ログインTiga hari berlalu dengan cepat. Malam jamuan besar para pengusaha akhirnya tiba. Di dalam kamar apartemennya, Maya berdiri kaku di depan cermin tinggi full-body. Tatapannya tertuju pada bayangan dirinya sendiri, memancarkan rasa takjub bercampur canggung yang tak sanggup ia sembunyikan. Gaun malam yang melekat di tubuhnya malam ini benar-benar karya seni yang sempurna. Berwarna midnight blue dari bahan sutra premium yang jatuh anggun membungkus lekuk tubuhnya, dengan potongan leher yang elegan tanpa terkesan seronok. Dipadukan dengan tatanan rambut sanggul modern yang rapi, serta sapuan riasan tipis yang menawan, mempertegas kecantikan alaminya. Namun, setiap kali mata Maya melirik set Perhiasan berlian simpel yang melingkar cantik di leher dan pergelangan tangannya, hatinya mendadak mencelos. "Gila..." gumam Maya pelan pada dirinya sendiri sambil mengelus lembut kalung berlian itu. "Harga gaun, sepatu, sama perhiasan ini kalau ditotal... bisa buat makan lebih dari sepuluh k
Suara derum mobil berhenti asal-asalan di garasi. Tak lama kemudian, pintu depan terdorong kasar. Rendy melangkah masuk dengan jalan sempoyongan, aroma alkohol menyengat tajam dari pakaiannya yang kusut. Sheila yang sedang duduk di sofa ruang tamu—dengan perutnya yang mulai membuncit—langsung berdiri. Wajah cantiknya berlipat penuh amarah dan kecurigaan saat melihat kondisi suaminya yang berantakan. "Mas! Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?!" cecar Sheila, melangkah mendekat sambil berkacak pinggang. "Mas, jangan kira aku bodoh, ya! Kamu pasti pulang larut begini habis ketemu mantan istrimu yang miskin itu, kan?! Iya, kan?!" Rendy tidak menjawab. Dengan mata sayu dan wajah merah padam akibat pengaruh alkohol, ia mengabaikan Sheila begitu saja dan berjalan gontai menuju tangga. Sikap dingin Rendy justru menyiram bensin ke dalam kobaran api amarah Sheila. Wanita itu berlari kecil, mencegat langkah Rendy tepat di anak tangga pertama. "Jawab, Mas! Aku ini istrimu!" teriak She
"Sudah, sudah..." potong Maya akhirnya, ia melangkah maju selangkah, menempatkan posisinya di antara kedua pria yang berdiri tegap tersebut. "Aku yang salah, Pak Robby. Aku yang tidak seharusnya meminta tolong dan merepotkan Pak Leon..." Suara Maya yang bergetar penuh kepanikan membuat Pak Robby salah menangkap sinyal. Di mata Pak Robby, Maya adalah seorang karyawan yang kini tampak begitu terintimidasi. Ia mengira Maya sedang berusaha menutupi perlakuan tidak senonoh atau penyalahgunaan kekuasaan dari sang CEO demi menyelamatkan posisi dan karirnya di perusahaan. "Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Maya," ucap Pak Robby dengan nada suara yang tenang, lembut. "Di kantor ini, tidak ada satu pun karyawan yang harus merasa tertekan atau terpaksa pasrah hanya karena berhadapan dengan atasan." Pak Robby kemudian mengalihkan pandangannya tegak lurus menatap Leon. "Pak Leon, sebagai pimpinan, Anda memiliki kekuasaan besar di perusahaan ini. Namun, batas-batas profesionali
"Aaww... sakitt..." desis Maya tertahan, sebelah tangannya langsung meraba pinggangnya yang terasa encok luar biasa. Ia meringis sambil menegakkan kembali tubuhnya dengan susah payah. Suasana pagi di kantor, sama seperti biasa, semua karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Maya berdiri di depan mesin fotokopi, menatap layar kecil sambil menekan tombol cetak untuk dokumen laporan mingguan. Namun, baru saja ia membungkuk sedikit untuk merapikan kertas yang keluar dari baki mesin, tiba-tiba rasa ngilu yang tajam menghantam area pinggangnya lagi. "Aduh! Dasar... brondong gila..." gumam Maya kesal setengah mati, menggertakkan gigi sambil terus mengusap pinggangnya yang terasa mau copot. "Encok kenapa pinggangmu, habis angkat yang berat-berat?" Sebuah suara ramah mendadak membuyarkan gerutuan Maya. Ia sontak berbalik dan mendapati Pak Robby, berdiri di dekatnya sambil membawa tumpukan map. Maya terkesiap, buru-buru menegakkan punggungnya meski rasa ngilu masih mencengk
Pendar cahaya keemasan pagi menyusup halus melewati celah tirai yang sedikit terbuka, menerangi selimut sutra yang membungkus dua insan di atas ranjang king-size. Leon terbangun lebih dulu. Ia menyangga kepalanya dengan satu tangan, bertumpu pada siku, lalu memandangi wajah Maya yang masih terlelap disampingnya. Rambut panjang Maya tersebar acak di atas bantal putih, mengelilingi wajah cantiknya yang tampak polos tanpa make-up. Jejak rona merah masih tertinggal tipis di pipinya, dan bibir mungilnya sedikit terbuka, menghembuskan napas halus bertempo teratur yang terasa hangat di kulit Leon. Jemari Leon menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi dahi Maya ke belakang telinganya. Usapan jarinya berlanjut menyusuri garis rahang Maya yang halus, lalu berhenti sejenak di bibir manis yang semalam dan tadi pagi tak henti menyuarakan namanya. Ibu jarinya memberikan usapan lembut di bibir Maya, kemudian ia mengecup bibir Maya. Namun, wanita itu rupanya terlelap begitu pulas setela
Cups... Kecupan hangat di pipi itu perlahan turun, menjalar lembut menyusuri garis rahang hingga mendarat di celah leher Maya yang terbuka. Sentuhan bibirnya yang hangat dan napasnya yang memburu membuat tubuh Maya meremang seketika. "Ah... geli, Leon..." bisik Maya lirih, mencoba memalingkan wajahnya walau tubuhnya makin pasrah dalam dekapan pria itu. Sentuhan Leon merambat makin berani. Jemari kokohnya bergerak cermat, memberikan usapan serta remasan lembut yang presisi di puncak keindahan Maya yang sensitif, membakar sensasi hangat yang menjalar langsung ke seluruh tubuhnya. "Ahh... Leon..." desah Maya tak mampu lagi menahan gelombang rasa asing yang menyengat dadanya. "Sudah lama tidak kusentuh... punyamu makin besar saja," bisik Leon dengan suara bariton yang dalam dan serak, dipenuhi hasrat yang selama ini ia tahan rapat-rapat. Maya mengigit bibir bawahnya erat-erat, wajahnya memerah padam sampai ke ujung telinga. "L-Leon... jangan bicara kayak gitu, ih! Malu..." cicit M







