Home / Romansa / Bos, I'm Pregnant! / BAB 155 - Aku Butuh Waktu

Share

BAB 155 - Aku Butuh Waktu

Author: Isrrinya JENO
last update publish date: 2026-08-29 09:32:57

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian banyak drama, Sean mengalah pada egonya. Pria itu memutuskan membatalkan seluruh jadwal rapat penting di kantor demi mengantar Sefan mengikuti lomba mewarnai di sekolah.

Namun, kepergian mereka pagi itu diwarnai keheningan yang mencekam. Farah menolak ikut. Wanita itu memilih berdiam diri di rumah, mematuhi aksi mogok bicaranya dan membiarkan Sean pergi hanya berdua bersama putra mereka.

Di sekolah, acara berjalan begitu lancar. Sean duduk di k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Naumi Cantika
biarkan faraa sendirian Sean dia butuh waktu menenangkan diri dlu yaa..sabart
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
biar fara menenangkan diri dulu
goodnovel comment avatar
gumara
sean kmu jga anak sana. tau gimana rasanya jaga anak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 182 - ​Atap yang Kembali Kita Singgahi Bersama

    Irama mesin mobil terdengar tenang membelah jalanan sore Jakarta. Di dalam kabin, suasana begitu hangat dan menentramkan. Fara duduk di kursi samping pengemudi, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Sefan— putra kecil mereka duduk nyaman di car seet-nya. Di samping Fara, Sean duduk dengan posisi kaki kanan yang sedikit diluruskan. Kecelakaan kemarin memang tidak merenggut nyawanya dan sebagian besar lukanya hanyalah lecet biasa, namun benturan keras pada pedal mobil sempat membuat pergelangan kaki kanannya terkilir cukup parah. Dokter menyarankannya untuk menjalani terapi pemulihan selama beberapa minggu ke depan. Meski begitu, raut wajah Sean tampak begitu lega. Hari ini, ia akhirnya bisa membawa istri dan anaknya kembali ke rumah utama mereka.Setelah menempuh perjalanan yang tak lagi terasa jauh, mobil akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah megah berarsitektur modern tersebut. Rumah yang sempat sunyi dan kosong selama hampir dua bulan akibat badai besar dalam rumah t

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 181 - Batas Dinding Gengsi

    Taksi yang ditumpangi Fara melaju membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi. Di dalam kabin, Fara meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Air mata terus menetes membasahi pipinya, sementara dadanya terasa sempit, dihimpit kepanikan yang teramat sangat. Pikiran buruk menari-nari liar di kepalanya, "Bagaimana kalau Suaminya terluka parah? Bagaimana kalau kecelakaan itu mengambil suaminya sebelum kata maaf sempat terucap? " "Pak, tolong agak cepat ya, Pak..." bisik Fara dengan suara bergetar parah, mengelus perutnya yang membuncit lima bulan. Bayi di dalam kandungannya seolah merasakan kepanikan sang ibu, memberikan gerak-gerak kecil yang makin membuat Fara diliputi rasa bersalah. "Tuhan, tolong lindungi Mas Sean... Aku janji tidak akan memarahinya lagi, aku janji kami akan pulang ke rumah lama kita, asal Mas Sean selamat..." doa Fara bertubi-tubi di dalam hatinya. Begitu taksi berhenti di depan IGD rumah sakit rujukan tempat korban kecelakaan dievakuasi, Fara langsu

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 180 - ​Antara Gengsi dan Takut Kehilangan

    Satu minggu sudah Sean menetap di rumah Fara di kawasan Jakarta Selatan. Tinggal di rumah yang tergolong lebih mungil dibanding hunian asli mereka yang megah dan berhalaman luas ternyata perlahan membuat Sean uring-uringan sendiri. Pria itu berulang kali membujuk dan mengajak istrinya untuk memboyong Stefan serta memboyong barang-barang mereka pulang ke rumah lama. Namun, Fara masih bersikeras menolak. Fara merasa sudah sangat nyaman dengan ketenangan rumah ini, dekat dengan toko bunganya, dan jujur saja, hatinya masih menikmati posisi di mana Sean harus 'berjuang ekstra' untuk keluarganya.Pagi itu, perdebatan kecil kembali pecah di ruang tengah."Sayang, sampai kapan kita mau begini? Rumah kita yang sana kosong, kasihan kalau ditinggal terus," bujuk Sean sambil merapikan kemejanya. "Di sini kamarnya juga sempit buat kita bertiga, apalagi sebentar lagi ada adik bayi."Fara yang sedang mengancingkan baju Sefan hanya melirik dingin. "Kalau Mas Sean merasa kesempitan dan nggak betah d

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 179 - Runtuhnya Benteng Ragu

    Pagi baru saja merekah di langit Jakarta, udara dingin sisa embun semalam masih menyelimuti jalanan ketika mobil Sean sudah terparkir rapi di depan pagar rumah Fara. Namun kali ini, Sean tidak sekadar menunggu di dalam mobil. Pria itu sudah berdiri di teras dengan kemeja kasual yang digulung hingga siku, membawa tiga cangkir kopi hangat dan kotak bekal berisi sarapan favorit Stefan. Pintu rumah terbuka, Fara keluar mengenakan gaun hamil terusan berbahan longgar dengan rambut diikat asal. Perut Fara yang kini sudah mulai membuncit di usia kehamilan ke enaam, terlihat begitu menggemaskan di mata Sean. Fara tampak tertegun melihat Sean yang datang jauh lebih awal dari biasanya, Sefan kecil berlari dari balik kaki Mamanya dan langsung menubruk kaki Sean. "Papa!" seru Seefan riang. Sean terkekeh, mengangkat tubuh mungil putranya dan mengecup pipinya gemas, "Pagi, Jagoan. Sudah siap bantu Papa sama Mama susun bunga nanti?" Fara menggeleng pelan dengan senyum tipis yang tak mampu

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 178 - ​Mekar Kembali

    Hari-hari berlalu dalam ritme yang tenang namun syarat akan jarak. Sean kini menghuni kembali rumah masa depan yang dulu mereka bangun bersama. Sebuah bangunan megah yang kini terasa terlalu luas, dingin, dan sunyi tanpa riuh tawa Fara dan putra kecil mereka, Sefan. Di sisi lain, Fara menetap di rumahnya yang ia beli sendiri bersama Sefan, dan sayang anak mereka yang masih di dalam perut. Sambil pelan-pelan menata kembali kepingan hidupnya yang sempat porak-poranda.Meski terpisah dinding status dan jarak, Sean tak pernah absen dari kewajibannya. Setiap pagi, tepat sebelum bertolak ke kantor, mobil Sean sudah terparkir rapi di depan pagar rumah Fara. Ia selalu menyambut Sefan dengan senyuman hangat, menggendong putra kecilnya itu penuh kasih sayang sebelum mengantarkannya ke Taman Kanak-Kanak. Tak lupa, ia juga setia mengantar Fara menuju tempat tujuannya.Dari kebiasaan pagi itulah Sean akhirnya mengetahui kesibukan baru sang istri, Fara kini tengah merintis sebuah toko bunga mungil

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 177 - Kaca Kepercayaan

    Pagi harinya, suasana di dalam tempat tinggal Fara terasa begitu mencekam. Matahari mulai meninggi di luar, tetapi cahaya hangatnya tak mampu menembus dinginnya kecanggungan yang mengepung ruang tengah.Sean duduk kaku di sofa tunggal. Pakaian basah yang ia kenakan semalam telah diganti dengan baju cadangan dari dalam mobil, tetapi penampilannya jauh dari kata rapi. Rambutnya berantakan, matanya merah menyala dan membengkak akibat rasa panik serta tangis sepanjang malam. Di seberangnya, Papa Narendra dan Mama Sarah duduk bersisian. Kedua orang tua Sean itu langsung meluncur dari rumah mereka menuju tempat tinggal menantunya begitu menerima pesan singkat dari Fara menjelang subuh tadi.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar meragu dari balik lorong kamar. Fara berjalan pelan membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh hangat. Di belakangnya– Sefan, anak mereka yang masih setengah sadar melangkah kecil, tampak kebingungan melihat raut wajah tegang para orang dewasa."Sefan... main di

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 5 - Selamat Tinggal Fara

    "Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 4 - Rahasia

    Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 3 - Keputusan

    "Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 1 - Garis Dua di Ujung Kontrak

    "Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status