LOGINBeberapa bulan kemudian, pemukiman perkampungan tempat tinggal Vanesha dan Jasper dahulu benar-benar dibangun kembali oleh Jordan menjadi jauh lebih layak dan asri.Kai dipercaya sebagai asisten utama Jordan dalam mengelola perusahaan, sementara Jordan tetap memegang kendali penuh atas semua bisnisnya yang semakin berkembang pesat langsung dari rumah sederhananya, sesekali dibantu oleh Marco.Maximus dan Samantha memilih tinggal di kediaman Jola, sementara Siggy dan Marco memilih tinggal di kondominium di pusat kota, begitu pula Kai dan Vanesha agar lebih dekat dengan kantor.Hari ini, kandungan Lagertha sudah genap memasuki usia sembilan bulan. Kendati demikian, istri Jordan itu masih tampak lincah bergerak ke sana kemari, merawat kebun bunga liar mereka serta memanen wortel segar untuk dibuatkan salad kesukaan Joshua."Uhm..." Lagertha yang sedang berdiri di depan pantry sambil mengaduk salad wortel yang sudah dibumbuinya tiba-tiba merasakan kontraksi hebat yang mencengkeram perutnya
Samantha menunduk sejenak, lalu memandang Lagertha dengan bibir tersenyum tipis, "Tadi malam... Setelah kepergian kalian ke hotel, kami... menikah di hadapan Pastur Lukas," tuturnya sedikit terbata karena ditatap intens oleh keponakannya itu.Jordan mengernyitkan dahi dalam-dalam, memandang Maximus yang hanya menyeringaikan senyuman samar."Kalian sungguh sudah menikah?! Kenapa tadi malam tidak menahan kami pergi?" Lagertha masih sulit percaya melihat dua orang yang saling mencintai di depannya kini telah resmi disatukan, setelah sekian lama berusaha bersikap profesional."Mereka malu padamu, Lala," suara Jasper tiba-tiba memecah keheningan.Jasper, Gustav, Amber, Marco, serta Siggy ternyata baru saja tiba mengendarai mobil ke rumah sederhana ini."Kedua orang egois itu harus dipaksa agar berani melangkah! Tadi malam, mataku sungguh sakit melihat sikap mereka yang masih saja menjaga jarak. Jadi, kupaksa Pastur Lukas agar sekalian memberkati mereka dalam pernikahan," jelas Jasper diiri
Matahari sudah mulai tinggi, air di lautan pun tampak berkilau dan burung-burung bersuka cita menyambut semesta yang cerah. Namun, Lagertha masih bergelung cantik di atas ranjang minimalis dalam ruangan apik di rumah sederhana tersebut."Sistermu masih tidur..." bisik Jordan lembut kepada Joshua yang kini berada di dalam gendongannya.Samantha baru saja tiba bersama Maximus, membawa serta Joshua yang tadi sempat menangis rewel mencari keberadaan Lagertha dan Jordan. Sejak kecil, Joshua memang tidak pernah bisa terpisah jauh dari Lagertha dan Jordan, terutama setelah tragedi mengerikan yang merenggut nyawa kedua orang tua mereka."Ayo, makan bubur dulu, Boy. Bibi sudah buatkan bubur campuran buah kesukaanmu," panggil Samantha sambil menghidangkan semangkuk bubur khusus untuk Joshua, sementara di meja lain tersaji roti bakar hangat serta kopi hitam untuk Jordan, Zero, Maximus, dan dirinya sendiri."Kopinya enak," puji Zero, yang selama ini terkenal sebagai peracik kopi terburuk yang min
Jordan duduk di sisi Lagertha, memotongkan daging steak di piring istrinya dengan penuh perhatian. "Makan yang banyak, hem. Jangan sampai jagoan kecil kita kelaparan," bisik Jordan lembut sambil mencium kilat pipi Lagertha.Lagertha tersenyum manis, menyuapkan sepotong buah ke mulut Jordan, "Iya, Suamiku tersayang. Kau juga harus makan yang banyak, karena nanti malam aku mau dikunjungi... kau butuh tenaga ekstra untuk memuaskan kami," balas Lagertha sambil mengedipkan sebelah matanya penuh godaan kepada suami tampannya.Di seberang meja, Joshua sibuk mengeksplorasi mangkuk kentang tumbuknya, membuat wajah dan tangan kecilnya belepotan. Maximus, yang duduk di sisi kanan bayi menggemaskan itu, sengaja meletakkan potongan sayuran ke mangkuk Joshua, yang langsung diambil, digigit, dan dikunyah oleh sang bayi.Zero, yang duduk di sisi kiri Joshua, turut menyodorkan sepotong wortel. Joshua langsung menggigitnya, lalu dengan polosnya menyuapkan sisa makanan dari mulutnya itu ke mulut Zero."J
Sinar matahari siang memantul lembut di atas halaman hijau bagian belakang kediaman Jola.Meja-meja panjang tertata rapi di bawah naungan tenda cantik yang dihiasi bunga segar dengan wangi semerbak, sementara di atas meja sudah dipenuhi dengan hidangan makan siang mewah yang menggugah selera.Di tengah kelegaan atas tertangkapnya Mister Bough dan Ben Horik yang dulu selalu membuat ulah, mulai dari mengirim pembunuh bayaran hingga menyewa ninja untuk menghabisi Jordan sekeluarga, kini, Lagertha dan yang lainnya bisa tertawa ringan.Lagertha bahkan tampak sangat antusias menyiapkan makan siang bersama Vanesha, Amber, Siggy, serta Bibinya, Samantha."Jordan sepuluh menit lagi sampai," lapor Marco sambil menggendong Joshua di sisi tubuhnya, berbicara kepada para wanita yang baru saja meletakkan botol-botol wine di atas meja."Ayo, ayo cepat. Nessa, kamu ganti pakai gaun yang tadi disiapkan Amber!" Lagertha menarik pergelangan tangan Vanesha dan membawanya masuk ke dalam kediaman."Kau per
Ben Horik menangis tersedu-sedu, merangkak menyeret rantainya ke hadapan kaki Jordan dan Maximus untuk memohon ampun. Namun, Maximus segera menendang wajah pria itu, yang telah berkali-kali hampir membuat nyawanya melayang.Tak butuh waktu lama, ruangan tahanan khusus itu seketika berubah total menjadi arena pelampiasan dendam kesumat.Para tenaga medis kini datang berbaris di dekat pintu, memperhatikan dengan waspada sambil menunggu isyarat dari Elias untuk memberikan pertolongan darurat, sebab aturan negara melarang para tahanan itu tewas sebelum diadili.Wajah Mister Bough sudah hancur berdarah-darah, bengkak, dan dipenuhi lebam kebiruan. Kelopak matanya bahkan hampir tertutup rapat akibat hantaman bertubi-tubi. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Kai urung untuk terus melayangkan pukulan mautnya."Ini untuk ibuku! Dan ini untuk adikku!" pekik Kai histeris, terus menghujani wajah Bough dengan pukulan bertubi-tubi sampai Jasper dengan sigap menarik pinggang pemuda itu ke belaka
"Aku hanya ingin anak darimu, Sayang!" bisik sang pria sembari meraba celah lembut pada sela paha wanita yang duduk di sampingnya. Tangan sang pria menyentak hingga robek penutup tipis yang menghalangi jemarinya dari memasuki celah lembut wanitanya. "Och ...!"Sang wanita menjerit tertahan namun
Jordan menengadah ke atas kaca bening di langit-langit ruangannya dan kembali memperhatikan jika air merembas dari langit-langit ke dinding. Titik air yang sebelumnya menimpa kepalanya sudah tidak ada, namun dinding batu ruangannya masih sangat lembab."Jika ruangan ini paling atas dan bisa meliha
“Aku tidak berzina dan juga bukan pembunuh!” tegas Jordan dengan bibir berdesis yang dicengkeram kuat oleh Langley. Langley tertawa terbahak sangat nyaring bergema yang kemudian melepaskan cengkeramannya pada dagu Jordan. “Kau pikir siapa dirimu, Jordan? Ben Horik memerintahkan untuk mengeksekusi
Jordan menemukan sebuah batu yang dia banting dan pukulkan agar meruncing. Dengan batu tersebut Jordan membuat coretan untuk menghitung hari pada dinding batu. Telah dua tahun berlalu sejak Jordan pertama kali di bawa ke penjara terpencil yang terletak dalam pulau pada tengah lautan. Tubuh Jordan







