LOGINSore itu, penerbangan privat yang sejatinya dijadwalkan membawa keluarga kecil Sean kembali ke Jakarta terpaksa dibatalkan secara mendadak.Saat mereka baru saja selesai mengemas koper di vila. Fara, yang baru memasuki usia kehamilan delapan bulan atau 32 minggu usia kehamilan mendadak meremas lengan Sean dengan sangat kuat. Wajah Fara yang semula merona bahagia seketika pucat pasih, keringat dingin membasahi pelipisnya sewaktu gelombang nyeri yang luar biasa hebat dan teratur melilit perut bagian bawahnya."Mas... sakit banget..." ringis Fara memegangi perutnya, napasnya tersengal-sengal menahan kontraksi yang datang bertubi-tubi."Fara! Kamu kenapa, Sayang?!" jerit Sean panik luar biasa. Buku-buku jarinya memutih sewaktu menahan tubuh istrinya agar tidak merosot ke lantai."Kontraksi, Mas... ini bukan kram biasa... sakitnya berulang..." bisik Fara terengah-engah.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sean langsung menggendong Fara ke dalam mobil pendamping resor. Dengan kecepatan ti
Embun malam Mae Salong kian larut, membawa suhu udara pegunungan melorot hingga menyentuh angka belasan derajat Celsius. Namun, di sudut teras vila kayu yang tenang itu, kehangatan justru mengalir begitu pekat. Sean merapatkan selimut wol tebal yang membungkus tubuh Fara, menenggelamkan istrinya dalam dekapan protektif dari belakang. Kedua tangannya yang besar dan hangat saling menangkup di atas perut membuncit Fara, seolah menjadi benteng terdepan dari terpaan angin malam."Mas... dingin enggak?" bisik Fara lembut, mengusap punggung tangan Sean yang melingkari pinggangnya."Nggak dingin sama sekali. Pelukan kamu sama Adik Bayi ini jauh lebih hangat dari perapian mana pun, Sayang." sahut Sean di dekat telinga istrinya. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Fara, memandangi hamparan lembah kebun teh di bawah sana yang kini berhias pendar lampu-lampu kecil pemukiman lokal.Pikiran kacau dan perasaan tidak enak yang sempat menghantam dada Sean saat pertama kali kakinya menapak di tanah
Hari-hari menjelang keberangkatan menuju Thailand dipenuhi dengan kesibukan yang membahagiakan. Sean secara pribadi memastikan seluruh logistik perjalanan mereka berada dalam kondisi terbaik. Dari tiket penerbangan privat, izin dari jet pribadinya melintas udara, hingga akomodasi resor peristirahatan di kawasan pegunungan Mae Salong, Chiang Rai, semuanya diperiksa tanpa ada satu pun detail yang terlewat. Fara yang menyaksikan kesigapan suaminya hanya bisa tersenyum simpul. Ia tahu betul, bagi Sean, perjalanan kali ini bukan sekadar liburan keluarga biasa. Melainkan sebuah napak tilas emosional, sebuah perjalanan untuk menghormati tempat di mana takdir mengikat kembali hubungan mereka yang sempat terkoyak empat tahun lalu. Selama dua setengah jam berada di udara, penerbangan jet pribadi itu berlangsung sangat mulus. Sean bertindak persis seperti janji dan syarat dari dokter, menjadi pengawal pribadi yang amat protektif. Setiap tiga puluh menit sekali, Sean memastikan Fara memin
Keesokan harinya, lagit jakarta sore ini terlihat begitu cerah. Sebagai bentuk komitmennya untuk selalu hadir bagi keluarga, Sean secara khusus mengosongkan jadwal sore hingga malamnya untuk menikmati ’Family Day'. Pria itu pulang lebih awal dari kantor, membawa serta beberapa kotak camilan favorit Fara dan Sefan untuk dinikmati bersama di area ruang keluarga mereka yang lapang.Sefan sedang asyik mewarnai buku bergambar dinosaurus di atas karpet bulu, sementara Fara duduk bersandar di sofa empuk sambil menikmati potongan buah mangga segar yang sudah dikupas manis oleh Sean. Sang kepala keluarga sendiri duduk lesehan di bawah, tepat di samping kaki Fara, membiarkan jemari lembut istrinya memainkan helai demi helai rambut hitamnya.Di tengah keheningan sore yang nyaman dan diiringi alunan musik lembut dari pemutar suara, Sean mendongak menatap wajah anggun Fara. "Sayang..." panggil Sean pelan."Iya, Mas?" sahut Fara seraya mengusap pelipis suaminya."Soal rencana kita ke Thailand akh
Keesokan harinya, kediaman utama keluarga Narendra diawali dengan suasana riuh yang penuh kehangatan. Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela ruang makan, menyinari meja besar yang telah dipenuhi berbagai menu sarapan khas Nusantara buatan Mama Sarah dan Mbok Nah.Sefan sudah tampil tampan dan rapi mengenakan seragam sekolahnya. Pria kecil itu duduk bersila di kursi seraya menikmati sepiring bubur ayam dan segelas susu hangat. Di sebelahnya, Papa Narendra tampak telaten mengusap sudut bibir cucu kesayangannya yang berlepotan."Sefan nanti ke sekolah diantar Pak Ardi sama Opa, ya?" bujuk Papa Narendra lembut seraya merapikan kerah baju Sefan."Horree! Di antar sama Opa!" seru Sefan gembira, sambil bertepuk tangan riang.Fara melangkah turun dari lantai dua dengan baluran gaun hamil yang longgar dan nyaman, wajahnya terlihat jauh lebih segar setelah mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Di belakangnya, Sean berjalan mendekat seraya membawa tas sekolah Sefan dan cardigan h
"Masih terasa keram perutnya, hmm?" bisik Sean lembut, merendahkan posisinya agar bisa menatap mata Fara. Fara menggeleng pelan seraya menyunggingkan senyum hangat. "Sudah enggak sama sekali, Mas. Kamu tadi berlebihan banget sampai beli kursi roda segala.""Biarin," sahut Sean tak mau kalah, menyunggingkan senyum tipis yang tampan. "Lebih baik aku berlebihan daripada melihat kamu meringis kesakitan begitu. Pokoknya sampai di rumah nanti, kamu nggak boleh angkat-angkat barang." Fara hanya terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa protektifnya sang suami sekarang. Selama penerbangan singkat menuju Jakarta, Sean tak henti-hentinya memanjakan Fara—menyuapinya potongan buah segar, mengusap punggungnya, hingga memastikan suhu AC kabin tidak terlalu dingin untuk calon buah hati mereka.Penerbangan privat dari Yogyakarta menuju Jakarta berlangsung singkat dan mulus. Di dalam kabin jet pribadi yang tenang, Fara tertidur lelap di sofa empuk dengan menyandarkan kepalanya di bahu
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten







