Início / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 15

Compartilhar

BOSS WITH BENEFIT - 15

Autor: Pipit Chie
last update Data de publicação: 2026-05-25 17:32:45

Agus niatnya ingin keluar mencari udara segar, namun langkahnya terhenti di ujung tangga lobi, di depan sana, Naila dan Devan sedang berdiri berhadapan. Sebenarnya tidak ada yang membuat heran kecuali posisi keduanya yang membuat Agus mengernyit, Naila sedang mendongak sambil tersenyum dan Devan sedikit membungkuk dengan tangan berada di puncak kepala Naila. Pria itu ikut tersenyum dengan ekspresi yang … lembut? Agus tidak pernah tahu bahwa Devan memiliki ekspresi itu di wajahnya.

Bukankan posi
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 19

    ”Ogah,” Naila berdiri menatap city light dari kamar Devan, langit sudah gelap dan lampu-lampu kota tampak indah. Ia menoleh saat Devan berdiri di belakangnya, pria itu menarik lepas blazer yang masih melekat di tubuh Naila, menyisakan blouse tanpa lengan dan celana panjang, Devan mengikat rambut Naila ke atas dan menjepitnya dengan jepit rambut yang ia ambil dari pouch makeup wanita itu. Pria itu membungkuk untuk menumpukan dagunya di bahu Naila.”Mau makan apa?” tanyanya dengan suara pelan.”Steak,” jawab Naila, “wine.””Oke, mau mandi dulu atau—“”Mandi. Sendiri.” Naila mendorong dada Devan menjauh. Masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya sebelum Devan ikut masuk. Pria itu menghela napas dan meraih pesawat telepon untuk memesan layanan kamar.Selama dua tahun belum sekalipun mereka tidur bersama—tidur yang benar-benar tidur dan juga mandi bersama. Devan pikir kali ini ia bisa mandi bersama wanita itu, tetapi Naila seakan tahu niatnya dan buru-buru menegaskan bahwa wanita it

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 18

    Mereka bertemu Pak Heru di lokasi proyek, fokus diskusi mereka saat ini adalah desain taman dan kolam renang yang akan menjadi daya tarik utama hotel tersebut. Di bawah terik matahari siang, mereka berjalan mengelilingi lokasi sambil mendiskusikan rencana yang telah dibuat sebelumnya.Devan melihat ke arah tanah kosong yang ditandai sebagai area kolam renang, “nah ini area di mana kolam renang akan dibangun. Saya ingin memastikan desainnya tidak hanya estetis, tetapi juga berfungsi maksimal untuk tamu hotel. Bagaimana pendapat Pak Heru?”Pak Heru memperhatikan sekitar, “lokasinya strategis, dan menurut saya, kita bisa menambahkan elemen lanskap di sekitar kolam untuk memperhalus transisinya ke taman. Misalnya, menanam pohon yang tidak terlalu tinggi di sisi timur untuk memberikan sedikit bayangan di sore hari.”Devan mengangguk, “Bagus, itu akan membantu mengurangi panas juga. Bagaimana dengan taman di sekitarnya? Saya membayangkan area ini menjadi tempat yang menyenangkan untuk berja

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 17

    “Kamu mau yang mana?” Devan menunjukkan dua toys kepada Naila—g-spot vibrator dan anal beads—dan Naila memilih g-spot vibrator.”Nggak mau yang ini?” goda Devan menunjukkan toys berbentuk rangkaian bola kecil berwarna hitam yang digunakan di bagian belakang tubuh. Tapi Naila memilih toys yang lain berbahan silikon yang lembut berbentuk melengkung dengan panjang lima belas sentimeter karena ia belum ingin memakai toys yang satu lagi.”Buat di Jakarta aja, kalau pakai itu, takutnya besok aku nggak bisa bangun dari tempat tidur.”Benar juga, pikir Devan. Jadi pria itu menyimpan kembali toys yang tadi digenggamnya. Ia mengambil alih toys yang kini berwarna biru dari tangan Naila. “Hampir sama kayak yang hitam,” ujarnya menatap benda itu.”Iya, tapi yang ini lebih kecil dan getarannya lebih lembut.””Masa?” Devan mendekatkan toys itu ke payudara Naila dan menekan tombolnya, membuat Naila tersentak karena putingnya dijadikan sasaran. Desah nikmat meluncur bersamaan dengan teriakan kaget.”D

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 16

    “Nggak usah, kamu mau yang kecil ini kan kemarin?” Devan menanggalkan bathrobe Naila, membuat wanita itu telanjang sepenuhnya karena tidak mengenakan apa-apa dibalik jubah mandi itu. Devan menarik Naila berbaring lalu mencium bibirnya dengan rakus, pria itu mengambil alih vibrator dari tangan Naila, vibrator yang masih menyala dan bergetar lembut, Devan mendekatkan toys itu ke kulit leher Naila yang langsung membuat wanita itu tersentak sekaligus mengerang di bibir Devan.Lidah Devan membelai rakus, toys itu kini beralih pada payudara Naila, begitu Devan mendekatkan benda bergetar itu ke puting Naila yang keras, Naila mengerang lebih keras, melumat bibir bawah Devan dengan penuh nafsu. Devan sengaja terus merangsang Naila dengan mainan yang wanita itu idam-idamkan sejak bulan lalu. Getaran lembutnya membuat Naila merinding dan menggelinjang. Tangan Devan terus memegangi toys menuju ke bawah, pria itu menempelkan benda hitam itu ke kewanitaan Naila dan membuat Naila melengkungkan pungg

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 15

    Agus niatnya ingin keluar mencari udara segar, namun langkahnya terhenti di ujung tangga lobi, di depan sana, Naila dan Devan sedang berdiri berhadapan. Sebenarnya tidak ada yang membuat heran kecuali posisi keduanya yang membuat Agus mengernyit, Naila sedang mendongak sambil tersenyum dan Devan sedikit membungkuk dengan tangan berada di puncak kepala Naila. Pria itu ikut tersenyum dengan ekspresi yang … lembut? Agus tidak pernah tahu bahwa Devan memiliki ekspresi itu di wajahnya.Bukankan posisi dan gestur mereka terlalu … akrab?Agus masih terpaku dengan benak bertanya-tanya tanpa menyadari Naila dan Devan mendekat.”Mau ke mana, Gus?””Oh, eh,” Agus tergagap, matanya memandang Naila dan Devan yang kini berdiri tidak jauh darinya, tidak ada yang aneh sekarang, Naila berdiri cukup berjarak dari Devan, keduanya tidak sedekat tadi. Apa Agus salah lihat? Ia mengamati wajah Devan—yang kini kembali datar seperti biasanya. Tatapan Agus beralih pada Naila yang menunggu jawaban, “mau nyari r

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 14

    Naila: Dasi di mana-mana sama aja. Iya, kemarin gebetan gue mampir.Pemuja Cuan: Ini dasi mahal, say. Gue tahu banget merk ini. Gebetan lo om-om tajir? Gadun? Naila: Iya. Gadun gue.Pemuja Cuan: Wow, lo sekarang jadi ani-ani? Hahaha.Naila: Bacot, Re. Taruh aja dasinya di kamar gue. Ntar kalo ketemu dia gue balikin.Pemuja Cuan: Bau parfumnya nempel banget di dasi. Serius, gue familiar sama dasi dan parfum ini. Wangi duitnya menyala. Bau-bau kekayaan banget nih dasi.Naila: Lo pikir parfum cuma bisa dibeli 1 orang?Pemuja Cuan: Ah, gue inget. Mirip parfumnya Pak De. Naila: Selera dia mungkin sama dengan gadun gue.Pemuja Cuan: Gadun lo sekaya dia juga nggak?Naila: Ntar gue tanya.Pemuja Cuan: Kalo iya, minta beliin private jet, diamond, apart mewah, mobil Ferrari, jadi lo nggak perlu kerja lagi.Naila: Hahaha. Bacot!Pemuja Cuan: Tanyain sama gadun lo, temennya ada yang butuh ani-ani nggak? Gue pinter goyang, kok. Tapi jangan sama yang tua-tua banget, nggak bisa di atas nanti. Jang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status