MasukTunggu, ada extranya ya
Jordan duduk di sisi Lagertha, memotongkan daging steak di piring istrinya dengan penuh perhatian. "Makan yang banyak, hem. Jangan sampai jagoan kecil kita kelaparan," bisik Jordan lembut sambil mencium kilat pipi Lagertha.Lagertha tersenyum manis, menyuapkan sepotong buah ke mulut Jordan, "Iya, Suamiku tersayang. Kau juga harus makan yang banyak, karena nanti malam aku mau dikunjungi... kau butuh tenaga ekstra untuk memuaskan kami," balas Lagertha sambil mengedipkan sebelah matanya penuh godaan kepada suami tampannya.Di seberang meja, Joshua sibuk mengeksplorasi mangkuk kentang tumbuknya, membuat wajah dan tangan kecilnya belepotan. Maximus, yang duduk di sisi kanan bayi menggemaskan itu, sengaja meletakkan potongan sayuran ke mangkuk Joshua, yang langsung diambil, digigit, dan dikunyah oleh sang bayi.Zero, yang duduk di sisi kiri Joshua, turut menyodorkan sepotong wortel. Joshua langsung menggigitnya, lalu dengan polosnya menyuapkan sisa makanan dari mulutnya itu ke mulut Zero."
Sinar matahari siang memantul lembut di atas halaman hijau bagian belakang kediaman Jola.Meja-meja panjang tertata rapi di bawah naungan tenda cantik yang dihiasi bunga segar dengan wangi semerbak, sementara di atas meja sudah dipenuhi dengan hidangan makan siang mewah yang menggugah selera.Di tengah kelegaan atas tertangkapnya Mister Bough dan Ben Horik yang dulu selalu membuat ulah, mulai dari mengirim pembunuh bayaran hingga menyewa ninja untuk menghabisi Jordan sekeluarga, kini, Lagertha dan yang lainnya bisa tertawa ringan.Lagertha bahkan tampak sangat antusias menyiapkan makan siang bersama Vanesha, Amber, Siggy, serta Bibinya, Samantha."Jordan sepuluh menit lagi sampai," lapor Marco sambil menggendong Joshua di sisi tubuhnya, berbicara kepada para wanita yang baru saja meletakkan botol-botol wine di atas meja."Ayo, ayo cepat. Nessa, kamu ganti pakai gaun yang tadi disiapkan Amber!" Lagertha menarik pergelangan tangan Vanesha dan membawanya masuk ke dalam kediaman."Kau per
Ben Horik menangis tersedu-sedu, merangkak menyeret rantainya ke hadapan kaki Jordan dan Maximus untuk memohon ampun. Namun, Maximus segera menendang wajah pria itu, yang telah berkali-kali hampir membuat nyawanya melayang.Tak butuh waktu lama, ruangan tahanan khusus itu seketika berubah total menjadi arena pelampiasan dendam kesumat.Para tenaga medis kini datang berbaris di dekat pintu, memperhatikan dengan waspada sambil menunggu isyarat dari Elias untuk memberikan pertolongan darurat, sebab aturan negara melarang para tahanan itu tewas sebelum diadili.Wajah Mister Bough sudah hancur berdarah-darah, bengkak, dan dipenuhi lebam kebiruan. Kelopak matanya bahkan hampir tertutup rapat akibat hantaman bertubi-tubi. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Kai urung untuk terus melayangkan pukulan mautnya."Ini untuk ibuku! Dan ini untuk adikku!" pekik Kai histeris, terus menghujani wajah Bough dengan pukulan bertubi-tubi sampai Jasper dengan sigap menarik pinggang pemuda itu ke belaka
Hari berikutnya, di dalam fasilitas tahanan khusus yang dijaga ketat oleh aparat keamanan negara, pintu besi berjeruji tebal itu terbuka lebar.Jordan melangkah masuk dengan tegap dan dingin. Di sisi kanan dan kirinya, barisan lelaki tangguh mendampingi, ada Maximus, Gustav, Kai, serta Jasper, kakak laki-laki Vanesha yang baru saja tiba dari Filipina.Elias menyambut kedatangan rombongan Jordan yang tentu saja dilakukan secara rahasia."Selamat datang, Bos Jordan," ucap Elias, menundukkan kepalanya penuh hormat kepada pemuda bermata biru itu yang kini memimpin organisasi mafia peninggalan Rollo Connor.Jordan memberikan tanggapan berupa anggukan kepala tanpa kata. Matanya melirik sekilas ke arah seorang pria yang berdiri tidak jauh di belakang Elias."Dia adalah Tiger, mantan asisten pribadi Mister Bough," bisik Maximus, memandang tajam penuh intimidasi ke arah Tiger.Dahulu, Maximus dan Tiger sering saling berbalas tembakan, dan pria itu berkali-kali memperalat orang-orangnya untuk m
Langit yang sebelumnya gelap tanpa cahaya bulan dan bintang, kini dipecah oleh deru helikopter dengan lampu sorotnya yang menyinari sekeliling. Pun dari kejauhan, bergema suara sirine dan deru mesin mobil yang mendekati lokasi Jordan, Lagertha, Maximus, dan anak buah mereka.Sementara itu, di dasar lembah, puluhan pembunuh bayaran dari kelompok Viper gadungan tewas bergelimpangan dihabisi oleh Zero seorang diri."Beraninya kalian para manusia sampah mengaku sebagai kelompok Viper, huh?! Apa kalian tidak pernah berpikir bahwa Viper yang asli akan datang? Viper tidak pernah membentuk kelompok dan tidak memiliki koloni menjijikkan seperti kalian!" dengkus Zero bengis, menatap tajam pada pembunuh bayaran terakhir yang menatapnya dengan bola mata membelalak ketakutan sebelum nyawanya melayang.Tak lama kemudian, sebuah mobil baja tiba dan langsung berhenti berjarak sekitar tiga meter di depan rombongan Jordan.Menteri Jonas turun dengan tergesa-gesa tanpa mengenakan pakaian dinas resmi. Ia
"Beritahu Kai untuk mundur perlahan..." ucap Lagertha tenang seolah tahu ada bahaya yang mengancam di depan Vanesha dan Kai, sementara ia terus membidik tepat sasaran lawan-lawan mereka bersama Maximus dan Jordan yang menembak sambil melindunginya."Ada Mister Bough dan Ben Horik di depan..." seru Vanesha dengan suara gemetar ketakutan, mendekap Joshua yang terbangun dan menangis histeris mencari-cari Jordan serta Lagertha.Sudut bibir Lagertha tersenyum menyeringai mendengar laporan dari Vanesha, "Ada Mister Bough dan Ben Horik menghadang mobil Kai." tuturnya pelan memberitahu Jordan dan Maximus yang melihat mobil Kai bergerak mundur kembali ke arah mereka.Di dalam mobil, Vanesha yang awalnya duduk di bangku penumpang samping Kai, berpindah ke kursi belakang sambil tetap memeluk erat tubuh Joshua yang merengek gelisah dengan air mata sedih membanjiri wajah montoknya.
Jordan menengadah ke atas kaca bening di langit-langit ruangannya dan kembali memperhatikan jika air merembas dari langit-langit ke dinding. Titik air yang sebelumnya menimpa kepalanya sudah tidak ada, namun dinding batu ruangannya masih sangat lembab."Jika ruangan ini paling atas dan bisa meliha
“Aku tidak berzina dan juga bukan pembunuh!” tegas Jordan dengan bibir berdesis yang dicengkeram kuat oleh Langley. Langley tertawa terbahak sangat nyaring bergema yang kemudian melepaskan cengkeramannya pada dagu Jordan. “Kau pikir siapa dirimu, Jordan? Ben Horik memerintahkan untuk mengeksekusi
Jordan menemukan sebuah batu yang dia banting dan pukulkan agar meruncing. Dengan batu tersebut Jordan membuat coretan untuk menghitung hari pada dinding batu. Telah dua tahun berlalu sejak Jordan pertama kali di bawa ke penjara terpencil yang terletak dalam pulau pada tengah lautan. Tubuh Jordan
Lukas Layton, salah satu Pastur yang sangat mengenal Jordan dan sering bertemu Mamanya, terkejut melihat Mary Helena dan Siggy didorong hingga terjatuh ke lantai. “Oh, kalian tidak apa-apa? Ayo berdirilah,” Lukas membantu menarik lengan Mary Helena dan Siggy yang bergegas bangkit membantu Nyonya m







