تسجيل الدخولJam dinding di ruang tamu menunjukkan angka dua lebih sepuluh menit dini hari. Suara detiknya berdetak monoton, seolah mengejek kesabaran Fara yang sudah berada di ujung tanduk. Di atas pangkuannya, Sefan, putra mereka yang berusia satu tahun itu sudah terlelap setelah hampir dua jam menangis histeris. Bocah kecil itu baru bisa tenang setelah Fara menepuk-nepuk punggungnya dengan mata sayu, sementara air mata sang ibu diam-diam menetes membasahi piyama balitanya. Rumah ini terasa begitu dingin dan asing. Padahal, dulunya tempat ini selalu dihangatkan oleh tawa kecil dan canda tawa renyah antara seorang ayah dan anaknya. Fara menatap wajah damai Sefan dalam tidurnya. Napas balita itu terdengar teratur, menyisakan isakan kecil yang masih tertinggal di sela-sela mimpi. Sefan rewel bukan tanpa alasan, namun sejak anak itu mulai bisa memanggil "mama" dan "papa", ia terbiasa dengan kehadiran Sean setiap pukul delapan malam. Sean selalu menjadi sosok ayah siaga yang memandikan Sefan, m
Siang itu, ruang tamu mewah di rumah Sean dan Fara dipenuhi oleh tawa kecil yang renyah. Sefan, bayi berusia empat bulan dengan pipinya mirip seperti bakpao kecil, sedang tengkurap aktif di atas playmat empuk bercorak hewan safari. Di sampingnya, Sean duduk bersila sambil mengenakan kaus rumahan santai, menggoyangkan mainan berbunyi kerincing untuk menarik perhatian sang putra.Mata Sefan berbinar-binar, tangan mungilnya menggapai-gapai udara, menciptakan gelak tawa renyah dari Sean yang tak henti-hentinya menciumi pipi gembul putranya.Bagi Sean, momen-momen seperti ini adalah sebuah kemewahan sekaligus kelegaan besar. Seminggu belakangan, rumah mereka terasa seperti medan magnet badai emosi. Setiap kali siklus bulanan Fara datang pascamelahirkan, hormon istrinya kerap bergejolak hebat. Fara bisa mendadak menangis karena hal sepele, uring-uringan tanpa sebab, atau merasa cemas berlebihan.Memahami kondisi tersebut, Sean sama sekali tidak keberatan memutuskan bekerja dari rumah. Bag
Belum genap satu minggu sejak siklus telambatnya dipantau oleh dokter, Fara akhirnya kembali merasakan tamu bulanan itu datang setelah beberapa hari penantian. Malam itu, tepat di malam kedua stelah konsultasi bersama dokter Adya, rasa sakit yang teramat sangat melilit perutnya. Kram hebat membuat Fara terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal dan keringat dingin bercucuran di pelipis. Ia mencoba bangkit secara perlahan, namun begitu kakinya menyentuh lantai, ia merasakan kebasahan yang tidak biasa. Betapa terkejutnya Fara saat melihat noda merah yang cukup besar telah tembus hingga ke seprai putih tempat tidur mereka. Rasa panik, lemas, dan nyeri perut bercampur menjadi satu. Sean, suaminya yang tidur di sebelah Fara, seketika terbangun mendengar desisan tertahan dari bibir sang istri. Pria itu langsung membuka mata, menyadari wajah pucat Fara yang menahan sakit luar biasa. Tanpa banyak tanya dan tanpa ragu, Sean langsung bergerak cepat. "Pegangan yang kuat, ya," bisik Sean l
Setelah drama singkat di poli Obgyn yang berakhir dengan saran Dokter Adya untuk relaksasi total, Sean memilih menyetir mobilnya sendiri dan menyuruh Ardi untuk naik mobil online karena dirinya ingin pulang bertiga saja dengan keluarga kecilnya. Sean mengemudi dengan kecepatan sedang, membelah jalanan Jakarta yang mulai padat di siang hari. Fara duduk di sebelahnya, satu tangannya mengusap-usap perut bagian bawahnya dengan tatapan menerawang. Pikiran dokter tentang kemungkinan hamil atau hanya sekadar stres masih berkecamuk di kepalanya, namun satu hal yang pasti, suaminya tidak membiarkan sedikit pun celah untuk stres itu bersarang di pikirannya.Setibanya di rumah, Sean menjadi komando operasi. "Sefan mana?" tanyanya begitu pintu tertutup."Aku tidurin di kamar atas," jawab Fara sambil meletakkan tasnya di meja konsol.Tanpa babibu, Sean langsung melangkah ke tangga, meninggalkan Fara di ruang tamu. Fara hanya bisa menggelengkan kepala kecil melihat kepanikan yang terorganisir dar
Mobil yang dikemudikan Ardi langsung melakukan putar balik dengan sigap begitu mendengar perintah tegas dari Sean. Suasana di dalam kabin mobil mendadak berubah drastis dari yang tadinya tenang, kini dipenuhi oleh aura kepanikan tersendiri dari sang kepala keluarga. Sean terus melirik kearah istrinya dari spion tengah, memastikan Fara duduk dengan nyaman meskipun sang istri justru memasang wajah paling kesalnya kali ini. "Mas, kamu ini benar-benar ya! Berlebihan hormonnya! Mangkanya kalau disuruh sudah, tuh sudah. Jangan malah diterusin!" omel Fara dengan nada ketus, melipat tangan di dada sambil menyandarkan punggungnya kuat-kuat ke jok mobil. "Ini memang bener baru telat beberapa hari, tapu kalau sampai beneran hamil bagaimana? Jaraknya Sefan sama adiknya nanti terlalu dekat sekali! Sefan kan baru jalan lima bulan, masih butuh banyak perhatian kita!" lanjut Fara. Sean yang duduk di kursi depan mengusap wajahnya kasar, lalu berbalik menatap Fara dengan ekspresi tidak kalah dram
Pagi itu, suasana Rumah Sakit langganan keluarga Narendra terasa bersahabat. Seperti bulan-bulan sebelumnya, jadwal imunisasi rutin kembali mengumpulkan keluarga kecil Fara dan Sean dalam perjalanan yang sudah terasa begitu familier. Hari ini, Sean, Fara, dan Sefan tengah dalam perjalanan menuju ruang dokter anak untuk melakukan vaksinasi DPT 2, serta tetes vitamin polio. Yang mana seperti biasa semuana diimpor langsung dari Singapura, demi memberikan proteksi terbaik untuk cucu special keluarga Narendra itu. Ada yang terasa berbeda dari kunjungan klinik kali ini. Suster Nani, perawat telaten yang selama beberapa bulan terakhir membantu merawat bayi kami, sudah resmi berhenti bekerja karena masa kontraknya telah usai. Fara kini telah sepenuhnya pulih dari masa pemulihan pascamelahirkan dan sudah semakin mahir mengasuh putranya sendiri. Awalnya, Sean sempat berniat memperpanjang kontrak bersama Suster Nani. Sebagai suami yang sibuk bekerja, pikiran bahwa Fara akan kewalahan sem
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten







