LOGINSaat hendak pergi, Devina juga sempat memotret rumah sakit serta sosok Lambert saat naik ke mobil. Setelah duduk di dalam mobil, dia kembali mengambil selfie di dalam mobil.Lambert tahu tempat tinggal Devina. Bagaimanapun, dulu dia dan Raka juga pernah tinggal di kawasan vila yang sama. Dua puluh menit kemudian, mobil Lambert berhenti di depan vila Devina.Lambert turun dari mobil dan membuka pintu, lalu memberi isyarat agar Devina turun dengan sikap diam dan dingin. Setelah turun sambil berpegangan pada pintu mobil, tatapan Devina kembali memancarkan godaan. "Lambert, mau masuk sebentar?""Nggak perlu," tolak Lambert dengan tegas.Melihat sosoknya yang hendak kembali ke mobil, Devina tiba-tiba berkata, "Lambert, gimana kalau aku bilang aku menyukaimu?"Lambert berbalik menatapnya. Meski mata Devina dipenuhi perasaan, itu sama sekali tidak menggoyahkan dirinya. Tatapannya hanya dingin, seolah melihat semuanya dengan jelas."Aku benar-benar pernah menyukaimu. Hanya saja dulu kamu menol
Lambert membuka pintu mobil dan masuk. Devina langsung mengetuk pintu mobilnya, "Lambert, biarkan aku selesaikan kata-kataku. Kalau nggak, kamu jangan harap bisa pergi ...."Lambert menyalakan mobil. Saat dia hendak memutar arah, tiba-tiba terdengar teriakan kesakitan dari luar, "Ah!"Lambert langsung menginjak rem. Meski dia tidak melihat bagian depan mobilnya menyentuh Devina, dia tetap harus turun untuk memastikan.Benar saja, dia melihat Devina memegangi perutnya sambil jatuh terduduk di tanah. Beberapa pelayan restoran yang tidak tahu situasinya segera berlari mendekat, "Nona, kamu nggak apa-apa?"Lambert memandang Devina yang terduduk di tanah, mengernyit lalu bertanya, "Kamu nggak apa-apa?"Devina mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata karena sakit, "Nggak apa-apa, kamu nggak perlu peduli sama aku.""Pak, sepertinya dia tertabrak. Apakah Anda mau mengantarnya ke rumah sakit untuk diperiksa?" tanya seorang pelayan wanita.Lambert membuka pintu kursi belakang mobil, lalu berka
Fernandes tampak sedikit kecewa. Saat dia hendak mencari alasan untuk kembali mendekati Devina, tiba-tiba pintu sebuah ruang privat terbuka. Devina melihat sosok yang tidak asing keluar dari dalam. Orang itu adalah Lambert.Sepertinya Lambert juga baru selesai dari jamuan. Di sampingnya ada beberapa rekan bisnis. Jantung Devina langsung berdebar. Dibandingkan Fernandes yang berusia lebih dari 40 dan sudah agak berisi, Lambert tampak tampan dan berpostur tegap di bawah cahaya lampu.Lambert melihat Devina, lalu langkahnya terhenti. Dia melirik Devina dengan dingin, lalu sekilas melihat Fernandes di sampingnya. Seketika, Lambert langsung memahami situasinya.Tatapan singkat Lambert itu membuat wajah Devina langsung memerah karena malu. Dia menggigit bibirnya, lalu menyapa, "Lambert, kebetulan sekali."Fernandes di sampingnya juga tidak berani bersikap sembarangan dan segera menyapa, "Pak Lambert, kebetulan sekali." Lalu dia memandang Devina dengan heran, "Bu Devina kenal dengan Pak Lambe
Di jamuan makan pukul sembilan, Devina sedang berada di acara makan malam ayahnya. Meski saat datang dia sangat enggan, demi menjaga klien besar perusahaan ayahnya, dia terpaksa memainkan perannya dengan baik."Pak Declan, Anda benar-benar beruntung! Kudengar dua putri Anda sama-sama cantik luar biasa. Hari ini setelah ketemu Bu Devina, ternyata pujian itu memang benar, ya!" puji seorang pria setingkat manajer.Saat itu, seorang pria paruh baya berusia sekitar 40 tahun yang duduk di sisi Devina mengangkat gelasnya, "Pak Hiro benar. Bu Devina bukan hanya cantik, tapi juga pianis internasional, kemampuannya juga sangat hebat. Aku sangat mengaguminya."Devina tersenyum tipis, lalu mengangkat gelas dan menyentuh gelas pria di sampingnya dengan ringan, "Pak Fernandes terlalu memuji."Declan juga tersenyum sambil mengangkat gelas, "Pak Fernandes, kali ini aku bersulang untukmu."Fernandes masih berusia sekitar 40 tahun, tubuhnya sedikit berisi karena sering menghadiri jamuan. Namun sebagai p
Suasana di seberang sana hening beberapa detik. Kemudian, nada suara Declan sedikit melunak. "Ayah tahu kamu punya kesulitan sendiri, tapi kondisi perusahaan kita sekarang kamu juga tahu .... Anggap saja Ayah memohon padamu. Tolong minta bantuan Raka ya.""Ayah, daripada bergantung pada orang lain, lebih baik kita cari jalan sendiri.""Begini, malam ini Ayah ada jamuan makan, kamu datang saja. Nanti Ayah kenalin kamu dengan bos perusahaan Brilliant. Dia juga sangat menghargai bakatmu," kata Declan tiba-tiba.Devina merasa tidak suka. "Ayah tahu aku nggak suka acara seperti itu.""Devina, dengarkan Ayah, anggap saja hargai Ayah. Datang makan malam saja." Nada Declan tidak memberi ruang untuk dibantah. "Lagi pula, kamu juga hadir sebagai perwakilan pemegang saham perusahaan."Devina menggenggam ponselnya. Jika perusahaan ini tidak ada hubungannya dengannya, dia memang malas menghadapi semua ini. Namun, sekarang dia adalah pemegang saham, memang tidak bisa tidak peduli."Baiklah. Kirim al
"Benar-benar nggak ada cara lain?" tanya Devina dengan tidak rela."Kecuali kamu bisa membuktikan Pak Raka melakukan penipuan. Tentu saja, itu sangat sulit."Devina merapikan rambut panjang di dahinya dengan pusing. Raka memang kejam. Apakah dia benar-benar berniat mengikatnya seumur hidup?Atau ini balasannya atas semua hal berlebihan yang pernah dia lakukan? Apakah Raka membencinya karena telah menghancurkan pernikahannya dengan Brielle?Kebencian yang kuat muncul di mata Devina. Ternyata, semua sikap beraninya di depan Raka selama ini, semuanya ada harganya.Meskipun sudah menemukan cara lain untuk menyelamatkan ibunya, Raka tetap tidak membiarkannya bebas.Devina mengakui, dulu memang dia sering bertindak terlalu jauh. Dia keras kepala, bertindak semaunya, terus-menerus menantang batas kesabaran Raka.Devina teringat bagaimana dulu dia dengan bangga memamerkan segalanya di depan Brielle, bagaimana dia sengaja menciptakan kedekatan ambigu dengan Raka, bahkan pada jamuan malam Tahun
"Nek, nggak usah. Aku ....""Raka, kamu dengar nggak?" Emily langsung memerintahkan cucunya."Dengar," jawab Raka yang sedang menemani Anya.Emily pun terlihat puas dengan jawaban itu. Dia berpaling ke Brielle dan berkata, "Kalau dia nggak mau belikan, biar Nenek yang belikan untukmu."Brielle terma
Syahira khawatir akan menyakiti perasaan Brielle, jadi dia cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan. Namun, Brielle sangat tenang. Kini, baginya semua hal terasa ringan dan tak berarti lagi.Setelah makan malam selesai, Syahira mengantar Brielle pulang. Di perjalanan, Syahira menghibur,"Brielle, j
Raka selesai mandi.Di bawah cahaya lampu, bagian atas jubah mandinya yang terbuka memperlihatkan tulang selangka yang tegas dan sebagian otot dadanya. Dalam hal kebugaran tubuh, Raka memang tidak pernah bermalas-malasan."Mandi sana." Raka mengingatkannya dengan nada datar.Brielle membalas tanpa m
Faye sebenarnya tidak pernah berniat mencuri hasil kerja Brielle, tetapi dia tahu begitu dia mengungkapkan kebenaran, orang tuanya pasti akan kecewa padanya. Namun ....Sejak kecil, Faye selalu diperlakukan sebelah mata oleh keluarganya karena dia bukan anak laki-laki. Ayahnya pun sering bersikap di







