ホーム / Romansa / Terjerat Pesona Duda Tampan / Tetangga Baru Yang Tampan

共有

Terjerat Pesona Duda Tampan
Terjerat Pesona Duda Tampan
作者: Nona Lee

Tetangga Baru Yang Tampan

作者: Nona Lee
last update 公開日: 2026-06-13 12:32:00

"Eh, Jeng Mira, sudah lihat belum? Itu lho, rumah besar di ujung belokan yang sudah kosong dua tahun!"

"Oh, yang pagarnya tinggi menjulang warna hitam itu? Memangnya kenapa, Jeng?"

"Kemarin sore ada truk kontainer besar datang. Katanya, yang punya rumah itu sudah pindah ke sana. Sumpah, Jeng, waktu mobil mewahnya lewat, kacanya sempat turun sedikit. Orangnya tampan sekali! Kulitnya putih, rahangnya tegas, tapi ya ampun... mukanya datar banget kayak triplek baru diamplas. Sombong sekali, tidak ada senyum-senyunya sama sekali waktu disapa Pak RT!"

Wanita bernama Alina Delisha hanya bisa menghela napas pelan mendengar riuhnya obrolan di warung kelontong milik Bu Lastri. Dengan pakaian kaku khas seragam pramuniaga kafe yang masih melekat di tubuh mungilnya, wanita itu sibuk memilih beberapa butir telur. Mau tidak mau, telinganya harus rela dijejali gosip hangat pagi ini.

"Biasa itu, Jeng. Orang kaya raya mah bebas mau sombong juga. Katanya dia duda, lho. Bawa anak laki-laki satu," sahut Bu Lastri sambil membungkus cabai rawit. "Eh, Alina! Sini. Kamu kan rumahnya tepat berhadapan dengan rumah besar itu. Sudah lihat orangnya?"

Alina tersenyum tipis, menggeleng pelan sambil menyerahkan sekantung telur. "Belum, Bu Lastri. Kemarin Alina pulang malam, langsung tidur karena capek."

"Halah, Alina ini gimana, toh. Punya tetangga tampan kok ya tidak penasaran," celetuk Jeng Mira sambil tertawa renyah.

Bagi Alina, menjadi janda di usia 28 tahun sudah memberinya cukup banyak pelajaran berharga tentang hidup. Pengalaman pahit di masa lalu membuatnya paham satu hal: lelaki tampan, kaya, dan sombong adalah perpaduan paling sempurna untuk menciptakan penderitaan bagi wanita biasa seperti dirinya. Jangankan untuk penasaran, mendengar tipikal pria seperti itu saja sudah membuat bulu kuduk Alina meremajakan trauma lamanya.

"Ini uangnya, Bu Lastri. Pas, ya. Alina permisi pulang dulu, mau bersiap-siap," ucap Alina ramah, memilih menyudahi interaksi sebelum topik beralih membedah status jandanya.

"Iya. Hati-hati. Jangan lupa intip depan rumah, siapa tahu jodoh!" seru Bu Lastri yang hanya dibalas Alina dengan lambaian tangan sopan.

Alina berjalan kaki menyusuri gang menuju rumah kontrakannya yang sederhana. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti tepat di depan pagar. Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan mengejutkan di halaman rumahnya sendiri.

"Astaga! Pot tanaman kuping gajahku!" pekik Alina tertahan.

Pot plastik hitam yang kemarin sore masih tertata rapi di atas benteng pembatas rumahnya kini telah hancur berkeping-keping di lantai tanah. Tanah subur dan akar tanaman kesayangannya berceceran ke mana-mana.

"Siapa yang melakukan ini? Keterlaluan sekali," gumam Alina dengan dada bergemuruh jengkel. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling gang, namun suasananya sepi.

Tin! Tin!

Suara klakson mobil yang nyaring mengejutkannya. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik meluncur pelan dan berhenti tepat di depan gerbang rumah besar di seberang jalannya. Alina sempat terpaku sejenak melihat kemewahan kendaraan itu. Namun, rasa kesalnya akibat pot yang pecah membuat Alina enggan peduli. Dia memilih membalikkan badan, membuka pintu rumahnya dengan hentakan kesal, dan masuk ke dalam tanpa berniat mengintip siapa pun yang keluar dari mobil tersebut.

Keesokan paginya, matahari baru saja memancarkan sinar hangat saat Alina melangkah keluar rumah dengan pakaian rapi. Hari ini dia mendapat sif pagi di kafe. Tangannya bergerak lincah mengunci gembok pagar seng rumahnya sambil bersenandung kecil.

Bugh!

"Aduh!" Alina mengaduh keras saat sebuah benda bundar dan keras mendarat tepat di puncak kepalanya. Kepalanya berdenyut nyeri seketika.

Pfftt...

"Hahaha! Rasain! Kena!"

Suara tawa melengking khas anak kecil terdengar sangat menyebalkan di telinganya. Alina memegang kepalanya yang pening, lalu perlahan menunduk melihat sebuah bola sepak plastik berukuran sedang menggelinding di dekat kakinya. Napasnya memburu. Kesabarannya yang setipis tisu di pagi hari runtuh seketika.

Alina berbalik dengan cepat, siap menyemburkan kekesalannya. "Siapa yang—"

Kalimat Alina menggantung di udara. Di seberang jalan, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Anak itu mengenakan kaus oblong bermerek dan celana pendek. Wajahnya sangat tampan, dengan mata bulat yang bersinar jenaka namun sarat akan kenakalan. Namun, yang membuat nyali Alina sedikit menciut bukan karena ketampanan bocah itu, melainkan tatapan matanya yang tampak begitu polos dan tidak merasa bersalah sama sekali setelah membuat kepala orang lain kesakitan.

Alina menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam amarahnya agar tidak meledak di depan anak kecil. Dia melangkah mendekati bocah itu, lalu berjongkok menyamakan tingginya.

"Adik tampan, tidak boleh ya melempar bola ke kepala orang seperti itu. Itu berbahaya dan tidak sopan," ujar Alina dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, meski kepalanya masih terasa senut-senut. "Kalau tadi kena mata Tante gimana? Lain kali mainnya hati-hati, ya?"

Alina tersenyum manis, mengabaikan fakta bahwa bocah di depannya justru menjulurkan lidah dengan ekspresi mengejek. Merasa gemas sekaligus ingin menyentuh anak kecil yang sudah lama tidak ia rasakan kehangatannya, tangan Alina perlahan terangkat, berniat mengusap lembut rambut hitam bocah tersebut.

Namun, reaksi anak itu sungguh di luar dugaan. Begitu melihat tangan Alina bergerak naik, matanya membelalak ketakutan.

"Jangan pukul aku! Dasar Tante galak!" teriak bocah itu histeris. Dia langsung berbalik dan berlari kencang ketakutan menuju gerbang rumah mewah yang terbuka lebar.

Alina terperangah. "Eh? Tante tidak mau memukul—"

"Ada apa ini, Sean?!" Sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan menggelegar memotong kalimat Alina.

Dari balik gerbang, muncul sosok pria bertubuh tinggi tegap. Pria itu mengenakan setelan jas kerja mahal berwarna hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya yang luar biasa tampan tampak mengeras dengan rahang yang mengetat kuat.

Bocah bernama Sean itu langsung menubruk dan memeluk erat kaki kanan sang pria, menyembunyikan wajahnya di sana sembari menunjuk-nunjuk ke arah Alina. "Papa! Tante itu mau memukulku! Dia galak sekali!"

Pria itu Reynard Dirgantara, ia perlahan mengalihkan pandangan tajamnya yang sedingin es langsung ke arah Alina. Sepasang matanya menatap Alina dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara.

Alina mematung di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena terpesona, melainkan karena aura intimidasi yang kuat dari pria di depannya.

Reynard mendengus sinis, melipat kedua tangannya di dada. "Jadi, begini kualitas lingkungan di sini? Baru hari pertama saya pindah, saya sudah tahu kalau tetangga di depan rumah saya ternyata hanya wanita yang hobi memarahi dan mengancam anak kecil."

"Apa?!" Suara Alina melengking tak percaya. "Tuan, saya tidak—"

"Masuk, Sean. Jangan dekat-dekat dengan orang asing yang kasar," potong Reynard tanpa memberi kesempatan bagi Alina untuk membela diri.

Reynard berbalik, menuntun anaknya masuk ke dalam halaman rumah mewah mereka. Pintu gerbang besi yang kokoh dan tinggi itu ditutup dengan hentakan keras, menyisakan suara dentingan besi yang menggema di sepanjang gang sepi.

Alina berdiri terpaku di tepi jalan dengan mulut setengah terbuka. Kejengkelannya sudah mencapai ubun-ubun. Dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menatap nanar ke arah gerbang hitam yang tertutup rapat itu.

"Dasar lelaki sombong!" gumam Alina dengan napas memburu menahan geram. "Siapa sebenarnya pria menyebalkan itu?!"

🍒Halooo terima kasih untuk yang sudah mampir!!

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, ya!!

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
yepponuna10
baruu gabung tor
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Lupakan Dia

    "Katakan di mana Alina, Andri! Jangan main-main denganku!" bentak Reynard dengan suara memburu, mempererat cengkeramannya pada kerah kemeja lelaki di hadapannya. Andri sama sekali tidak menyurutkan pandangannya. Tidak ada sedikit pun raut takut di wajahnya. Ia justru menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan penghinaan. "Untuk apa Tuan tahu keberadaan Alina? Supaya Tuan bisa membawanya kembali ke rumah neraka ini?! Agar dia bisa ditampar dan dihina lagi oleh keluarga Tuan?!" "Aku tidak pernah membiarkan siapapun menyakitinya!" tegas Reynard dengan rahang mengeras. "Kemarin aku sedang bertugas di luar kota! Ponselku rusak karena kecelakaan di lokasi proyek! Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah ini!" Andri tertawa hambar, sebuah tawa yang meremehkan. "Alasan! Mau Tuan ada di luar kota, mau ponsel Tuan hancur berpotong-potong, faktanya Alina ditinggalkan sendirian menghadapi amukan ayah Tuan! Tuan bilang Tuan mencintainya? Tapi jangankan membahagiakan, melindungi dia dari keluar

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Pencairan Yang Sia-Sia

    "Mba! Di sekitar sini tadi ada lihat wanita dengan ciri-ciri tinggi sedang, rambut panjang bergelombang, pakai gaun simpel warna pastel tak?" tanya Reynard setengah berteriak pada seorang penjual angkringan di pinggir jalan raya. Pedagang itu menyipitkan mata, lalu menggeleng pelan. "Tidak ada, Mas. Dari tadi jalanan sepi, cuma mobil-mobil lewat saja." "Terima kasih," pamit Reynard singkat, langsung kembali masuk ke dalam mobilnya dengan napas terengah-engah. Pria itu mengacak rambutnya frustrasi. Sudah dua jam lebih ia membelah pekatnya malam, menyusuri setiap sudut jalan raya yang menghubungkan rumah utamanya dengan area perkotaan. Ia bahkan sudah mendatangi rumah kontrakan lama Alina yang dulu pernah disewa wanita itu, namun tempat itu sudah gelap gulita dan terkunci rapat dari luar. Tetangga sekitar pun mengaku tidak melihat keberadaan Alina sejak sore tadi. Ke mana lagi ia harus mencari? Ponselnya rusak, nomor kontak Alina tidak bisa dihubungi dari ponsel cadangan mobil, d

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Pembelaan Reynard

    "Jaga mulut Ayah! Alina bukan wanita murahan!" bentak Reynard dengan suara menggelegar, memecah keheningan basement parkiran rumah sakit yang remang-remang. Pria itu mengusap sudut bibirnya yang pecah dan berdarah dengan punggung tangan, lalu menatap Tuan Richard dengan pandangan penuh amarah yang menyala-nyala. "Ayah tidak punya hak sedikit pun untuk menghina Alina dengan kata-kata serendah itu! Apalagi sampai menampar dan mempermalukannya di depan Sean!" Tuan Richard terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap putra tunggalnya dengan tatapan penuh penghinaan. "Tidak punya hak, katamu?! Aku ini ayahmu, Reynard! Aku yang membesarkanmu, membangun kerajaan bisnis ini, dan memastikan namamu dihormati di mana-mana! Dan kau... dengan mudahnya menukar kehormatan keluarga ini demi seorang wanita cacat yang sudah dibuang mantan suaminya?!" "Alina bukan barang buangan, Ayah!" tegak Reynard, melangkah satu piksel mendekati sang ayah hingga jarak mereka tersisa sangat

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Amarah Yang Membakar

    "Buka pintunya sekarang, atau kupatahkan tanganmu!" Suara bentakan Reynard menggema keras di depan ruang kontrol CCTV rumah utama. Petugas keamanan berbadan tegap itu gemetar hebat, tak berani membangkang majikan mudanya yang tampak seperti kesetanan dengan napas memburu dan rahang yang mengeras. Pintu besi itu terbuka. Tanpa membuang waktu, Reynard memborong masuk, menggeser tubuh operator secara kasar. Jemarinya yang gemetar memutar balik rekaman video beberapa jam lalu, tepat di hall utama rumah mereka. Layar monitor berkedip, menampilkan rekaman jernih beresolusi tinggi tanpa suara. Namun, gambar bisu itu justru terasa sepuluh kali lebih menyiksa. Mata Reynard membelalak sempurna, menyaksikan bagaimana Tuan Richard berdiri menakutkan di hadapan Alina. Ia melihat Alina yang ketakutan, lalu... PLAK! Tangan ayahnya melayang keras menghantam pipi wanita yang sangat dicintainya hingga tubuh lemas itu terhuyung. Tak berhenti di situ, rekaman menampilkan Tuan Richard yang mengambil s

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kabar Yang Mengejutkan

    "Minum dulu air hangatnya, Al. Tenangkan dirimu," ucap Andri pelan seraya menyodorkan segelas teh manis hangat ke hadapan Alina yang terduduk lesu di atas kasur tipis rumah kontrakannya. Alina menerima gelas tersebut dengan jemari yang masih bergetar hebat. Uap tipis membumbung tinggi, menimpa wajahnya yang pucat dengan bekas memar kemerahan di pipi kanan yang makin membiru. Ia menyesap cairan manis itu perlahan, mencoba mengusir rasa dingin dan ngilu yang masih membelenggu dadanya. Andri menarik kursi plastik kecil, duduk berhadapan dengan sahabatnya. Mata pria itu menatap nanar kondisi Alina yang begitu mengenaskan. "Sekarang coba cerita pelan-pelan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu? Kenapa Tuan Richard sampai setega itu padamu?" Alina menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya kembali menetes menyatu dengan teh hangat di dalam gelas. "Tuan Richard... beliau sudah tahu semuanya, Ndri. Beliau tahu kalau aku dan Reynard punya hubungan spesial..." "Tahu dari mana

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kenapa Kau Mengusir Alina?!

    "Richard! Ada apa ini?! Kenapa rumah ramai sekali?!" Suara Nyonya Ella terdengar nyaring begitu kakinya melangkah melewati pintu utama. Tangan kanannya menenteng beberapa tas belanjaan barang brand mewah. Namun, senyum di wajah cantiknya seketika luntur tatkala telinganya menangkap suara tangisan histeris yang sangat ia kenali dari arah ruang tengah. Nyonya Ella melangkah tergesa-gesa. Matanya membelalak sempurna menyaksikan pemandangan kacau di hadapannya. Sean, cucu kesayangannya, sedang menangis sesenggukan seraya mengepalkan tangan mungilnya. Memukul-mukul paha dan lutut Tuan Richard yang sedang duduk di sofa sembari memegangi kepalanya yang tampak pening. Di atas lantai marmer, lembaran uang ratusan ribu berserakan tak beraturan bagai sampah tak berharga. "Richard! Apa-apaan ini?! Kenapa ada banyak uang berhamburan di lantai?!" tanya Nyonya Ella dengan nada panik, melempar tas belanjaannya ke sembarang tempat. Mendengar suara sang nenek, Sean langsung berbalik. Dengan mata se

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status