LOGINLampu kamera masih menyisakan bayangan siluet di depan mata Natasya. Ia mengenakan gaun sutra merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna, ia menyunggingkan senyum paling menawannya. Hari ini adalah hari terakhir pemotretan untuk kampanye komersil di Mahesa Properties.Sementara itu disudut ruangan, seorang pria berdiri tegap. Setelan jas hitam membingkai tubuh jangkungnya dengan sangat indah. Natasya mengibas-ibaskan rambutnya yang bergelombang, melangkah perlahan dengan berlenggak-lenggok menuju tempat Gibran berdiri. "Terima kasih atas kesempatannya, Gib. Kerja sama kali ini benar-benar luar biasa," sapanya dengan suara manja yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati pria itu.Gibran hanya mengangguk tipis, tangannya tetap berada di dalam saku celana. "Performa kamu bagus, Natasya. Tim pemasaran sangat puas. Setelah ini, sekretaris saya yang akan mengurus sisa honor kamu.""Hanya itu?" Natasya mendekat, sengaja mengikis jarak di antara mereka. "Kamu tidak mau mengajak mantan ke
Udara pendingin di lantai 14 Mahesa Properties berembus dingin, tetapi suasana di dalam ruang kerja Gibran terasa jauh lebih membekukan.Natasya seperti biasa melangkah masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Gaun yang ia pakai selalu menyala yang melekat di tubuhnya tampak kontras dengan interior ruangan yang didominasi warna maskulin. Dengan senyum manis yang dipaksakan, ia melangkah mendekati meja kerja besar di tengah ruangan.Gibran bahkan tidak mendongak dari berkas di hadapannya ketika mendengar seseorang masuk. Jemarinya yang menempel pada pulpenterus menari di atas kertas dihadapannya."Gibran, nanti kita makan siang di luar, ya? Ada restoran baru yang ....""Rio," panggil Gibran datar melalui interkom, memotong kalimat Natasya tanpa memperdulikan Natasya.Pintu ruangan segera terbuka perlahan. Rio, asisten pribadinya, berdiri di ambang pintu. "Iya, ada apa Bos?""Tolong urus Mbak Natasya kalau kedatangannya terkait dengan kerja sama divisi pemasaran. Selesaikan di ruang rapat diata
Napas Ashana tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Jarak di antara wajah mereka begitu dekat hingga Ashana bisa melihat kilat kemarahan yang membara di iris mata milik Gibran."Jawab, Ashana. Kenapa kamu tiba-tiba bisu begitu?" tekan Gibran lagi. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. Namun, sarat akan ancaman yang nyata. Jemarinya mencengkeram tepi meja di belakang Ashana, mengunci posisi gadis itu agar tak punya celah untuk menghindar.Ashana mencoba menarik napas pelan, berusaha menguasai gemetar di jemarinya. "Apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu bayangkan, Mas. Kak Andre cuma ....""Cuma apa?" potong Gibran cepat. Tawa dingin keluar dari bibirnya, sebuah tawa tanpa nada humor yang justru membuat bulu kuduk Ashana berdiri. "Cuma rekan kerja? Cuma teman lama yang kebetulan sekali selalu muncul disekitarmu dan membantu kebutuhanmu? Jangan membodohi saya!""Faktanya memang seperti itu, Kak Andre hanya senior saya dan rekan magang saya di kantor ini. Kami tidak ada hubunga
Suara ketikan kibor dan denting mesin pencetak beradu dengan celotehan para peserta magang di lantai 14 ini. Sementara di sudut ruangan, ada Ashana yang sedang fokus menatap layar monitornya, mencoba mengabaikan atmosfer penuh godaan yang sengaja diciptakan teman-temannya untuk mencairkan ketegangan bekerja."Ashana, ini berkas analisis pasar yang kamu minta kemarin. Sudah saya rapihkan sekalian sama poin-poin pentingnya," suara Andre memecah konsentrasi Ashana.Andre, meletakkan map biru dengan senyum manis, lalu mencondongkan badan sedikit terlalu dekat. "Kalau ada yang masih belum kamu mengerti, tanyakan saja. Nanti malam kalau mau kita bahas sambil makan malam juga boleh.""Ciee! Yang mau makan malam!" celetuk Nala dari meja sebelah, langsung disambut sorakan heboh dari peserta magang lainnya."Aduh, Kak Andre terbaca sekali kamu! Beda memang kalau sudah naksir berat," timpal Mila sambil tertawa menggoda.Pipi Ashana terasa panas. Ia dengan canggung menggeser duduknya sedikit menj
Setelah semalam Ashana keluar tak bilang ke Gibran. Kini mereka seperti sedang perang dingin. Mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing, beda dengan hari-hari sebelumnya.Aroma kopi hitam yang menyengat menyeruak di dapur megah itu. Hari Minggu pagi yang seharusnya hangat, justru terasa dingin dan kaku bagi pasangan suami istri yang baru dua bulan berbagi atap itu.Gibran duduk di ujung meja makan, matanya tertuju pada layar tablet yang menampilkan dokumen pekerjaannya. Sementara Ashana berdiri tak jauh darinya, menuangkan air panas ke dalam cangkir dengan gerakan hati-hati. Tidak ada percakapan, hanya denting sendok yang sesekali memecah keheningan.Pernikahan ini bukanlah impian mereka. Ashana hadir hanya sebagai pengantin pengganti setelah kakaknya melarikan diri di hari pernikahan. Tanpa cinta, tanpa ikatan emosional, mereka disatukan oleh tuntutan keluarga besar dan gengsi bisnis. Gibran kini terasa dingin dan berjarak memperlakukan Ashana tak lebih dari rekan satu rumah, sed
Ruangan rapat yang berdinding kaca tebal itu terasa membeku, bagi Ashana. Sebagai anak magang, tugasnya hanyalah merapikan dokumen, membantu buat dokumen atau pekerjaan kantor biasanya sesuai instruksi. Namun, sebagai istri sah Gibran setiap detil yang terjadi di ruangan ini mulai menyayat hatinya.Di ujung meja, Gibran duduk dengan postur tegap khas kepemimpinannya. Tepat di sampingnya, Natasya tertawa manja sambil menyentuh lengan Gibran pelan. "Konsep ini sangat cocok untukku, Gibran. Aku yakin penjualan produkmu akan melonjak," ujar Natasya dengan nada manis yang terkesan intim.Gibran hanya tersenyum tipis, mengangguk sopan. "Kinerjamu selalu profesional, Natasya. Kita harapkan hasil terbaik untuk kampanye ini."Ashana menunduk, mengepal jemarinya di bawah meja hingga bukunya memutih. Tak ada yang tahu di ruangan itu atau bahkan di seluruh kantor kecuali Dea, bahwa gadis magang yang mengenakan kemeja polos dan celana kain sederhana itu adala
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana
Subuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat
Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa."Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gat
Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel







