LOGIN"Bawakan aku sebotol anggur," pinta Feris sembari duduk di tengah sofa panjang. Melempar jaket kulit hitam dan jam tangannya ke meja lalu menggulung kedua lengan kemeja hingga di siku. Neyra yang tengah menonton TV hanya diam dan beranjak pergi ke arah sebaliknya, tetapi kalimat Feris selanjutnya membuat langkah wanita itu terpaksa berhenti. "Atau kau lebih suka kita langsung ke ranjang?" Neyra menoleh, tak sungkan untuk menampilkan kedongkolan yang teramat. Ya, ucapan Feris adalah peraturan di rumah ini. "Di lemari penyimpanan." Senyum Feris penuh makna. "Aku yakin kamu tahu di mana. Kamu sudah mengelilingi tempat ini beberapa kali, kan?" Neyra pun berjalan menuju pintu. Kembali tak lama kemudian dengan sebotol anggur yang diambil sembarangan dan satu gelas ke hadapan Feris. "Temani aku minum," pintah pria itu lagi sebelum Neyra berpikir untuk beranjak pergi. "Aku tidak minum alkohol." "Aku tak mengatakan kamu harus meminumnya." Feris mendongak, ujung bibirnya menyeringai. "
“Siapa dia, Fer?” kesal wanita cantik itu.“Dia Neyra,” jawab Feris menggantung, masih menatap lurus Neyra yang menunggu jawabannya.Neyra tersenyum sinis, saat tahu itulah jawaban Feris. “Maaf, mengganggu tapi aku datang untuk mengantar berkas super penting ini, aku permisi.”Tanpa menunggu jawaban, Neyra lekas berbalik dan berjalan cepat tak ia hiraukan seseorang yang menatapnya aneh karena kini wajahnya sudah memerah menahan tangis, ia tak bisa mengelak jika ia merasa dicurangi pada pria yang mengikatnya pada janji suci pernikahan, bahkan hanya pria itu yang membuatnya tergoda berselingkuh sesuatu yang tak pernah ia benarkan. ***Malam hari“Jangan bengong!” “Feris? Kamu pulang?” tanya Neyra terkejut melihat Feris yang tengah jalan menghampirinya dengan kemeja hitam yang sudah jauh dari kata rapi dengan lengan yang sudah digulung hingga ke atas.“Ini rumahku ‘kan?”“Ah iya, aku pikir kamu…”“Kenapa kamu berpikir aku nggak akan pulang malam ini?”“Karena kupikir kalian akan lanjut
"Kekasih Feris,”“Kasihan sekali sebagai sesama perempuan, akan aku bantu sedikit. Karenina itu kekasih Feris. Dan saat ini Feris masih menunggu wanita itu untuk kembali bersama, hubungan mereka masih gantung, jadi ya… ini semua hanya masalah waktu.”Neyra mengerjap matanya dua kali, mencoba mencerna. “Oh ya?” “Terakhir kali aku dengar dia memang sedang didesak untuk menikah oleh keluarganya, dan aku rasa sepertinya benar-” ucap wanita itu menggantung.“Apa? Benar apa?” “Benar dugaan kita, alasan dia memilih kamu untuk dijadikan istri karena kamu wanita yang paling mudah ia dapatkan untuk dinikahi sementara.” Kali ini Mehra yang menjawab sambil tersenyum mengejek.Butuh dua detik bagi Neyra, untuk mengangguk samar. “Asumsi yang bagus walaupun sebenarnya rumah tangga kami bukan urusan kalian, dan sepertinya kalian terlalu banyak waktu untuk mengurusi hidup orang ya,”Neyra menoleh pada pramuniaga yang sudah menyelesaikan pesanannya. “Terimakasih,” Neyra menoleh pada ketiga wanita di
“Apa kalian sudah melakukan ini? Di belakangku?”Tanya Feris sembari menarik resleting di sepanjang punggungnya. Menurunkannya dengan satu sentakan lalu kembali mendorong tubuhnya ke dinding. "Fer-" pekik Neyra merasakan dada Feris yang menghimpitnya. "Ya." Wajah Feris mulai tenggelam di cekungan lehernya. Menyapukan bibir di leher Neyra saat kedua lengannya mendekap tubuh telanjang wanita itu. “Kamu belum menjawab, Sayang." Neyra tersekat keras, Ia memang belum selesai terkejut akan pertanyaan dan tindakan Feris barusan.“Apa maksudmu?! Aku bukan wanita seperti itu! Brengsek!”Neyra bisa merasakan senyum Feris sebelum ia berhasil menangkap bibirnya. Menciumnya dengan kuat dan membuatnya kehilangan ritme bernapasnya. Sesekali memberinya kesempatan untuk mengambil napas saat bibir pria itu bermain- main di leher dan dadanya. Sesekali ia mengernyit dengan remasan kasar tangan pria itu di dada dan pantatnya. Saat napas pria itu mulai memberat, Feris mengangkat pinggang Neyra dan melin
“Buka bibir kamu!” ucapnya dengansuara parau. Neyra membuka bibirnya. ”Lidah.”Neyra menjulurkan lidahnya yanglangsung dihisap kuat oleh Feris, Neyra mengerang tertahan, kedua tangannya memeluk leher Feris sementara di bawah sana kedua pahanya dibuka lebar. Puas memainkan lidah Neyra di mulutnya,Feris berpindah untuk menyesapbibir bawah wanita itu. Bibir bawahyang penuh dan lembut. Tangan Neyra pun bergerak untuk melepaskan kemeja Feris. Menyisakan celana panjang yangikat pinggangnya sudah dilepaskan oleh pria itu. Telapak tangan Neyra meraba dada bidang yang diam-diam sangat disukainya, mencengkram bahu berpindah leher Feris sementara Feris kini mencium lehernya. ”Jangan tinggalin tanda,” bisik Neyra dengan napas yang terasa berat. ”Terlambat,” Feris sudah membuat tanda di sana. “Aku nggak mau pakai turtle neck di cuaca panas—Fer!” Feris mengisap kulit lehernya dengan sengaja, hisapan kuat yang meninggalkan tanda begitu merah ditempat yang akan terlihat dengan mudah. Pria
“Kamu lihat kelakuannya, Fer! Mehra hanya bertanya hal yang normal dan langsung dibalas tidak sopan oleh wanita ini?!” Bibir Neyra terkatup, ia menoleh pada Feris seolah mengatakan, aku tidak nyaman dengan situasi ini, namun tak memiliki nyali untuk membalas. Belum. “Aku membawakan kita semua cinderamata dari Singapura. Apa kamu suka barangnya, Feris?” tanya Mehra ingin tahu.“Ah, benar juga! Terimakasih banyak Mehra, Tante sangat suka dengan kacamatanya, anak Tante bilang terlihat cocok dan Elegan begitu Tante pakai, benar ‘kan Willie?” sambar Tante Martha bertanya pada anak lelakinya.“Aku memang sudah menerimanya,” jawab Feris.“Apa kamu suka?”“Aku belum membukanya. Sepertinya masih ada di atas meja kerjaku.”“Nak, setelah ini kamu harus segera buka hadiah yang Mehra pilihkan untukmu, dan beri dia balasannya, ok!”“Tidak apa-apa Tante, aku tidak sama sekali mengharapkan balasannya, kok.”“Aku mau salad alpukat dan beberapa potong daging,” Neyra menoleh dan benar saja Feris teng
“Halo, Ney! Ini aku… kamu harus ke sini! Regas tiba-tiba mabuk, dia jelas terpukul setelah memastikan pernikahan kalian! Halo….”“Aku tidak mengizinkannya, dan berhenti menghubungi istriku untuk hal tak penting seperti ini,” tutup Feris saat ia mendapati tubuh Neyra yang membeku, menatap ponselnya
"Sebentar, aku-" Neyra hendak melompat dari pangkuan Feris. namun Feris malah menekan pinggang Neyra, mengembalikan posisi wanita itu seperti semula. "Aku tak butuh penolakanmu, Ney," peringat Feris. Neyra menelan ludahnya, "A-aku sedang datang bulan." Feris mengangkat alisnya, menyeringai tipis.
“Ney,”“Regas,” sapa Neyra tertahan.“Kamu apa kabar?”Neyra menatap balik Regas yang memandangnya dalam, tanpa ekspresi khas Regas ketika memandangnya dulu.“Baik, kamu gimana? Semuanya baik-baik aja ‘kan?” Tanya Neyra mengambang.“Baik, walaupun nggak semua berjalan sesuai keinginanku,” Ada kehe
Regas memandangnya dalam ada raut terkejut di wajahnya yang langsung terganti kecewa, khas Regas saat sedang kecewa."Ulurkan tanganmu, Kak! Semua orang memperhatikan kita."Neyra sempat tersentak sebelum menerima lengan adik lelakinya, pandangannya tak lepas dari kedua mata Regas yang menyiratkan







