LOGINAda banyak hal yang menggantung di benak Dasha saat tatapan mereka bertemu. Tentang bagaimana dia harus bersikap di hadapan pria yang membuatnya gelisah sejak pulang dari pantai. Tentang bagaimana dia harus menjelaskan pada Ellen bahwa pria yang dia ceritakan adalah Kent.Dan yang paling membuatnya kesal pada diri sendiri, bagaimana semua pertahanan yang susah payah dia bangun sejak pagi runtuh begitu saja hanya karena kehadiran sosok itu, tiba-tiba berdiri di depan klinik.“Bukankah …?” Ellen menyipitkan mata, menatap Kent dengan ragu, seperti sedang menarik paksa ingatannya. “Aku pernah melihatmu, ya?”Kent menatap mereka satu per satu. Senyum singkat terbit di wajahnya sebelum pandangannya berhenti pada Ellen. “Kenneth Ruize,” katanya tenang. “Kau ingat, kan, Ellen?”Mata Ellen melebar. Dia menepuk tangannya sendiri. “Oh! Benar! Ya, kau pria dari aplikasi kencan itu!”Vincent mengerutkan dahi, jelas kebingungan, tapi memilih diam. Matanya bergantian mengamati Ellen dan Kent, mencob
Dasha mengentakkan jemarinya pelan di atas meja. Sekali. Dua kali. Ritmenya tak teratur, sejalan dengan pikirannya yang berlarian ke mana-mana. Fokusnya terus kembali pada tas di samping kursinya, pada ponsel yang sengaja dia silent. Ada dorongan kuat untuk meraihnya. Barangkali ada pesan dari Kent. Barangkali kali ini perasaannya keliru. Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Tak menunggu. Meski begitu, kejujuran terasa pahit. Beberapa kali sejak pagi dia sudah membuka ponsel itu dengan dalih mencari informasi, mengecek jadwal, apa saja, asal masuk akal. Hasilnya tetap sama, tak ada nama Kent di layar. Tak satu pun pesan. Entakan jemarinya berhenti. Dasha mengembuskan napas pendek, lalu tangannya mulai bergerak ke arah tas, menyerah pada dorongan yang makin sulit ditahan. Tepat sebelum jemarinya menyentuh ritsleting, suara pintu klinik terbuka. Dasha refleks mengangkat kepala. Vincent berdiri di ambang pintu, baru saja kembali. Entah kenapa gerakannya
Mesin mobil berhenti di depan gedung apartemen Dasha. Kesunyian yang canggung seketika menggantung di udara. Kent menatap jalanan sepi, sementara Dasha menunduk, tangan masih tergenggam di paha. Ingatan tentang ciuman di pantai tiba-tiba menyeruak, detik-detik bibir mereka bersentuhan, hangatnya tangan Kent di pinggangnya, dan getaran jantung yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dasha menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, tapi kilas balik itu membuat wajahnya memanas lagi. Kent juga tak bisa lepas dari bayangan itu. Diam mereka terasa berat, penuh kata-kata yang belum terucap, pertanyaan yang tak berani diajukan, dan rasa penasaran yang terus berputar di antara mereka. Kent berdeham ringan, suara itu memecah keheningan. Dasha ikut bergerak, menyesuaikan posisi di kursi. “Kita … sudah sampai,” ujar Kent pelan, meski mereka sebenarnya sudah berada di depan apartemen Dasha lima belas menit yang lalu. Dasha menatap Kent sebentar, lalu cepat mengalihkan pan
Senyum cerah tak lepas dari wajah Dasha. Hubungan mereka memang belum sejauh itu, tapi hari ini terasa seperti sebuah kencan, terlebih karena Kent setuju bertemu untuk urusan pribadi. “Bagaimana harimu di klinik?” tanyanya, nada santai tapi penuh perhatian. Dasha tersenyum kecil sebelum menjawab, “Cukup sibuk, tapi menyenangkan. Ada satu orang yang membuatku kesal hari ini ...” Dia menolehkan pandangan dari jendela dan tersenyum, "Tapi itu cerita sepele. Lupakan saja. Bagaimana denganmu?" Kent mengangkat alis, sedikit penasaran, tapi tak menekan. “Semua berjalan baik sejauh ini.” Suasana seketika hening, hanya suara kendaraan di luar yang terdengar, menambah kecanggungan di antara mereka. “Ngomong-ngomong,” Kent melirik ke kursi belakang lewat cermin tengah, “Apa yang kau bawa dalam keranjang itu?” Dasha segera menoleh ke belakang. “Ah, ya! Aku membawakan lauk untukmu. Bisa kau simpan di kulkas, lalu hangatkan ketika akan makan.” Tangannya menggenggam
Dasha terdiam kaku, seolah seluruh garis waktunya baru saja pecah. Dari awal pertemuan di bar sampai kepanikannya soal biaya Molly, semuanya tiba-tiba terasa konyol. “Kau … pemilik toko kue ini?” suaranya keluar lebih pelan dari yang dia inginkan. Kent mengangguk santai. “Ya. Termasuk gedungnya.” Kalimat itu seketika menjadi tombol reset di kepala Dasha. Suasana hangat yang tadi ada langsung berubah kikuk. Dia turun dari meja perlahan, setiap gerakan terasa seperti peluang mempermalukan dirinya lebih parah lagi. “A-aku jadi sangat malu,” ucap Dasha, menunduk. Kent memiringkan kepala. “Malu? Kenapa?” Dasha menarik napas panjang, mencoba merapikan pikirannya. “Aku mengira kau kesulitan biaya. Mengira kau cuma pegawai biasa, bahkan aku menahanmu supaya tak meladeni aku waktu jam kerja. Padahal bosnya … yah … kau sendiri.” Kent menganalisis sejenak, lalu tersenyum dan tertawa ringan. “Kau tak perlu malu. Itu juga salahku yang tak mengoreksi lebih cepat.”
Dasha akhirnya tiba di depan toko kue itu. Aroma gula karamel bercampur wangi kopi tercium dari deretan kafe di sepanjang trotoar. Di jendela toko, pantulan cahaya jingga membuat deretan kue tampak seperti rangkaian permata. Suasananya ramai tapi hangat Sabtu sore itu. Beberapa anak keluar sambil menenteng kotak cake ulang tahun, sementara pasangan muda memilih pastry sambil berdiskusi soal topping favorit. Dasha menarik napas pendek, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan, lalu masuk ke toko kue. Dengan langkah ragu tapi mantap, dia memesan satu slice red velvet dan segelas lemon tea, lalu memilih kursi kosong di sudut. Tempat itu jauh dari keramaian, cukup dekat dengan jendela. Dia menyalakan ponsel. Jemarinya mengetik 'Kent' tanpa berpikir panjang. Nama itu muncul, tapi dia hanya menatapnya. Dia merasa terlalu tak profesional jika menghubunginya sekarang, mengingat Kent mungkin sedang jungkir-balik di dapur. Jadi dia menunggu saja.







