MasukKeesokan harinya, lagit jakarta sore ini terlihat begitu cerah. Sebagai bentuk komitmennya untuk selalu hadir bagi keluarga, Sean secara khusus mengosongkan jadwal sore hingga malamnya untuk menikmati ’Family Day'. Pria itu pulang lebih awal dari kantor, membawa serta beberapa kotak camilan favorit Fara dan Sefan untuk dinikmati bersama di area ruang keluarga mereka yang lapang.Sefan sedang asyik mewarnai buku bergambar dinosaurus di atas karpet bulu, sementara Fara duduk bersandar di sofa empuk sambil menikmati potongan buah mangga segar yang sudah dikupas manis oleh Sean. Sang kepala keluarga sendiri duduk lesehan di bawah, tepat di samping kaki Fara, membiarkan jemari lembut istrinya memainkan helai demi helai rambut hitamnya.Di tengah keheningan sore yang nyaman dan diiringi alunan musik lembut dari pemutar suara, Sean mendongak menatap wajah anggun Fara. "Sayang..." panggil Sean pelan."Iya, Mas?" sahut Fara seraya mengusap pelipis suaminya."Soal rencana kita ke Thailand akh
Keesokan harinya, kediaman utama keluarga Narendra diawali dengan suasana riuh yang penuh kehangatan. Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela ruang makan, menyinari meja besar yang telah dipenuhi berbagai menu sarapan khas Nusantara buatan Mama Sarah dan Mbok Nah.Sefan sudah tampil tampan dan rapi mengenakan seragam sekolahnya. Pria kecil itu duduk bersila di kursi seraya menikmati sepiring bubur ayam dan segelas susu hangat. Di sebelahnya, Papa Narendra tampak telaten mengusap sudut bibir cucu kesayangannya yang berlepotan."Sefan nanti ke sekolah diantar Pak Ardi sama Opa, ya?" bujuk Papa Narendra lembut seraya merapikan kerah baju Sefan."Horree! Di antar sama Opa!" seru Sefan gembira, sambil bertepuk tangan riang.Fara melangkah turun dari lantai dua dengan baluran gaun hamil yang longgar dan nyaman, wajahnya terlihat jauh lebih segar setelah mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Di belakangnya, Sean berjalan mendekat seraya membawa tas sekolah Sefan dan cardigan h
"Masih terasa keram perutnya, hmm?" bisik Sean lembut, merendahkan posisinya agar bisa menatap mata Fara. Fara menggeleng pelan seraya menyunggingkan senyum hangat. "Sudah enggak sama sekali, Mas. Kamu tadi berlebihan banget sampai beli kursi roda segala.""Biarin," sahut Sean tak mau kalah, menyunggingkan senyum tipis yang tampan. "Lebih baik aku berlebihan daripada melihat kamu meringis kesakitan begitu. Pokoknya sampai di rumah nanti, kamu nggak boleh angkat-angkat barang." Fara hanya terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa protektifnya sang suami sekarang. Selama penerbangan singkat menuju Jakarta, Sean tak henti-hentinya memanjakan Fara—menyuapinya potongan buah segar, mengusap punggungnya, hingga memastikan suhu AC kabin tidak terlalu dingin untuk calon buah hati mereka.Penerbangan privat dari Yogyakarta menuju Jakarta berlangsung singkat dan mulus. Di dalam kabin jet pribadi yang tenang, Fara tertidur lelap di sofa empuk dengan menyandarkan kepalanya di bahu
Pagi terakhir di Yogyakarta disambut oleh hembusan angin dingin yang lembut menyapu pelataran hotel tempat keluarga Sean dan Fara menginap. Karena sore nanti mereka sudah harus terbang kembali ke Jakarta, Sean memutuskan untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan mengajak Fara dan Sefan berjalan-jalan ke pusat jantung kota Yogyakarta. Yaitu, kawasan Malioboro. Namun, belajar dari insiden kemarin saat kakinya sempat lelah dan mengingat kondisi Fara yang sedang hamil tua di usia tujuh bulan, Sean memilih tidak mengendarai mobil sendiri. Pria itu secara khusus meminta Pihak manajemen hotel untuk menyediakan seorang driver berpengalaman lengkap dengan kendaraan yang nyaman, agar Fara dan Sefan tidak perlu repot menunggunya mencari parkir atau kelelahan di perjalanan. "Pak Sean, kendaraan dan driver sudah siap di depan lobby," lapor petugas hotel dengan ramah. "Terima kasih banyak," jawab Sean seraya merangkul bahu Fara yang melangkah anggun mengenakan gaun hamil terusan bernuansa pa
Sinar matahari sore di pelataran Candi Borobudur perlahan membias menjadi warna keemasan yang hangat. Setelah puas menikmati kemegahan candi dan membiarkan Sefan puas berlarian di area taman, Sean memboyong keluarga kecilnya menuju sebuah resor bernuansa tradisional Jawa di daerah Cangkringan, Sleman, yang baru saja ia pesan beberapa hari yang lalu. Suasana resor begitu tenang, suara gemercik air kolam dan dedaunan pohon kelapa yang bertiup angin malam menyambut kedatangan mereka. Bangunan berbentuk rumah Joglo kayu jati utuh itu menyuguhkan kehangatan yang sangat berbeda dibanding hiruk-pikuk Jakarta. "Wah, Papa! Rumahnya dari kayu!" seru Sefan heboh saat melangkah masuk ke dalam villa utama. Balita itu langsung berlari mengelilingi ruangan, takjub melihat ukiran-ukiran khas Jawa di setiap tiang. "Iya, ini namanya Rumah Joglo, Jagoan," sahut Sean seraya menggendong Sefan dan mendudukkannya di atas kasur kayu berukir yang megah. "Orang Jawa zaman dulu buat rumah dari kayu jati
Terapi pemulihan kaki kanan Sean yang dijalani secara rutin selama beberapa bulan terakhir akhirnya membuahkan hasil manis. Berkat kedisiplinan dan semangat tingginya demi keluarga, pria itu kini telah sepenuhnya pulih. Langkah kakinya kembali tegap, mantap, dan normal tanpa menyisakan rasa ngilu atau pincang sedikit pun. Pagi itu, suasana kediaman utama Sean dan Fara tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Beberapa koper berukuran sedang sudah tertata rapi di dekat pintu utama. Hari ini, Sean berencana membawa istri dan putranya menikmati liburan spesial sebagai bentuk perayaan atas pulihnya kaki kanannya sekaligus memberikan waktu istirahat bagi Fara yang kini kehamilannya sudah memasuki usia akhir tujuh bulan. Yogyakarta menjadi destinasi pilihan Sean. Kota gudeg, kota candi, kota pendidikan, dan pusat kebudayaan Jawa itu dipilih bukan tanpa alasan. Sean ingin mengenalkan putra sulungnya, Sefan, pada kekayaan serta keanekaragaman budaya bangsa sejak dini. Agar Sefan tidak s
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah







