“Siapa wanita cantik itu?” “Kok bisa makan bareng Pak Riza?”

Riza mendengarnya dan anehnya merasa bangga.

Setelah jam makan siang usai, Nizam dan Bella kembali ke kantor. Di koridor, langkah Nizam terhenti saat mendengar nama Inara disebut-sebut.

“Anak baru dari devisi keuangan itu, barusan makan bareng Pak Riza.”

Nizam diam. Dadanya terasa tidak nyaman, dan ia tidak terima. Perasaan itu muncul begitu saja, asing, mengganggu, dan sulit ia pahami.

Untuk pertama kalinya, Nizam Respati Anwar menyadari satu hal : Inara Prameswari bukan hanya mengusik pikirannya tapi juga mulai mengusik wilayah yang selama ini tak pernah ia izinkan siapa pun masuk.

Perasaan tidak nyaman itu terus menekan dada Nizam bahkan setelah ia kembali ke ruangannya. Bayangan Inara duduk berhadapan dengan Riza di kafe kantor tak mau pergi. Bukan marah, lebih tepatnya sesuatu yang lebih asing dan mengganggu.

Ia menekan tombol interkom.

“Riza, masuk ke ruanganku.”

Tak lama Riza berdiri di hadapannya.

“Mulai hari ini,” ucap Nizam dingin, “Saya tidak ingin kamu makan bersama karyawan. Jaga jarak profesional.”

Riza terdiam, alisnya berkerut. “Bos… sejak dulu tidak pernah ada aturan seperti itu.”

“Sekarang ada,” potong Nizam singkat.

Riza menelan ludah. Ia merasa instruksi itu aneh, tapi memilih mengangguk. “Baik, Bos.”

Setelah Riza keluar, Nizam memanggil satu nama lagi.

“Inara, masuk.”

Inara datang dengan map tipis di tangan.

“Bagaimana pekerjaanmu di divisi?” tanya Nizam, nada suaranya sudah kembali formal. “Bisa dipahami? Ada saran yang bisa diadopsi dari pengalamanmu di luar negeri?”

“Ada, Pak,” jawab Inara mantap. “Satu hal penting. Sistem keuangan sebaiknya disederhanakan dalam satu dashboard terpadu. Saat audit, data bisa diakses real time, transparan, dan meminimalkan manipulasi.”

Nizam tertarik. “Lanjutkan.”

Saat berdiskusi, pandangan Inara jatuh pada dua koin di meja Nizam.

“Itu, koin punya siapa, Pak?”

“Punya saya,” jawab Nizam singkat.

“Oh,” Inara tersenyum kecil. “Bapak koleksi uang lama?”

“Tidak. Pemberian seseorang.”

Inara mengangguk pelan. “Oh, begitu.”

Ketukan pintu terdengar. Bella masuk dan beruntung, diskusi mereka sudah selesai. Inara pamit dengan sopan.

Begitu Inara keluar, Bella menunjuk ke meja. “Dia tadi ke sini urusan apa?”

“Divisi keuangan,” jawab Nizam.

“Jadi keluar hari ini?” tanya Bella ceria.

Nizam mengangguk. “Anggap saja menghargai Papa dan Mama.”

Namun mata Bella tertuju pada dua koin itu. Tanpa berpikir panjang, ia mengambilnya lalu melemparkannya ke tempat sampah.

Nizam membeku. “Apa yang kamu lakukan?!”

“Buang saja, Zam,” kata Bella santai. “Zaman sudah canggih, kita sudah pakai e-money, uang digital. Ngapain simpan simpan koin jadul begitu? Tidak ada nilainya.”

Wajah Nizam memerah. Ia mengambil koin itu dari tempat sampah, tangannya gemetar. Tanpa sepatah kata pun, ia pergi meninggalkan Bella.

Tak lama Riza masuk dan mendapati Bella sendirian.

“Ada apa?” tanya Riza.

“Bos kamu tiba-tiba pergi begitu saja cuma gara-gara koinnya ku buang ke tempat sampah,” jawab Bella bingung.

Riza terkesiap dalam hati.

"Seberani itu…"

Ia hanya mengangguk lalu pergi mencari Nizam. Di rooftop kantor, ada ruang pribadi Bosnya yang jarang dimasuki siapa pun, Riza menemukannya. Nizam duduk selonjoran, menatap koin di tangannya dalam diam.

Riza mengetuk. “Bos… kenapa menyendiri di sini?”

Nizam tidak menjawab.

“Minggu depan jadi kan family gatheringnya?” tanya Riza hati-hati.

Masih diam membisu.

“Saya tambahkan outbound dan api unggun ya pak Bos biar seru”

“Terserah. Kamu atur saja.” jawab Nizam akhirnya dengan suara lirih.

Matanya kembali tertuju pada koin itu seakan di sanalah tersimpan alasan mengapa hatinya hari ini terasa lebih rapuh dari biasanya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bos Galak, I Love U   Bab 55 # Di luar dugaan

    Hening itu terasa panjang bagi Nizam. Ia bisa mendengar detak jam dinding di ruang keluarga rumah tua keluarga Wijaya. Juga detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. “Nak Nizam…” suara Nenek akhirnya terdengar. “Iya, Nek…” jawabnya hati-hati. “Menikah itu bukan perkara gampang. Apa kamu sudah benar-benar mengenal Nana?” Nizam menelan ludah. “Dia cucu kesayangan Nenek,” lanjut wanita sepuh itu. “Nenek sangat menyayanginya. Sejak kecil Nenek memanjakannya. Apa kamu akan tahan dengan sikap manjanya?” Papa Wijaya melirik ibunya sekilas. Meski kalimat itu terdengar seperti ujian, ada nada protektif yang wajar di dalamnya. Ia tahu betul putrinya memang sering bersikap sesuka hati walau tak pernah melampaui batas. “Nenek tidak pernah melarang apa pun yang ia lakukan selama itu baik,” sambung Nenek. “Dan Nenek tidak mau mendengar hal buruk tentang cuc

  • Bos Galak, I Love U   Bab 54 # Banyak hal yang terjadi

    Pintu ruang rawat itu menutup pelan di belakang Saka.Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena luka di kepala dan lengannya yang masih berdenyut, tetapi juga karena sesuatu yang mengganjal di dadanya.Ia tak pernah membayangkan pertemuan itu akan terasa seperti tadi. Wajah pucat Mira. Tangis yang berusaha ia tahan. Kalimat lirihnya tentang musibah. Saka berhenti sejenak di lorong rumah sakit. Bau antiseptik kembali menusuk indra penciumannya. Ia memejamkan mata beberapa detik. Kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Mobilnya melaju cukup cepat sore itu. Ia ingat jelas jalan yang sedikit lengang, pikirannya sibuk memikirkan urusan pekerjaan. Lalu dari jalur lain, sebuah mobil melesat kencang ke arahnya. Refleks. Setir dibanting. Rem diinjak, namun jarak terlalu dekat. Benturan keras. Suara kaca pecah. Tubuhnya terhuyung ke depan, sabuk pengam

  • Bos Galak, I Love U   Bab 53 # Kunjungan

    Aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan langkah-langkah yang hilir mudik sejak sore tadi. Mira masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Tubuhnya terbaring lemah, tertutup selimut tipis, wajahnya pucat karena pengaruh anestesi yang belum sepenuhnya hilang. Di luar kamar perawatan, Akbar duduk di kursi pengunjung. Kedua tangannya saling bertaut, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Operasi itu berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan mobil ringsek dan tubuh Mira yang terjepit kembali terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tak lama berselang, sepasang suami-istri paruh baya menghampiri. Pak Assegaf, Ayah dan Bunda Adelia. “Bagaimana, Nak Akbar? Mira sudah sadar?” tanya sang ayah dengan wajah penuh kekh

  • Bos Galak, I Love U   Bab 52 # Ngambeg

    Suasana meja pertemuan kembali mencair setelah kalimat tegas Nizam menggantung di udara. “Dia calon istriku.” Beberapa detik sunyi sempat tercipta, sebelum akhirnya tawa dan candaan pecah bersahut-sahutan.Inara yang sempat membelalak kini berusaha mengendalikan ekspresinya. Ia menarik napas pelan, lalu memasang senyum profesional. Untungnya, ia bukan orang baru di lingkungan mitra Niaga Perkasa. Beberapa wajah di meja itu sudah sering ia temui di kantor pusat Jakarta. Ia pernah presentasi di hadapan mereka, pernah berdiskusi soal strategi keuangan dan pemasaran, bahkan ikut dalam rapat-rapat penting. “Inara kan yang pegang keuangan marketing regional, ya?” sapa salah satu mitra. “Iya, Pak,” jawabnya ramah. Obrolan pun mengalir santai. Inara cepat berbaur. Ia berbincang ringan tentang perkembangan pasar, membahas peluang distribusi di Jawa Tengah, hingga menanggapi cand

  • Bos Galak, I Love U   Bab. 51 # Kecemburuan

    Di Semarang, suasana rumah tua milik keluarga Wijaya terasa jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk Jakarta. Angin sore berembus pelan melewati halaman luas dengan pohon-pohon rindang yang sudah puluhan tahun berdiri kokoh. Nizam baru saja menutup telepon dari Akbar. Kabar tentang kecelakaan Mira membuatnya cukup terpukul, meski ia berusaha tetap tenang. Bukan apa-apa. Mira adalah putri sahabat lama papanya. Sejak awal bekerja di Niaga Perkasa, gadis itu memang “dititipkan” secara tidak langsung. Nizam merasa punya tanggung jawab moral. Ia mengembuskan napas panjang. Inara yang duduk di kursi teras memperhatikannya. “Gimana, Bang? Kondisi Mira?” “Sudah dioperasi. Akbar yang urus di sana. Paling Papa juga turun tangan, apalagi ini anak temannya.” Inara mengangguk pelan. “Semoga cepat sadar, ya.” “Iya.” Beberapa detik hening.

  • Bos Galak, I Love U   Bab 50 # Kecelakaan

    Jakarta masih sibuk seperti biasa, tetapi hari itu terasa jauh lebih berat bagi Akbar. Setelah memastikan sendiri kondisi para korban, ia berdiri cukup lama di lorong rumah sakit sebelum akhirnya memberanikan diri menghubungi Adelia.Tangannya sempat gemetar ketika mencari nama Lia di daftar kontak.Telepon berdering beberapa kali.“Halo, Mas Akbar?”Suara itu lembut seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun di sana. Justru itu yang membuat dada Akbar semakin sesak.“Lia… kamu lagi di mana?”“Di ruangan mas. Kenapa, Mas?”Akbar menelan ludah. Ia harus berhati-hati. Tidak boleh membuat Lia panik.“Kamu lagi banyak kerjaan?”“Nggak, baru saja selesai. Ada apa sih, Mas? Suaranya kok beda?”Akbar mengembuskan napas pelan. “Lia… kamu harus tetap tenang, ya. Mas cuma mau kasih kabar. Tadi siang ada kecelakaan di Jalan Sudirman.”Hening beberapa detik.“Kecelakaan?” suara Lia mulai be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status