Masuk"Ya. Setelah makan, kita makan kue." Brielle tersenyum lembut."Vivian, kita harus menyisakan sedikit ruang untuk makan kue nanti," kata Anya dengan serius kepada Vivian.Para orang dewasa di meja pun tak bisa menahan tawa mendengarnya.Melihat suasana yang santai, Brielle diam-diam menghela napas lega. Tadinya dia sempat khawatir suasananya akan canggung."Mama, aku sudah kenyang," kata Anya sambil meletakkan sendoknya."Aku juga sudah kenyang."Kedua anak kecil itu hanya makan setengah piring nasi, lalu sudah mulai menantikan kue.....Berbanding terbalik dengan suasana makan malam di lantai atas, lantai bawah justru terasa sangat sepi.Raka berdiri di depan jendela besar. Wiski di tangannya sudah berkurang setengah. Dia mendongak dan menenggak habis minuman itu. Jakunnya bergerak naik turun, pandangannya tanpa sadar tertuju ke langit-langit.Saat itu, dari balkon lantai atas samar-samar terdengar tawa jernih seorang gadis kecil. Tatapannya seketika menjadi lembut.Dia tahu itu adala
Lambert menatap Niro dengan agak terkejut. "Pak Niro masih muda sekali lho!"Niro juga punya kesan tentang Lambert. "Aku sudah lama mendengar nama Pak Lambert. Katanya Pak Lambert meraih banyak prestasi di industri pelayaran."Lambert tersenyum tipis. "Kamu terlalu memuji. Justru kamu, di usia semuda ini sudah menjabat sebagai mayor jenderal, benar-benar membuatku kagum."Kedua pria itu pun saling berbasa-basi. Melihat Lastri harus memasak untuk begitu banyak orang sendirian, Brielle pun berdiri dan berkata, "Kalian ngobrol saja dulu, aku ke dapur bantu sebentar.""Pergilah. Kami bisa mengurus diri sendiri kok," ujar Niro sambil tersenyum tipis.Lambert menyipitkan mata sambil tersenyum. "Sudah akrab begini, nggak perlu sungkan."Setelah Brielle masuk ke dapur, kedua pria itu terdiam sejenak. Lambert lebih dulu membuka pembicaraan. "Pak Niro sudah lama mengenal Brielle?"Niro tersenyum samar. "Sekitar satu setengah tahun. Kalau Pak Lambert?"Sorot mata Lambert sedikit berubah. "Aku dan
Raka membawa hadiah itu dan duduk di sofa. Jemarinya yang panjang tanpa sadar mengusap tepi kotak hadiah.Beberapa detik kemudian, dia mengangkat tangan melihat waktu di jam tangannya, lalu berdiri dan melangkah keluar.Raka tidak naik lift, melainkan berjalan melalui tangga. Namun, baru saja dia mendorong pintu ruang tangga, dia mendengar suara seorang gadis kecil."Paman, kita benar-benar boleh menemani Bibi Brielle merayakan ulang tahunnya?" Suara Vivian terdengar penuh harap."Mm! Dia pasti akan menyambut kita," jawab Lambert dengan suara lembut disertai senyuman.Langkah Raka terhenti. Dia refleks mundur selangkah, bersembunyi di bayangan sudut dekat lift.Lambert menekan bel pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan terdengar suara Lastri. "Nyonya, Tuan Lambert dan Vivian sudah datang."Sesaat kemudian, terdengar suara Brielle yang agak terkejut. "Lambert, kenapa kalian datang?""Vivian bilang ingin bermain dengan Anya, jadi aku membawanya ke sini. Sekalian ... kasih hadiah unt
Brielle berbalik menghadap Cherlina dan berkata, "Mahal atau tidaknya hadiah nggak pernah diukur dari nilainya, melainkan dari ketulusan. Di hatiku, ketulusanmu itu tak ternilai."Cherlina juga berterima kasih atas perhatian dan bimbingan Brielle selama ini, sekaligus sebagai permintaan maaf atas kesalahannya di masa lalu."Mm." Cherlina langsung merasa terhibur. Ucapan Faye pun tak lagi mengusiknya.Wajah Faye menegang, lalu dia berbalik dan pergi. Setelah kembali ke kantor, dia mengirim pesan kepada Devina untuk mengingatkannya.[ Hari ini ulang tahun Brielle. Jaga Pak Raka baik-baik. Jangan sampai dia pergi menemani Brielle merayakan ulang tahunnya. ]Bagaimanapun juga, mereka memiliki seorang putri. Selama anak itu menelepon, Raka pasti akan datang.Setelah waktu yang cukup lama, Devina baru membalas dengan dua kata.[ Aku tahu. ]Pukul 4.30 sore, Brielle pulang kerja. Dia terlebih dahulu pergi ke toko kue, mengambil kue pesanannya, lalu menuju sekolah untuk menjemput putrinya.Beg
Di depan konter sebuah toko perhiasan mewah di pusat kota, tampak sesosok pria berpakaian kasual sedang membungkuk memilih sesuatu.Sejak dia masuk, seluruh pramuniaga di toko itu langsung terpikat oleh auranya. Bukan hanya tampan, posturnya juga tegap, dengan kesan gagah dan maskulin yang terbentuk secara alami."Ganteng banget! Benar-benar kualitas premium," bisik salah satu pramuniaga."Jangan-jangan dia aktor?""Sepertinya bukan. Dia malah jauh lebih tampan dari aktor papan atas."Niro seolah-olah tak menyadari pandangan yang tertuju padanya. Dia hanya fokus memilih perhiasan. Di wajahnya terpancar aura bangsawan yang seolah-olah sudah ada sejak lahir.Niro menyadari bahwa Brielle selama ini hampir selalu memakai jam tangan di pergelangan tangannya dan jarang sekali memakai kalung. Karena itu, hadiah yang ingin dia berikan kali ini haruslah sesuatu yang bisa dipakai sehari-hari.Bros? Anting?Akhirnya, Niro berhenti di konter anting. Jari-jarinya yang panjang mengetuk ringan permuk
Setelah bermain sekitar sepuluh menit, Anya keluar dan mendapati ayahnya sudah pergi. Dia merasa agak kecewa, tetapi tidak menangis atau membuat keributan.Brielle kembali ke ruang kerja. Ponsel di sampingnya berbunyi. Dia mengambilnya dan melihat nomor tak dikenal.Dia mengangkat telepon. "Halo, siapa ini?"Dari seberang terdengar suara perempuan yang ramah. "Halo! Apa ini Profesor Brielle? Aku Hannah, asisten Bu Agnes. Profesor Brielle masih ingat aku?"Brielle langsung teringat gadis yang tubuhnya agak berisi itu. Dia tersenyum. "Ingat. Bu Agnes mencariku?""Begini, Bu Agnes akan mengadakan sebuah acara pertunjukan amal penggalangan dana pada hari Sabtu minggu ini, terutama untuk mengumpulkan dana bagi pasien leukemia," jelas Hannah dengan antusias. "Bu Agnes mengatakan bahwa penelitian Profesor Brielle di bidang ini sangat menonjol, jadi berharap dapat mengundang Profesor Brielle sebagai tamu kehormatan untuk hadir.""Jam berapa acaranya?" tanya Brielle."Sabtu ini pukul 7 malam, d







