Share

BAB 3

Penulis: A.lyra
last update Tanggal publikasi: 2026-09-07 15:14:22

Rencana Sharen tampak sederhana di atas kertas, namun semua jadi jauh lebih rumit saat dijalankan. Ia harus mengumpulkan uang tunai untuk bertahan hidup di negeri asing tanpa boleh meninggalkan jejak transaksi yang bisa dilacak lewat rekening atau kartu kredit, karena asisten ayahnya selalu mengawasi mutasi dengan ketat.

Wanita itu mengumpulkan dana dari hal-hal kecil, uang kembalian, dan amplop ulang tahun yang tak pernah disentuh. Ia juga nekat menjual perhiasan kecil yang tidak akan langsung terlihat hilang ke sebuah toko perhiasan kumuh di Mangga Dua.

"Ini bagus, Neng," kata Koh Aliong suatu sore saat memeriksa sepasang anting mutiara lewat kaca pembesar. "Tapi kok dijual? Sayang, ini kualitas oke."

"Aku butuh uang cepat, Koh," jawab Sharen yang sudah menyiapkan alasan ini dengan baik.

Koh Aliong mengangguk tanpa bertanya lagi, lalu menghitung harga dengan kalkulator tuanya sebelum menyerahkan amplop berisi uang tunai tanpa banyak bicara.

Tepat setelah itu, ponselnya bergetar memunculkan pesan dari Wisnu, sahabatnya sejak SMA yang namanya sudah lama tidak muncul di layarnya. Wisnu satu-satunya orang yang tahu persis seperti apa Sharen sebelum semua topeng ini terpasang dan tidak pernah berhenti menghubunginya, meskipun Sharen sendiri yang menjauh sejak pertunangan diumumkan.

[Wisnu]: Hei, sudah lama nggak dengar kabar. Apa semuanya baik-baik saja?

Sharen sangat ingin menceritakan semuanya, tapi ia tahu satu pesan yang terlalu jujur bisa menjadi bukti berbahaya jika ponselnya diperiksa. Wanita itu lantas membeli ponsel prabayar di sebuah toko ponsel kecil yang jaraknya tak jauh dari tempat ia berdiri, lalu mengetik balasan dari nomor baru.

[Nomor Baru]: Wisnu, ini Sharen. Aku butuh bantuan, tapi nggak bisa jelasin lewat chat. Bisa ketemu?

Sesampainya di rumah, Sharen langsung menyimpan ponsel prabayar tersebut di tumpukan buku-bukunya.

Besoknya, tiga belas hari sebelum hari-H, di sebuah kafe kecil di Kemang, Wisnu duduk dengan ekspresi campur aduk.

"Kamu kelihatan beda," katanya setelah melihat wajah sayu Sharen. "Kayak orang yang udah lama nahan napas."

"Aku emang udah lama nahan napas," jawab Sharen. Untuk pertama kalinya sejak semua tekanan ini menumpuk, ia menangis di depan orang lain dan tidak lagi berusaha menyembunyikan semua masalahnya, menceritakan semua yang ada di pikirannya.

Wisnu memindahkan kotak tisu ke samping dan membiarkan sahabatnya menangis sepuasnya. Kadang-kadang, ia menepuk pelan punggung tangan Sharen untuk memberi tanda bahwa ia ada untuknya.

Setelah Sharen berhenti menangis, Wisnu bertanya, "Apa yang bisa aku bantu?"

"Aku butuh nomor rekening yang bukan atas namaku. Buat nampung uang sementara, sampai aku beneran pergi."

Wisnu diam sebentar untuk memikirkan risiko dari tindakan ini sebelum akhirnya mengangguk. "Oke. Aku bantu."

Bantuan tak terduga datang dari arah lain. Malam itu juga, ponsel Sharen menerima pesan dari nomor tak dikenal.

[Reggie]: Ini Reggie. Sepupu Elio. Aku tau ini terdengar aneh, tapi aku pengen bantu kamu kalau kamu emang lagi cari jalan keluar.

Awalnya Sharen curiga pesan tersebut cuma jebakan, tapi setelah bertukar beberapa balasan, ia mulai memercayai niat Reggie yang kelihatannya punya ambisi sendiri soal masa depan perusahaan keluarga Sagara dan sudah lama diam-diam mengawasi celah dalam sistem keamanan pribadi Elio.

[Reggie]: Aku bisa matikan sementara akses tim keamanan Elio ke sistem pelacakan penerbangan di bandara. Bagian tersebut adalah tugasku. Soal tiket dan penginapan, urus sendiri lewat orang yang kamu percaya biar jejaknya nggak numpuk di satu tangan.

[Sharen]: Terima kasih. Aku berutang padamu, Reggie.

Gadis itu merasa lega karena tidak harus memikirkan hal mustahil tersebut sendirian.

Hari-hari menjelang keberangkatan terasa seperti kejar-kejaran dengan waktu. Sharen perlahan mengambil uang tunai dari rekening pribadinya yang kecil, lalu di sebuah warung kopi pinggiran kota, Wisnu memberikannya sebuah map.

"Ini detail penginapan sementaramu di Leiden. Semuanya aman, didaftarkan pakai nama tengah kamu. Uang tunaimu cukup?"

"Cukup," Sharen mengangguk yakin. "Aku sengaja menariknya sedikit-sedikit supaya tidak ada yang curiga."

Sharen memasukkan map tersebut ke dalam tasnya. Tiba-tiba, layar ponselnya menyala menampilkan pesan masuk:

[Wedding Organizer]: Kak Sharen, jadwal fitting terakhir terpaksa dipercepat. Tuan Elio dan ayah Kakak baru saja sepakat memajukan tanggal pernikahan jadi 1 minggu dari sekarang.

Sharen menghela napas dengan suara keras. Pesan tersebut benar-benar mengguncang pikirannya, menegaskan bahwa pendapat Sharen sama sekali tidak penting dalam menentukan sisa hidupnya sendiri.

"Ada apa, Ren? Wajah kamu pucat banget," tanya Wisnu cemas.

"Mereka memajukan tanggalnya, Wis." Sharen menengadah, matanya sekarang tidak lagi ragu karena kini hanya ada putus asa yang nekat. "Sisa waktuku nggak banyak."

***

Hari keberangkatan Sharen datang dua hari sebelum pernikahannya. Sore itu, ia kembali memeriksa isi kopernya, memastikan paspor, dokumen lama ke Leiden, dan amplop berisi uang tunai sudah ada. Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar karena ada pesan masuk.

[Wisnu]: Tiket udah aku pesenin. Penerbangan jam 3 pagi, transit di Doha. Hati-hati banget ya Sharen

Kekhawatiran jelas terlihat bahkan tanpa emoji tambahan. Sharen membalas dengan tangan gemetar.

[Sharen]: Makasih buat semuanya, Wis.

Malam itu, ia menulis satu pesan singkat untuk ibunya. Tidak meminta maaf atau memberi penjelasan panjang. Ia hanya menulis satu kalimat tegas.

[Sharen]: Bu, aku pergi. Aku harus pergi. Tolong jangan cari aku dulu

Sharen mengirim pesan itu tepat pukul satu dini hari. Ia yakin seluruh rumah sudah tertidur lelap. Ia mematikan ponsel utamanya lalu menguburnya di dasar lemari dan hanya membawa ponsel prabayar nya.

Sharen menjinjing kopernya tinggi-tinggi agar rodanya tidak berisik, sementara tas ranselnya didekap erat di dada. Ia memutar gagang pintu depan dengan sangat lambat.

Baru lima langkah menuruni jalan setapak menuju gerbang, lampu sensor taman menyala terang tepat di atas kepalanya, memantul ke seluruh halaman depan.

Sharen membeku di tempat, jantungnya berdegup kencang, matanya terpaku pada jendela kamar Bram di lantai dua menunggu tirai bergerak atau lampu kamar menyala. Tidak ada apa pun. Rumah tetap gelap.

Ia menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan, lalu melanjutkan langkah lebih cepat, menjauh dari jangkauan lampu sensor berikutnya.

Di dalam taksi menuju bandara, sebuah pesan masuk.

[Reggie]: Semoga perjalanan kamu aman. Hati hati.

Dengan perasaan was-was, Sharen menghapus pesan itu lalu mematikan ponselnya. Bahkan setelah tiba di bandara, wanita itu tidak bisa menahan rasa cemasnya. Petugas imigrasi lalu mengetuk stempel paspor.

Pukul tiga pagi, pesawat Sharen lepas landas. Sharen menyandarkan kepala ke kaca jendela, menatap lampu-lampu Jakarta yang perlahan mengecil.

"Akhirnya aku bebas," bisiknya pelan. Ia menyambut penerbangannya ke Leiden.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 8

    Sharen memutuskan datang setelah semalaman menimbang, uang tunainya menipis dan tiga kali bertemu Skyler tanpa insiden buruk mulai terasa cukup untuk mencoba, bukan jaminan penuh, tapi cukup.Lonceng kuningan De Bladzijde berbunyi keras jam sepuluh kurang lima menit, udara dingin masih menempel di jaket Sharen. "Tepat waktu," Skyler muncul dari balik rak, lengan kemeja digulung membawa dua cangkir kopi."Aku bilang mau pikirin dulu, bukan janji pasti," Sharen berkata, setengah menguji reaksinya."Aku tahu," Skyler tersenyum santai. "Makanya aku nggak nunggu di depan pintu kayak orang aneh."Sharen nyaris tersenyum meski buru-buru menahannya. "Kalau aku nggak datang gimana?""Ya udah, aku cari orang lain," Skyler mengangkat bahu ringan. "Nggak masalah. Kamu yang tentuin, bukan aku." Jawaban tersebut terasa asing di telinga Sharen, terlalu santai untuk sesuatu yang biasanya dijadikan alasan marah oleh orang lain di hidupnya."Mau kopi apa?" tanyanya mengalihkan topik."Hitam, tanpa gula

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 7

    Hujan turun tiba-tiba sore itu, jauh lebih deras dari gerimis yang pernah membuat Sharen berteduh bersama Skyler beberapa hari lalu. Tanpa payung, ia berlari mencari tempat perlindungan terdekat, tasnya didekap erat ke dada.Kakinya berhenti tepat di depan toko buku yang dicat merah bata, toko milik pria yang sudah dua kali ia temui tanpa sengaja.“Kenapa harus toko ini,” batinnya kesal menatap langit yang semakin gelap. “Tapi hujannya beneran deras. Nggak ada pilihan lain.” Ia melirik ke kanan dan kiri, mencari alternatif tempat berteduh lain tapi tidak ada. Jalanan berbatu itu sepi, toko-toko lain sudah tutup lebih awal karena cuaca.Ia mendorong pintu kayu, lonceng kuningan berdenting keras. Aroma buku lama dan kopi hitam langsung menyambut, menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup. "Kamu lagi," suara bariton Skyler keluar dari balik meja kasir, terdengar terkejut dan geli. "Sudah tiga kali kita bertemu""Nggak sengaja," Sharen lagi-lagi menjawab singkat, menyeka air hujan dari leng

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 6

    Tiga hari setelah insiden di kedai kopi, Sharen memutuskan tetap harus melewati jalan yang sama, toko kelontong terdekat hanya ada di ujung jalan berbatu tersebut, persis di dekat toko buku yang ia hindari.“Nggak apa-apa, Sharen. Kamu cuma perlu jalan terus, pria di toko buku itu bukan pengawal utusan Elio, kamu di Leiden sekarang bukan di Jakarta,” batin Sharen, terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri.Ia sudah hafal rute memutar sejak dua hari lalu, tapi hari ini kakinya terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh dari yang seharusnya. Ia berjalan cepat, menundukkan kepala, kantong belanja plastik tipis menggantung di kedua tangannya berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sup murah.Di tikungan yang sempit, kantong sebelah kanan robek, kaleng sup jatuh keras ke trotoar lalu menggelinding cepat ke arah selokan. "Aduh," Sharen buru-buru jongkok, mengejar kaleng yang terus menggelinding makin jauh.Sebuah tangan besar terulur lebih dulu, menangkap kaleng tersebut tepat sebelum jatuh ke s

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 5

    Baru dua hari di Leiden, kamar sewa Sharen sudah terasa seperti kurungan baru. Ukurannya memang lebih kecil, tapi tempat itu tetap saja penjara. Ia harus keluar, meski sekadar duduk di tempat asing dan berlagak sibuk.Ia menemukan kedai kopi kecil di ujung jalan berbatu, jendela besarnya menghadap ke toko buku bercat merah bata di seberang. Tempat tersebut sepi dan hangat. "Yang terpenting, ada dua pintu keluar," gumamnya lega saat melihat pintu satu di depan dan satu di belakang dekat toilet.Dia selalu duduk di tempat yang bisa melihat pintu, memilih kursi di sudut. "Jika ada sesuatu yang aneh, aku bisa langsung pergi," pikirnya mempertahankan kebiasaan yang sudah sangat melekat tersebut.Di Jakarta, ia belajar menghadap pintu tanpa sadar, cara menghitung berapa langkah ke jalan keluar terdekat, dan juga cara membaca nada suara orang lain sebelum kalimatnya selesai.Pelayan muda mendekat sambil membawa buku menu kecil. "Mau pesan apa, Nona?""Kopi hitam. Yang paling murah," kata Sha

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 4

    Pesawat berbadan besar itu akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol. Langit Belanda masih tertutup kabut tipis khas musim gugur.Sharen membiarkan penumpang lain sibuk menurunkan barang bawaan dari kabin di atas kepala. Dadanya berdebar keras, terjebak antara rasa lega dan ketakutan yang mencekam."Jangan gemetar. Jangan sekarang," batinnya sambil melangkah menyusuri lorong bandara mengikuti papan penunjuk arah kuning bertuliskan "Douane".Antrean imigrasi bergerak lambat. Detak jantungnya memukul-mukul rusuk tanpa ampun, memaksanya berusaha keras menunjukkan wajah setenang mungkin demi menutupi tangan yang gemetar."Apa tujuan kunjungan Anda hari ini, Nona?" tanya petugas imigrasi sambil membolak-balik paspor hijaunya tanpa rasa curiga."Liburan, Pak," jawab Sharen dengan suara tegas dalam bahasa Belanda yang cukup baik, terdengar lebih stabil daripada yang ia sangka mampu ia keluarkan.Petugas itu mengangguk dengan bosan, lalu mengetuk stempel ke halaman paspornya dengan k

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 3

    Rencana Sharen tampak sederhana di atas kertas, namun semua jadi jauh lebih rumit saat dijalankan. Ia harus mengumpulkan uang tunai untuk bertahan hidup di negeri asing tanpa boleh meninggalkan jejak transaksi yang bisa dilacak lewat rekening atau kartu kredit, karena asisten ayahnya selalu mengawasi mutasi dengan ketat.Wanita itu mengumpulkan dana dari hal-hal kecil, uang kembalian, dan amplop ulang tahun yang tak pernah disentuh. Ia juga nekat menjual perhiasan kecil yang tidak akan langsung terlihat hilang ke sebuah toko perhiasan kumuh di Mangga Dua."Ini bagus, Neng," kata Koh Aliong suatu sore saat memeriksa sepasang anting mutiara lewat kaca pembesar. "Tapi kok dijual? Sayang, ini kualitas oke.""Aku butuh uang cepat, Koh," jawab Sharen yang sudah menyiapkan alasan ini dengan baik.Koh Aliong mengangguk tanpa bertanya lagi, lalu menghitung harga dengan kalkulator tuanya sebelum menyerahkan amplop berisi uang tunai tanpa banyak bicara.Tepat setelah itu, ponselnya bergetar memu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status