Share

Bab 255

Author: Ayesha
Brielle baru saja duduk di mobil ketika panggilan dari Raka masuk. Dia langsung menolaknya. Kalau pria itu ingin membela Devina, Brielle sama sekali tidak akan memberi muka. Dia langsung mengemudi menuju sekolah dan meminta Alice untuk berbicara berduaan.

Di kafe. Setelah mendengarkan penjelasan Brielle, Alice tampak sangat terkejut. "Apa? Jadi Bu Devina itu selingkuhan suami Anda yang ...."

Brielle mengangguk. "Ya. Dia mendekati putriku dengan tujuan tertentu. Demi keselamatan anakku, aku mohon
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Suwarti Mohamad
males banget bacanya, tapi penasaran sama endingnya seperti apa
goodnovel comment avatar
Adel Joanna Nuruwe Smith
brielle ini bodoh kh bgmn. niro yg baik tujiannya mlh kyk bikin emosi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1020

    Devina tidak suka masa lalunya diungkit. Dia menggenggam tas di tangannya lebih erat, lalu berkata, "Raline, aku sudah bilang, semua ini sudah nggak ada artinya lagi. Persahabatanku denganmu itu tulus."Setelah berkata begitu, Devina melewati Raline dan berjalan pergi. Raline langsung mengulurkan tangan hendak menangkap pergelangan tangannya. "Jangan pergi, jelaskan dulu semuanya."Namun, Devina menghindari tangan Raline dan melangkah cepat menuju arah lift. Raline masih gemetar karena marah. Dadanya naik turun. Setelah tersadar kembali, tiba-tiba dia berlari ke arah Brielle.Brielle juga baru saja berdiri hendak meninggalkan tempatnya. Ketika Raline memeluknya erat seperti itu, dia tertegun beberapa detik."Maaf, maaf, Kakak Ipar. Semua ini salahku. Aku salah, aku ...." Rasa bersalah di dalam hati Raline seperti banjir besar yang jebol dan meluap deras. Dia memeluk Brielle erat-erat dan tidak mau melepaskannya."Aku terlalu bodoh. Aku malah membantunya menindasmu. Aku bahkan mengataka

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1019

    Wajah Devina seketika berubah sangat masam. Dia tidak menyangka Brielle langsung merobek semua penyamaran dan rencananya. Dengan marah dan malu, dia berkata, "Brielle, omong kosong apa yang kamu bicarakan? Perasaanku kepada Keluarga Pramudita itu tulus ....""Tulus?" Brielle memotongnya. Nada ejekannya semakin jelas. "Kalau bukan karena Raka memberimu saham Grup Datau, apa kamu akan setuju bekerja sama dengan eksperimen ini? Bicara soal ketulusan setelah menegosiasikan syarat dan meminta bayaran setinggi langit? Kamu nggak merasa itu lucu?"Kata-kata Brielle terdengar tegas dan sangat menyakitkan.Devina tiba-tiba tersulut amarah. Belakangan ini, emosinya memang mudah meledak. Dia berdiri mendadak dan menunjuk Brielle sambil berteriak, "Apa yang kamu mengerti? Dulu jelas aku yang jatuh cinta padanya duluan! Kenapa kamu yang merebutnya di tengah jalan? Kamu masih berani menyalahkanku?""Aku sudah mengorbankan sepuluh tahun masa muda dan kesehatanku. Ini adalah imbalan yang pantas untukk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1018

    "Ibu yang telah menyeretmu ke dalam semua ini ...." Meira terisak. Hatinya terasa seperti teriris. "Kalau bukan karena penyakitku ini, kamu nggak perlu bekerja sekeras ini.""Ibu, jangan bicara begitu. Semuanya akan menjadi lebih baik." Raka terus menenangkannya.Meira dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan, tetapi dia juga tidak berdaya. Dia sangat berharap putranya bisa hidup lebih ringan. Namun ....Raka menemani ibunya berbicara sejenak tentang keadaan. Setelah emosinya sedikit stabil, barulah dia berdiri dan pergi.Brielle keluar dari laboratorium dan duduk di kantornya meneliti data. Saat itu, seorang perawat mengetuk pintu dan berkata, "Profesor Brielle, ada yang ingin bertemu."Brielle mengangkat kepala dan melihat seorang wanita masuk sambil membawa tas. Bukan orang lain, itu Devina.Seolah-olah sudah menduga kemunculannya, Brielle tidak merasa terkejut."Ada urusan?" Brielle mengangkat kepala menatapnya."Mau ngobrol." Devina menyilangkan tangan, masih tampak anggun dan percay

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1017

    Jadi, kalaupun di masa depan mereka bertemu lagi, Brielle pun tidak akan bisa melakukan apa pun terhadapnya. Bahkan mungkin dia harus sama seperti Raka, memohon kepadanya.Memikirkan hal ini, Devina mulai tidak sabar untuk bertemu langsung dengan Brielle dan berbicara dengannya.Saat itu, rasa pusing kembali menyerang. Devina memegangi kepalanya dan terengah-engah beberapa kali dengan kesakitan. Dia melirik waktu. Sudah pukul 3 dini hari.Beberapa hari ini, dia begitu tersiksa hingga tidak bisa tidur sama sekali. Dosis obat tidurnya pun sudah ditambah. Dia berjalan ke kamar utama, membuka botol obat, menelan dua pil, lalu baru naik ke ranjang.Pagi hari, Brielle mengantar putrinya ke sekolah. Setelah melihat Anya masuk ke halaman sekolah, dia mengemudi menuju laboratorium.Saat dia tiba, Raka belum datang. Smith berjalan mendekat dan berkata kepadanya, "Pak Raka pergi jenguk ibunya, sebentar lagi akan datang. Brielle, siapkan datanya. Setelah dia datang, kita akan sampaikan kabar baik

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1016

    Sejak saat itu, Devina menjalani kehidupan mewah yang selama ini dia impikan. Dia menikmati kemewahan yang dibangun oleh uang Raka, juga menikmati waktu singkat setiap setengah tahun, di mana dia bisa memiliki Raka.Dia masuk ke lingkaran Raka, mengenal teman-temannya, dan muncul di berbagai kesempatan dengan identitas sebagai pasangannya.Dia tahu, selama waktunya cukup lama, jarak antara Brielle dan Raka akan semakin besar. Dia akan memiliki kesempatan.Pada tahun ketika putri Raka lahir, Devina hampir melewati tahun itu dalam penderitaan. Namun, pada tahun yang sama, dia juga mengetahui sebuah kabar.Penyakit Meira memiliki kemungkinan bersifat genetik. Devina pun menjadi keberadaan yang lebih penting bagi Raka.Taruhannya menjadi lebih besar. Dia menerima kenyataan yang tidak bisa diubah dan terus menyesuaikan rencananya. Ketika Raka membawa putrinya ke luar negeri, dia memainkan peran sebagai seorang bibi dengan baik.Ketika Raka tidak berada di luar negeri, dia terus mendekati Me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1015

    Devina pernah diam-diam menjual darahnya beberapa kali, hanya untuk menukar sepasang sepatu yang enggan dibelikan ibunya. Namun tak disangka, karena hal itu dia malah dilirik oleh sebuah laboratorium, yang kemudian menawarkan harga sangat tinggi agar dia bersedia mendonorkan darah secara berkala.Tentu saja dia menolak. Dia tidak akan mempertaruhkan nyawanya sendiri.Setelah menolak tawaran donasi dengan bayaran tinggi dari Doktor Smith, dia berlari keluar dari kantor. Tanpa sengaja, dia menabrak seseorang. Saat dia menutup bagian tubuh yang sakit karena benturan itu dan mengangkat kepala, dia langsung terpaku.Dia bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya yang berdetak liar.Raka yang saat itu berusia 20 tahun, membantunya berdiri dengan sopan. Dengan suara rendah dan agak dingin, dia berkata, "Maaf."Setelah itu, dia berbalik dan masuk ke kantor di belakangnya.Saat Devina hendak pergi, dia tiba-tiba mendengar percakapan antara Raka dan Doktor Smith. Saat itulah dia mengetahui bah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 150

    Keesokan paginya, Brielle mengantar Anya ke rumah mertua. Meira memang sedang rindu pada cucunya."Ibu, tolong jaga Anya untuk beberapa hari ini," ujar Brielle.Meskipun pandangan Meira terhadap Brielle sudah agak berubah, dia tetap tidak menyukai sifat menantunya itu."Hari Jumat aku bakal ke luar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 119

    "Cherlina, lain kali jangan bertindak semaumu sendiri, paham?" Tatapan Faye mengarah tajam padanya, jelas menyalahkan Cherlina karena hari itu mendorongnya untuk naik ke ruang wawancara.Cherlina termangu sesaat. "Maaf, Faye. Aku ... aku nggak bermaksud begitu.""Kamu keluar saja, aku mau kerja," uc

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 162

    Brielle kemudian mengambil spidol fluoresen, lalu mulai memasuki inti presentasinya hari itu. Dia membalikkan badan, lalu menggunakan spidol penanda untuk menunjuk bagian yang dia jelaskan, tetapi tetap menjaga sikap sopan dengan sesekali menghadap audiens.Teori-teori ilmiah yang rumit, seakan menj

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 152

    Brielle sudah menduga Raka tidak akan menyetujui perceraian begitu saja, tetapi dia sudah mempersiapkan diri secara mental. Dia mengangkat tasnya sambil berkata, "Kalau begitu, kita bertemu di pengadilan saja."Setelah mengucapkan itu, dia hendak pergi.Raka ikut berdiri, maju beberapa langkah, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status