เข้าสู่ระบบ“Yang Mulia, dia hanya budak bodoh,” kata Count Vladimir.
Tatapan kaisar tajam. “Kau pikir aku tidak mengenalimu? Count Vladimir yang hobi berjudi dan main wanita? Kau harus membayar denda atas perbuatanmu.” Kaisar Xylas menatap pengawalnya, memberi isyarat untuk membawa Lysandra. Pengawalnya segera menuntun Lysandra ke gerbong kereta kuda Count Vladimir langsung membeku. Senyum liciknya lenyap, digantikan wajah pucat seperti mayat. “Y-Yang Mulia, ini hanya kesalahpahaman—” “Seratus keping emas,” potong Kaisar Xylas, suaranya datar tetapi tajam seperti pisau. “Atau kau bisa menghabiskan enam bulan di penjara bawah tanah. Pilih.” Count itu gemetar. Seratus keping emas itu jumlah yang gila! Namun melawan Kaisar? Sama saja bunuh diri. “Dengar baik-baik, semua yang hadir di sini,” kata Kaisar, suaranya tiba-tiba mengeras, di antara keheningan udara malam itu. “Perjudian ilegal, perbudakan paksa, mempermainkan hukum ... ini bukan bagaimana Kekaisaranku bekerja.” Dia memandang sekeliling. Setiap orang yang ditatapnya menunduk, takut. Lalu, tatapan abu-abu itu kembali ke arah Lysandra. “Dan budak ini,” ucapnya, “tidak lagi menjadi taruhan kalian.” Dia memberi isyarat halus dengan tangan. Dua pengawalnya sendiri, berbaju zirah hitam dengan lambang elang perak langsung melangkah maju. Mereka tidak kasar, tetapi sangat tegas. Mereka melepaskan cengkeraman pengawal Count padanya dengan gerakan singkat yang menunjukkan siapa yang berkuasa. “Sembunyikan budak ini di gerbong ketiga,” perintah Kaisar pada pengawalnya, tanpa ekspresi. “Dia akan bekerja membersihkan istana.” Salah satu pengawal mengangguk, lalu menuntun Lysandra dengan lembut ke arah gerbong kereta barang di belakang. Kakinya terasa lemas, hampir roboh. Namun rasa lega yang mendadak membuatnya hampir menangis. ‘Selamat. Aku selamat dari mansion Count Vladimir,’ batinnya. Namun kemudian, dia ditampar kenyataan yang lain. Dia baru saja berpindah tangan. Dari seorang penjudi kejam ke ... Kaisar Xylas sendiri. Sang Tiran. Penguasa yang namanya dulu digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil di kerajaan Utara, tempatnya berasal. Pengawal itu membukakan pintu gerbong kayu yang sederhana. Di dalamnya gelap, hanya ada jerami dan bau besi tua. “Masuk,” kata pengawal itu, suaranya datar. Lysandra memandangnya, lalu menoleh sebentar ke arah Kaisar. Dia sedang berbicara singkat dengan seorang ajudannya, sudah tidak mempedulikan Lysandra. Seolah-olah dia hanyalah barang yang baru saja dia miliki, tidak lebih penting dari sekarung gandum. Dengan hati berat, Lysandra memasuki gerbong. Pintu ditutup dari luar, dan aku mendengar bunyi gembok. Dikunci. Lysandra merosot di atas jerami, tubuhnya masih gemetar hebat. Dari celah-celah kayu, dia melihat sedikit ke luar. Count Vladimir terduduk lemas, dikelilingi pengawal kerajaan yang mencatat sesuatu. Dorian sudah kabur entah ke mana. Dan Kaisar Xylas sudah naik ke kudanya yang hitam besar. Wajahnya tampak dingin diterangi cahaya bulan, seperti patung yang terbuat dari es dan batu. Dia tidak melirik ke gerbong sama sekali. Kereta mulai bergerak. Lysandra memeluk lututnya, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Dia sekarang milik Kaisar. Dia akan dibawa ke istananya, ke jantung kekuatan musuh bebuyutan kerajaannya. Namun setidaknya, dia tidak akan menjadi mainan Count Vladimir malam itu. “Apa aku … akan mati dua kali?” Perjalanan berlangsung beberapa jam. Lysandra hampir tertidur karena kelelahan, ketika gerbong tiba-tiba berhenti dengan kasar. Suara prajurit, perintah singkat, dan gemerincing senjata terdengar. Lalu, pintu gerbong dibuka. Kaisar Xylas berdiri di luar gerbong. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam terulur ke arahnya. “Turun.” Suaranya datar. Tidak ada nada kasar, tetapi juga tidak ada belas kasihan. Lysandra melangkah turun, kakinya yang tanpa alas menyentuh batu jalanan dari bebatuan yang tersusun rapi. Lysandra menunduk, tak berani menatap mata Kaisar secara langsung. Wajahnya pasti masih kotor, rambutnya kusut, dan pakaiannya compang-camping. Dia merasa sangat kecil di hadapan Kaisar. Kaisar Xylas terdiam sejenak sebelum bertanya, “Siapa namamu?” Lysandra membungkuk lebih dalam. “Mereka memanggil hamba Rambut Cokelat, Yang Mulia.” Kaisar mengeluarkan suara pendek, seperti hembusan napas yang menggeram. “Itu bukan nama. Itu ejekan.” Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan, suaranya tetap datar. “Kau akan dipanggil Lyra. Itu nama barumu sekarang.” Lyra. Nama yang pendek namun terdengar mirip dengan Lysandra. Kaisar memberinya nama. Sebuah identitas yang dia ciptakan untuk Lysandra. “Dan kau akan menjadi budak pribadiku.” Lysandra membeku. Jantungnya berdebar kencang. Budak pribadi? Apa artinya? Lebih baik atau lebih buruk dari sekadar budak kebun atau petugas kebersihan di kamar tidur? “Apakah ... budak pribadi sama dengan pelayan pribadi, Yang Mulia?” Tanpa disadari, bisikan itu meluncur dari bibirnya. Lysandra seketika ketakutan dan bingung. Begitu kata-kata itu keluar, dia langsung menyesal. ‘Aku berani bertanya? Kepada Kaisar?’ dia merutuk dalam hati. Namun Kaisar tidak marah. Dia justru mendekatkan wajahnya, cukup dekat sehingga Lysandra bisa melihat bayangan bulu matanya yang hitam dan kelabu matanya yang tajam. “Tidak,” jawabnya, suaranya rendah hingga hampir seperti bisikan, tetapi setiap katanya jelas. "Pelayan pribadi melayani. Mereka menyajikan teh, merapikan kamar, menjalankan perintah." Kaisar memberi jeda, memastikan Lysandra mendengarkan. “Budak pribadi ... adalah milik. Sepenuhnya. Tidak hanya tangannya yang bekerja, tapi hidupnya, napasnya, waktunya, adalah milik tuannya. Kau akan ada di dekatku. Kau akan melihat apa yang kulihat. Kau akan mendengar apa yang kudengar.” Kaisar kembali menambahkan, “Dan kau tidak punya hak bicara. Kecuali aku bertanya." Lysandra menggigil. Tugas itu lebih dari yang dia takutkan. Dia tidak hanya menginginkan tenaganya. Dia menginginkan ... kehadirannya. Seorang pelayan tua mendekat dan membungkuk. “Yang Mulia, kamar untuk ... Lyra sudah disiapkan di sayap barat, dekat dengan kamar pelayan—” “Tidak,” potong Kaisar, tanpa menoleh. “Sediakan kamar kecil di koridor utara. Yang dekat dengan perpustakaan pribadiku.” ***Kekacauan itu terjadi begitu cepat. Saat Frederick dan pengawalnya membawa Eisen yang mengumpat menuruni tangga spiral yang sempit, seorang pelayan—yang mungkin telah dibayar atau dipaksa—tiba-tiba melemparkan sebuah guci berisi tinta hitam pekat ke arah mereka. Tinta itu menyembur, membutakan pandangan Frederick sejenak dan mengenai mata salah satu pengawal.“MATI KALIAN, BAJINGAN!” teriak Eisen, mengambil keuntungan dari kebingungan itu.Dengan kekuatan yang cukup mengejutkan bagi seorang bangsawan, dia menyambar belati kecil yang tersembunyi di lengan pengawal yang lengah dan menikamnya di tangan yang mencengkeramnya. Pengawal itu menjerit dan akhirnya melepaskannya.Eisen mendorong tubuh pengawal yang terluka itu ke arah Frederick, membuat mereka tersandung, lalu dia melesat seperti kelinci yang ketakutan. Bukan ke arah pintu utama perpustakaan yang masih terkunci, tetapi ke arah rak-rak buku paling belakang, menuju bagian yang jarang dikunjungi.“Dia melarikan diri! Cepat cari da
“Berhenti, Nona Lyra!!” Duke Eisen segera bangkit untuk mengejar Lysandra yang menuju ke arah perpustakaan.Dia beberapa kali meringis, tetapi kemudian dia berhasil sampai di perpustakaan. Mereka berdua kini bermain kucing dan tikus.“Aku tidak akan menyakitimu, Nona. Aku hanya ingin bernegosiasi untuk wilayah itu. Kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil menarik Kaisar.”Suara Eisen yang bernada merayu namun penuh ancaman menggema di antara rak-rak buku yang tinggi dan sunyi. Lysandra, yang bersembunyi di balik sebuah meja belajar besar di sudut, menahan napas. Dia bisa mendengar langkah kaki Eisen yang berhati-hati, sepatu bootsnya berderak di lantai batu.“Tidak perlu bersembunyi, Sayang,” lanjut Eisen, suaranya terdengar semakin dekat. “Kita bisa bekerja sama. Kau punya pengaruh atas Xylas yang tak tertandingi. Dengan bantuanku, kau bisa menjadi Permaisuri sekaligus ratu yang paling berkuasa di benua ini, mendampingi Kaisar. Xylas akan memberikan apapun yang kau minta. Termasu
Ciuman Xylas memberinya kekuatan. Lysandra meninggalkan ruang rapat dengan langkah yang lebih percaya diri. Dia punya misi, menemui Seraphina, lalu menghadapi Henrick. Waktunya semakin sempit, dan musuh-musuh mereka semakin mendekat.Namun dia tidak akan lari lagi. Dia akan menghadapi mereka semua, dengan cahaya warisan ibunya sebagai perisai sekaligus pedangnya. Dia melangkah ke arah Menara Utara.Menara Utara adalah bagian tertua dari istana, jarang digunakan kecuali untuk menyimpan arsip dan bahan-bahan yang tidak biasa. Jalannya sempit, berliku, dan hanya diterangi oleh celah-celah jendela kecil yang berdebu. Udara terasa dingin dan berbau apek, campuran antara kertas tua, kayu lapuk, dan sesuatu yang manis dan tajam seperti herbal yang dikeringkan.Lysandra, yang telah mengganti gaunnya dengan pakaian pelayan yang sederhana dan kerudung tebal, mengikuti Inggrid dari jarak yang aman. Dia berhati-hati menaiki tangga batu spiral yang curam
Lysandra melirik para penasihat. Xylas mengerti arti tatapan itu. “Keluar semuanya. Laporkan lagi padaku dalam satu jam.”Para penasihat dan dewan segera keluar berdesakan. Setelah ruangan kosong, Lysandra segera melaporkan apa yang dia dengar antara Inggrid dan Lyrael, tentang Moonlace, dan pertemuannya yang mengganggu dengan Eisen di koridor.Xylas mendengarkan dengan ekspresi yang sulit dimengerti. “Moonlace,” gumamnya.“Ibuku pernah menyebutnya. Tanaman yang hilang dari taman ibu Surga Utara.” Dia menatap Lysandra. “Jika Lyrael benar-benar memilikinya, atau tahu di mana mencarinya ... itu artinya dia memiliki akses pada kekuatan yang sangat kuat, peninggalan sihir kuno. Dan dia menawarkannya pada Inggrid.”“Kenapa?” tanya Lysandra. “Apa tujuannya?”“Bisa jadi banyak hal. Mungkin untuk menguji kesetiaan Inggrid. Mungkin untuk menciptakan sekutu yang berguna di sini. Atau …” Xylas memandangnya dalam-dalam. “Mung
Lysandra membeku di balik tirai dinding marmer, jantungnya berdebar kencang. Suara pertama jelas adalah Inggrid. Suara kedua ... lebih tua, berwibawa, dan memiliki aksen Utara yang halus. Lyrael.“Tidak semudah itu, Nona Inggrid,” jawab Lyrael, suaranya seperti guru yang bersabar.“Tanaman itu, Moonlace, hanya bereaksi di bawah tangan yang memahami ritme kehidupan dan kematian. Tanaman itu bukan hanya ramuan. Tanaman itu adalah makhluk hidup yang membutuhkan simfoni emosi yang tepat untuk diungkapkan. Memberikannya pada orang yang berniat salah akan mengubahnya menjadi racun yang lebih mematikan daripada sihir yang ingin ditawarnya.”“Tapi saya tidak berniat buruk!” bantah Inggrid, suaranya terdengar hampir merengek. “Saya hanya ingin ... melindungi diri. Istana ini penuh dengan hal-hal yang tidak saya pahami. Saya ingin memiliki sesuatu, kekuatan apapun, agar tidak merasa tak berdaya.”Ada jeda yang panjang. Lysandra hampir tidak bernapas.“Ambisi untuk melindungi diri bisa dengan mu
Lysandra menemukan dirinya berada di kamarnya, di kerajaan lamanya. Kerajaan Utara. Dua pelayannya, Roxane dan Elona masuk ke kamar.Mereka mendorong kereta berisi makanan dan minuman. Roxane menuangkan teh untuknya. “Silakan, Yang Mulia Putri,” ucap Roxane.Lysandra menerima teh itu tanpa curiga. Dia bahkan meminumnya segera. Namun, saat teh itu melewati kerongkongannya, tenggorokannya terasa panas.Sensasi terbakar di tenggorokannya membuat suaranya menghilang. Dan sebuah langkah terdengar dari pintu.Dia tahu itu Clara, adik tirinya. Clara tertawa. Terlebih saat melihatnya mati lemas.Kilasan mimpi buruk itu membuat Lysandra terbangun dengan napas terengah-engah.Dia terbangun di kamarnya. Saat menoleh ke sisinya, Xylas sudah tak berada di tempat tidur.Delia dan Elise segera mendekatinya, menawarkan teh untuk menenangkannya. “Silakan, Nona,” kata Delia.‘Ini pertama kalinya aku mimpi buruk lagi,’ batin Lysandra.Lysandra lalu duduk tegak di tempat tidur, keringat dingin membasahi







