بيت / Romansa / Bukan Pasangan Pilihan / 003. Sentuhan dan Tatapan

مشاركة

003. Sentuhan dan Tatapan

مؤلف: Renko
last update آخر تحديث: 2025-12-07 11:42:57

    Dasha akhirnya tiba di depan toko kue itu. Aroma gula karamel bercampur wangi kopi tercium dari deretan kafe di sepanjang trotoar. Di jendela toko, pantulan cahaya jingga membuat deretan kue tampak seperti rangkaian permata.

    Suasananya ramai tapi hangat Sabtu sore itu. Beberapa anak keluar sambil menenteng kotak cake ulang tahun, sementara pasangan muda memilih pastry sambil berdiskusi soal topping favorit.

    Dasha menarik napas pendek, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan, lalu masuk ke toko kue.

    Dengan langkah ragu tapi mantap, dia memesan satu slice red velvet dan segelas lemon tea, lalu memilih kursi kosong di sudut. Tempat itu jauh dari keramaian, cukup dekat dengan jendela.

    Dia menyalakan ponsel. Jemarinya mengetik 'Kent' tanpa berpikir panjang. Nama itu muncul, tapi dia hanya menatapnya. Dia merasa terlalu tak profesional jika menghubunginya sekarang, mengingat Kent mungkin sedang jungkir-balik di dapur.

    Jadi dia menunggu saja.

    Namun begitu akan pura-pura sibuk dengan ponselnya, suara langkah cepat terdengar mendekat. Dasha refleks mengangkat wajah.

    Dan di sana, Kent. Masih mengenakan apron hitam berhiaskan debu tepung, kemeja putih yang sudah sedikit kusut, dan bau manis mentega yang masih menempel di lengannya.

    “Aku melihat orderan atas namamu di dapur,” ucapnya, masih tampak tak percaya. “Awalnya kupikir itu Dasha yang lain.” Dia menghela napas pendek. “Tapi ternyata kau sungguh di sini.”

    Dasha tersenyum. “Jadi ini seragammu ketika bekerja?” tanyanya dengan nada menggoda.

    “Ya,” jawab Kent, meraih kursi di depannya seolah siap duduk.

    “Kau tak perlu menemaniku.”

    Gerakan Kent langsung terhenti. Keningnya berkerut. “Kenapa?”

    “Kau kerja saja seperti biasa. Aku akan jadi pelanggan yang baik hari ini sampai shift-mu selesai.” Dasha melambaikan tangannya. “Cepat kembali ke dapur sebelum bosmu memarahimu.”

    Kent tampak bingung. “Tapi aku—”

    “Tak usah merasa tak enak," potong Dasha, membuka ritsleting tas dan mengeluarkan sebuah buku tebal. “Kau tenang saja, jangan pikirkan aku.” Buku itu dia letakkan di meja. “Aku punya hiburan mandiri.”

    Kent menurunkan pundak, nyaris menyerah. “Akan aku selesaikan cepat. Jangan ke mana-mana.”

    Dasha memberi hormat kecil dengan gaya formal. “Baik, Chef.”

    Kent hanya bisa menggeleng sambil berjalan mundur, seolah takut membelakangi Dasha terlalu lama. Begitu dia berbalik menuju dapur, ritme kerjanya mendadak naik satu level, dan senyumnya tak hilang sejak melihat Dasha duduk di luar.

    Sementara Dasha menyelesaikan beberapa halaman buku, menyeruput minumannya perlahan. Sesekali dia mengangkat wajah, melihat ke sekitar, lalu kembali ke bacaan.

    Dua jam berlalu tanpa terasa. Pesanan mulai mereda, mesin-mesin dapur diturunkan intensitasnya, dan ritme kerja kembali normal. Kent melepas sarung tangannya, menarik napas lega.

    Ketika pintu dapur berayun terbuka, Kent keluar bersama dua pegawai lain.

    “Akhirnya selesai juga,” keluh Julian sambil meregangkan punggung.

    “Kalian hebat hari ini," ucap Kent.

    "Kami pulang dulu. Sampai besok, Chef!" ucap Mara, memanggul tasnya.

    Julian melambaikan tangan. “Sampai jumpa di peperangan besok, Chef."

    Mereka berdua pergi sambil tertawa, meninggalkan Kent berdiri di lorong itu dengan senyum kecil.

    Dan langkahnya otomatis bergerak ke arah tempat duduk di sudut kafe, tempat seseorang masih menunggunya.

    “Maaf membuatmu menunggu lama,” katanya sambil mendekat dan duduk di depan Dasha.

    Dasha menutup bukunya. “Tak masalah."

    “Tetap saja, aku merasa bersalah. Kau duduk di sini sendirian cukup lama.”

    “Aku baik-baik saja,” balas Dasha. "Lagi pula, tempat ini nyaman.”

    Perhatian Kent teralih ketika staf front counter melambaikan tangan singkat saat hendak pulang. Mereka hanya saling bertukar senyum sopan dengan Kent sebelum melewati pintu kaca, meninggalkan keheningan hangat di toko kue yang mulai kosong.

    Begitu pintu tertutup, Kent kembali menatap Dasha. “Aku akan menutup tokonya sebentar.”

    Dasha hanya mengangguk, tak berkata apa-apa, tapi matanya mengikuti setiap gerak Kent. Cara pria itu menurunkan tirai, membalikkan papan bertuliskan 'Closed', kemudian mengunci pintu dengan gerakan halus yang seolah sudah ribuan kali dia lakukan.

    Dasha tetap duduk, memperhatikan punggungnya yang menjauh dan kembali. Ada sesuatu yang anehnya menenangkan, sekaligus memicu degupan kecil di dadanya, dan ... perutnya bergemuruh keras, suara yang terlalu lantang untuk kesunyian seperti ini.

    Dasha memejamkan mata sepersekian detik. Tidak. Tidak sekarang. Tidak di hadapan Kent.

    Namun perutnya jelas punya agenda sendiri, sebuah agenda yang sangat tak romantis.

    Kent berhenti sejenak. Alisnya terangkat samar, ekspresi menahan tawa sudah terlihat meski dia berusaha profesional.

    Dasha mengencangkan senyumnya, pura-pura santai padahal wajahnya panas. “Itu … suara kendaraan."

    Kent akhirnya tertawa kecil. “Kelihatannya seseorang butuh sesuatu dari dapur.”

    Kent melangkah mendekat, lalu tanpa banyak bicara, dia meraih tangan Dasha. “Ikut aku,” katanya.

    Dasha hanya sempat menarik napas pendek sebelum tubuhnya sudah dituntun bangkit.

    Di dapur, Kent langsung bekerja. Dia membuka kulkas, mengambil bahan, lalu menyiapkan cutting board. Gerakannya yang memotong bahan itu begitu presisi, membuat Dasha terpana.

    “Menggunakan dapur toko untuk hal pribadi … tak masalah?” tanya Dasha khawatir.

    Kent melirik singkat. "Ini hanya versi kecil dari rasa terima kasihku dan juga permintaan maafku karena membuatmu menunggu lama."

    “Kau tak perlu sampai begitu. Kita makan di luar saja. Kau sudah seharian di dapur, pasti lelah.”

    Kent tersenyum tipis tanpa menoleh, tangan tetap bergerak. “Lelahnya hilang kalau untukmu."

    Degup Dasha naik setengah tingkat.

    Dan Kent?

    Ya, pria itu sedang memasak sambil pura-pura tak tahu efeknya.

    Akhirnya Dasha menyerah. Dia bersandar di meja stainless steel, dan hanya menonton Kent bekerja. Ada sesuatu yang menenangkan sekaligus memikat saat melihat pria itu bergerak.

    Tak lama kemudian, seporsi mie zucchini dengan dada ayam tersaji di hadapannya. Uap tipis naik ke udara, membawa aroma bawang putih dan rempah yang membuat Dasha perlahan menelan ludah.

    “Oh … selain kue, kau bisa masak begini juga?” tanyanya kagum, meski mencoba tetap terdengar kritis.

    “Kau coba dulu. Aku sendiri tak yakin.”

    Dasha mengangkat alis. “Aku tak percaya.”

    Dasha mencoba satu suapan, dan langsung membeku.

    “Kau berkata jujur, huh?” katanya, menahan geli. “Ini … hanya kurang garam sedikit."

    “Kau tak harus habiskan itu,” ujar Kent.

    “Aku akan habiskan. Kau masak untukku.”

    Sebelum Dasha sempat mengambil suapan berikutnya, tubuhnya terangkat ringan. Kent menempatkan kedua tangannya di pinggang Dasha dengan lembut, mengangkatnya dan menaruhnya di atas meja stainless steel.

    Dasha terpaku, garpu masih teracung seperti antena di tangannya, matanya membulat menatap Kent.

    “Kita tak punya kursi di sini,” kata Kent dengan sikap tenang.

    Kedua tangan Kent terpasang di sisi tubuhnya. Wajah Kent hanya beberapa inci darinya. Cukup dekat hingga dia bisa merasakan embusan napasnya yang hangat dan stabil.

    Kent tampak sadar akan jarak itu, tapi tak menjauh. Tatapan mereka bertemu, tertahan di udara. Satu detik. Dua. Terlalu lama untuk disebut sebagai tatapan biasa. Terlalu dekat untuk tak menyalakan sesuatu di dada Dasha.

    Dasha merasakan tenggorokannya mengering. Pandangannya tanpa sadar turun ke bibir Kent, lalu naik ke matanya, seperti menunggu dia melakukan sesuatu yang bahkan belum berani dia pikirkan keras-keras.

    Pikiran Dasha berputar cepat.

    Bagaimana kalau aku ...

    Bagaimana kalau dia ... dan aku.

    Apa yang akan terjadi kalau aku condong sedikit saja?

    “Kau menginginkannya?” Kent akhirnya berbicara.

    “Iya,” jawab Dasha, terlalu cepat, terlalu jujur.

    Kent mengangkat alis sedikit, sesuatu yang mirip senyum menyentuh sudut bibirnya. “Kalau begitu, aku takkan melarangmu. Kau bisa menghabiskannya.”

    “… Menghabiskannya?” ulang Dasha, masih terpaku pada bibir itu. Kata-kata Kent masuk setengah detik terlambat ke otaknya yang sibuk membayangkan hal lain.

    Kent menarik diri, memberi jarak, lalu menyilangkan tangan di dada seperti tak terjadi apa-apa. “Makanannya, Dasha. Kau masih ingin menghabiskannya?”

    Dasha tersentak keluar dari lamunannya. “Huh? Makanan?” Tatapannya merosot ke piring di sampingnya, seolah baru sadar benda itu ada sejak tadi.

    Dengan gerakan gugup, dia menggeser piring itu mendekat. “Te-tentu saja, aku akan menghabiskannya,” katanya cepat, pipinya memanas, sambil berharap Kent tak bisa membaca isi kepalanya barusan.

    Kent menahan tawa, jelas menikmati situasinya lebih dari yang seharusnya.

    Dasha mulai makan terburu-buru, suapan demi suapan hampir menumpuk di mulutnya.

    “Makanlah perlahan, kau bisa tersedak,” Kent memperingatkan, matanya menatap penuh kekhawatiran.

    Dasha mengunyah susah payah. “Aku harus cepat … agar kita bisa keluar dari sini.”

    “Kenapa begitu?” Kent mengerutkan dahi, penasaran.

    “Aku tak ingin bosmu memarahimu karena memakai dapur sembarangan,” jawab Dasha sambil menelan paksa.

    Kent menatapnya bingung, lalu mengalihkan berat badan ke satu kaki. "Dasha, soal itu … bos toko kue ini adalah aku.”

    Dasha menatapnya, mulutnya masih penuh. “Apa?!”

    Dasha tersedak mendadak, dan tanpa menunggu lama Kent sigap mengambilkan minuman. Dia menepuk punggung Dasha pelan, mencoba menenangkan bukan hanya tenggorokannya, tapi juga kenyataan mengejutkan tentang pemilik toko kue.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bukan Pasangan Pilihan   008. Di Antara Dua Tatapan

    Ada banyak hal yang menggantung di benak Dasha saat tatapan mereka bertemu. Tentang bagaimana dia harus bersikap di hadapan pria yang membuatnya gelisah sejak pulang dari pantai. Tentang bagaimana dia harus menjelaskan pada Ellen bahwa pria yang dia ceritakan adalah Kent.Dan yang paling membuatnya kesal pada diri sendiri, bagaimana semua pertahanan yang susah payah dia bangun sejak pagi runtuh begitu saja hanya karena kehadiran sosok itu, tiba-tiba berdiri di depan klinik.“Bukankah …?” Ellen menyipitkan mata, menatap Kent dengan ragu, seperti sedang menarik paksa ingatannya. “Aku pernah melihatmu, ya?”Kent menatap mereka satu per satu. Senyum singkat terbit di wajahnya sebelum pandangannya berhenti pada Ellen. “Kenneth Ruize,” katanya tenang. “Kau ingat, kan, Ellen?”Mata Ellen melebar. Dia menepuk tangannya sendiri. “Oh! Benar! Ya, kau pria dari aplikasi kencan itu!”Vincent mengerutkan dahi, jelas kebingungan, tapi memilih diam. Matanya bergantian mengamati Ellen dan Kent, mencob

  • Bukan Pasangan Pilihan   007. Sore yang Tak Terduga

    Dasha mengentakkan jemarinya pelan di atas meja. Sekali. Dua kali. Ritmenya tak teratur, sejalan dengan pikirannya yang berlarian ke mana-mana. Fokusnya terus kembali pada tas di samping kursinya, pada ponsel yang sengaja dia silent. Ada dorongan kuat untuk meraihnya. Barangkali ada pesan dari Kent. Barangkali kali ini perasaannya keliru. Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Tak menunggu. Meski begitu, kejujuran terasa pahit. Beberapa kali sejak pagi dia sudah membuka ponsel itu dengan dalih mencari informasi, mengecek jadwal, apa saja, asal masuk akal. Hasilnya tetap sama, tak ada nama Kent di layar. Tak satu pun pesan. Entakan jemarinya berhenti. Dasha mengembuskan napas pendek, lalu tangannya mulai bergerak ke arah tas, menyerah pada dorongan yang makin sulit ditahan. Tepat sebelum jemarinya menyentuh ritsleting, suara pintu klinik terbuka. Dasha refleks mengangkat kepala. Vincent berdiri di ambang pintu, baru saja kembali. Entah kenapa gerakannya

  • Bukan Pasangan Pilihan   006. Tak Lagi Menunggu

    Mesin mobil berhenti di depan gedung apartemen Dasha. Kesunyian yang canggung seketika menggantung di udara. Kent menatap jalanan sepi, sementara Dasha menunduk, tangan masih tergenggam di paha. Ingatan tentang ciuman di pantai tiba-tiba menyeruak, detik-detik bibir mereka bersentuhan, hangatnya tangan Kent di pinggangnya, dan getaran jantung yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dasha menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, tapi kilas balik itu membuat wajahnya memanas lagi. Kent juga tak bisa lepas dari bayangan itu. Diam mereka terasa berat, penuh kata-kata yang belum terucap, pertanyaan yang tak berani diajukan, dan rasa penasaran yang terus berputar di antara mereka. Kent berdeham ringan, suara itu memecah keheningan. Dasha ikut bergerak, menyesuaikan posisi di kursi. “Kita … sudah sampai,” ujar Kent pelan, meski mereka sebenarnya sudah berada di depan apartemen Dasha lima belas menit yang lalu. Dasha menatap Kent sebentar, lalu cepat mengalihkan pan

  • Bukan Pasangan Pilihan   005. Tak Pernah Seperti Ini

    Senyum cerah tak lepas dari wajah Dasha. Hubungan mereka memang belum sejauh itu, tapi hari ini terasa seperti sebuah kencan, terlebih karena Kent setuju bertemu untuk urusan pribadi. “Bagaimana harimu di klinik?” tanyanya, nada santai tapi penuh perhatian. Dasha tersenyum kecil sebelum menjawab, “Cukup sibuk, tapi menyenangkan. Ada satu orang yang membuatku kesal hari ini ...” Dia menolehkan pandangan dari jendela dan tersenyum, "Tapi itu cerita sepele. Lupakan saja. Bagaimana denganmu?" Kent mengangkat alis, sedikit penasaran, tapi tak menekan. “Semua berjalan baik sejauh ini.” Suasana seketika hening, hanya suara kendaraan di luar yang terdengar, menambah kecanggungan di antara mereka. “Ngomong-ngomong,” Kent melirik ke kursi belakang lewat cermin tengah, “Apa yang kau bawa dalam keranjang itu?” Dasha segera menoleh ke belakang. “Ah, ya! Aku membawakan lauk untukmu. Bisa kau simpan di kulkas, lalu hangatkan ketika akan makan.” Tangannya menggenggam

  • Bukan Pasangan Pilihan   004. Bisikan Rasa

    Dasha terdiam kaku, seolah seluruh garis waktunya baru saja pecah. Dari awal pertemuan di bar sampai kepanikannya soal biaya Molly, semuanya tiba-tiba terasa konyol. “Kau … pemilik toko kue ini?” suaranya keluar lebih pelan dari yang dia inginkan. Kent mengangguk santai. “Ya. Termasuk gedungnya.” Kalimat itu seketika menjadi tombol reset di kepala Dasha. Suasana hangat yang tadi ada langsung berubah kikuk. Dia turun dari meja perlahan, setiap gerakan terasa seperti peluang mempermalukan dirinya lebih parah lagi. “A-aku jadi sangat malu,” ucap Dasha, menunduk. Kent memiringkan kepala. “Malu? Kenapa?” Dasha menarik napas panjang, mencoba merapikan pikirannya. “Aku mengira kau kesulitan biaya. Mengira kau cuma pegawai biasa, bahkan aku menahanmu supaya tak meladeni aku waktu jam kerja. Padahal bosnya … yah … kau sendiri.” Kent menganalisis sejenak, lalu tersenyum dan tertawa ringan. “Kau tak perlu malu. Itu juga salahku yang tak mengoreksi lebih cepat.”

  • Bukan Pasangan Pilihan   003. Sentuhan dan Tatapan

    Dasha akhirnya tiba di depan toko kue itu. Aroma gula karamel bercampur wangi kopi tercium dari deretan kafe di sepanjang trotoar. Di jendela toko, pantulan cahaya jingga membuat deretan kue tampak seperti rangkaian permata. Suasananya ramai tapi hangat Sabtu sore itu. Beberapa anak keluar sambil menenteng kotak cake ulang tahun, sementara pasangan muda memilih pastry sambil berdiskusi soal topping favorit. Dasha menarik napas pendek, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan, lalu masuk ke toko kue. Dengan langkah ragu tapi mantap, dia memesan satu slice red velvet dan segelas lemon tea, lalu memilih kursi kosong di sudut. Tempat itu jauh dari keramaian, cukup dekat dengan jendela. Dia menyalakan ponsel. Jemarinya mengetik 'Kent' tanpa berpikir panjang. Nama itu muncul, tapi dia hanya menatapnya. Dia merasa terlalu tak profesional jika menghubunginya sekarang, mengingat Kent mungkin sedang jungkir-balik di dapur. Jadi dia menunggu saja.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status