Share

BAB 2

Author: A.lyra
last update publish date: 2026-09-07 15:14:18

Rumah keluarga Adiratna selalu terasa sepi saat sarapan. Bram sibuk membaca koran bisnis, sementara kopi di depannya tetap tak tersentuh.

"Ayah." Suara Sharen terdengar jauh lebih pelan daripada yang ia bayangkan semalaman saat berulang kali menghafal kalimat tersebut di depan cermin. "Aku mau bicara soal tanggal pernikahan yang dimajukan itu. Kenapa aku nggak diajak bicara dulu?"

Bram tidak menengadah. "Ada masalah dengan gaunnya?"

"Bukan soal gaun." Sharen menahan jarinya agar tidak meremas serbet. "Aku... merasa ini terlalu cepat, Yah."

Ayahnya melipat koran pelan-pelan dengan gerakan yang terlalu tenang, seolah menghadapi anak kecil merajuk. "Sharen," suaranya datar tapi penuh tekanan. "Kamu tahu proyek gabungan kita dengan Grup Sagara tahun depan bernilai delapan ratus miliar. Jangan bersikap kekanak-kanakan."

"Tapi aku yang harus menjalani pernikahannya, Yah! Bukan perusahaannya!" Sharen tanpa sadar menaikkan suaranya. Kata-katanya keluar begitu saja, membuat dadanya berdebar ketakutan karena baru saja berani membantah.

Ibunya yang sejak tadi diam sambil menyeruput teh meletakkan cangkirnya kembali ke meja dengan suara agak keras, seolah menggantikan kata-kata yang tidak ingin diucapkan. Bram menarik napas, bersikap layaknya atasan yang harus mengulang penjelasan ke anak buah yang lambat mengerti.

"Elio itu pilihan terbaik yang bisa kamu dapatkan. Dia tampan, mapan, satu Jakarta iri sama kamu. Kamu tinggal terima beres. Hidup enak itu butuh pengorbanan, ibumu juga begitu dulu." Kalimat terakhir keluar begitu saja, tapi Sharen sempat melihat bahu ayahnya menegang seakan Bram sendiri tampak menyesal sudah mengatakannya.

"Dengarkan ayahmu, Sayang," kata Anggia akhirnya dengan suara hampir berbisik.

Di bawah meja, tersembunyi dari pandangan Bram, tangannya menyentuh punggung tangan Sharen sebentar. Sentuhannya terasa berat dan dingin, seperti permintaan maaf yang tidak terucap. "Kadang, nggak semua hal bisa kita lawan. Ada saatnya lebih baik kita terima saja. Supaya nanti nggak semakin hancur."

Sharen memandang ibunya cukup lama. Ia ingin bertanya banyak hal dari kalimat singkat tersebut, namun lidahnya terasa kaku seolah semua pertanyaan sudah dibungkam sebelum sempat diucapkan.

Setelah sarapan, Sharen menemui ibunya yang sedang duduk sendiri di taman belakang. "Bu?" panggil Sharen pelan.

Anggia menoleh dengan cepat, seperti baru sadar dari lamunan panjang. "Ibu nggak apa-apa," jawabnya terlalu cepat sambil mendekat dan merapikan poni Sharen yang sebenarnya sudah rapi.

Gestur tersebut lebih terasa seperti kebutuhannya sendiri untuk menyentuh sesuatu agar tetap waras. "Kamu jaga diri baik-baik ya, Sayang. Apa pun yang terjadi."

Kalimatnya terasa aneh dan belum selesai. Sharen ingin bertanya lebih banyak, tapi suara klakson mobil sudah terdengar dari depan.

***

Siang itu, sesi fitting gaun pernikahan pertama berlangsung di butik VIP langganan keluarga Sagara. Elio duduk santai di sofa beludru, matanya tak berkedip memperhatikan setiap gerakan Sharen dengan tatapan yang terlalu teliti untuk sekadar calon suami yang sedang menunggu.

"Non Sharen mau model kerudung transparan atau brokat di bagian belakang?" tanya sang desainer dengan hati-hati.

Sebelum Sharen sempat membuka mulut, Elio sudah menjawab dari sofanya. "Brokat. Yang transparan kelihatan terlalu biasa."

Sharen melihat bayangannya di cermin dan sadar bahwa selama dua jam ke depan ia cuma akan menjadi manekin hidup.

"Aku sebenarnya suka yang transparan," katanya pelan saat mencoba sekali lagi.

Elio tersenyum manis dari sofanya. "Nanti kalau sudah jadi istriku, kamu boleh pilih apa aja buat acara-acara kecil. Tapi ini hari besar kita, Sayang. Biar aku yang mikirin yang terbaik buat kamu."

Begitu sesi selesai, Elio mengeluarkan kotak beludru kecil yang berisi jam tangan perak bertatahkan berlian dan memasangkan jam itu sendiri ke pergelangan tangan Sharen, membiarkan jarinya menyentuh kulit Sharen lebih lama dari yang diperlukan.

"Pakai terus, ya. Aku suka bayangin kamu pakai ini ke mana pun kamu pergi. Rasanya kayak aku selalu ada di sana juga."

Ada sesuatu di kalimat tersebut—ke mana pun kamu pergi—yang membuat dada Sharen mengerut meski ia tak bisa menjelaskan kenapa.

"Makasih, El," Sharen hanya tersenyum tipis.

Fakta mengerikan tentang jam tersebut baru ia sadari tiga hari kemudian saat ponsel Elio tertinggal menyala di meja, menampilkan notifikasi aplikasi pelacak lokasi yang terhubung dengan jam di nadinya. Rasa dingin langsung menyelinap ke seluruh tubuhnya.

Malam berikutnya, setelah sesi foto pre-wedding yang melelahkan, Sharen baru memeriksa ponselnya pada pukul sepuluh. Ada panggilan masuk dari Elio.

"Maaf, El. Tadi aku ketiduran. Capek banget," sapa Sharen mengangkat telepon.

"Ketiduran jam sepuluh?" Suara Elio sangat tenang, membuat bulu kuduk Sharen berdiri. "Aku cuma khawatir. Lain kali kabari dulu kalau mau istirahat."

"Iya, maaf," jawab Sharen.

Sejak kapan hak untuk tidur pun harus dilaporkan, ia menjerit marah di dalam hati.

Keesokan paginya, ia sengaja meninggalkan jam itu di laci kamar. Pukul sebelas, ponselnya berdering keras.

"Kamu di mana? Aku coba cek jam kamu, tapi sinyalnya nggak ada di rumah," cecar Elio dari sambungan telepon.

"Aku di kantor. Jamnya ketinggalan. Kelupaan," jawab Sharen dengan jantung berdebar, sadar bahwa tak ada lagi privasi yang tersisa baginya.

"Jangan lepas lagi. Aku nggak suka barang milikku berkeliaran tanpa pengawasan." Telepon diputus sepihak.

Sharen duduk lama di tepi ranjang sambil menatap jam itu. Saat ia membayangkan kehidupannya nanti, tangannya tanpa sadar gemetar. Tiba-tiba, sebersit ingatan lewat di kepalanya. Ia membuka laci lemari lama dan menemukan map plastik kusam, matanya terpaku pada satu nama kota di brosur pertukaran pelajarnya dulu: Leiden.

Jari telunjuknya mengusap nama kota tersebut dengan pelan. Untuk pertama kali, muncul pikiran gila di kepalanya untuk memotong semua tali boneka dan lari dari semuanya.

Ia meraih ponselnya, membuka kalkulator, lalu mengetik angka-angka kasar: sisa tabungan pribadinya, kira-kira berapa yang bisa ia tarik tanpa memicu curiga, berapa lama uang itu akan bertahan di negara asing.

"Aku harus pergi dari sini," pikirnya, kali ini bukan sekadar keputusasaan, melainkan sesuatu yang mulai terasa seperti rencana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 8

    Sharen memutuskan datang setelah semalaman menimbang, uang tunainya menipis dan tiga kali bertemu Skyler tanpa insiden buruk mulai terasa cukup untuk mencoba, bukan jaminan penuh, tapi cukup.Lonceng kuningan De Bladzijde berbunyi keras jam sepuluh kurang lima menit, udara dingin masih menempel di jaket Sharen. "Tepat waktu," Skyler muncul dari balik rak, lengan kemeja digulung membawa dua cangkir kopi."Aku bilang mau pikirin dulu, bukan janji pasti," Sharen berkata, setengah menguji reaksinya."Aku tahu," Skyler tersenyum santai. "Makanya aku nggak nunggu di depan pintu kayak orang aneh."Sharen nyaris tersenyum meski buru-buru menahannya. "Kalau aku nggak datang gimana?""Ya udah, aku cari orang lain," Skyler mengangkat bahu ringan. "Nggak masalah. Kamu yang tentuin, bukan aku." Jawaban tersebut terasa asing di telinga Sharen, terlalu santai untuk sesuatu yang biasanya dijadikan alasan marah oleh orang lain di hidupnya."Mau kopi apa?" tanyanya mengalihkan topik."Hitam, tanpa gula

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 7

    Hujan turun tiba-tiba sore itu, jauh lebih deras dari gerimis yang pernah membuat Sharen berteduh bersama Skyler beberapa hari lalu. Tanpa payung, ia berlari mencari tempat perlindungan terdekat, tasnya didekap erat ke dada.Kakinya berhenti tepat di depan toko buku yang dicat merah bata, toko milik pria yang sudah dua kali ia temui tanpa sengaja.“Kenapa harus toko ini,” batinnya kesal menatap langit yang semakin gelap. “Tapi hujannya beneran deras. Nggak ada pilihan lain.” Ia melirik ke kanan dan kiri, mencari alternatif tempat berteduh lain tapi tidak ada. Jalanan berbatu itu sepi, toko-toko lain sudah tutup lebih awal karena cuaca.Ia mendorong pintu kayu, lonceng kuningan berdenting keras. Aroma buku lama dan kopi hitam langsung menyambut, menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup. "Kamu lagi," suara bariton Skyler keluar dari balik meja kasir, terdengar terkejut dan geli. "Sudah tiga kali kita bertemu""Nggak sengaja," Sharen lagi-lagi menjawab singkat, menyeka air hujan dari leng

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 6

    Tiga hari setelah insiden di kedai kopi, Sharen memutuskan tetap harus melewati jalan yang sama, toko kelontong terdekat hanya ada di ujung jalan berbatu tersebut, persis di dekat toko buku yang ia hindari.“Nggak apa-apa, Sharen. Kamu cuma perlu jalan terus, pria di toko buku itu bukan pengawal utusan Elio, kamu di Leiden sekarang bukan di Jakarta,” batin Sharen, terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri.Ia sudah hafal rute memutar sejak dua hari lalu, tapi hari ini kakinya terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh dari yang seharusnya. Ia berjalan cepat, menundukkan kepala, kantong belanja plastik tipis menggantung di kedua tangannya berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sup murah.Di tikungan yang sempit, kantong sebelah kanan robek, kaleng sup jatuh keras ke trotoar lalu menggelinding cepat ke arah selokan. "Aduh," Sharen buru-buru jongkok, mengejar kaleng yang terus menggelinding makin jauh.Sebuah tangan besar terulur lebih dulu, menangkap kaleng tersebut tepat sebelum jatuh ke s

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 5

    Baru dua hari di Leiden, kamar sewa Sharen sudah terasa seperti kurungan baru. Ukurannya memang lebih kecil, tapi tempat itu tetap saja penjara. Ia harus keluar, meski sekadar duduk di tempat asing dan berlagak sibuk.Ia menemukan kedai kopi kecil di ujung jalan berbatu, jendela besarnya menghadap ke toko buku bercat merah bata di seberang. Tempat tersebut sepi dan hangat. "Yang terpenting, ada dua pintu keluar," gumamnya lega saat melihat pintu satu di depan dan satu di belakang dekat toilet.Dia selalu duduk di tempat yang bisa melihat pintu, memilih kursi di sudut. "Jika ada sesuatu yang aneh, aku bisa langsung pergi," pikirnya mempertahankan kebiasaan yang sudah sangat melekat tersebut.Di Jakarta, ia belajar menghadap pintu tanpa sadar, cara menghitung berapa langkah ke jalan keluar terdekat, dan juga cara membaca nada suara orang lain sebelum kalimatnya selesai.Pelayan muda mendekat sambil membawa buku menu kecil. "Mau pesan apa, Nona?""Kopi hitam. Yang paling murah," kata Sha

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 4

    Pesawat berbadan besar itu akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol. Langit Belanda masih tertutup kabut tipis khas musim gugur.Sharen membiarkan penumpang lain sibuk menurunkan barang bawaan dari kabin di atas kepala. Dadanya berdebar keras, terjebak antara rasa lega dan ketakutan yang mencekam."Jangan gemetar. Jangan sekarang," batinnya sambil melangkah menyusuri lorong bandara mengikuti papan penunjuk arah kuning bertuliskan "Douane".Antrean imigrasi bergerak lambat. Detak jantungnya memukul-mukul rusuk tanpa ampun, memaksanya berusaha keras menunjukkan wajah setenang mungkin demi menutupi tangan yang gemetar."Apa tujuan kunjungan Anda hari ini, Nona?" tanya petugas imigrasi sambil membolak-balik paspor hijaunya tanpa rasa curiga."Liburan, Pak," jawab Sharen dengan suara tegas dalam bahasa Belanda yang cukup baik, terdengar lebih stabil daripada yang ia sangka mampu ia keluarkan.Petugas itu mengangguk dengan bosan, lalu mengetuk stempel ke halaman paspornya dengan k

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 3

    Rencana Sharen tampak sederhana di atas kertas, namun semua jadi jauh lebih rumit saat dijalankan. Ia harus mengumpulkan uang tunai untuk bertahan hidup di negeri asing tanpa boleh meninggalkan jejak transaksi yang bisa dilacak lewat rekening atau kartu kredit, karena asisten ayahnya selalu mengawasi mutasi dengan ketat.Wanita itu mengumpulkan dana dari hal-hal kecil, uang kembalian, dan amplop ulang tahun yang tak pernah disentuh. Ia juga nekat menjual perhiasan kecil yang tidak akan langsung terlihat hilang ke sebuah toko perhiasan kumuh di Mangga Dua."Ini bagus, Neng," kata Koh Aliong suatu sore saat memeriksa sepasang anting mutiara lewat kaca pembesar. "Tapi kok dijual? Sayang, ini kualitas oke.""Aku butuh uang cepat, Koh," jawab Sharen yang sudah menyiapkan alasan ini dengan baik.Koh Aliong mengangguk tanpa bertanya lagi, lalu menghitung harga dengan kalkulator tuanya sebelum menyerahkan amplop berisi uang tunai tanpa banyak bicara.Tepat setelah itu, ponselnya bergetar memu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status