LOGINDasha mengentakkan jemarinya pelan di atas meja. Sekali. Dua kali. Ritmenya tak teratur, sejalan dengan pikirannya yang berlarian ke mana-mana.
Fokusnya terus kembali pada tas di samping kursinya, pada ponsel yang sengaja dia silent. Ada dorongan kuat untuk meraihnya. Barangkali ada pesan dari Kent. Barangkali kali ini perasaannya keliru. Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Tak menunggu. Meski begitu, kejujuran terasa pahit. Beberapa kali sejak pagi dia sudah membuka ponsel itu dengan dalih mencari informasi, mengecek jadwal, apa saja, asal masuk akal. Hasilnya tetap sama, tak ada nama Kent di layar. Tak satu pun pesan. Entakan jemarinya berhenti. Dasha mengembuskan napas pendek, lalu tangannya mulai bergerak ke arah tas, menyerah pada dorongan yang makin sulit ditahan. Tepat sebelum jemarinya menyentuh ritsleting, suara pintu klinik terbuka. Dasha refleks mengangkat kepala. Vincent berdiri di ambang pintu, baru saja kembali. Entah kenapa gerakannya terlihat canggung ketika melewati meja Dasha. Dia sempat berjalan pergi, lalu berhenti, berbalik, dan dengan ragu menghampiri Dasha lagi. Sebungkus es krim diletakkannya di atas meja. Dasha menatapnya, alis berkerut. Belum sempat dia bertanya, Vincent sudah lebih dulu membuka suara. “Ini … permintaan maafku.” Dasha mengedip, kebingungan. “Permintaan maaf?” Vincent menggaruk tengkuknya, jelas kikuk. “Tentang waktu itu. Komentarku soal penampilanmu. Sepertinya … kau tak menyukainya.” Kerutan di dahi Dasha perlahan memudar saat ingatannya kembali pada kejadian itu. “Ah … yang itu,” gumamnya. “Iya, benar.” Dasha terdiam sejenak. Sejujurnya, dia hampir melupakan momen tersebut. Justru itulah yang membuatnya terkejut, bahwa Vincent mengingatnya, bahkan cukup peduli untuk merasa bersalah. Tak ingin suasana menjadi makin janggal, Dasha tertawa kecil, meraih es krim itu. “Aku akan memakannya,” katanya ringan, lalu mulai membuka bungkusnya. Vincent mengangguk singkat, seolah merasa lega. Tanpa menambahkan apa pun, dia berbalik dan melangkah pergi. Pada saat yang sama, Ellen muncul dari arah kamar kecil. Dia mengembuskan napas panjang, ekspresinya puas, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas terberat hari itu. Namun, senyum itu langsung memudar ketika matanya menangkap pemandangan di depan meja Dasha. Ellen menoleh cepat ke Vincent, lalu tanpa ragu mencegah pria itu. “Tunggu,” katanya tajam. Tatapannya berpindah dari es krim di tangan Dasha ke wajah Vincent. “Apa maksudnya ini? Kenapa hanya Dasha yang kau belikan es krim?” “Itu cuma es krim.” Vincent mencoba terdengar santai. Ellen menyilangkan tangan di dada, menatap Vincent tajam. “Kau tak merasa sedang berlaku tak adil sekarang?” ucapnya. Dasha berhenti menggigit, pandangannya berpindah pada mereka berdua. “Ellen, jangan mulai.” “Tunggu dulu.” Ellen mengangkat telunjuk, nada suaranya meninggi sedikit. “Kau bahkan memilih es krim favorit Dasha.” Vincent terdiam, cukup lama hingga Ellen mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Oh,” gumam Ellen pelan. Senyum tipis penuh makna muncul di sudut bibirnya. “Jadi kau memperhatikannya.” Suasana seketika menjadi canggung. Vincent berdeham, jelas kehabisan cara untuk menghindar. “Jangan dibesar-besarkan,” ucapnya. Dasha menatap es krim di tangannya, lalu mengangkat wajah. “Kau membuatnya terdengar aneh,” katanya tenang. “Vincent memang punya daya pengamatan yang bagus, kan?” Ellen mendengus pelan. Kecurigaan di wajahnya sedikit melunak. “Aku tak menyangkal itu,” ujarnya. “Tapi tetap saja, hanya Dasha yang kau beri.” “Aku akan membelikannya lain kali,” kata Vincent, jelas ingin mengakhiri pembicaraan. “Aku maunya sekarang,” sahut Ellen tanpa ragu. Vincent menghela napas panjang. Kali ini dia tak membalas. Tanpa memedulikan Ellen, dia berbalik dan melangkah menuju ruangannya. “Hei, tunggu!” Ellen segera menyusul, langkahnya cepat dan nada suaranya berubah merengek. “Ayolah, belikan aku es krim juga!” “Kau bukan anak kecil lagi, Ellen,” jawab Vincent dari depan, suaranya terdengar lelah. “Berhenti bertingkah.” “Aku akan berhenti kalau kau memberiku es krim!” Perdebatan mereka terus berlanjut, suara saling sahut itu makin lama makin redup ketika keduanya menghilang di balik pintu ruangan sebelah. Dasha terkekeh kecil, menggeleng pelan. Kekonyolan itu sedikit meringankan suasana hatinya, meski hanya sesaat. Tanpa benar-benar dia sadari, tangannya sudah lebih dulu meraih ponsel di dalam tas. Layar menyala, dan sebuah notifikasi pesan muncul, dikirim lima belas menit lalu. Pengirimnya: Kent. Dasha tercenung. Detik itu seolah berhenti, dunia di sekitarnya mengabur. Kira-kira apa isi pesan itu? Jawaban yang dia harapkan? Penjelasan masuk akal? Sensasi dingin di pergelangan tangannya menyentakkannya kembali ke kenyataan. Lelehan es krim telah menetes ke bajunya. “Ah,” gumamnya pelan. Dia segera meletakkan ponsel di atas meja dan bergegas ke wastafel terdekat. Es krim yang baru habis setengah itu dilemparnya ke tong sampah yang ada di bawah tanpa pikir panjang. Air mengalir, tangannya dibersihkan cepat, gerakannya tergesa. Begitu selesai, Dasha kembali ke meja. Matanya langsung tertuju pada ponsel, layarnya telah redup. Namun dia menahan diri, tak berani membukanya. Dadanya terasa sesak hanya dengan membayangkan isinya. Bagaimana jika pesan itu berisi sesuatu yang tak ingin dia baca? Akhirnya, dia menyimpannya kembali ke tas. Dia merapikan wajahnya, menegakkan bahu, lalu kembali fokus pada pekerjaan. Hari itu berjalan seperti biasa di klinik. Dia tersenyum pada pasien, Ellen sibuk mondar-mandir, Vincent cekatan di meja administrasi, dan tawa ringan masih terdengar di sela kesibukan. Namun, pikirannya tetap sesekali melayang ke ponsel yang dia abaikan. Selesai bekerja, suasana klinik perlahan berubah sepi. Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat, cahaya sore menembus jendela, menebarkan semburat oranye yang hangat ke seluruh ruangan. Meja-meja bersih, alat-alat disusun rapi, dan bau antiseptik yang khas sudah tak terlalu tajam lagi. Mereka bertiga keluar bersamaan, menghirup udara sore yang segar, meninggalkan semua hiruk-pikuk hari itu di balik pintu kaca klinik. Dasha mengikat rambutnya sambil tersenyum kecil. “Akhirnya selesai juga,” gumamnya, lebih pada diri sendiri. “Dan aku lapar setengah mati,” sahut Ellen. Dia memegang perutnya dramatis. “Aku bersumpah, kalau aku pingsan nanti, itu murni karena kelaparan.” Vincent mendengus. “Kau bilang begitu setiap hari.” “Karena setiap hari aku memang lapar,” balas Ellen cepat. “Ini namanya konsistensi.” Dasha menggeleng pelan, senyum tipis masih bertahan di wajahnya saat dia berbalik untuk melangkah. Namun, langkah itu terhenti seketika. Tak jauh dari mereka, berdiri sosok yang begitu dikenalnya—Kent. Tawa yang tadi mengisi udara sore mendadak lenyap. Vincent dan Ellen ikut terdiam. Pandangan mereka berpindah dari Dasha ke pria itu, lalu kembali lagi. Ellen menatap Dasha dengan sorot penuh tanya. Vincent menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras, seperti seseorang yang sadar ada sesuatu yang akan terjadi. Detak jantung Dasha melonjak tajam. Telapak tangannya terasa dingin. Napasnya tercekat di tenggorokan. Dunia sekeliling seolah menunggu siapa yang akan bereaksi lebih dulu.Ada banyak hal yang menggantung di benak Dasha saat tatapan mereka bertemu. Tentang bagaimana dia harus bersikap di hadapan pria yang membuatnya gelisah sejak pulang dari pantai. Tentang bagaimana dia harus menjelaskan pada Ellen bahwa pria yang dia ceritakan adalah Kent.Dan yang paling membuatnya kesal pada diri sendiri, bagaimana semua pertahanan yang susah payah dia bangun sejak pagi runtuh begitu saja hanya karena kehadiran sosok itu, tiba-tiba berdiri di depan klinik.“Bukankah …?” Ellen menyipitkan mata, menatap Kent dengan ragu, seperti sedang menarik paksa ingatannya. “Aku pernah melihatmu, ya?”Kent menatap mereka satu per satu. Senyum singkat terbit di wajahnya sebelum pandangannya berhenti pada Ellen. “Kenneth Ruize,” katanya tenang. “Kau ingat, kan, Ellen?”Mata Ellen melebar. Dia menepuk tangannya sendiri. “Oh! Benar! Ya, kau pria dari aplikasi kencan itu!”Vincent mengerutkan dahi, jelas kebingungan, tapi memilih diam. Matanya bergantian mengamati Ellen dan Kent, mencob
Dasha mengentakkan jemarinya pelan di atas meja. Sekali. Dua kali. Ritmenya tak teratur, sejalan dengan pikirannya yang berlarian ke mana-mana. Fokusnya terus kembali pada tas di samping kursinya, pada ponsel yang sengaja dia silent. Ada dorongan kuat untuk meraihnya. Barangkali ada pesan dari Kent. Barangkali kali ini perasaannya keliru. Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Tak menunggu. Meski begitu, kejujuran terasa pahit. Beberapa kali sejak pagi dia sudah membuka ponsel itu dengan dalih mencari informasi, mengecek jadwal, apa saja, asal masuk akal. Hasilnya tetap sama, tak ada nama Kent di layar. Tak satu pun pesan. Entakan jemarinya berhenti. Dasha mengembuskan napas pendek, lalu tangannya mulai bergerak ke arah tas, menyerah pada dorongan yang makin sulit ditahan. Tepat sebelum jemarinya menyentuh ritsleting, suara pintu klinik terbuka. Dasha refleks mengangkat kepala. Vincent berdiri di ambang pintu, baru saja kembali. Entah kenapa gerakannya
Mesin mobil berhenti di depan gedung apartemen Dasha. Kesunyian yang canggung seketika menggantung di udara. Kent menatap jalanan sepi, sementara Dasha menunduk, tangan masih tergenggam di paha. Ingatan tentang ciuman di pantai tiba-tiba menyeruak, detik-detik bibir mereka bersentuhan, hangatnya tangan Kent di pinggangnya, dan getaran jantung yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dasha menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, tapi kilas balik itu membuat wajahnya memanas lagi. Kent juga tak bisa lepas dari bayangan itu. Diam mereka terasa berat, penuh kata-kata yang belum terucap, pertanyaan yang tak berani diajukan, dan rasa penasaran yang terus berputar di antara mereka. Kent berdeham ringan, suara itu memecah keheningan. Dasha ikut bergerak, menyesuaikan posisi di kursi. “Kita … sudah sampai,” ujar Kent pelan, meski mereka sebenarnya sudah berada di depan apartemen Dasha lima belas menit yang lalu. Dasha menatap Kent sebentar, lalu cepat mengalihkan pan
Senyum cerah tak lepas dari wajah Dasha. Hubungan mereka memang belum sejauh itu, tapi hari ini terasa seperti sebuah kencan, terlebih karena Kent setuju bertemu untuk urusan pribadi. “Bagaimana harimu di klinik?” tanyanya, nada santai tapi penuh perhatian. Dasha tersenyum kecil sebelum menjawab, “Cukup sibuk, tapi menyenangkan. Ada satu orang yang membuatku kesal hari ini ...” Dia menolehkan pandangan dari jendela dan tersenyum, "Tapi itu cerita sepele. Lupakan saja. Bagaimana denganmu?" Kent mengangkat alis, sedikit penasaran, tapi tak menekan. “Semua berjalan baik sejauh ini.” Suasana seketika hening, hanya suara kendaraan di luar yang terdengar, menambah kecanggungan di antara mereka. “Ngomong-ngomong,” Kent melirik ke kursi belakang lewat cermin tengah, “Apa yang kau bawa dalam keranjang itu?” Dasha segera menoleh ke belakang. “Ah, ya! Aku membawakan lauk untukmu. Bisa kau simpan di kulkas, lalu hangatkan ketika akan makan.” Tangannya menggenggam
Dasha terdiam kaku, seolah seluruh garis waktunya baru saja pecah. Dari awal pertemuan di bar sampai kepanikannya soal biaya Molly, semuanya tiba-tiba terasa konyol. “Kau … pemilik toko kue ini?” suaranya keluar lebih pelan dari yang dia inginkan. Kent mengangguk santai. “Ya. Termasuk gedungnya.” Kalimat itu seketika menjadi tombol reset di kepala Dasha. Suasana hangat yang tadi ada langsung berubah kikuk. Dia turun dari meja perlahan, setiap gerakan terasa seperti peluang mempermalukan dirinya lebih parah lagi. “A-aku jadi sangat malu,” ucap Dasha, menunduk. Kent memiringkan kepala. “Malu? Kenapa?” Dasha menarik napas panjang, mencoba merapikan pikirannya. “Aku mengira kau kesulitan biaya. Mengira kau cuma pegawai biasa, bahkan aku menahanmu supaya tak meladeni aku waktu jam kerja. Padahal bosnya … yah … kau sendiri.” Kent menganalisis sejenak, lalu tersenyum dan tertawa ringan. “Kau tak perlu malu. Itu juga salahku yang tak mengoreksi lebih cepat.”
Dasha akhirnya tiba di depan toko kue itu. Aroma gula karamel bercampur wangi kopi tercium dari deretan kafe di sepanjang trotoar. Di jendela toko, pantulan cahaya jingga membuat deretan kue tampak seperti rangkaian permata. Suasananya ramai tapi hangat Sabtu sore itu. Beberapa anak keluar sambil menenteng kotak cake ulang tahun, sementara pasangan muda memilih pastry sambil berdiskusi soal topping favorit. Dasha menarik napas pendek, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan, lalu masuk ke toko kue. Dengan langkah ragu tapi mantap, dia memesan satu slice red velvet dan segelas lemon tea, lalu memilih kursi kosong di sudut. Tempat itu jauh dari keramaian, cukup dekat dengan jendela. Dia menyalakan ponsel. Jemarinya mengetik 'Kent' tanpa berpikir panjang. Nama itu muncul, tapi dia hanya menatapnya. Dia merasa terlalu tak profesional jika menghubunginya sekarang, mengingat Kent mungkin sedang jungkir-balik di dapur. Jadi dia menunggu saja.







