LOGINKedamaian yang baru saja kurasakan di dalam pelukan tuan Marcell sekonyong konyong harus berakhir lebih cepat dari yang kuharapkan. Menjelang siang hari, sebuah deru helikopter terdengar menderu rendah di atas langit villa, mendarat di landasan pribadi tebing karang.Nico datang mengetuk pintu kamar dengan langkah tergesa, membawa kabar mendesak mengenai pertemuan darurat para petinggi dewan pengawas sindikat maritim di pulau seberang.Tuan Marcell berdiri di depan cermin besar, mengenakan kemeja hitam bersih yang melapisi perban pundaknya. Jas abu gelap berpotongan rapi kembali membalut tubuh tegapnya, mengembalikan wibawa seorang pemimpin dingin yang tak tersentuh.Aku melangkah mendekatinya, merapikan kerah jasnya dengan jemari yang terasa dingin. Ada keengganan yang teramat berat di dadaku saat mengetahui dia harus kembali pergi meninggalkanku."Berapa lama Tuan pergi?" tanyaku pelan seraya menatap kancing jasnya.Tuan Marcell menghentikan gerakan tanganku. Dia menggenggam jemarik
Tiga hari telah berlalu sejak malam berdarah yang meluluhlantakkan kedamaian villa pesisir itu. Jejak peluru dan jelaga hitam di aula utama telah dibersihkan secara rapi oleh para pekerja suruhan Nico, sementara pengawasan di sekeliling tebing diperketat hingga tiga kali lipat. Suasana rumah berangsur tenang, namun keheningan yang kini tercipta tidak lagi terasa menakutkan bagiku.Di dalam kamar tidur utama yang bermandikan cahaya matahari pagi, aroma obat antiseptik berpadu lembut dengan wangi kayu cendana yang menenangkan.Tuan Marcell duduk bersandar di tepi ranjang dengan dada bertelanjang. Tubuh tegapnya yang berotot tampak begitu kokoh, memperlihatkan pundak kirinya yang kini terbalut perban putih bersih. Proses pemulihan pria ini sungguh luar biasa cepat. Daya tahan tubuhnya yang terbiasa ditempa keras dalam pertempuran membuatnya mampu bangkit kembali hanya dalam hitungan hari, seolah luka tembak yang menganga itu hanyalah goresan kecil belaka.Aku berlutut di atas kasur tepat
Suara tembakan di lantai atas aula sekonyong konyong meletus dengan intensitas yang jauh lebih mengerikan. Kali ini bukan hanya letusan senjata berperedam suara, melainkan dentuman senapan serbu otomatis bervolume berat yang menggelegar bertubi tubi.Getaran di langit langit ruang bawah tanah terasa semakin kuat, disusul oleh suara benda pecah berhamburan dan jeritan ajal dari kawanan penyusup yang terdengar tertahan."Pasukan bantuan utama telah tiba," seru salah seorang pengawal di ruang pemantau dengan mata berbinar menatap layar monitor. "Tuan Marcell telah kembali."Di layar kaca, kulihat tiga mobil lapis baja menerobos gerbang depan villa dengan kecepatan penuh, menabrak barikade darurat musuh hingga hancur berkeping keping. Sosok pria bermata biru itu tampak memimpin penyerbuan balik dari garis terdepan laksana dewa kematian yang turun membalas dendam. Kilatan api dari laras senjatanya menyapu bersih para penyerang tanpa ampun di tengah pekatnya kabut dini hari.Hanya berselang
Hening yang menyelimuti kamar tidur lantai atas terasa semakin menekan dadaku selepas kepergian tuan Marcell dan iring iringan mobil lapis bajanya. Di luar sana, langit malam di atas dermaga selatan masih memancarkan pendaran jingga kemerahan akibat kobaran api yang belum padam. Bau asap mesiu yang terbawa angin laut samar tercium menembus ventilasi udara kamar, membawa firasat buruk yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri tegak.Aku duduk bersandar di balik pintu kayu yang terkunci rapat, memeluk kedua lututku dengan tubuh yang gemetar dingin. Jam dinding terus berdetak tanpa ampun, melewati pukul dua belas lewat lima belas menit. Bayangan tentang pintu belakang villa dekat gudang genset yang disebutkan oleh bibi Marina terus berputar liar di kepalaku.Sebagian dari diriku merasa sangat bersalah karena tidak berani melangkah keluar menyelamatkan wanita yang telah membesarkanku itu. Namun sebagian jiwaku yang lain diliputi ketakutan luar biasa akan peringatan terakhir yang dibisikka
Kegelisahan yang teramat hebat mencengkeram dadaku, membuatku hanya bisa duduk meringkuk di atas sofa panjang sembari menatap jarum jam dinding antik yang berdetak lambat. Setiap denting logamnya terdengar bagai ketukan palu penghakiman. Pukul sebelas malam lewat empat puluh menit. Dua puluh menit lagi waktu yang dijanjikan oleh bibi Marina akan tiba.Pikiranku berkecamuk hebat, terombang ambing di antara dua ketakutan yang sama mematikannya. Jika aku nekat melarikan diri melewati pintu belakang villa, ada kemungkinan besar aku sedang melangkah lurus menuju perangkap maut Victor. Namun jika aku tetap berdiam diri di dalam sangkar emas ini, bayangan bibiku yang disiksa hingga mati di gudang garam tua akan terus menghantui jiwaku seumur hidup.Tepat saat jarum jam menyentuh angka dua belas kurang lima menit, keheningan malam sekonyong konyong pecah oleh sebuah dentuman dahsyat yang teramat mengerikan.DUM!Bumi serasa berguncang hebat di bawah kakiku. Kaca jendela besar di kamar tidur b
Langkah kaki tuan Marcell yang teramat sunyi di atas karpet beludru membuat nafasku mendadak berhenti berhembus. Setiap jengkal jarak yang terkikis di antara kami bagai hitungan mundur menuju malapetaka.Aku berdiri kaku merapatkan punggungku pada meja rias kayu, kedua tanganku meremas tepi meja di belakang tubuhku dengan jemari yang memutih saking eratnya. Peluh dingin membasahi pelipis dan tengkukku, bercampur dengan sisa air mata yang masih mengalir di pipi.Wajah tampan pria bermata biru itu tetap mengeras laksana pahatan batu granit. Tidak ada senyuman, tidak ada kilatan amarah yang meledak, hanya sepasang manik safir yang teramat kelam dan tajam menatap lurus ke dalam mataku. Dia berhenti tepat satu langkah di hadapanku, aroma kayu cendana bercampur aroma tembakau pekat dari tubuh tingginya seketika mengurung seluruh indra penciumanku."Tuan," cicitku teramat pelan, berusaha mengendalikan getaran bibirku yang gemetar hebat. "Tuan sudah kembali dari pelabuhan?"Tuan Marcell tidak
Lelaki seram itu dengan telaten mengobati sikut ku, sebenarnya tidak seberapa hanya sebuah luka kecil karena pecahan kaca dari lemari yang dia lempar vas bunga. Aku masih belum berani menatapnya. Lelaki ini sungguh tak bisa kutebak. "Benarkah kamu sangat takut melihatku?" Aku mengangguk tanpa mel
"Jawab!" Lelaki itu membentakku. Aku yang masih mengenakan lilitan handuk dengan rambut yang masih basah inipun hanya terpaku ditempat. "Hanya pereda nyeri tuan." Jawabku ketakutan. Lelaki itu menatapku sangat tajam lalu berjalan mendekat. Menyeretku kearah kamar mandi, aku dipaksanya masuk kedala
"Sempurna." Begitu ucap si pria maskulin yang sedari tadi meriasku. Mengeluarkan ponselnya lalu memotret wajahku. "Baiklah, sekarang bersiapalah untuk dibantai oleh tuan Marcell." Ucapnya.Kedua temannya sudah pula membereskan semua perkakas make up ketempat asalnya. Ketika dia akan beranjak pergi,
"Turunkan pisaunya!" Kali ini suaranya sedikit merendah. Aku menggeleng cepat pertanda mengancam."Saya tidak main-main, apa bedanya anda yang melukai atau saya sendiri yang melakukannya." Sejenak melupakan semua perih bekas cambukannya semalam, belum lagi perihnya daerah pangkal pahaku ketika berl







