Share

Bab 63

Penulis: Nadira Dewy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 21:00:10

Alex menatap tumpukan laporan di meja kerjanya, namun huruf-huruf di depannya seakan melebur menjadi satu bayangan hitam yang pekat.

Ia sudah tidak tahu lagi berapa jam ia duduk di ruangan itu. Matahari sudah terbit, tenggelam, dan entah sudah berapa lama lampu kantor menjadi satu-satunya penerang. Dia terus berusaha hingga tak kenal waktu.

Teleponnya berdering tanpa henti dari investor, dari tim legal, dari divisi keuangan, semuanya membawa kabar buruk. Satu demi satu departemen mulai goyah, klien besar mulai mantap menarik kerja sama tanpa pertimbangan lebih lama lagi, dan rumor tentang “ketidakstabilan internal” mulai menyebar seperti racun yang mematikan.

“Tidak mungkin…” Alex mengusap wajahnya kasar. “Tidak mungkin semuanya terjadi secepat ini. Kenapa... kenapa harus begini?!”

Denyut di kepalanya semakin kuat. Sudah dua hari penuh dia tidak tidur. Air putih pun terasa seperti batu di tenggorokannya.

Ia mencoba mencar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 70

    Helena berjalan lunglai di dekat Davidson. Tidak berani menyentuh pria itu, dia juga takut kalau Davidson tidak nyaman. ‎ ‎Alex ingin mendekati, membantu Helena, tapi Diana terus mencengkram lengannya seolah tidak mengizinkan Alex menjauh darinya. Alex hanya bisa menatap Helena dengan tatapan sedih. Mengingat kembali saat dia memilih Diana, dia merasa sangat bersalah. Sudah jelas ada pilihan lain yang bisa menyelamatkan keduanya, tetapi dengan gegabah nya Alex justru mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia katakan. “Sayang, kau baik-baik saja?” tanya Alex, lagi-lagi hanya bisa menatap tanpa bisa melangkah untuk lebih dekat lagi. Memutuskan untuk tidak mengatakan apapun, Helena tidak memiliki banyak tenaga yang bisa dia buang percuma untuk menghadapi Alex maupun Diana. ‎ Mereka menuju ke mobil. Melihat

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 69

    Pintu gudang tua itu tiba-tiba bergetar keras. Brak! Brak! Brak!Seolah ditendang dari luar oleh lebih dari satu orang. Debu beterbangan dari kusen kayu yang rapuh. Ketiga penculik itu langsung panik, saling pandang, sadar bahwa satu-satunya pintu keluar kini akan menjadi pintu masuk kematian mereka jika tidak bertindak dengan cepat. “Siap! Jangan biarkan mereka dekat dan mencelakakan kita!” Salah satu penculik berseru sambil mencabut pisau panjang berkarat tapi tajam. “Sial! Kalau saja lubangnya sudah selesai, kita tidak perlu menunggu cukup lama di sini,” kesal salah satu penculik itu. Dalam sekejap, mereka bergerak membentuk barikade hidup, ketiganya berdiri tepat di belakang Helena dan Diana, lalu menghunuskan senjata ke leher keduanya, siap memotong urat lehernya . Diana pun menjerit histeris. Helena hanya memejamkan mata sesaat, bukan lagi karena takut mati, tapi karena ia tahu sesuatu yang buruk akan benar-benar terjadi. Brak!!! Pintu gudang tua itu akhirnya je

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 68

    Helena membuka matanya perlahan, kelopak matanya berat dan penglihatannya buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus. Begitu ia mulai menyadari posisinya, jantungnya langsung berdegup cukup keras. Tangan dan kakinya terikat kuat ke kursi, tubuhnya sedikit condong ke depan, dan mulutnya disumpal kain sehingga ia bahkan tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Napas terasa berat, keringat bercucuran. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh satu lampu kuning kusam yang menggantung di tengah, membuat bayangan kejam di wajah tiga penculik yang berdiri tidak jauh darinya. Bau lembap dan karat besi begitu menyengat memenuhi udara. Di sebelahnya, sekitar dua meter saja darinya, Diana menangis tersedu-sedu, kedua tangannya juga terikat tapi mulutnya tidak dalam kondisi disumpal. “Tolong lepaskan aku! Aku benar-benar tidak ada hubungannya!” teriak Diana dengan suara bergetar. Salah satu pen

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 67

    Davidson masih duduk di kursi belakang, satu tangan membuka kancing jasnya, satu lagi merapikan dasi. Mobil sudah cukup jauh dari tempat Helena turun tidak. Tapi, tangan Davidson tidak sengaja menyentuh sesuatu. Dompet kecil berwarna hitam. Dompet itu Helena. Davidson menatapnya beberapa detik, rahangnya mengencang. “…Dia tidak pernah meninggalkan ini sebelumnya.” Suara Davidson turun, hampir seperti sebuah gumaman. “Jonathan,” panggilnya. Jonathan yang sedang menyetir langsung menoleh lewat kaca spion. “Ya, Tuan David?” “Kembali ke rumah Alex. Helena meninggalkan dompetnya. Dia pasti sangat butuh ini.” “Oke. Aku putar balik sekarang.” Saat mereka tiba di depan rumah Alex, suasana terlihat sepi tidak seperti biasa. Lampu teras menyala tetapi tidak ada satu pun orang terlihat di sekitar. Davidson turun dari mobil sambil membawa dompet itu.

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 66

    Joseph duduk merenung di kursi kamarnya. Kembali memikirkan soal apa yang terjadi dengan Alex, ia pun merasa tertekan. Memang benar dia memilih diam, tapi dia tidak pernah menjadi orang yang mudah ditipu.Kehancuran perusahaan sudah dimulai sejak lama. Semula hanya koreng kecil, tapi karena terus diberikan bakteri, pada akhirnya luka itu parah, infeksi sudah sampai ke pusat dan sulit untuk disembuhkan. Ia mungkin tidak terlibat langsung dalam setiap urusan Alex, tetapi ia selalu punya mata dan telinga di mana-mana. Dan belakangan… suara-suara yang ia dengar semakin jelas dan konsisten. Helena. Nama itu terus muncul dalam dugaan meskipun berakhir buram. Helena lah yang tiba-tiba saja dekat dengan Davidson. Helena lah yang tiba-tiba memiliki akses ke saham meskipun infonya juga masih belum jelas. Helena lah satu-satunya pihak yang tidak pernah disentuh kecurigaan Alex, kecurigaan yang terbilang ser

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 65

    Diana menangis sambil memeluk tubuhnya yang terasa sakit semua. Sudah beberapa jam dia menangis, tenggorokannya kering, bahkan seperti ada sensasi terbakar. Alex bukan hanya marah melalui kata-kata, pria itu juga memukulinya. Hampir seluruh tubuhnya lebam, itu menyakitkan sekali. Padahal Alex tahu dia sedang hamil. Harusnya diperlakukan dengan sangat lembut dan penuh cinta, bukan begini. “Alex, kenapa kau selalu memperlakukan Helena dengan lembut dan baik tapi begitu jahat, kasar padaku. Aku sangat mencintaimu sampai aku rela melakukan semua ini,” Diana menyeka air matanya yang terus jatuh. “Harusnya kita bersatu untuk mencari jalan ke luar.” Ia pun menyadarkan tubuhnya yang lelah. “Ini pasti ulah Helena. Dia pasti iri, dia pasti cemburu, dia ingin menyingkirkan ku untuk balas dendam.” Diana mengepalkan tangannya. “Helena... akan lebih baik kalau kau cepat tiada!!” Di sisi lain,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status