เข้าสู่ระบบMalam terasa semakin dingin saat mobil hitam itu melaju membelah jalanan lengang. Lampu kota yang mulai redup hanya menjadi bayangan samar di kaca jendela, seolah malam ikut menyembunyikan dosa besar yang selama ini tertimbun rapi. Walaupun sudah hampir mendapatkan Bella, semuanya tetap berakhir gagal. Perempuan itu menghilang, begitu saja. Padahal Alex sudah berhasil mengepung lokasi persembunyian itu, tinggal beberapa langkah lagi sebelum tangannya benar-benar meraih perempuan yang selama ini menjadi bayangan dari semua kekacauan. Namun sialnya, bodyguard milik Jay bergerak lebih cepat. Bella lenyap, seolah ditelan bumi. Dan sekarang, satu-satunya keberhasilan mereka malam ini hanyalah membawa pergi sang aktor utama dari segala penderitaan. Yaitu, Jayden Hartono. Lelaki itu duduk diam di kursi belakang, tepat di samping Alex. Tidak ada perlawanan, tidak ada makian dan tidak ada teriakan. Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua tangan dan kaki terlilit lakban hitam tebal.
“Apa sebenarnya maksud Kak Alex? Dia sebentar lagi sampai? Mau menyusul ke indonesia, begitu?” gumam Sella pelan sembari menatap layar ponselnya yang kini gelap. Ada sesuatu dalam nada bicara pria itu kepadanya tadi, terdengar tegas, bahkan seperti ancaman halus agar dirinya tidak bergerak sendiri. Namun Sella bukan seseorang yang bisa diam, apalagi setelah lokasi persembunyian Bella akhirnya berhasil dikantongi. Berkat informasi dari Alex, satu titik lokasi muncul jelas di layar tablet milik Sella. Sebuah rumah tua di kawasan pinggiran Tanggerang bagian Selatan, sedikit jauh dari pusat kota. Tempat yang tampak sepi, nyaris tidak terjamah. “Ketemu juga akhirnya…” bisik Sella dengan mata menyipit, namun tatapannya akhirnya berubah tajam. Kalau Bella berpikir dirinya bisa terus bersembunyi setelah semua kekacauan yang dibuat, maka perempuan itu salah besar. “Panggil bodyguard yang lain, kita eksekusi hari ini.” perintah Sella pada sopir pribadinya. “Tapi Nona, Tuan Alex bila
Ponsel milik Sella yang sejak tadi berada di atas meja mendadak bergetar panjang, Baru saja dirinya tiba di rumah dan ingin beristirahat karena semalam menginap lagi di rumah sakit. Nama **Kak Alex** muncul di layar. Perempuan itu langsung membulatkan mata, rasa kantuknya seketika lengap. Dengan cepat ia meraih ponselnya, lalu mengangkat panggilan tersebut. “Halo?” jawab Sella cepat. Di seberang sana terdengar helaan napas pelan dari seorang lelaki, “Akhirnya diangkat juga, dari mana saja kamu?” Sella langsung menyeringai kecil. “Baru pulang dari rumah sakit, mungkin tadi sedang di jalan mangkanya tidak ke angkat. Eh, tapi tumben Kakak nelpon pagi-pagi? Kangen ya?” “Kalau mau bercanda, aku tutup.” ucapnya sok tegas, padahal hatinya ingin sekali medak! Gila memang, Alex mencintai anak dari tuannya sendiri. Dan tujuannya bekerja di rumah Keluarga Narendra memang supaya lebih dekat dengan Sella, Keluarga Wiharja tak kalah kayanya dengan Keluarga Narendra. Namun karena Al
Semetara itu, di dalam kamar rawat inap Sean masih duduk di samping Fara tanpa bergerak. Ibunya beberapa kali membujuk agar ia beristirahat, tetapi Sean menolak mentah-mentah. "Nak, Sean. Istirahat dulu gih, Fara biar Mama yang jagain." ucap Renata sMbil menepuk pelan bahu putra sulungnya. “Aku nggak akan ninggalin istri aku, Ma." katanya tegas. “Sean, kamu belum makan dari semalam bahkan pagi ini juga” ujar Mama Renata dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sean hanya menggeleng, “Aku nggak lapar.” jawabnya pelan, tatapan matanya tak pernah lepas dari wajah Fara. Bagaimana mungkin ia bisa makan saat istrinya terbaring lemah seperti ini? Dokter bilang kondisi Fara mulai stabil, namun trauma akan racun dari zat aktif dan jua stres berat membuat tubuh perempuan itu kelelahan. Bahkan kandungannya kini harus dijaga ekstra ketat, Sean merasa dirinya gagal! Ia terlalu menggampangkan sakit istrinya, dan terlalu percaya bahwa semuanya baik-baik saja, padahal istrinya sangat menderit
Fara akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap biasa setelah hampir berjam-jam berada di ruang intensive. Namun, Sean tetap memilih ruang VVIP terbaik di rumah sakit itu untuk proses pemulihan istrinya. Tidak ada kata terlalu mahal selama itu untuk Fara dan bayi mereka. Ruangan luas bernuansa putih dengan jendela besar itu terasa begitu sunyi, hanya suara detak monitor dan langkah pelan para perawat yang sesekali terdengar. Sean duduk di samping ranjang istrinya tanpa bergeser sedikit pun sejak dokter mengizinkan Fara dipindahkan, baju tidur yang sejak semalam pria itu kenakan masih melekat di tubuhnya bahkan sudah kusut. Rambutnya berantakan, matanya merah karena kurang tidur sekaligus terlalu banyak menangis diam-diam. Sedari keluar dari ruang intensive, istrinya belum juga bangun. Fara masih tertidur dengan sangat nyenyak, wajah pucatnya membuat dada Sean terasa diremas begitu kuat. Tangan besar pria itu perlahan mengusap perut sang istri yang mulai sedikit membulat, air mata
Fara berada di ruang intensive hampir dua jam lamanya. Pintu besar berwarna putih itu tertutup rapat tanpa celah sedikit pun, meninggalkan rasa cemas yang terus menggerogoti dada setiap orang yang menunggu di luar. Lorong rumah sakit malam itu terasa begitu dingin, Sean duduk di kursi besi dengan kedua siku bertumpu di lutut, wajahnya tertunduk dalam. Jemarinya saling menggenggam begitu kuat sampai urat di tangannya terlihat menonjol. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu tampak benar-benar kehilangan kendali. Di sekelilingnya, keluarga besar Narendra juga menunggu dengan perasaan gundah. Mama Renata terus melafalkan doa di dalam hati sambil sesekali menyeka air mata. Papanya Sean berjalan mondar-mandir tanpa arah. Sella duduk di samping sang kakak, meski dirinya juga panik, gadis itu tetap berusaha terlihat tenang. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar baik-baik saja, terutama Sean. Kepalanya terus memutar kejadian beberapa menit lalu, baya







