FAZER LOGINCekikan ekor-ekor rubah hitam pekat itu terasa seperti jerat kawat baja yang dipanaskan di atas bara api. Tubuh Elloist menggelepar di udara, kakinya menendang-nendang ruang kosong mencari pijakan yang tak pernah ada.Pasokan oksigen ke otaknya terputus total. Wajah sang Putri Mahkota berubah kebiruan, sementara pembuluh darah di pelipisnya menonjol seolah siap meledak.Namun, rasa sakit fisik yang meremukkan lehernya itu sama sekali tidak sebanding dengan siksaan psikologis yang terpancar dari sepasang netra biru rubah milik Liliyana.Di dalam mata gadis remaja itu, terdapat lautan penderitaan, keputusasaan, dan kebencian yang telah mengkristal menjadi racun mematikan."Kau pikir aku tidak mengingatnya, Elloist?" desis Liliyana. Suaranya yang merdu berubah menjadi geraman parau yang menggema memantul di dinding obsidian ruang singgasana.Liliyana melangkah maju, membiarkan tubuh mungilnya tersorot oleh cahaya redup dari pilar a
Kegelapan absolut menyambut tubuh Elloist seketika. Sensasi jatuh menembus Jurang Dunia Hampa sama sekali tidak menyerupai rasanya melayang di udara bebas, melainkan seperti dihancurkan perlahan-lahan oleh jutaan ton tekanan air di dasar palung samudera terdalam. Angin menderu memekakkan telinga, membawa jeritan pilu jiwa-jiwa yang telah lama membusuk di dalam ketiadaan. Suhu udara anjlok hingga membekukan darah. Kulit Elloist mulai terkelupas, seolah diiris oleh ribuan belati es tak kasatmata yang terbuat dari energi kegelapan murni. Namun, janji yang ia ukir di dalam hatinya tak mengizinkannya mati semudah itu. Kekuatan Penyembuh Level SSS miliknya bekerja secara otomatis dan brutal. Setiap jaringan sel yang koyak oleh miasma jurang, langsung beregenerasi dalam hitungan milidetik. Pendaran cahaya emas dan hijau menyelimuti tubuhnya, bertarung habis-habisan melawan energi perusak dari dasar neraka tersebut,
Pintu ganda ruang pengadilan yang tertutup berdebam seolah menjadi pembatas absolut antara dirinya dan kepingan hati Thomas yang hancur lebur.Elloist berdiri mematung di tengah ruangan yang perlahan kosong. Hawa dingin dari lantai pualam menjalar naik ke ujung kakinya, namun rasa dingin yang sesungguhnya bersarang tepat di ulu hatinya.Penolakan Thomas yang begitu dingin dan sarat akan kebencian terus terngiang di telinganya."Jangan dekati aku."Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tusukan belati obsidian mana pun."Jangan buang air matamu untuk rubah tak tahu diuntung itu, Elloist." Sebuah suara bariton yang berat dan posesif memecah lamunan sang putri.Pangeran Alexander melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Tangan besar Sang Jenderal Naga terulur, menarik bahu Elloist hingga punggung gadis itu bersandar pada dada bidangnya yang hangat."Tugasnya sebagai Penasehat Hukum telah selesai. Jika
Pancaran sinar matahari pagi yang menembus kaca patri megah di Ruang Pengadilan Tinggi Kerajaan Moon sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang mencekik.Hari ini adalah batas akhir penangguhan vonis. Ratusan pasang mata bangsawan kembali berkumpul, menatap dengan napas tertahan ke arah tengah ruangan.Di dalam lingkar pesakitan, Putri Mahkota Elloist berdiri tegak. Wajahnya pucat dan tubuhnya masih menyimpan sisa-sisa kelelahan luar biasa akibat demam estrus dan pertarungan mentalnya semalam.Setelah penolakan brutal di alam bawah sadar, amukan monster rubah itu mendadak terhenti. Tubuh raksasa Thomas menyusut dan menghilang ke dalam bayang-bayang, melarikan diri dari istana sebelum Alexander dan Marcus yang panik berhasil mendobrak masuk untuk menyelamatkan istri mereka.Kini, dengan tingkat kebencian yang kembali merosot ke angka minus lima puluh persen. Elloist sempat ragu apakah Sang Penasehat Hukum Utama itu akan muncul untuk membelan
Dunia ilusi di dalam alam bawah sadar Thomas perlahan-lahan runtuh. Pecahan-pecahan ruang batin itu berjatuhan layaknya serpihan kaca yang memantulkan memori-memori kelam.Di tengah kehancuran tersebut, Elloist masih berlutut di atas lantai kayu gubuk yang mulai memudar. Angin puyuh energi mental yang tidak stabil menyapu rambut hitamnya, namun gadis itu tidak bergeming.Sepasang netra Elloist yang memancarkan pendar pelangi menatap lurus ke arah siluet pria yang memeluk erat ayunan ilusi di dadanya.Air mata masih menganak sungai di pipi sang Putri Mahkota, namun isak tangisnya telah berganti menjadi sebuah ketegasan yang tak tergoyahkan."Aku mengerti, Thomas," ucap Elloist, suaranya bergetar namun mengalun jelas menembus gemuruh kehancuran ruang ilusi."Aku akhirnya menyadari betapa dalam luka yang telah digoreskan oleh tangan ini padamu. Tidak ada kata maaf yang sanggup menghapus jeritan adikmu, dan tidak ada air mata yang c
Rasa bersalah yang luar biasa masif menghantam dada Elloist, mengalirkan hawa dingin yang jauh lebih membekukan daripada badai salju manapun.Tubuhnya merosot perlahan, hingga bersandar pada dinding kayu gubuk yang reyot. Napasnya tersengal, air matanya tak berhenti mengalir saat kepingan memori keji dari pemilik tubuh asli ini terus berputar bagai kaset rusak di dalam otaknya.Jurang Dunia Hampa.Sebuah tempat terkutuk di ujung benua di mana cahaya pun tak sanggup melarikan diri.Jiwa yang jatuh ke sana tidak akan pernah mati, namun juga tidak akan pernah hidup. Hanya terperangkap dalam ketiadaan dan penderitaan tanpa akhir.Putri Elloist yang asli telah melempar satu-satunya keluarga yang Thomas miliki ke dalam jurang tersebut hanya karena ego yang terluka.“Pantas saja ... pantas saja dia begitu membenciku,” batin Elloist merintih pilu.“Selama ini dia hidup berdampingan dengan pembunuh keluarganya, tersenyu
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya
"Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel







