LOGINMesin mobil berhenti di depan gedung apartemen Dasha. Kesunyian yang canggung seketika menggantung di udara.
Kent menatap jalanan sepi, sementara Dasha menunduk, tangan masih tergenggam di paha. Ingatan tentang ciuman di pantai tiba-tiba menyeruak, detik-detik bibir mereka bersentuhan, hangatnya tangan Kent di pinggangnya, dan getaran jantung yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dasha menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, tapi kilas balik itu membuat wajahnya memanas lagi. Kent juga tak bisa lepas dari bayangan itu. Diam mereka terasa berat, penuh kata-kata yang belum terucap, pertanyaan yang tak berani diajukan, dan rasa penasaran yang terus berputar di antara mereka. Kent berdeham ringan, suara itu memecah keheningan. Dasha ikut bergerak, menyesuaikan posisi di kursi. “Kita … sudah sampai,” ujar Kent pelan, meski mereka sebenarnya sudah berada di depan apartemen Dasha lima belas menit yang lalu. Dasha menatap Kent sebentar, lalu cepat mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Ya, aku kira begitu." Hening kembali menggantung di antara mereka. Mata mereka beberapa kali bertemu, canggung, lalu saling menjauh. Kent mengusap setir mobil, tampak bingung, tak tahu harus berkata apa. Akhirnya, Dasha meraih gagang pintu kabin. “Kalau begitu … aku pulang,” ucapnya, suaranya tenang tapi tetap menahan sesuatu yang ingin dia katakan. Kent mengangguk. “Hmm ....” Ketika suara klik pada pintu terdengar, Kent segera bersuara, “Dasha .…” Dasha menoleh cepat, matanya menatap Kent, jelas penuh harap, menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. “Terima kasih untuk hari ini,” ucap Kent akhirnya. Dasha tersenyum kikuk, menunduk sebentar. Di balik senyumnya ada keinginan tak tersampaikan untuk mendengar lebih, penjelasan apa pun yang bisa memberinya sedikit kejelasan tentang hubungan mereka. Dasha menarik napas dalam-dalam, menatap Kent dengan penuh tekad meski hatinya masih berdebar. “Boleh aku bertanya sesuatu?” Kent mengangkat alis. “Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan?” Dasha mengumpulkan keberanian, meraba kata-kata yang ingin dia ucapkan. "Setelah apa yang terjadi di pantai ... aku penasaran, kita ini sebenarnya apa?" Kent menahan napas sejenak, matanya tetap menatapnya. “Aku ... belum bisa menjawab itu sekarang.” Dasha merasakan pedih di dadanya, tapi dia tahu tak ada gunanya menekan pertanyaan lebih jauh. “Begitu ya,” ucap Dasha dengan senyum tipis. Dasha membuka pintu mobil perlahan, napasnya masih sedikit berat. Dia menuruni mobil, sambil menahan diri untuk tak menoleh. Suara mobil itu kian menjauh di belakangnya, dan justru di situlah dadanya terasa menegang. Pertanyaan yang sama menabrak pikirannya tanpa henti, kenapa Kent tak bisa menjawabnya? Setelah semua kata yang diucapkan di pantai, setelah cara tatapannya dan sentuhan yang terasa begitu nyata … apa semua itu hanya momen indah yang lahir dari suasana, lalu mati begitu saja ketika hari berakhir? Dasha berhenti melangkah. Untuk sesaat, dia membenci ketenangan malam yang memberi ruang bagi pikirannya sendiri. Karena makin sunyi, makin jelas satu hal yang tak ingin dia akui—dia sudah berharap lebih, dan kini harapan itu menggantung tanpa kepastian. *** Dasha membaringkan kepala di atas meja, tubuhnya terasa berat, seperti ayam yang akan mati besok. Ingatan tentang kejadian kemarin terus mondar-mandir di pikirannya, memutar ulang detik-detik ciuman di pantai, kata-kata Kent. Dia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri dari campuran lelah, penasaran, dan sedikit sakit hati yang tak kunjung reda. Suara sepatu Ellen terdengar memenuhi ruangan, diikuti suara kursi yang ditarik, lalu dia duduk di dekat Dasha. “Ini waktu yang tepat untuk mengobrol. Vincent tak di klinik sekarang,” ucap Ellen tergesa-gesa, matanya bersinar penuh rasa penasaran. “Ayo ceritakan padaku, ke mana kau pergi waktu itu? Kencan buta? Atau malam yang panas?” Dasha menatap Ellen dengan tajam, menegakkan tubuhnya sambil menarik napas. “Kau pikir ini kisah novel?” Lalu dia menghela napas panjang, bersandar malas di kursi. “Oh, aku membenci ini. Dia seharusnya mengatakan dengan jelas,” gumamnya. Ellen mencondongkan tubuh. "Siapa? Apanya?" Dasha menatapnya dengan penuh kebimbangan. Dia tahu, percakapan ini akan panjang, dan tentu saja, tak mudah memberi tahu segalanya. “Kau tahu ...” Dasha sedikit mendekat, menatap sekeliling seolah memastikan keadaan aman sebelum lanjut bicara, “Aku baru saja bertemu seorang pria, dan … kami berkencan.” Ellen terkejut. “Benarkah?! Siapa orangnya?” Suaranya yang begitu keras membuat Dasha segera menutup mulut Ellen dengan tangannya. “Ssttt, aku tak ingin ada orang lain tahu.” Pandangannya meluncur ke sudut ruangan, ke arah kamera pengawas, sebelum kembali ke Ellen. Ellen langsung mengerti. Dia mengangguk, menunduk sedikit, lalu berbisik, “Lalu …?” Dasha menatap Ellen sesaat, menimbang seberapa banyak yang bisa dia percayakan. Dia menghela napas, lalu melanjutkan, “Kami … berciuman.” Mendengar itu, Ellen segera berdiri, kursi bergeser keras hingga berdecit, siap berteriak, tapi Dasha dengan sigap menahannya dan menariknya duduk kembali. “Sudah kubilang ini rahasia!” tegas Dasha, mata menatap serius. “Aku takkan begini kalau beritanya tak membuatku shock,” bisik Ellen, keningnya berkerut. “Sekarang lanjutkan, jangan biarkan cerita ini menggantung. Apa kalian memutuskan berpacaran?” Rasa penasaran membuatnya tak bisa menahan diri. Bahu Dasha turun dengan malas, napasnya berat. “Aku bahkan tak tahu hubungan kami apa.” “Apa maksudmu? Kalian berciuman, seharusnya sudah resmi.” “Aku yakin tidak. Dia bahkan tak bisa menjawab saat aku bertanya tentang status kami.” “Apa-apaan? Dia pikir bibirmu itu tembok yang tak sengaja tersentuh olehnya?” Ellen menatapnya dengan mata melebar, separuh kesal, separuh geli. Dasha menghela napas panjang, menatap meja di depannya. “Menurutmu aku harus bagaimana?” “Apa setelah itu kau menghubunginya?” Dasha menggeleng pelan. “Belum. Aku … tak tahu harus bersikap bagaimana, atau bagaimana menempatkan diriku di hadapannya.” Ellen menepuk tangan Dasha ringan. “Bagus. Jangan pernah menghubunginya lebih dulu. Biarkan dia merasa kosong karena ketidakhadiranmu. Jika dia benar-benar menyukaimu, dia akan mencari cara untuk menghampirimu.” Dasha menatap Ellen dengan tajam, alis terangkat. “Kau menasihatiku di saat kau terus lengket dengan pacarmu, bahkan saat dia sepertinya tak peduli padamu?” Ellen mengangkat bahu santai. “Bani hanya sedang sibuk. Tapi sejak aku ketahuan akan berkencan dengan pria dari aplikasi kencan itu, dia jadi lebih perhatian padaku. Sepertinya caraku berhasil membuatnya cemburu.” “Kau melibatkan orang lain dalam hubungan kalian, apa kau tak merasa bersalah?” Ellen terkekeh ringan. “Ah, tentu saja. Aku sudah meminta maaf padanya lewat pesan, dan dia bilang tak masalah." “Kau berkirim pesan dengannya? Apa saja yang kalian bicarakan?” “Tak banyak, hanya basa-basi sebelum percakapan berakhir,” jawab Ellen santai. “Apa Kent mengatakan sesuatu tentangku?” Dasha bertanya, berusaha menggali informasi. “Tidak. Kenapa? Apa dia harus mengatakan sesuatu tentangmu?” Dasha tergagap sebentar, mencoba menepis pikiran yang mulai muncul. Memang tak ada alasan bagi Kent untuk membicarakannya pada Ellen, tapi entah kenapa hatinya tetap terasa berat. Perasaan itu, rasa kurang penting, menggerogoti sebentar kepercayaan dirinya. Dasha menghela napas pelan. Baiklah. Kali ini, dia berjanji pada dirinya sendiri, tak peduli sesakit apa pun, dia takkan menjadi orang yang menunggu tanpa kepastian lagi.Ada banyak hal yang menggantung di benak Dasha saat tatapan mereka bertemu. Tentang bagaimana dia harus bersikap di hadapan pria yang membuatnya gelisah sejak pulang dari pantai. Tentang bagaimana dia harus menjelaskan pada Ellen bahwa pria yang dia ceritakan adalah Kent.Dan yang paling membuatnya kesal pada diri sendiri, bagaimana semua pertahanan yang susah payah dia bangun sejak pagi runtuh begitu saja hanya karena kehadiran sosok itu, tiba-tiba berdiri di depan klinik.“Bukankah …?” Ellen menyipitkan mata, menatap Kent dengan ragu, seperti sedang menarik paksa ingatannya. “Aku pernah melihatmu, ya?”Kent menatap mereka satu per satu. Senyum singkat terbit di wajahnya sebelum pandangannya berhenti pada Ellen. “Kenneth Ruize,” katanya tenang. “Kau ingat, kan, Ellen?”Mata Ellen melebar. Dia menepuk tangannya sendiri. “Oh! Benar! Ya, kau pria dari aplikasi kencan itu!”Vincent mengerutkan dahi, jelas kebingungan, tapi memilih diam. Matanya bergantian mengamati Ellen dan Kent, mencob
Dasha mengentakkan jemarinya pelan di atas meja. Sekali. Dua kali. Ritmenya tak teratur, sejalan dengan pikirannya yang berlarian ke mana-mana. Fokusnya terus kembali pada tas di samping kursinya, pada ponsel yang sengaja dia silent. Ada dorongan kuat untuk meraihnya. Barangkali ada pesan dari Kent. Barangkali kali ini perasaannya keliru. Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Tak menunggu. Meski begitu, kejujuran terasa pahit. Beberapa kali sejak pagi dia sudah membuka ponsel itu dengan dalih mencari informasi, mengecek jadwal, apa saja, asal masuk akal. Hasilnya tetap sama, tak ada nama Kent di layar. Tak satu pun pesan. Entakan jemarinya berhenti. Dasha mengembuskan napas pendek, lalu tangannya mulai bergerak ke arah tas, menyerah pada dorongan yang makin sulit ditahan. Tepat sebelum jemarinya menyentuh ritsleting, suara pintu klinik terbuka. Dasha refleks mengangkat kepala. Vincent berdiri di ambang pintu, baru saja kembali. Entah kenapa gerakannya
Mesin mobil berhenti di depan gedung apartemen Dasha. Kesunyian yang canggung seketika menggantung di udara. Kent menatap jalanan sepi, sementara Dasha menunduk, tangan masih tergenggam di paha. Ingatan tentang ciuman di pantai tiba-tiba menyeruak, detik-detik bibir mereka bersentuhan, hangatnya tangan Kent di pinggangnya, dan getaran jantung yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dasha menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, tapi kilas balik itu membuat wajahnya memanas lagi. Kent juga tak bisa lepas dari bayangan itu. Diam mereka terasa berat, penuh kata-kata yang belum terucap, pertanyaan yang tak berani diajukan, dan rasa penasaran yang terus berputar di antara mereka. Kent berdeham ringan, suara itu memecah keheningan. Dasha ikut bergerak, menyesuaikan posisi di kursi. “Kita … sudah sampai,” ujar Kent pelan, meski mereka sebenarnya sudah berada di depan apartemen Dasha lima belas menit yang lalu. Dasha menatap Kent sebentar, lalu cepat mengalihkan pan
Senyum cerah tak lepas dari wajah Dasha. Hubungan mereka memang belum sejauh itu, tapi hari ini terasa seperti sebuah kencan, terlebih karena Kent setuju bertemu untuk urusan pribadi. “Bagaimana harimu di klinik?” tanyanya, nada santai tapi penuh perhatian. Dasha tersenyum kecil sebelum menjawab, “Cukup sibuk, tapi menyenangkan. Ada satu orang yang membuatku kesal hari ini ...” Dia menolehkan pandangan dari jendela dan tersenyum, "Tapi itu cerita sepele. Lupakan saja. Bagaimana denganmu?" Kent mengangkat alis, sedikit penasaran, tapi tak menekan. “Semua berjalan baik sejauh ini.” Suasana seketika hening, hanya suara kendaraan di luar yang terdengar, menambah kecanggungan di antara mereka. “Ngomong-ngomong,” Kent melirik ke kursi belakang lewat cermin tengah, “Apa yang kau bawa dalam keranjang itu?” Dasha segera menoleh ke belakang. “Ah, ya! Aku membawakan lauk untukmu. Bisa kau simpan di kulkas, lalu hangatkan ketika akan makan.” Tangannya menggenggam
Dasha terdiam kaku, seolah seluruh garis waktunya baru saja pecah. Dari awal pertemuan di bar sampai kepanikannya soal biaya Molly, semuanya tiba-tiba terasa konyol. “Kau … pemilik toko kue ini?” suaranya keluar lebih pelan dari yang dia inginkan. Kent mengangguk santai. “Ya. Termasuk gedungnya.” Kalimat itu seketika menjadi tombol reset di kepala Dasha. Suasana hangat yang tadi ada langsung berubah kikuk. Dia turun dari meja perlahan, setiap gerakan terasa seperti peluang mempermalukan dirinya lebih parah lagi. “A-aku jadi sangat malu,” ucap Dasha, menunduk. Kent memiringkan kepala. “Malu? Kenapa?” Dasha menarik napas panjang, mencoba merapikan pikirannya. “Aku mengira kau kesulitan biaya. Mengira kau cuma pegawai biasa, bahkan aku menahanmu supaya tak meladeni aku waktu jam kerja. Padahal bosnya … yah … kau sendiri.” Kent menganalisis sejenak, lalu tersenyum dan tertawa ringan. “Kau tak perlu malu. Itu juga salahku yang tak mengoreksi lebih cepat.”
Dasha akhirnya tiba di depan toko kue itu. Aroma gula karamel bercampur wangi kopi tercium dari deretan kafe di sepanjang trotoar. Di jendela toko, pantulan cahaya jingga membuat deretan kue tampak seperti rangkaian permata. Suasananya ramai tapi hangat Sabtu sore itu. Beberapa anak keluar sambil menenteng kotak cake ulang tahun, sementara pasangan muda memilih pastry sambil berdiskusi soal topping favorit. Dasha menarik napas pendek, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan, lalu masuk ke toko kue. Dengan langkah ragu tapi mantap, dia memesan satu slice red velvet dan segelas lemon tea, lalu memilih kursi kosong di sudut. Tempat itu jauh dari keramaian, cukup dekat dengan jendela. Dia menyalakan ponsel. Jemarinya mengetik 'Kent' tanpa berpikir panjang. Nama itu muncul, tapi dia hanya menatapnya. Dia merasa terlalu tak profesional jika menghubunginya sekarang, mengingat Kent mungkin sedang jungkir-balik di dapur. Jadi dia menunggu saja.







