LOGINBrielle meletakkan ponselnya, lalu mengangkat cangkir teh sambil menatap ke luar jendela tanpa daya. "Kita semua harus terus melangkah maju."Saat itu, ponselnya kembali berbunyi, bahkan berturut-turut sampai empat atau lima kali. Sepertinya ada foto yang dikirim.Brielle segera mengambil ponselnya untuk melihat. Dia yakin itu pasti foto putrinya. Benar saja, beberapa foto lucu Anya terkirim. Jelas, putrinya bermain dengan sangat senang, senyumannya cerah dan manis."Itu foto Anya ya? Coba aku lihat, sudah lama aku nggak ketemu dia."Brielle menyerahkan ponselnya agar Syahira bisa melihat foto-foto putrinya. Syahira sedang asyik melihatnya ketika sebuah pesan baru muncul.[ Anya kangen sekali sama kamu. Mau dijemput ke sini buat sekalian refreshing? ]Pesan dari Raka.Mata Syahira seketika berkedip beberapa kali. Dia menatap Brielle di depannya, lalu menyerahkan kembali ponselnya. "Raka kirim pesan lagi."Brielle mengambilnya dan melirik isi pesan itu. Alisnya langsung berkerut sedikit
Syahira tampak agak kesal."Mana mungkin nggak penting? Luka yang terjadi itu nyata lho! Meskipun waktu itu dia memang terpaksa dan harus bekerja sama dengan Devina buat pertahankan dia, itu tetap bukan alasan buat mengabaikanmu. Toh di masa-masa sebelum Devina muncul, kalian juga pernah saling mencintai."Brielle menopang dagunya sambil berkata pelan, "Keadaan sekarang juga sudah bagus. Dia punya jalannya sendiri, aku juga punya hidupku sendiri. Kesalahpahaman diselesaikan supaya bisa kembali bersama, tapi sekarang aku sudah nggak butuh dia lagi."Syahira memandang sahabatnya lama-lama, lalu akhirnya mengerti. Dia mendekat sedikit dan bertanya, "Brie, kamu benar-benar sudah melepaskannya?"Dia bisa melihat dengan jelas, ini bukan lagi soal emosi sesaat ataupun kebencian. Brielle benar-benar sudah berdamai dengan semuanya."Sekarang aku cuma ingin menjalani hidupku dengan baik. Fokus ke pekerjaan dan Anya, sesekali bisa minum teh dan ngobrol santai sama kamu seperti ini. Aku sudah sang
Di sebuah restoran teh sore yang tenang di pusat kota, akhirnya dua sahabat itu bertemu lagi.Syahira mengamati Brielle yang duduk di depannya. "Masih tetap seperti dulu. Aku kira sekarang kamu sudah jadi super crazy rich, terus bakal pakai barang mewah dan perhiasan berkilau."Hari ini Brielle mengenakan sweter rajut warna krem muda yang simpel dipadukan dengan celana jeans. Rambut panjangnya diikat longgar, wajahnya hanya memakai riasan tipis. Selain jam tangan di pergelangan tangannya, tidak ada aksesori lain sama sekali.Brielle tidak bisa menahan tawa kecil sambil mengaduk tehnya perlahan. "Aku ini orangnya setia, kamu juga tahu sendiri."Syahira langsung terkekeh. "Nah, itu benar."Bola matanya berputar dengan nakal, lalu dia memandang Brielle dengan tatapan menggoda. "Kalau begitu, orang yang setia ini mau gimana dengan mantannya itu? Mau terus dibiarkan jadi masa lalu begitu saja?"Tangan Brielle yang sedang mengaduk cangkir teh terhenti sesaat. Kemudian, dia mengangkat cangkir
Niro mengangguk. Sesaat sebelum keluar dari ruangan, dia menoleh kembali ke arah Brielle, lalu tiba-tiba bersuara, "Brie."Dia kembali memanggil nama panggilan itu dengan lembut.Brielle sedikit tertegun, lalu mengangkat kepala menatapnya.Dari lorong seberang, seberkas sinar matahari jatuh tepat ke tubuh Niro, membuat sosoknya seolah-olah diselimuti cahaya keemasan.Dia memandang Brielle dengan tatapan jernih dan tulus. "Walaupun sekarang kita cuma teman, kalau suatu hari nanti kamu butuh apa pun, kapan pun itu, aku akan selalu ada."Suaranya tidak keras, tetapi mengandung ketegasan dan kekuatan khas seorang tentara. Itu bukan pengakuan cinta yang ambigu, melainkan sebuah janji yang melampaui hubungan pria dan wanita. Lebih dalam dan lebih berat.Brielle menatap pria di hadapannya yang berdiri tegap dengan sorot mata tegas dan jujur itu. Hidungnya terasa agak perih. Dia mengangguk pelan, matanya agak memerah tetapi tetap tersenyum."Aku tahu. Terima kasih, Niro."Niro juga tersenyum.
Tiga hari kemudian, Brielle datang ke rumah sakit. Niro akan segera kembali ke Kyoza untuk menjalani pemulihan, jadi dia datang untuk berpamitan.Di dalam ruang rawat yang tenang, Niro mengenakan pakaian pasien rumah sakit. Kondisinya jelas jauh lebih baik dibanding sebelumnya.Rambutnya dipangkas sangat pendek, sementara di sisi kanan kepalanya ada bagian yang dicukur habis. Itu adalah lokasi penanaman cip.Lukanya juga sudah pulih dengan baik, hanya meninggalkan bekas samar tipis. Kalau rambutnya sudah panjang sedikit, bekas itu pasti tidak akan terlihat lagi."Di Kyoza ada Pak Justin dan Dokter Zidan, jadi aku juga lebih tenang," kata Brielle sambil menatap Niro.Niro juga memandangnya. Beberapa hari terakhir istirahat Brielle cukup, jadi wajahnya juga jauh lebih segar."Dia masih belum kembali?" tanya Niro.Brielle tahu Niro selalu ingin mengucapkan terima kasih langsung kepada Raka. Walaupun utang budi ini sebenarnya milik ayahnya, Niro adalah orang yang sangat jelas dalam urusan
Kecantikan Brielle bukan tipe yang mencolok, tetapi justru mampu mengguncang hati orang tanpa disadari.Sambil menopang dagu, tiba-tiba dia teringat pada ayahnya, pria keras kepala dan berpendirian teguh itu ....Kalau ayahnya masih hidup dan melihat dirinya yang sekarang, apakah ayahnya akan merasa bangga walau hanya sedikit?Sejak kecil, dalam ingatan Brielle, ayahnya selalu tegas, juga seperti sosok yang bisa melakukan segalanya.Ibunya pernah berkata, saat Brielle berusia tiga tahun, ayahnya sudah menggendongnya sambil membacakan buku kedokteran, ingin menanamkan ilmu sejak dini.Brielle hampir bisa membayangkan pemandangan itu. Dirinya yang masih kecil pasti hanya menatap ayahnya dengan polos tanpa mengerti apa-apa, sementara sang ayah begitu serius, penuh harapan terhadap putrinya.Kalau saja ....Kalau saja dulu dia tidak bertemu Raka, akan seperti apa hidupnya sekarang? Mungkin dia akan berkuliah dengan normal, lanjut S2 dan S3, lalu masuk ke dunia riset.Mungkin di suatu kesem
Devina menatap pesan itu, lalu mengerutkan kening sedikit dan membalas.[ Oke, besok kamu jemput aku. ]Setelah itu, Devina mengirimkan lokasi hotelnya.Keesokan paginya, Brielle dan Niro sudah sepakat berangkat pukul delapan menuju Universitas Medis Militer. Brielle mengenakan mantel lalu keluar da
"Paman Levo sudah berpesan agar aku menjamu kamu dengan baik. Tentu saja aku nggak boleh bersikap lalai," ujar Niro sambil tersenyum lagi.Di area parkir, Devina duduk di dalam mobil untuk beristirahat, tetapi Raka tidak ikut naik. Dia sedang menelepon di luar mobil. Kebetulan, mobil Niro terparkir
Namun, saat ini dia malah menempatkan dirinya sebagai pacar Brielle. Dia memang tidak bisa melihat ekspresi Brielle, tetapi jelas Brielle seolah mengiyakan hal itu.Raka duduk di kursi dekat jendela, satu baris dengan Brielle. Pandangannya yang dalam dan rumit juga mengarah ke sini. Setelah Niro dud
Brielle mengatupkan bibirnya, tidak mengatakan apa pun lagi.Raka menurunkan putrinya, lalu meletakkan jasnya di sandaran sofa. Dengan suara rendah, dia berkata, "Aku sudah memperingatkan adikku. Ke depan, hal seperti ini nggak akan terjadi lagi.""Adikmu memang sudah lama bersikap semaunya." Briell







