INICIAR SESIÓNLangit mulai gelap ketika mobil Akbar meninggalkan rumah Adelia. Suasana jalanan ibu kota masih dipenuhi kendaraan yang pulang bekerja. Namun pikirannya justru sibuk mengulang pertemuan sore itu.
Sosok Dewa. Cara Adelia tertawa di dekat pria itu. Tatapan hangat keluarga Adelia kepada Dewa, semua itu terus berputar di kepalanya.Ponselnya kembali bergetar.**Kiran Calling...**Akbar hanya melirik layar beberapa detik, lalu menekan tombol *silent*. PanggilanSuasana Niaga Perkasa kembali hidup setelah beberapa hari menikmati libur panjang. Sejak pagi, setiap divisi sibuk mengejar pekerjaan yang sempat tertunda. Telepon berdering silih berganti, suara printer tak pernah berhenti, sementara para staf keluar masuk ruang rapat membawa setumpuk dokumen. Di ruang CEO, Nizam menandatangani beberapa berkas terakhir sebelum menutup map berwarna hitam di hadapannya. "Alhamdulillah... satu lagi selesai." Inara yang duduk di seberangnya mengangguk sambil menatap layar laptop. "Masih ada tiga draft kerja sama yang harus dicek. Sisanya tinggal finalisasi di perusahaan rekanan siang nanti." Nizam berdiri lalu merenggangkan tubuhnya. "Berarti sesuai rencana." Saat itu pintu diketuk. "Masuk." Riza masuk membawa beberapa dokumen tambahan. "Bos, draft kerja sama yang kemarin sudah saya revisi." Nizam menerimanya lalu membolak-balik bebe
Mobil Dewa melaju membelah jalanan malam. Lampu-lampu kota berkelebat di balik kaca, tetapi pikirannya justru kembali pada masa belasan tahun silam.Masa yang tidak pernah ingin ia ulangSaat itu ia masih duduk di bangku SMP. Rumah mereka yang dulu penuh tawa berubah menjadi tempat paling sunyi. Pertengkaran Papa dan Mamanya terjadi hampir setiap hari.Hingga suatu malam..."Aku sudah capek hidup sama kamu!" Bentakan papanya masih terngiang jelas.Mamanya hanya menangis. Tak lama kemudian, perempuan lain datang dalam kehidupan papanya. Perempuan itulah yang akhirnya dipilih sang papa. Perceraian pun tak bisa dihindari.Hari ketika papanya pergi meninggalkan rumah menjadi hari paling menyakitkan dalam hidup Dewa. "Ayo ikut Papa."Dewa kecil menggeleng. "Aku ikut Mama."Keputusan itu membuat hidup mereka berubah drastis. Mereka meninggalkan rumah itu, lalu pindah ke rumah kontrakan sederhana. Mamanya bekerja serab
Langit mulai gelap ketika mobil Akbar meninggalkan rumah Adelia. Suasana jalanan ibu kota masih dipenuhi kendaraan yang pulang bekerja. Namun pikirannya justru sibuk mengulang pertemuan sore itu.Sosok Dewa. Cara Adelia tertawa di dekat pria itu. Tatapan hangat keluarga Adelia kepada Dewa, semua itu terus berputar di kepalanya.Ponselnya kembali bergetar.**Kiran Calling...**Akbar hanya melirik layar beberapa detik, lalu menekan tombol *silent*. Panggilan itu berhenti.Beberapa saat kemudian masuk sebuah pesan.> Kiran:Please, Akbar. Aku cuma ingin bicara lima menit.Akbar membaca pesan itu tanpa ekspresi. Perlahan ia mengunci layar ponselnya."Apa lagi yang harus dibicarakan, Kir?" gumamnya lirih.Hubungan mereka telah selesai sejak ia memutuskan kembali ke Indonesia. Bukan karena tidak pernah mencintai, melainkan karena mereka sudah berjalan ke arah yang berbeda. Ia tidak ingin membuka luka lama
Akbar memasuki ruang kerjanya. Semalam, pesan dari Kiran masih memenuhi pikirannya. Ia bahkan belum membalas satu kata pun, bukan karena bimbang, melainkan karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hubungan mereka telah berakhir jauh sebelum ia pulang ke Indonesia. Baginya, keputusan itu sudah final. Akbar mengembuskan napas pelan. "Semoga dia mengerti..." gumamnya. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Tok... tok... "Mas..." Adelia muncul dengan map berisi beberapa berkas. "Pagi." "Pagi, Lia." "Hari ini jadi ke pabrik induk, kan?" Akbar mengangguk. "Iya. Kita berangkat sekarang." Mobil perusahaan melaju meninggalkan kantor menuju kawasan pabrik induk. Sepanjang perjalanan mereka membahas progres revitalisasi beberapa komponen pabrik yang perlu pembenahan. Sesampainya di lokasi, beberapa karyawan senior langsung menyambut Akbar, sekaligus menyampaikan beberapa unit mesin baru sudah mulai dipasang. Akbar meninjau satu per satu dengan teliti. Sesekal
Malam itu, mobil yang dikendarai Nizam memasuki halaman rumah lama keluarga Gunawan. Lampu-lampu taman menyala hangat, menghadirkan suasana yang selalu membuatnya merasa pulang. Begitu memasuki ruang keluarga, ia mendapati kedua orang tuanya sudah menunggu. Mama Indah tersenyum lembut, sementara Papa Gunawan menutup majalah yang sedari tadi dibacanya. "Alhamdulillah, sudah datang juga," ucap Mama Indah. Nizam menghampiri lalu mencium tangan kedua orang tuanya. "Maaf baru sempat ke sini, Ma." "Nggak apa-apa. Duduk dulu." Mereka pun berbincang santai. Topik yang dibahas tentu saja mengenai rencana keberangkatan ke Semarang untuk melamar Inara secara resmi. "Papa sudah mulai menghubungi keluarga besar," ujar Gunawan. Mama Indah mengangguk. "Mama juga sedang menyiapkan beberapa keperluan." Nizam tersenyum tipis. "Kalau begitu dua pekan lagi kita berangkat?" "Iya," jawab Papa Gunawan mantap. "Insyaallah dua pekan lagi kita datang secara resmi ke rumah keluarga Wijaya." Nizam men
Pagi itu, suasana rumah keluarga Wijaya terasa lebih hangat dari biasanya. Setelah pembicaraan panjang semalam, restu yang selama ini dinanti akhirnya benar-benar mereka kantongi. Pak Wijaya menepuk bahu Nizam sebelum mereka berangkat menuju bandara. "Jaga Inara baik-baik. Papa percaya sama kamu." Nizam mengangguk hormat. "Insyaallah, Om. Terima kasih sudah mempercayakan Nana sama saya." Nenek Inara ikut memeluk cucunya erat. "Jangan lupa pulang kalau sempat. Nenek nanti kangen." Inara tersenyum haru. "Iya, Nek." Tak lama kemudian, mobil membawa mereka menuju Bandara. Sepanjang perjalanan, Nizam beberapa kali melirik Inara yang sedang menikmati pemandangan dari balik jendela. "Habis ini kembali ke dunia nyata ya." Inara terkekeh. "Memangnya kemarin dunia mimpi?" "Kalau sama kamu, iya." Inara hanya menggeleng geli. ** Dua jam kemudian... Pesawat mendarat mulus di Jakarta. Begitu keluar dari bandara, mobil perusahaan sudah menunggu. Belum sempat menikmati suasana ruma
HAH?!” “Turki loh, Inara!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja p
Tubuh Inara ambruk tepat di depan mereka. “INARA!” Suara panik itu keluar lebih dulu dari mulut Nizam bahkan sebelum siapa pun sempat bergerak. Detik berikutnya, ruangan mendadak kacau. Bunga refleks menjerit, Dimas berdiri kaku dengan wajah pucat, Pak Seno langsung melangkah cepat, sementara
Selama hampir dua jam berdiri di sudut ruangan itu, Inara Prameswari merasa hidupnya sedang diuji habis-habisan. Jantungnya berdetak tak karuan sejak pukul delapan lima belas, sejak pintu ruang CEO tertutup di belakangnya dan suara galak pria itu menggema tanpa ampun. Setiap kalimat yang keluar da
Pagi selalu datang terlalu cepat bagi Nizam Respati Anwar. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 06.10 ketika ia berdiri di depan cermin besar kamar apartemennya. Setelan jas hitam telah rapi melekat di tubuh tinggi tegap itu. Kemeja putih tanpa satu pun lipatan, dasi abu-abu gelap terikat







