MasukSenyum cerah tak lepas dari wajah Dasha. Hubungan mereka memang belum sejauh itu, tapi hari ini terasa seperti sebuah kencan, terlebih karena Kent setuju bertemu untuk urusan pribadi.
“Bagaimana harimu di klinik?” tanyanya, nada santai tapi penuh perhatian. Dasha tersenyum kecil sebelum menjawab, “Cukup sibuk, tapi menyenangkan. Ada satu orang yang membuatku kesal hari ini ...” Dia menolehkan pandangan dari jendela dan tersenyum, "Tapi itu cerita sepele. Lupakan saja. Bagaimana denganmu?" Kent mengangkat alis, sedikit penasaran, tapi tak menekan. “Semua berjalan baik sejauh ini.” Suasana seketika hening, hanya suara kendaraan di luar yang terdengar, menambah kecanggungan di antara mereka. “Ngomong-ngomong,” Kent melirik ke kursi belakang lewat cermin tengah, “Apa yang kau bawa dalam keranjang itu?” Dasha segera menoleh ke belakang. “Ah, ya! Aku membawakan lauk untukmu. Bisa kau simpan di kulkas, lalu hangatkan ketika akan makan.” Tangannya menggenggam sabuk pengaman dengan canggung. “Ini … hanya versi kecil dari rasa terima kasihku karena sudah memasak untukku beberapa hari lalu.” Kent mendadak tersentak, tak langsung menjawab. Pegangannya pada setir sedikit mengencang sebelum wajahnya yang tegang akhirnya melunak. “Itu terlalu banyak hanya untuk sepiring mie zucchini. Apa kau membuatnya karena … kasihan? Karena aku tak begitu bisa memasak?” “Tidak!” Dasha cepat-cepat membantah, matanya melebar panik. “Aku sungguh ingin melakukan sesuatu untuk orang yang kusuka,” ucapnya, kemudian tersadar, wajahnya memerah karena keceplosan. Kent menatapnya sebentar, tampak terkejut. Suasana berubah hening, tegang, dan terasa lebih lama daripada biasanya—hingga mobil mereka melewati sebuah terowongan. Dasha merasa tegang, tangannya berkeringat. Dia sadar telah melakukan kesalahan besar karena tak sabar, dan kini ingin segera memperbaiki situasi. Namun, dia tak tahu apa yang dipikirkan Kent saat ini setelah mendengar pengakuannya. Hanya satu kata dari pria itu saja yang dia butuhkan, sebuah petunjuk kecil bahwa Kent tak marah. “Seperti yang kukatakan, orang tuaku tinggal di luar negeri.” Dasha diam, tak menyela. Dia paham bahwa kata-kata Kent belum selesai, dan memilih mendengarkan dengan penuh perhatian. “Kami tak punya hubungan yang baik. Ditambah jarak yang jauh membuatku tak lagi merasakan perhatian dari mereka." Kent mengetuk setir dua kali, matanya menatap lurus ke jalan. “Aku memilih jalan yang berbeda dari cara hidup mereka. Meski bisnisku sukses, tetap saja aku belum mendapatkan pengakuan dari mereka.” “Kent ….” Kent menatap Dasha sebentar. “Jangan menatapku dengan kasihan begitu. Mereka hanya ingin yang terbaik untukku." Dia tersenyum tipis. "Dan aku juga berterima kasih atas perhatianmu. Aku akan menikmatinya dengan baik.” Matahari mulai merendah ketika mobil mereka meninggalkan jalan kota dan memasuki rute tepi pantai. Angin laut mulai menyapa dari jendela yang sedikit dibuka, membawa aroma asin dan segar yang menenangkan. Kent menepi, memarkir mobil di dekat pasir yang hangat. Dasha melangkah keluar, merasakan butiran pasir yang lembut di bawah kakinya. Kent mengulurkan tangannya, dan tanpa kata, Dasha menggenggamnya. Keduanya berjalan pelan di sepanjang tepi air, sesekali menatap ke arah laut yang berkilau di bawah sinar senja. “Sudah lama sekali sejak aku ke pantai,” ucap Dasha dengan senyum ceria, melangkah pelan sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan Kent mengikuti. Kent mengikuti ritme langkahnya. “Kau menyukai pantai?” tanyanya. Dasha mengangguk, matanya berbinar. “Pantai begitu cantik setiap harinya dan selalu membuatku tak berhenti kagum.” Kent merasa geli dengan jawaban itu, tapi tetap menganggapnya serius. “Hanya karena pantai terlihat cantik?” Tiba-tiba Dasha berhenti, menoleh pada Kent dengan pandangan penuh arti. “Sekarang ada alasan lain,” katanya. Kent merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, tapi dia menahan diri, mencoba tetap tenang. “Alasan lain?” Dasha tersenyum malu, tapi matanya tetap menatap Kent. “Ya … karena ada seseorang yang membuatnya terasa lebih spesial.” Kent menelan ludah. “Oh … begitu?” Dasha mengangguk, lalu menoleh ke laut, membiarkan ombak menyapu kaki mereka. Angin laut menyibakkan rambutnya, dan Kent hanya bisa memandangi gerakannya. “Maksudmu … aku yang membuatnya spesial?” Kent bertanya, suaranya rendah di tengah desiran ombak. Dasha menatap Kent kembali, senyumnya mengembang, tapi tetap tak menjawab. Saat dia bersiap berbalik, pergelangan tangannya tiba-tiba digenggam. Dasha terkejut, napasnya terhenti sesaat. Tubuhnya terasa kaku seketika, tapi tatapannya tak lepas dari Kent. Kent menghela napas, matanya menatap Dasha dengan serius. “Kata-katamu di dalam mobil sebelumnya ... apa kau serius dengan itu? Maksudku, bahwa kau menyukaiku?” Dasha menelan ludah, hatinya berdebar. Jika dia berkata tak serius, itu berarti dia berbohong pada dirinya sendiri, dan mungkin membuat Kent menganggapnya hanya main-main dengan perasaannya. Tapi jika dia membenarkan perasaannya … apakah dia siap menghadapi kemungkinan ditolak atau diabaikan lagi? Kent menarik Dasha lebih dekat, hingga dada mereka bersentuhan. Mata mereka saling bertemu, menahan tatapan satu sama lain dalam keheningan yang panjang. “Kau tak yakin dengan perasaanmu?” tanya Kent. Dasha ingin menjawab, tapi tensi yang terbangun di antara mereka membuat pikirannya membeku. “Kita bisa memastikannya …,” bisik Kent, tangannya menangkup kedua pipi Dasha dengan lembut. Tanpa menunggu jawaban, dia menundukkan kepala, mata mereka tetap terkunci. Bibir Kent menyentuh bibir Dasha perlahan, hati-hati, seperti mengukur reaksinya—cukup untuk membuat Dasha tercekat. Detik-detik itu terasa panjang, dunia di sekitar mereka seolah menghilang. Hanya ada kehangatan, rasa penasaran, dan ketegangan yang akhirnya dilepaskan dalam ciuman pertama itu. Kent menarik Dasha sedikit lebih dekat, menahan ciuman mereka sejenak sebelum bibirnya bergerak lebih yakin. Dasha merasakan kombinasi antara gugup, penasaran, dan rasa nyaman yang aneh tapi menyenangkan. Untuk pertama kalinya pula, dia merasa dirinya seolah memang ditakdirkan jatuh ke dalam pelukan pria ini. Tangan Kent jatuh ke pinggang Dasha, menahan tubuhnya dekat. Dasha perlahan melepaskan ketegangan yang sebelumnya menahan dirinya. Dia membiarkan dirinya hanyut dalam kehangatan itu, gerakan tangannya yang ragu-ragu perlahan melingkar di leher Kent. Sentuhan air di kaki mereka membuat keduanya tersadar. Perlahan, bibir mereka terpisah, tapi kedekatan tetap terjaga. Dahi Kent bersandar pada dahi Dasha, napas mereka masih saling bersentuhan. “Masih belum yakin?” tanya Kent, suaranya lembut tapi menahan harap. Dasha masih menenangkan diri dari ciuman yang baru saja mereka bagi, napasnya sedikit tersengal. Tangan Kent yang masih menempel di pipinya, perlahan jarinya mengusap lembut. “Aku tak tahu kalau kau semenarik ini untuk ditolak,” bisiknya. “Sejak pertama kali kita bertemu, ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan saat kau mulai bicara. Seolah kau benar-benar mencurahkan dirimu hanya untuk berbicara padaku.” Dasha menatapnya, hatinya masih berdebar. Kata-kata itu menembus sisa ketegangan dari ciuman mereka, meninggalkan rasa hangat dan rasa penasaran yang sulit diabaikan. “Dan aku … belum pernah bertemu dengan orang seperti itu,” ucapnya pelan. Dasha hanya tersenyum, matanya berbinar, seolah kata-kata itu adalah sesuatu yang dia tunggu sepanjang waktu, menegaskan ikatan yang baru saja mulai terbentuk di antara mereka.Ada banyak hal yang menggantung di benak Dasha saat tatapan mereka bertemu. Tentang bagaimana dia harus bersikap di hadapan pria yang membuatnya gelisah sejak pulang dari pantai. Tentang bagaimana dia harus menjelaskan pada Ellen bahwa pria yang dia ceritakan adalah Kent.Dan yang paling membuatnya kesal pada diri sendiri, bagaimana semua pertahanan yang susah payah dia bangun sejak pagi runtuh begitu saja hanya karena kehadiran sosok itu, tiba-tiba berdiri di depan klinik.“Bukankah …?” Ellen menyipitkan mata, menatap Kent dengan ragu, seperti sedang menarik paksa ingatannya. “Aku pernah melihatmu, ya?”Kent menatap mereka satu per satu. Senyum singkat terbit di wajahnya sebelum pandangannya berhenti pada Ellen. “Kenneth Ruize,” katanya tenang. “Kau ingat, kan, Ellen?”Mata Ellen melebar. Dia menepuk tangannya sendiri. “Oh! Benar! Ya, kau pria dari aplikasi kencan itu!”Vincent mengerutkan dahi, jelas kebingungan, tapi memilih diam. Matanya bergantian mengamati Ellen dan Kent, mencob
Dasha mengentakkan jemarinya pelan di atas meja. Sekali. Dua kali. Ritmenya tak teratur, sejalan dengan pikirannya yang berlarian ke mana-mana. Fokusnya terus kembali pada tas di samping kursinya, pada ponsel yang sengaja dia silent. Ada dorongan kuat untuk meraihnya. Barangkali ada pesan dari Kent. Barangkali kali ini perasaannya keliru. Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Tak menunggu. Meski begitu, kejujuran terasa pahit. Beberapa kali sejak pagi dia sudah membuka ponsel itu dengan dalih mencari informasi, mengecek jadwal, apa saja, asal masuk akal. Hasilnya tetap sama, tak ada nama Kent di layar. Tak satu pun pesan. Entakan jemarinya berhenti. Dasha mengembuskan napas pendek, lalu tangannya mulai bergerak ke arah tas, menyerah pada dorongan yang makin sulit ditahan. Tepat sebelum jemarinya menyentuh ritsleting, suara pintu klinik terbuka. Dasha refleks mengangkat kepala. Vincent berdiri di ambang pintu, baru saja kembali. Entah kenapa gerakannya
Mesin mobil berhenti di depan gedung apartemen Dasha. Kesunyian yang canggung seketika menggantung di udara. Kent menatap jalanan sepi, sementara Dasha menunduk, tangan masih tergenggam di paha. Ingatan tentang ciuman di pantai tiba-tiba menyeruak, detik-detik bibir mereka bersentuhan, hangatnya tangan Kent di pinggangnya, dan getaran jantung yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dasha menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, tapi kilas balik itu membuat wajahnya memanas lagi. Kent juga tak bisa lepas dari bayangan itu. Diam mereka terasa berat, penuh kata-kata yang belum terucap, pertanyaan yang tak berani diajukan, dan rasa penasaran yang terus berputar di antara mereka. Kent berdeham ringan, suara itu memecah keheningan. Dasha ikut bergerak, menyesuaikan posisi di kursi. “Kita … sudah sampai,” ujar Kent pelan, meski mereka sebenarnya sudah berada di depan apartemen Dasha lima belas menit yang lalu. Dasha menatap Kent sebentar, lalu cepat mengalihkan pan
Senyum cerah tak lepas dari wajah Dasha. Hubungan mereka memang belum sejauh itu, tapi hari ini terasa seperti sebuah kencan, terlebih karena Kent setuju bertemu untuk urusan pribadi. “Bagaimana harimu di klinik?” tanyanya, nada santai tapi penuh perhatian. Dasha tersenyum kecil sebelum menjawab, “Cukup sibuk, tapi menyenangkan. Ada satu orang yang membuatku kesal hari ini ...” Dia menolehkan pandangan dari jendela dan tersenyum, "Tapi itu cerita sepele. Lupakan saja. Bagaimana denganmu?" Kent mengangkat alis, sedikit penasaran, tapi tak menekan. “Semua berjalan baik sejauh ini.” Suasana seketika hening, hanya suara kendaraan di luar yang terdengar, menambah kecanggungan di antara mereka. “Ngomong-ngomong,” Kent melirik ke kursi belakang lewat cermin tengah, “Apa yang kau bawa dalam keranjang itu?” Dasha segera menoleh ke belakang. “Ah, ya! Aku membawakan lauk untukmu. Bisa kau simpan di kulkas, lalu hangatkan ketika akan makan.” Tangannya menggenggam
Dasha terdiam kaku, seolah seluruh garis waktunya baru saja pecah. Dari awal pertemuan di bar sampai kepanikannya soal biaya Molly, semuanya tiba-tiba terasa konyol. “Kau … pemilik toko kue ini?” suaranya keluar lebih pelan dari yang dia inginkan. Kent mengangguk santai. “Ya. Termasuk gedungnya.” Kalimat itu seketika menjadi tombol reset di kepala Dasha. Suasana hangat yang tadi ada langsung berubah kikuk. Dia turun dari meja perlahan, setiap gerakan terasa seperti peluang mempermalukan dirinya lebih parah lagi. “A-aku jadi sangat malu,” ucap Dasha, menunduk. Kent memiringkan kepala. “Malu? Kenapa?” Dasha menarik napas panjang, mencoba merapikan pikirannya. “Aku mengira kau kesulitan biaya. Mengira kau cuma pegawai biasa, bahkan aku menahanmu supaya tak meladeni aku waktu jam kerja. Padahal bosnya … yah … kau sendiri.” Kent menganalisis sejenak, lalu tersenyum dan tertawa ringan. “Kau tak perlu malu. Itu juga salahku yang tak mengoreksi lebih cepat.”
Dasha akhirnya tiba di depan toko kue itu. Aroma gula karamel bercampur wangi kopi tercium dari deretan kafe di sepanjang trotoar. Di jendela toko, pantulan cahaya jingga membuat deretan kue tampak seperti rangkaian permata. Suasananya ramai tapi hangat Sabtu sore itu. Beberapa anak keluar sambil menenteng kotak cake ulang tahun, sementara pasangan muda memilih pastry sambil berdiskusi soal topping favorit. Dasha menarik napas pendek, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan, lalu masuk ke toko kue. Dengan langkah ragu tapi mantap, dia memesan satu slice red velvet dan segelas lemon tea, lalu memilih kursi kosong di sudut. Tempat itu jauh dari keramaian, cukup dekat dengan jendela. Dia menyalakan ponsel. Jemarinya mengetik 'Kent' tanpa berpikir panjang. Nama itu muncul, tapi dia hanya menatapnya. Dia merasa terlalu tak profesional jika menghubunginya sekarang, mengingat Kent mungkin sedang jungkir-balik di dapur. Jadi dia menunggu saja.







