Masuk"T-Tuan Reynard! Bisanya Tuan mengingat hal itu!" Wajah Alina seketika memerah padam hingga ke balik tengkuknya. Kenangan malam saat ia salah mengenakan piyama tidur tipis di rumah Reynard seketika berputar liar di kepalanya. Tanpa menunggu balasan lagi dari sang majikan yang sedang terkekeh puas, Alina membalikkan badan dan setengah berlari menuju rumah kontrakannya di seberang jalan. Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyambut perjalanan mereka menuju sekolah baru Sean. Mobil sedan mewah Reynard membelah jalanan kota yang masih lengang. Saat kendaraan itu memasuki gerbang sekolah yang baru, Alina dibuat terpana. Bangunan sekolah itu jauh lebih megah, asri, dan teratur. Orang-orang di sekitarnya, baik para pengajar maupun wali murid, tampak bersikap amat sopan dan ramah. "Wah, tempatnya besar sekali, Papa!" seru Sean antusias dari kursi belakang, menempelkan wajahnya pada kaca jendela. "Iya, Jagoan. Di sini lingkungannya jauh lebih baik," sahut Reynard lembut sembari memarkir
"T-Tuan Reynard! Jangan bicara sembarangan!" Wajah Alina yang tadinya merah muda kini sudah memerah padam bagaikan tomat matang. Tanpa berpikir panjang, kedua tangan rampingnya refleks mendorong dada bidang Reynard cukup kuat. Pria tegap itu terdorong mundur dua langkah, membiarkan celah bagi Alina untuk meloloskan diri. Dengan napas tersengal-sengal dan jantung yang berdegup bagaikan genderang perang, Alina langsung kabur melintasi pintu dapur menuju ruang makan. "Hahaha!" Tawa renyah nan tulus dari Reynard menggema halus di dalam dapur yang sepi. Pria tegap itu menggelengkan kepalanya melihat punggung Alina yang menghilang cepat di balik belokan koridor, menyisakan kehangatan yang langka di dalam hatinya. Malam harinya, suasana kamar Sean dipenuhi kesibukan yang menyenangkan. Sebuah koper berukuran sedang terbuka lebar di atas ranjang. Alina tampak cekatan melipat baju-baju hangat, kaus santai, hingga celana pendek milik anak asuhnya itu. Sebab, sesuai janji Reynard, setelah me
"T-Tante... Tante Alina kan bukan Mama kandungnya Sean, Sayang," bisik Alina gagap, matanya membelalak kaget sampai-sampai sendok di tangannya hampir saja terlepas. Wajah wanita itu mendadak memerah padam hingga ke ujung telinga. Ia mencoba mengulas senyum terbaiknya untuk menutupi rasa canggung gila-gilaan yang merayapi dadanya. "Tante sangat sayang sama Sean, tapi kalau di sekolah... Sean panggil Tante Alina saja, ya?" Sean mengerucutkan bibirnya sedikit, menoleh pada ayahnya di ujung meja. "Tapi Papa... Sean mau panggil Tante Alina itu Mama kalau di sekolah baru. Boleh kan, Papa?" Reynard yang sejak tadi menyandarkan punggungnya di kursi utama mendadak menyunggingkan senyuman miring yang begitu menawan. Pria tegap itu menyesap cangkir minumannya perlahan, menatap lurus ke arah Alina yang makin salah tingkah. "Kalau Sean bertanya sama Papa... Papa sih tidak masalah sama sekali," sahut Reynard santai, nada suaranya sarat akan kode menggoda yang sengaja ia lemparkan. "Tapi itu sem
"T-Tuan Reynard! Astaga!" Alina yang panik luar biasa refleks mendorong dada bidang Reynard sekuat tenaga. Dorongan mendadak itu cukup kencang hingga membuat tubuh tegap sang CEO terdorong mundur beberapa langkah, bahkan tumit sepatunya sempat tersandung ambang pintu balkon sampai ia hampir saja kehilangan keseimbangan. "Ekhemmm... ekehmm" Reynard berdehem keras, buru-buru membetulkan letak jas dan kerah kemejanya yang sedikit kusut, berusaha menetralisir raut wajahnya yang mendadak canggung setengah mati. Alina memasang ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa, meski seluruh wajahnya sudah memerah matang bagaikan kepiting rebus. Ia membalikkan badan dengan cepat, berlutut menyambut kedatangan anak asuhnya. "Sean, Sayang? Kenapa sudah bangun lagi, hm?" tanya Alina dengan nada suara yang sengaja diubah seceria mungkin, walau dadanya masih berdebu-debu tak karuan. Sean berjalan mendekat sembari mengucek sepasang matanya yang masih agak sembap. Tangan mungilnya meremas ujung baju tidur
"S-saya baik-baik saja, Tuan..." Alina menjawab dengan suara yang teramat pelan, nyaris seperti bisikan. Napasnya tertahan saat merasakan usapan hangat dari ibu jari Reynard di permukaan pipinya. Jantungnya berdegup gila-gilaan, namun ia tidak berani memalingkan wajahnya dari tatapan mata abu-abu pria itu. Saat Alina keberaniannya terkumpul untuk membuka suara kembali, bibirnya gemetar ragu. "Tuan Reynard... mengenai perkataan Bu Karin tadi di sekolah... soal status saya yang—" "Kita bicarakan itu nanti di rumah, Alina," potong Reynard dengan suara bariton yang lembut namun tidak bisa dibantah. Pria tegap itu menarik jemarinya dari pipi Alina secara perlahan, memberikan ruang agar wanita itu bisa bernapas lega. "Sekarang fokus kita adalah menenangkan Sean dulu." Alina akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, Tuan." Sesampainya di rumah, Sean yang kelelahan akibat terlalu banyak menangis akhirnya tertidur lelap di kamarnya. Alina menyelimuti tubuh mungil anak asuhnya itu deng
"Apa Bapak benar-benar tidak tahu kalau Alina ini sebenarnya janda gatal yang cuma mau mengincar harta Bapak?!" Suara melengking Ibu Karin mengudara bebas di depan gerbang sekolah, memecah keheningan pagi. Kerumunan ibu-ibu penjemput seketika menarik napas tertahan, bisik-bisik yang tadinya pelan kini berubah menjadi kasak-kusuk yang semakin riuh. DEG! Dunia Alina serasa runtuh seketika. Seluruh persendian tubuhnya membeku kaku, wajahnya pucat pasi tanpa sisa darah. Rahasia besar yang selama ini ia kubur rapat-rapat, alasan utamanya merantau jauh dan memalsukan dokumen, kini ditelanjangi begitu saja di depan umum. Tubuh Alina gemetar hebat, ia tidak berani mendongak, terlalu takut melihat kekecewaan atau kemarahan di mata majikannya. Namun, reaksi yang terjadi justru di luar dugaan semua orang. Reynard tidak mengamuk pada Alina, tidak juga menunjukkan raut wajah terkejut ataupun kecewa. Pria tegap itu dengan tenang menyilangkan kedua tangannya di depan dada bidangnya. Manik mata







