Share

strategi

Author: Indri hasrun
last update publish date: 2026-09-06 10:44:04

Panas terik matahari dari luar jendela kantor seakan menembus ke dada Ashana, dari sudut ruangan lantai 14, matanya menatap tajam ke arah pintu ruangan CEO. Gibran, pria yang diam-diam telah mengikat janji suci dengannya sekitar 4 bulanan, keluar bersama Natasya. Perempuan bergaun hitam itu tertawa manja sembari memegang lengan jas Gibran, tampak begitu disengaja.

Padahal, kontrak kerja sama antar perusahaan dan Natasya sudah resmi berakhir hampir sebulan lalu. Namun, Natasya masih selalu puny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bukan Pengantin Pilihan   strategi

    Panas terik matahari dari luar jendela kantor seakan menembus ke dada Ashana, dari sudut ruangan lantai 14, matanya menatap tajam ke arah pintu ruangan CEO. Gibran, pria yang diam-diam telah mengikat janji suci dengannya sekitar 4 bulanan, keluar bersama Natasya. Perempuan bergaun hitam itu tertawa manja sembari memegang lengan jas Gibran, tampak begitu disengaja.Padahal, kontrak kerja sama antar perusahaan dan Natasya sudah resmi berakhir hampir sebulan lalu. Namun, Natasya masih selalu punya seribu alasan untuk muncul di kantor Gibran, membuat status Ashana sebagai istri rahasia terasa makin menyiksa. Ashana mengepalkan jemarinya, menahan gelombang lelah yang sudah di ambang batas.Saat jam istirahat tiba, Ashana melangkah cepat menuju kedai kopi di seberang gedung kantor bersama Dea. Ia ingin menenangkan hati dan pikirannya, Dea sebagai sahabat dan teman magang setia menemani Ashana. Tak lama kemudian, ponsel Ashana bergetar menampilkan panggilan video dari Aliyah, sang kakak yan

  • Bukan Pengantin Pilihan   mencari tau

    Natasya pulang dari Mahesa properties dengan kepalan tangan erat dan kemarahan yang membakar dada. Bagi seorang Natasya seorang model papan atas yang terbiasa sudah mendapatkan apa pun yang diinginkannya, kata "tidak" dari Gibran adalah sebuah penghinaan. Dia pernah menjadi bagian dari hidup Gibran selama 2 tahun. Dia tidak akan menyerahkan pria itu begitu saja kepada wanita misterius yang bahkan tak berani menampakkan dirinya.Rasa penasaran bercampur cemburu buta mendorong Natasya untuk mulai bergerak mencari tau siapa istri Gibran. Dia tidak bisa tinggal diam saja, melihat pria yang ia inginkan direbut begitu saja.Langkah pertamanya adalah menghubungi salah satus detektif swasta langganan para selebriti yang biasa menyapu bersih skandal atau mencari rahasia orang-orang kelas atas."Aku mau kamu cari tahu semuanya tentang Gibran," ujar Natasya dingin saat bertemu Afdal, di sebuah kafe di pinggiran kota.Afdal menyenderkan punggungnya. "Gibran Mahesa ? CEO Mahesa Properties itu? Buk

  • Bukan Pengantin Pilihan   mengungkap status

    Lampu kamera masih menyisakan bayangan siluet di depan mata Natasya. Ia mengenakan gaun sutra merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna, ia menyunggingkan senyum paling menawannya. Hari ini adalah hari terakhir pemotretan untuk kampanye komersil di Mahesa Properties.Sementara itu disudut ruangan, seorang pria berdiri tegap. Setelan jas hitam membingkai tubuh jangkungnya dengan sangat indah. Natasya mengibas-ibaskan rambutnya yang bergelombang, melangkah perlahan dengan berlenggak-lenggok menuju tempat Gibran berdiri. "Terima kasih atas kesempatannya, Gib. Kerja sama kali ini benar-benar luar biasa," sapanya dengan suara manja yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati pria itu.Gibran hanya mengangguk tipis, tangannya tetap berada di dalam saku celana. "Performa kamu bagus, Natasya. Tim pemasaran sangat puas. Setelah ini, sekretaris saya yang akan mengurus sisa honor kamu.""Hanya itu?" Natasya mendekat, sengaja mengikis jarak di antara mereka. "Kamu tidak mau mengajak mantan ke

  • Bukan Pengantin Pilihan   Perubahan sikap

    Udara pendingin di lantai 14 Mahesa Properties berembus dingin, tetapi suasana di dalam ruang kerja Gibran terasa jauh lebih membekukan.Natasya seperti biasa melangkah masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Gaun yang ia pakai selalu menyala yang melekat di tubuhnya tampak kontras dengan interior ruangan yang didominasi warna maskulin. Dengan senyum manis yang dipaksakan, ia melangkah mendekati meja kerja besar di tengah ruangan.Gibran bahkan tidak mendongak dari berkas di hadapannya ketika mendengar seseorang masuk. Jemarinya yang menempel pada pulpenterus menari di atas kertas dihadapannya."Gibran, nanti kita makan siang di luar, ya? Ada restoran baru yang ....""Rio," panggil Gibran datar melalui interkom, memotong kalimat Natasya tanpa memperdulikan Natasya.Pintu ruangan segera terbuka perlahan. Rio, asisten pribadinya, berdiri di ambang pintu. "Iya, ada apa Bos?""Tolong urus Mbak Natasya kalau kedatangannya terkait dengan kerja sama divisi pemasaran. Selesaikan di ruang rapat diata

  • Bukan Pengantin Pilihan   Emosi Gibran

    Napas Ashana tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Jarak di antara wajah mereka begitu dekat hingga Ashana bisa melihat kilat kemarahan yang membara di iris mata milik Gibran."Jawab, Ashana. Kenapa kamu tiba-tiba bisu begitu?" tekan Gibran lagi. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. Namun, sarat akan ancaman yang nyata. Jemarinya mencengkeram tepi meja di belakang Ashana, mengunci posisi gadis itu agar tak punya celah untuk menghindar.Ashana mencoba menarik napas pelan, berusaha menguasai gemetar di jemarinya. "Apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu bayangkan, Mas. Kak Andre cuma ....""Cuma apa?" potong Gibran cepat. Tawa dingin keluar dari bibirnya, sebuah tawa tanpa nada humor yang justru membuat bulu kuduk Ashana berdiri. "Cuma rekan kerja? Cuma teman lama yang kebetulan sekali selalu muncul disekitarmu dan membantu kebutuhanmu? Jangan membodohi saya!""Faktanya memang seperti itu, Kak Andre hanya senior saya dan rekan magang saya di kantor ini. Kami tidak ada hubunga

  • Bukan Pengantin Pilihan   Berulah

    Suara ketikan kibor dan denting mesin pencetak beradu dengan celotehan para peserta magang di lantai 14 ini. Sementara di sudut ruangan, ada Ashana yang sedang fokus menatap layar monitornya, mencoba mengabaikan atmosfer penuh godaan yang sengaja diciptakan teman-temannya untuk mencairkan ketegangan bekerja."Ashana, ini berkas analisis pasar yang kamu minta kemarin. Sudah saya rapihkan sekalian sama poin-poin pentingnya," suara Andre memecah konsentrasi Ashana.Andre, meletakkan map biru dengan senyum manis, lalu mencondongkan badan sedikit terlalu dekat. "Kalau ada yang masih belum kamu mengerti, tanyakan saja. Nanti malam kalau mau kita bahas sambil makan malam juga boleh.""Ciee! Yang mau makan malam!" celetuk Nala dari meja sebelah, langsung disambut sorakan heboh dari peserta magang lainnya."Aduh, Kak Andre terbaca sekali kamu! Beda memang kalau sudah naksir berat," timpal Mila sambil tertawa menggoda.Pipi Ashana terasa panas. Ia dengan canggung menggeser duduknya sedikit menj

  • Bukan Pengantin Pilihan   Menemukannya

    Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana

  • Bukan Pengantin Pilihan   Pengantin pengganti

    Subuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat

  • Bukan Pengantin Pilihan   Kabur

    Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa."Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gat

  • Bukan Pengantin Pilihan   Bos dan anak magang

    Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status