Home / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 16

Share

BOSS WITH BENEFIT - 16

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-25 17:34:21

“Nggak usah, kamu mau yang kecil ini kan kemarin?” Devan menanggalkan bathrobe Naila, membuat wanita itu telanjang sepenuhnya karena tidak mengenakan apa-apa dibalik jubah mandi itu. Devan menarik Naila berbaring lalu mencium bibirnya dengan rakus, pria itu mengambil alih vibrator dari tangan Naila, vibrator yang masih menyala dan bergetar lembut, Devan mendekatkan toys itu ke kulit leher Naila yang langsung membuat wanita itu tersentak sekaligus mengerang di bibir Devan.

Lidah Devan membelai r
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 137

    Tanpa sadar, air matanya mengalir. Isakannya mulai terdengar, pelan tapi cukup nyata hingga membuat dadanya terasa berat. Ia meraih ponselnya, menekan nomor Devan, berharap suaminya bisa memberinya sedikit ketenangan. Panggilan itu dijawab setelah beberapa detik. Wajah Devan muncul di layar melalui video call, ekspresinya langsung berubah panik begitu melihat mata Naila yang basah.“Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanyanya cepat, suaranya penuh kekhawatiran.Naila hanya terisak, menutupi wajahnya dengan satu tangan. “Aku … aku kangen sama kamu, Dev,” ujarnya lirih. “Aku nggak bisa tidur … aku terbiasa kamu ada di sini. Aku butuh kamu peluk.”Devan mengusap wajahnya sendiri, tampak frustasi karena jarak memisahkan mereka. “Sayang, aku juga kangen banget sama kamu. Tapi aku masih ada pekerjaan di sini. Aku nggak bisa pulang besok. Maafin aku, ya.”Naila menggeleng sambil terisak. “Aku ngerti kamu kerja. Tapi aku nggak tahu kenapa aku ngerasa sedih banget malam in

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 136

    ”Dev, mending kamu kerja, deh,” usir Naila mulai jengah karena Devan terus-terusan mengkhawatirkannya. “Kalau ada apa-apa aku bakal bilang sama kamu. Pergi sana.”Devan mengangguk, lalu berdiri untuk kembali ke ruangannya. Sebelum pergi, ia menatap Naila sekali lagi. “Jangan terlalu lama di depan laptop, nanti aku temani kalau kamu mau istirahat.””Devan Wijaya!” Naila melotot. Pria itu terkekeh dan membungkuk untuk mencium sisi kepala istrinya sebelum melangkah pergi. Naila menghela napas kesal, saat ia menoleh ke sekeliling, semua orang sedang tersenyum-senyum memandangnya.”Cuma lo yang bisa bentak bos tapi malah di kasih ciuman,” goda Gabriel.”Gue jantungan dengar lo bentak barusan, tapi waktu ingat lo lagi bentak suami lo, gue mau ketawa. Inget bini gue yang suka bentak gue begitu di rumah,” kekeh Edo.”Kenapa nggak di rumah aja? Lo tuh nggak kekurangan duit, kenapa masih kerja?” Agus menatapnya khawatir.”Bukan soal duit, tapi udah kebiasaan kerja. Kal

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 135

    Naila tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya. “Nggak apa-apa. Aku cuma mau lihat kamu masangin kutek buat aku. Hasilnya urusan belakangan.”Dengan ekspresi serius yang berlebihan, Devan membuka tutup botol kutek dan mulai bekerja. Tangannya yang biasanya tegas saat menggambar desain arsitektur kini bergerak perlahan-lahan, mencoba memoles kuku Naila dengan hati-hati. Sesekali ia mengernyit ketika kuteknya meleset sedikit dari kuku.“Kenapa susah banget, sih?” keluh Devan, membuat Naila tertawa hingga bahunya terguncang.“Pelan-pelan, dong, Mas,” goda Naila.Devan menghela napas panjang, mencoba lebih fokus. “Ini kayak bikin sketsa, tapi permukaannya kecil banget,” gumamnya, lalu kembali memoles kuku Naila dengan konsentrasi tinggi. Setelah selesai dengan satu tangan, Devan duduk tegak dan memamerkan hasil karyanya. “Tuh, selesai. Gimana?” tanyanya dengan senyum penuh kemenangan.Naila menatap kukunya yang kini berkilauan dengan warna pastel. Meski hasilnya se

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 134

    Devan duduk di sofa, dengan sebuah laptop terbuka di meja kecil di depannya. Di telinganya, ponsel yang terjepit di antara bahu dan telinga terus memancarkan suara dari ujung telepon. Ia sedang dalam diskusi serius tentang desain sebuah rumah sakit di Kupang, berbicara dengan seorang klien yang membahas detail-detail teknis. Naila muncul dari dapur, mengenakan daster longgar yang nyaman. Perutnya yang mulai membuncit karena kehamilan terlihat jelas di balik kain. Ia membawa sepiring jeruk yang belum dikupas, ketika mencapai sofa, ia duduk di sebelah Devan, meletakkan piring itu di meja.Devan melirik Naila sekilas, memberi senyum kecil, meskipun ia tetap fokus pada percakapan telepon. “Ya, untuk bagian ruang rawat inap, saya rasa desainnya bisa disesuaikan dengan orientasi cahaya alami. Itu akan memberi kesan lebih segar bagi pasien,” katanya ke ponsel. Sementara itu, Naila mengambil salah satu jeruk dari piring, berniat mengupasnya. Namun, belum sempat ia memulai, tangan D

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 132

    Devan memimpin meeting saat ponselnya bergetar. Nama Istri🖤 tertera di layarnya. “Tunggu sebentar, istri saya telepon,” ia menghentikan rapat dan menjawab panggilan dengan sedikit menggeser kursinya ke belakang. “Halo, Sayang.””Sayang, kamu masih meeting, ya?”“Iya, kenapa? Kamu butuh sesuatu?”Naila terdengar ragu di seberang sana.”Nai? Kamu mau apa? Bilang aja,” ujarnya dengan nada lembut.”Beneran nggak apa-apa? Tapi kamu lagi sibuk, kan?””Nggak, kok. Kamu mau makan apa?””Aku … pengin banget Rujak Pak Santo yang di deket kantor kita, dari tadi kebayang terus. Tapi kamu lagi meeting—“”Kamu mau rujak? Mau yang pedes atau nggak?””Mau yang pedes, banyakin mangganya.””Oke, aku beliin sekarang, aku antar ke rumah.””Tapi tunggu kamu selesai meeting aja, aku nggak apa-apa nunggu—“”Sekarang aja, kamu mau makan apa lagi? Biar aku sekalian bawain.””Boleh makan sushi, nggak?””Nggak, Sayang. Dokter bilang nggak boleh mak

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 131

    Naila menyeruput teh itu perlahan, hangatnya mengalir di tenggorokan dan sedikit membuat perasaannya lebih nyaman. “Makasih, Sayang,” ucapnya pelan sambil memandang Devan dengan mata yang terlihat lelah tapi penuh rasa terima kasih.Devan tersenyum kecil, ia meraih kaki Naila dengan hati-hati, memijitnya lembut. “Jangan bilang makasih, aku bakal ngelakuin apa pun buat kamu,” katanya sambil terus memijat telapak kaki istrinya.Sentuhan Devan yang lembut membuat Naila merasa lebih rileks. Ia memandangi pria itu yang dengan sabar mengurusnya, bahkan di tengah rasa kantuknya sendiri. “Kamu nggak capek?” tanya Naila pelan, merasa sedikit bersalah.Devan menggeleng sambil tersenyum. “Buat kamu dan bayi kita, nggak ada yang bikin aku capek. Yang penting kamu nyaman.”Naila merasa dadanya hangat karena ucapan suaminya. Ia menyeruput teh lagi, sementara tangan Devan masih setia memijat kakinya. Meski mual melanda, Naila merasa tenang karena kehadiran suaminya yang begitu tulu

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 6

    Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan. ”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam. Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.” ”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya. “Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 5

    Naila: Tok tok Xoxo: Hmm? Naila: Udah makan siang? Xoxo: Belum, sebentar lagi. Ada apa? Naila: Nanya aja kali, Pak. Xoxo: Kamu di mana? Naila: Kantin. Xoxo: Aku titip makanan. Naila: Dih, ogah. Sini aja turun sendiri. Males jadi babu. Xoxo: Aku sudah berbaik hati ngasih tim kamu m

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 4

    “Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya. ”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Ken

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 3

    Naila sedang menunggu flat white-nya bersama Agus, Edo dan Gabriel. ”Gue nggak tidur mikir revisian semalaman, memang anjing tuh bos,” umpat Agus dengan wajah kusut. ”Yang nyuruh lo mikir semalaman siapa? Tidur, makanya,” sahut Naila. ”Masalahnya kalau proyek ini dilempar ke tim lain, hilang h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status