Teilen

Pengobatan Tabib Tianyi

last update Veröffentlichungsdatum: 11.05.2026 15:23:25

Hujan mulai turun tipis di luar Aula Timur ketika suara langkah cepat terdengar mendekati koridor dalam. Ye Shuang yang berjaga di depan pintu langsung menegakkan tubuh saat melihat dua sosok berjalan mendekat.

Salah satunya adalah Hei Yan.

Pria berpakaian hitam itu masih membawa hawa dingin khas seorang penjaga bayangan, sementara di sampingnya berjalan seorang pria tua berjubah abu-abu gelap dengan kotak kayu panjang di tangan.

Rambutnya telah memutih seluruhnya, namun langkahnya stabil
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kembali Ke Xuanyin

    Sementara Itu di Xuanyin.Jauh dari Makam Teratai Putih, Putra Mahkota kembali mengalami kejang. Tabib istana berlarian masuk ke kamarnya. "Yang Mulia!" seru Tabib Istana. Permaisuri Zhao Lianhua berdiri di samping ranjang dengan wajah pucat. "Kenapa kondisinya tiba-tiba memburuk?" tanya Permaisuri dengan khawatir. "Racun Seribu Senja kembali aktif, Yang Mulia,” jawab Tabib Istana gugup. "Mustahil! Dia sudah menerima penawar!” ujar Permaisuri. Tabib menundukkan kepala. "Penawarnya hanya menekan racun, Yang Mulia,” ucap Tabib Istana. "Kalau begitu beri lagi!" seru Permaisuri. "Kami tidak bisa,” jawab Tabib Istana pelan. "Kenapa?" tanya Permaisuri cepat. "Karena seseorang telah mengganti ramuan penawarnya,” balas Tabib Istana. Ruangan langsung hening. "Apa?" "Ramuan yang seharusnya diberikan kepada Putra Mahkota, diganti dengan ramuan yang justru mempercepat penyebaran racun, Yang Mulia,” ujar Tabib istana. Permaisuri Zhao Lianhua memucat. "Siapa yang m

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Lambang Tiga Daun

    Ruangan bawah tanah itu terasa semakin sunyi. Ming Zhu masih berdiri di depan lukisan tua Permaisuri Shen Xinyue. "Jadi, Ibu sebenarnya berasal dari Xuanyue?" tanya Ming Zhu lagi. Penjaga Makam mengangguk. "Benar Yang Mulia. Tapi beliau bukan sekadar keturunan kerajaan,” jelas penjaga makam. Ia menatap Ming Zhu dengan serius. "Permaisuri Shen Xinyue adalah keturunan sah kerajaan Xuanyue,” lanjutnya. Ming Zhu terdiam. Liang Wei ikut menatap pria tua itu. "Kalau begitu, kenapa identitasnya disembunyikan?" tanya Liang Wei. Penjaga Makam menarik napas panjang. "Karena ketika Permaisuri Shen masih kecil, terjadi kudeta di Xuanyue. Para pemberontak membantai keluarga kerajaan. Mereka mencari satu anak yang diyakini sebagai pewaris sah. Seorang bayi perempuan. Dan itu Putri terakhir dari garis utama kerajaan Xuanyue,” jelasnya. "Para penjaga setia berhasil menyelamatkannya. Mereka membawanya keluar dari istana dan menyembunyikannya di tempat yang tidak akan pernah dicur

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pewaris dua kerajaan

    “Jangan bicara sembarangan,” ucap Ming Zhu. Gadis itu berdiri di tengah ruangan. Di hadapannya terdapat sebuah altar batu berbentuk bunga teratai. Delapan pilar mengelilinginya, masing-masing dihiasi lambang keluarga kerajaan Dinasti Ming. Penjaga Makam berjalan perlahan menuju altar. "Yang Mulia. Ada satu hal yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun,” jelasnya. Ming Zhu menatapnya. "Apa?" tanya Ming Zhu cepat. Penjaga Makam menunjuk ke lantai. "Dinasti Ming tidak runtuh hanya karena pengkhianatan,” ujar Penjaga makam. Liang Wei langsung memperhatikan. “Lalu?” "Runtuhnya dinasti Ming, sudah direncanakan jauh sebelum perang dimulai,” jelas Penjaga makam. Jenderal Luo mengerutkan kening. "Siapa yang merencanakannya?" tanya Jenderal Luo penasaran. Penjaga Makam menggeleng. "Itulah yang selama ini tidak kami ketahui,” ucap Penjaga makam. Ia kemudian menekan salah satu batu di altar. KLIK. Seluruh ruangan bergetar. Lantai di tengah altar perlahan ter

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Surat Permaisuri Shen

    Lorong makam semakin dalam. Langkah kaki mereka menggema di antara dinding batu yang telah berusia ratusan tahun. Tidak ada suara selain tetesan air dari langit-langit makam. Liang Wei berjalan paling depan, sementara Ming Zhu berada tepat di belakangnya. Hei Yan dan Mo Lin menjaga bagian belakang. Ye Shuang serta Su Mu memeriksa setiap sudut lorong untuk memastikan tidak ada jebakan. "Pelaku ingin mempertahankan kondisi Putra Mahkota,” celetuk Tuan Tianyi sambil memikirkan simbol racun seribu senja yang baru mereka temukan. Ming Yue langsung memahami. "Untuk apa?" tanya Ming Yue. Tuan Tianyi menatapnya. "Untuk mengendalikan siapa yang akan menggantikan takhta,” ujarnya. Semua terdiam. Liang Wei mengepalkan tangannya. "Kalau Putra Mahkota meninggal, posisi pewaris jelas akan berubah,” ucapnya. Ming Zhu menatapnya. "Dan kau adalah salah satu kandidat terkuat, Liang Wei,” ucap Ming Zhu. Liang Wei tidak menjawab. Ia sudah memahami maksud sebenarnya. Selama Put

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Isi Makam Teratai Putih

    BRUKKK!Tubuh Pangeran Rui Ambruk. Darah mulai mengalir. “Liang Wei!” seru Ming Zhu menerobos maju kearah Liang Wei.Ming Zhu kemudian menoleh kearah Pangeran Rui yang sudah tergeletak tak bernyawa.“Akhirnya, aku berhasil mengambil nyawanya dengan tanganku,” ucap Liang Wei pelan.Kematian Pangeran Rui membuat pasukan Teratai Hitam kehilangan arah. Namun perang belum berakhir. Di sisi lain lembah, Wang Ji'an masih memimpin pasukannya bertahan di depan gerbang makam. "Jangan biarkan mereka mendekati gerbang!" teriak Wang Ji'an. Pasukannya kembali menyerang. Jenderal Xu Rong mengangkat pedangnya. "Pasukan Ming!" "MAJU!" Ratusan prajurit menerjang bersamaan. Benturan kedua pasukan kembali mengguncang lembah. Liang Wei menatap medan perang. "Hei Yan, Mo Lin, Kepung sisi kiri,” ucapnya. "Ye Shuang, Su Mu. Amankan sisi kanan,” lanjutnya Keempat Penjaga Bayangan langsung bergerak. Ming Zhu menggenggam pedangnya. "Aku ikut!” Liang Wei menatapnya. "Jangan terlalu memaksakan luk

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pedang Naga Hitam

    “Han Qiye, Kenapa kau begitu bodoh,” lirih Ming Zhu.Ming Zhu masih memeluk tubuh pria itu. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia teringat pertama kali bertemu Han Qiye saat masih remaja. Mereka pernah berlatih pedang bersama. Pernah bertengkar, pernah tertawa. Dan pada akhirnya mereka berdiri di sisi yang berlawanan. Han Qiye memang telah melakukan banyak kesalahan. Namun di saat-saat terakhir hidupnya, ia memilih menebus semuanya. Bahkan dengan nyawanya sendiri Liang Wei berjalan mendekat. Ia berlutut di samping jasad Han Qiye. Dengan penuh hormat, ia menutup kedua mata pria itu. "Meski kita tidak pernah menjadi kawan, kau mati sebagai seorang kesatria. Terimakasih, karena sudah menepati janjimu, untuk melindungi Ming Zhu sampai akhir hayatmu,” ucap Liang Wei pelan Air mata Ming Zhu mengalir semakin deras. Isak tangisnya membuat beberapa jenderal ikut tertegun. Jenderal Luo, Xu Rong, bahkan Tuan Tianyi ikut menundukkan kepala. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada ejekan kep

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Berhasil Keluar Dari Neraka

    “Perangkap!” Satu detik kemudian, semua penerangan diruangan itu padam. “Kita keluar sekarang!” seru Mo Lin. Namun mereka terlambat. BRAKKK! Pintu masuk tertutup dengan keras. Dan dari luar suara langkah mulai terdengar. “Sepertinya, kita tidak diundang untuk keluar hidup-hidup,” ujar H

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Penawar racun

    “Jangan menakutiku,” ucap Ming Zhu pelan. “Sekarang, beristirahatlah. Aku akan mencari penawar untuk racun ini,” ujar Ming Yue kemudian bangkit. Tapi saat hendak pergi, ia melihat Su Mu dan Ye Shuang masih berdiri diam ditempat mereka. Ming Yue kemudian menarik keduanya. “Eeehh, kenapa kau me

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Target pertama

    “Segera selesaikan masalah ini. Lebih cepat, lebih baik,” ujar Kaisar sebelum meninggalkan Aula. “Baik Yang Mulia!” ujar keempatnya serentak. Setelah Kaisar meninggalkan ruangan, Ming Zhu mendekat kearah Liang Wei dan membantu Pria itu berjalan keluar. “Apa rencana mu selanjutnya, Tuan?” ucap

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Panggilan dari istana

    “Tidak. Justru tepat waktu,” ucap Liang Wei. Ming Zhu dengan cepat bangkit dari ranjang dan berjalan kearah Ming Yue. “Berikan obatnya padaku, Kak,” ucap Ming Zhu. Nada suaranya kembali dingin. Terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja berbagi ranjang. Ming Yue berjalan masuk perlahan, masi

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status